Tidak ada yang istimewa dalam hidupku. Aku hanyalah seorang anak dari keluarga biasa, yang merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Bahkan di sekolah pun, aku hanyalah pelajar biasa saja. Tidak ada yang menonjol dariku, tampangku tidak jelek ataupun cantik, apalagi aku juga bukan anak yang pintar ataupun bodoh. Aku hanya biasa saja. Itulah kata yang tepat jika ingin menggambarkan diriku.
Aku tidak memiliki keinginan menjadi siswa yang populer, entah itu di kalangan guru ataupun murid lainnya. Aku cuma ingin menjalani hari-hariku dengan tenang dan normal. Namun, begitulah hidup, ada beberapa hal yang pastinya tidak akan berjalan seperti yang kamu inginkan. Dan itulah yang terjadi padaku.
Semua ketenangan hidupku berubah ketika aku naik ke kelas 2 SMP. Itu semua bermula dari kebetulan yang sangat tidak menyenangkan. Saat seisi kelas mengetahui jika di kelas ada dua orang yang memilki nama yang sama, mereka tak henti-hentinya mempermainkanku. Nama kami memang tidak sepenuhnya sama, tetapi tetap saja, ketika seseorang memanggil nama kami berdua, maka kami akan secara serempak saling menoleh.
Dia Novia, sedangkan aku Novi. Itulah perbedaan nama kami berdua. Dia memiliki huruf "A" di belakang namanya, sedangkan aku tidak.
Sebenarnya yang membuat kami menjadi perhatian banyak orang, entah itu teman sekelas ataupun guru yang mengajar di kelas kami, yaitu kami memiliki sifat yang sangat berlawanan. Tidak hanya itu saja, latar belakang kami pun berbeda. Dia dari keluarga kaya, sedangkan aku dari keluarga menengah. Tidak miskin, tapi juga tidak bisa dibilang kaya. Bahkan, sudut pandang kami pun berbeda juga.
Saat Novia dengan santainya mencantok rambutnya yang ikal agar lurus, aku tidak melakukannya. Menurutku, itu merusak rambut, sedangkan menurut Novia, itu diperlukan demi menjaga penampilan. Memang sungguh kebetulan yang sangat tidak terduga, siapa yang mengira jika kami sama-sama mempunyai rambut yang ikal.
Perbedaan kontras yang kami miliki itulah yang membuat kami selalu jadi bahan perbandingan. Baik dari segi prestasi maupun sifat. Sejujurnya, hal itu benar-benar menggangguku. Andai saja aku tidak mempunyai nama yang sama dengan Novia, mungkin para guru tidak akan memperhatikanku. Kenapa aku bilang begitu, sebab setiap kali Novia berulah, maka nama aku pun akan terseret juga.
Ketika Novia tidak mengerjakan tugas, maka guruku akan berkata, "Aduh kamu ini pemalas sekali, coba contoh Novi teman kamu tuh, dia rajin, nggak seperti kamu. Kalian ini punya nama yang sama, tapi kenapa kelakuan kalian berbeda jauh. Kamu Novi Pemalas, dia Novi Rajin."
Selain dijuluki seperti itu, kami juga dipanggil Novi Bodoh dan Novi Pintar. Meskipun aku yang dibilang pintar, aku sungguh tidak menyukainya. Karena itu membuat para guru di kelasku berekspetasi tinggi padaku. Sebab kalau nilaiku tiba-tiba anjlok, mereka pasti akan tercengang lalu menuduh Novia telah menularkan kebodohannya padaku.
Hal itu sangat membuatku merasa tidak enak hati pada Novia. Intinya, apa pun yang dilakukan aku ataupun Novia, pasti semua orang selalu menghubung-hubungkan kami berdua.
Lebih dari itu, ada satu hal lagi yang lebih membuatku merasa tak nyaman. Saat itu sedang pelajaran agama, dan Novia yang memang tipikal anak yang pemalas, dia sepanjang pelajaran tidur di meja belajarnya. Tentu saja hal itu diketahui oleh guru agama kami.
Duduk kembali ke kursinya, guru agama kami pun memanggil nama Novia dengan lantangnya agar dia terbangun. Untungnya, cukup satu panggilan saja, Novia pun terbangun dari tidurnya, kemudian menyengir saat bertemu pandang dengan guru agama kami.
Saat guru kami memintanya maju ke depan, Novia dengan santainya berjalan menghampirinya, seolah-olah itu bukanlah hal yang perlu membuatnya panik. Berdiri di samping guru agama kami, Novia mendengarkan ceramahan panjang lebar itu dengan raut wajah acuh tak acuh sambil sekali-kali menyela omongan guru agama kami itu.
Dilihat dari sikapnya yang santai, nampaknya Novia menganggap ceramahan guru agama kami hanyalah obrolan sesama teman saja. Dia sungguh tak segan menjadikan ucapan guru agama kami itu sebagai lelucon. Mungkin karena sikap Novia yang santai dan supel, guru agama kami tidak tersinggung dengan ucapannya, sebab dia sesekali tersenyum kecil mendengarkan lelucon yang disampaikan Novia.
Sampai akhirnya, dimulailah lagi hal yang sudah aku takutkan sedari tadi.
"Kamu ini, coba dengarkan kalau Ibu kasih tahu. Lihat tuh temanmu Novi. Meskipun namanya sama kayak kamu, dia itu beda jauh dari kamu. Dia alim, kamu nakal."
"Ih, Ibu. Aku nggak nakal kali," balas Widia tak terima. "Lagian nggak mungkin Novi sealim itu, Bu, pasti dia juga pernah berbuat nakal. Iya 'kan, Nov?"
Bingung harus merespons bagaimana, aku hanya tersenyum canggung pada Novia.
"Nah, lihat tuh, Novi aja nggak senang kamu tuduh begitu. Sudah sana duduk," suruh Bu Guru pada Novia.
"Gara-gara kamu nih, Nov. Makanya, jadi anak, nakal sedikitlah. Kalau gitu 'kan, aku nggak akan disudutkan begini," gerutunya saat berjalan mendekati tempatku duduk.
"Novia!" tegur Bu Guru, mengeryitkan alisnya. Mengalihkan pandangannya padaku, ekspresi Bu Guru pun berubah menjadi lebih lembut. "Novi, jangan terhasut sama omongan Novia, ya. Kamu memang lebih baik jadi anak baik, jangan mau jadi anak nakal seperti Novia."
"Yaelah, Bu, bercanda kali. Kamu nggak tersinggung 'kan, Nov, sama omonganku tadi?" tanya Novia, tersenyum ramah padaku.
"Ya, aku tahu kok kamu bercanda," sahutku seraya membalas senyumannya.
Begitulah kenyataannya. Aku memang tidak tersinggung dengan ucapan Novia barusan, sebab aku tahu dia memang bergurau. Aku bisa merasakannya. Walaupun Novia itu anak nakal dan suka melakukan apa yang dia lalukan tanpa memikirkan omongan banyak orang, dia juga sangat baik padaku. Walaupun sempat terpikir olehku bahwa dia membenciku.
Siapa pun yang berada di posisinya, pasti akan tidak senang jika terus dibanding-bandingkan dengan orang lain, terlebih jika kau yang selalu jadi yang terjeleknya. Namun tampaknya, Novia tidak mempersalahkan hal itu. Dia selalu bertingkah acuh dan hanya tertawa saja jika ada yang membandingkannya denganku.
Pernah suatu kali dia berkata padaku, bahwa dia tak pernah sedikit pun merasa iri kepadaku. Menurutnya, aku terlihat tidak terlalu menikmati hidup. Seharusnya aku itu bersikap sepertinya, yaitu bersenang-senang dengan kehidupanku dan melakukan berbagai kenakalan selagi aku masih muda.
Mendengarkan ucapannya itu, aku jadi sadar, kenapa dia selalu santai menghadapi berbagai perbandingan yang selalu dilakukan setiap orang pada kami, itu karena dia merasa memang itulah dirinya, jadi, kenapa harus merasa tersinggung. Seperti itulah kesan yang kudapatkan dari sikapnya selama ini.
Sebagai seorang teman, tentunya Novia adalah orang yang asyik diajak mengobrol. Meskipun kami bukan teman akrab di kelas, tetapi setiap kali aku mengobrol bersamanya, aku merasa dia sangatlah menyenangkan untuk diajak berdikusi tentang apa pun. Akan tetapi, cukup sebagai teman mengobrol di sekolah saja, selebihnya aku tidak ingin terlalu dekat dengannya.
Itu terjadi karena pernah suatu ketika dia datang bersama salah satu temannya sambil mengendarai motor ke rumahku saat malam hari. Mungkin, jika itu jam 7 malam, aku masih bisa menerimanya, tapi masalahnya dia datang saat jam hampir 9 malam. Tidak hanya sekali dia melakukan hal itu, tapi berkali-kali. Dan setiap kali itu juga, aku akan menyuruh adeku mengatakan padanya, bahwa aku sudah tertidur pulas di ranjangku.
Aku benar-benar tidak mengerti apa tujuannya melakukan hal itu. Meskipun kami sering mengobrol bersama, tapi kami tidaklah sedekat itu, sehingga dia berani mengajakku jalan-jalan di malam hari. Sempat terlintas di benakku, dia melakukan hal itu karena ingin mengubahku menjadi anak nakal seperti dirinya. Yang bebas melakukan apa pun yang dia mau, tanpa kekangan dari orang tua.
Orang tuaku memang tidak memberikanku kebebasan seperti orang tuanya, namun meskipun orang tuaku memberikan kebebasan padaku, aku tetap akan bertindak hal yang sama. Aku tidak akan keluar di malam hari untuk bersenang-senang hingga larut malam.
Ini bukan karena aku sok alim atau berlagak sebagai anak yang baik dan patuh, tapi memang beginilah diriku. Aku lebih senang menghabiskan waktuku di rumah.
Aku hanya akan bersenang-senang jika aku menginginkannya, bukan karena orang lain menginginkannya. Lagi pula aku sudah senang dengan rutinitas hidupku, tidak seperti yang dipikirkan Novia selama ini.
∞ ∞
Keseharianku sebagai Novi A atau Novi B belum berakhir sampai di situ saja. Suatu hari, aku kehabisan kesabaran ketika menghadapi tingkah usil salah satu temanku di kelas.
"Nov, Nov, Nov ," panggil salah satu teman cowokku di kelas.
Saat aku menoleh dan bertanya, "Kenapa?"
Dia bukannya menjawab, malah memalingkan muka sambil berujar, "Novia," panggilnya pura-pura melambaikan tangan ke luar kelas.
Menoleh menghadapku, dia kemudian berpura-pura memasang raut wajah sok polos. "Aku bukan memanggilmu, Nov."
Malas merespons jawabannya itu, aku pun kembali membaca buku yang ada di atas mejaku. Tetapi, tak berselang lama, dia kembali memanggil-manggil namaku. Dan ketika aku menyahut, jawabannya selalu sama, bukan aku yang dia maksud.
Meskipun kesal, aku mencoba bersabar dan bertekad tidak akan menanggapinya lagi. Sayangnya, temanku itu tidak mau menyerah mengerjaiku.
"Nov, Nov, Nov. Oy, Nov, sombong banget sih," ujarnya, berulang-ulang memanggilku dari belakang. "Novi...."
Menutup kasar buku yang sedang kubaca, aku pun menoleh kembali pada teman sekelasku itu. "Ada apa sih?"
Bersamaan dengan omelanku itu, dia kembali memasang raut polosnya dengan wajah menghadap ke luar kelas sambil berteriak, "A ... Novia. Ah, sial, dia nggak lihat lagi." Menoleh ke arahku, dia memperlihatkan raut wajah mengejek. "Cieee PD banget sih. Aku manggil Novia tahu, bukan kamu."
"Novia, gundulmu," cetusku, tidak mampu menahan luap emosiku lebih lama lagi. "Mana Novia? Jelas-jelas di luar nggak ada siapa-siapa tuh yang lewat."
"Ih, beneran kok. Ada Novia tadi," sahutnya, pura-pura serius. "Hmmm ... tadi jelas-jelas ada kok dia lewat."
Seolah membuktikan perkataannya, tiba-tiba saja Novia benar-benar lewat depan kelas kami bersama temannya. Mereka berdua begitu asyik dengan obrolannya.Senang kebohongannya menjadi kenyataan, teman cowokku yang menyebalkan itu pun melambaikan tangannya pada Novia dengan semangat.
"Nah, apa kubilang. Memang Novia kok yang aku panggil tadi," ujarnya riang.
Karena tidak ingin membuat temanku itu semakin senang dengan menunjukkan luapan emosiku lagi, aku pun mengabaikan perkataannya, dan pura-pura sibuk dengan buku bacaanku lagi. Walaupun itu tetap tak berhasil, sebab temanku itu selalu punya cara membuatku naik pitam. Dia akan merasa puas jika aku memaki dan memukulnya.
Semua teman cowok di kelasku memang selalu kekanakan. Mereka selalu mencari kesenangan dengan cara mengganggu para cewek di kelas hingga mereka marah-marah. Dan aku salah satu dari para cewek itu.
Selain gangguan-gangguan atau perbandingan yang selalu kudapatkan dari orang-orang sekitarku, aku dan Novia juga pernah secara kebetulan mengalami kejadian yang sungguh membuatku takjub. Hal itu bermula saat aku pergi ke salah satu kantin paling populer di sekolahku, yang untuk mendapatkan bangku di dalam sana saja akan susah sekali.
Hari itu untungnya aku berhasil mendapatkan bangku di sana. Walaupun dalam keadaan berdesak-desakkan dengan murid lainnya. Akibat banyaknya orang di dalam kantin itu, aku pun perlu menunggu lama untuk mendapatkan makanan yang kupesan.
Syukurlah makananku tiba sebelum lima menit jam istirahat berakhir. Membuka bungkus makanan milikku, aku pun terheran-heran saat mendapati lauk yang ada di dalam bungkusan makanan itu bukanlah yang aku pesan. Lebih parahnya lagi, itu adalah lauk yang sangat aku benci.
Membalikkan badanku, aku pun berniat memprotes pada ibu penjual kantin itu. Namun seketika aku mengurungkan niatku. Melihat ibu penjual itu mondar-mandir ke sana kemari karena sibuk melayani murid lainnya, aku jadi merasa tidak enak hati. Apalagi waktu istirahat juga sudah hampir berakhir.
Tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, aku pun memaksakan diriku menelan lauk itu. Baru satu gigitan, aku mendengarkan lengkingan protes seorang perempuan di antara kebisingan di sekelilingku.
"Ibu!" rengeknya, berdiri di antara kerumunan orang. "Aku 'kan tadi pesannya hati ayam, bukan daging ayam."
Meliukkan tubuhku sedikit ke samping, aku pun terbelalak saat melihat sesosok perempuan yang sedang protes itu adalah Novia, teman sekelasku.
Hati ayam? Jangan bilang....
Baru saja aku menoleh sekilas ke arah makananku, terdengar jawaban lantang ibu penjual kantin itu yang membuatku terdiam membeku di tempatku duduk.
"Lho, bukannya tadi ibu baru aja kasih hati ayamnya ke kamu ya?" sahut Ibu Penjual Kantin itu kebingungan. "Kalau gitu, ibu salah kasih ke orang ya?"
"Aduh, Ibu ini, 'kan aku udah sering pesan itu, kok bisa sampe salah orang sih," keluh Novia kesal. "Kalau gitu, aku minta ganti. Nih, aku balikkin ayamnya."
"Hati ayamnya sudah habis. Udahlah, Nov, makan aja yang ada itu."
Usai menyampaikan hal itu, ibu penjual kantin pun kembali ke pekerjaan yang sedang menunggunya. Dia dengan sengaja mengabaikan rengekkan Novia di belakangnya.
Tidak terima makanan kesukaannya diambil seseorang, Novia pun berseru lantang, meminta siapa pun yang menerima pesanan hati ayam miliknya agar segera mengembalikan lauk itu padanya.
Menunduk melihat potongan hati ayam di hadapanku, aku cuma bisa tertawa miris. Andai saja, hati ayam yang pahit itu belum kumakan sedikit pun, mungkin aku akan dengan hati menukarnya dengan daging ayam milikku yang ada pada Novia. Sayangnya, hati ayam itu sudah terlanjur kumakan satu gigitan, jadi, akan konyol sekali jika aku menukarnya dengan daging ayam Novia yang masih utuh.
Betapa aku menyesali sifat pendiamku ini. Jika saja aku memiliki sedikit keberanian seperti Novia yang selalu menyuarakan isi pikirannya, mungkin aku tidak akan berada dalam situasi konyol ini. Menjadi seseorang yang selalu memendam segala sesuatu seperti diriku ini, memang menyebalkan. Aku selalu saja pasrah dengan keadaan. Tidak berani mengungkapkan isi pikiranku dengan lantang.
Syukurlah, kini semua kejadian tak menyenangkan itu telah berlalu. Itu adalah masa-masa yang tidak ingin aku ingat lagi. Setelah kami lulus SMP, aku tidak pernah lagi bertemu dengan Novia. Bahkan, berpapasan di jalanan pun kami tidak pernah. Mungkin itu ada baiknya. Melihat wajahnya lagi hanya akan mengingatkanku pada masa-masa menyebalkan itu lagi.
Sayang sekali, takdir sepertinya senang mempermainkanku. Di saat aku sudah mulai melupakan kenangan buruk itu, mimpi burukku itu datang kembali dalam hidupku. Memasuki tempat kerjaku, aku sangat kaget saat melihat Novia sedang duduk bersama karyawan kantor lainnya.
Aku berupaya keras menutupi rasa syok yang kurasakan sebisa mungkin dengan mengulas senyuman ramah. Apalagi saat mereka memperkenalkan Novia sebagai admin di tempatku bekerja ini. Padahal dengan jelas sekali aku mengingat bahwa kantor tempatku bekerja ini masih belum membutuhkan seorang admin.
"Untuk saat ini, kami hanya mencari sales untuk memasarkan produk kami terlebih dahulu. Jika produk kita ini sudah mulai dikenal banyak orang, barulah kami akan membuka kesempatan itu untukmu."
Begitulah yang dikatakan orang yang telah mewawancaraiku saat itu. Walaupun aku merasa aneh, karena apa yang kulihat di iklan koran, jelas tertulis bahwa mereka sedang mencari seorang admin, sales, dan sebagainya. Tetapi dengan bodohnya, aku mempercayai omong kosong itu, dan beranggapan itu wajar, sebab tempatku bekerja ini baru saja dibuka.
Nyatanya itu hanyalah bohong belaka, lihatlah sekarang, mereka mengirimkan seseorang dari kantor pusat untuk mengisi bagian admin di kantor cabang ini. Seolah-olah sejak awal mereka memang merencanakannya begitu. Posisi menggiurkan yang ada di koran itu hanya embel-embel demi mendapatkan pelamar kerja yang banyak.
"Kamu Novi, 'kan? Hey, lama nggak ketemu," tepuk Novia pada pundakku, yang seketika itu menyadarkanku dari lamunanku.
"Ya, lama nggak ketemu," sahutku setengah hati.
"Kalian saling kenal?" tanya salah satu karyawan di sana.
"Iya, kami dulu satu SMP. Kami dulu sering banget dibanding-bandingin sama orang lain, ya 'kan, Nov?" Novia tersenyum ceria padaku. "Cuma aku yang sering bagian jeleknya, dan Novi bagian bagusnya. Yah, nggak heran sih, aku dulu emang nakal."
Entah apa maksudnya berkata seperti itu pada yang lain secara tiba-tiba. Apa dia ingin mendapatkan pengakuan dari orang-orang di sini? Apa dia ingin menunjukkan bahwa aku yang dulunya sering dipuji-puji banyak guru, ternyata setelah lulus sekolah hanya menjadi seorang sales. Begitukah maksudnya?
"Siapa yang nyangka sih, kami bakalan ketemu lagi. Apalagi posisi kita ketukar gini," tawa Novia, memukul-mukul bahuku, seolah apa yang dia katakan itu lucu. "Kalau teman-teman dan guru sekolah kita dulu tahu hal ini, pasti mereka bakal ternganga. Mereka yang dulunya berkata aku nggak punya masa depan cerah, nyatanya sekarang aku malah dapat posisi lebih tinggi dari kamu. Eh, bukan maksudku bilang sales itu pekerjaan rendahan lho, Nov."
Kamu memang bermaksud begitu. Ingin rasanya, aku meludahkan kalimat itu di depan wajahnya. Tapi itu tak ada ada gunanya. Karena itulah kenyataannya. Aku memang berada di posisi lebih rendah darinya.
Aku yang tiap hari terjun ke lapangan untuk menawawarkan produk jualanku, sedangkan dia cuma duduk manis di dalam kantor sibuk dengan komputernya. Sungguh pekerjaan yang selama ini aku inginkan, namun tak mampu kuperoleh. Karena aku tidak memiliki koneksi. Aku hanya bisa mengandalkan diriku dan sebuah keberuntungan.
Dunia ini memang kejam. Sepintar apa pun dirimu, kamu tetap akan kalah dengan orang yang memiliki koneksi dan uang. Meski begitu, ada satu hal yang membuatku merasa posisiku lebih tinggi dari Novia.
Setidaknya, hak sepatuku lebih tinggi 2 cm darinya. Hal kecil itu saja sudah membuatku senang.
HaHaHaHaHa...
[TAMAT ]