Pada jalanan yang menuju keluar hutan, sebuah vila yang sangat-sangat mewah dibangun disana.
Vila itu sangat mewah hingga hampir terlihat seperti sebuah istana kecil dengan banyak berbagai macam ruangan luas dan fasilitas mewah, mulai dari kolam renang, halaman belakang, ruang pribadi, gudang bawah tanah, dan lain sebagainya.
Namun… terdapat satu hal… satu hal yang membuat vila itu mencekam… yaitu… terdapat banyak rumor buruk… dan… lokasinya lumayan… terpencil…
Vila itu terletak di pinggiran kota. Pepohonan yang lebat dan jalanan beraspal yang sepi perlu dilalui untuk sampai ke sana. Hal ini membuat orang-orang takut untuk menuju ke sana.
Selain itu, sudah ada delapan keluarga yang pernah meninggali vila itu dan semuanya mendapatkan gangguan dari makhluk halus yang tinggal disana.
Dari delapan keluarga yang pernah tinggal di vila itu, mereka semua mati dan hanya menyisakan satu orang yang berhasil keluar hidup-hidup.
Orang itu memiliki inisial "A", dia memberikan kesaksian selama berada di dalam vila itu. Menurut kesaksiannya, berbagai kejadian supranatural terjadi hingga membuat anggota keluarganya sendiri meninggal di dalam vila.
Namun, kesaksian darinya hanya dianggap sebagai hal-hal tidak masuk akal dan polisi menganggap jika orang itu berkhayal dan menderita sakit jiwa.
Hingga akhirnya, kasus pembunuhan ditutup dengan orang itu yang dianggap sebagai pelaku pada kasus terakhir. Hal ini dilakukan karena ini adalah satu-satunya penjelasan paling logis yang mampu diberikan pada publik.
Publik yang tidak mempercayai hal itu, tetap menganggap jika vila itu B·E·R·H·A·N·T·U.
---
"Apa kamu yakin mau pergi ke sana, Ardi?" Tanya seorang gadis remaja pada pemuda yang duduk di kursi yang sedang mengedit video pada komputer.
Gadis itu memiliki penampilan yang normal dengan kebanyakan orang yang tinggal di Indonesia. Warna kulitnya kuning langsat, rambutnya hitam panjang hingga mencapai pinggul dan matanya berwarna hitam pekat.
Namanya adalah Retno. Dia merupakan seorang gadis berusia delapan belas tahun normal yang bisa ditemui di lingkungan sekitar anda secara normal tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.
"Tentu saja, Retno. Kita harus melakukan ini demi viewer kita. Kamu harusnya tahu jika jumlah viewer kita kian hari makin menurun karena konten horor kita yang biasa saja." Ardi berhenti mengedit video, dia mengarahkan wajahnya yang tampak sangat pahit dengan alis yang mengerut pada Retno.
Dia adalah Ardi, yang merupakan teman dekat Retno. Dengan rambut hitam pendek, tubuh yang gagah untuk anak berusia delapan belas tahunan, dan mata yang terlihat kecoklatan, Ardi merupakan remaja yang tampan dan populer di sekolahnya.
Mereka berdua, Ardi dan Retno adalah seorang YouTubers yang mengupload konten tentang video horor dan berhubungan dengan makhluk halus.
Keduanya melakukan hal ini untuk menambah uang jajan mereka. Sebagai seorang anak kost, mereka berdua perlu menggunakan peluang walau peluang itu sangat kecil.
"Tapi, vila itu sangat berhantu hingga banyak orang yang menghindari tempat itu. Apakah ini akan baik-baik saja?" Retno masih tidak setuju dengan keputusan yang diambil oleh Ardi. Bagaimanapun, sudah terlalu banyak bukti yang menyodorkan seberapa berbahayanya vila itu.
"Aku tahu! Tapi, kita memang tidak memiliki pilihan lain!" Ardi berdiri dari kursi dia duduk dan mendekatkan wajahnya pada Retno. Ini bukan merupakan sesuatu yang romantis. pasalnya, hanya amarah yang terlihat dari wajah Ardi.
"Ada apa kalian berisik-berisik!" Suara lain terdengar dari ruangan yang lain pula. Suara itu terdengar merupakan teriakan yang mencoba untuk menghentikan perdebatan keras antara mereka berdua.
Tak lama kemudian, seorang pemuda yang seperti Ardi muncul. Dia juga berusia delapan belas tahun dan duduk di bangku SMA. Namanya adalah Tetra.
"Jika ada masalah, tolong jangan terlalu berisik. Saat ini sudah malam, tempat ini dan sekitarnya bukan hanya milik kalian berdua." Nada bicara Tetra sangat tenang.
Ini bukan pertama kalinya dia mendiamkan Retno dan Ardi dari pertengkaran, karena itu suaranya terdengar tenang karena terlalu malas menghentikan mereka berdua untuk kesekian kalinya.
"Halah… biasa. Ini si Retno tidak setuju dengan tempat yang aku pilih, lalu kami berdua saling berdebat." Ardi mengalihkan pandangannya pada Tetra.
Akan tetapi, wajah dan nada bicara yang tidak menyenangkan masih dapat didengar darinya yang masih tidak senang atas perilaku Retno yang menolak usulannya.
"Gih… kamu sendiri juga sama 'kan? Kamu selalu tidak mendengarkan resiko apa yang aku katakan!" Retno mencibir pada Ardi, menunjukkan betapa kesalnya dia dengan apa yang dilakukan Ardi.
"Tapi tidak ada masalah 'kan? Ini semua gegara kami viewer kita menurun!" Ardi mengarahkan jari telunjuknya pada wajah Retno yang tampak kesal. Dia sendiri juga kesal karena apa yang dikatakan Retno.
"Apa..!!" Retno menggerak kesal pada Ardi karena jari yang menunjuk padanya.
"Hah… kalian berdua." Tetra menghela nafasnya atas perilaku Retno dan Ardi yang sama sekali tidak akur.
Helaan nafas Tetra sama sekali tidak dihiraukan mereka berdua yang terlalu parah dalam bertengkar. Pertengkaran itu terlalu parah hingga tidak memperhatikan sekitar mereka.
"Kenapa!? Tidak terima!?" Ardi melanjutkan provokasinya yang berisikan ketidakpuasan pada Retno.
"Sudah… sudah…" Tetra menempatkan tangannya diantara mereka berdua dan mendorong mundur tubuh mereka berdua. "Lebih baik begini saja, aku akan menjadi juri dalam memberikan penilaian atas usul kalian masing-masing."
"Bagaimana, kamu setuju 'kan, Ardi?" Tetra melihat Ardi yang lebih tenang walau masih diselimuti amarah.
"Baik, silahkan saja." Ardi menatap tajam pada Retno saat memberikan persetujuannya.
"Lalu, untukmu bagaimana, Retno?" Tetra ganti memandang pada Retno.
"Silahkan saja." Retno ikut setuju atas saran Tetra. Namun, dia masih sama dengan Ardi, yaitu memberikan tatapan tajam penuh amarah.
"Pertama, Ardi. Bagaimana usulan tentang yang kamu berikan?" Tetra memalingkan pandangannya pada Ardi.
"Aku menyuruh untuk pergi ke vila angker yang berada di pinggir kota. Di vila itu belum ada satupun YouTubers lain yang pernah membuat konten disana, pasti akan banyak yang menonton video kita kali ini." Ardi segera mengatakan apa yang dipikirkannya. Dia juga menambahkan apa keuntungan yang akan didapatkan dan tidak memberikan resikonya.
"Lalu, Retno." Tetra berganti pada Retno.
Wajahnya datar dan tenang karena tidak menganggap persoalan ini sebagai hal yang serius. Dia merasa jika ini adalah pertengiumum yang dilakukan antara mereka berdua dan akan segera damai jika dia menyelesaikannya.
"Saranku 'sih, berada di rumah angker yang berada di dekat sekolah kita. Tempat itu aman karena banyak orang berada di sekitar sana." Retno menjadi lebih tenang dan santai sekarang.
"Tapi tempat itu sudah banyak dibahas oleh banyak YouTubers lain! Kita tidak akan mendapatkan banyak View jika menelusuri tempat itu!" Ardi meneriakkan ketidaksetujuannya dengan keras.
"Sudah… sudah… sudah… aku disini sebagai pihak adil dalam pemilihan keputusan kali ini. Kamu tidak perlu berteriak." Tetra menunjukkan wajah santainya pada Ardi.
"Jadi, bagaimana? Kami pasti akan setuju dengan tempatku 'kan?" Retno menatap dengan penuh harap pada Tetra.
"Tidak, pasti tempatku!" Sangat berlawanan dengan Retno, Ardi berteriak saat menunggu jawaban dari Tetra.
"..." Tetra terdiam sebentar. Dia bergantian memandang mereka berdua satu dan berganti satu lainnya. Dia membandingkan antara yang berharap dan yang dipenuhi amarah.
"Hah… aku memilih vila angker." Tetra menghela nafas atas pilihan sulit yang dibuatnya.
"Huu… rasain itu, sudah ku bilang jika kita harus ke vila." Ardi sombong pada Retno. Kemudian dia kembali ke kursinya dan lanjut mengedit video.
Tetra melihat pada Retno yang terdiam dan tampak risau. "Tenang saja, aku akan ikut dalam penelusuran kali ini. Jadi tidak akan menjadi masalah besar 'kan?" Tetra berbisik pada Retno dengan suara kecil yang tidak mampu didengar Ardi.
"..." Retno diam tanpa mengucapkan kata, dia mengangguk sebagai tanggapan atas perkataan Tetra.
Tetra sebenarnya tidak termasuk dalam kelompok YouTubers Retno dan Ardi. Dia hanya merupakan teman mereka berdua di sekolah yang kebetulan berada di satu tempat kost.
"Baiklah, selamat malam kalian berdua." Tetra pergi setelah mengatakan itu.
Retno mengabaikan Ardi yang terus mengedit video dan Ardi juga mengabaikan Retno yang melakukan hal lain. Mereka berdua adalah rekan kerja yang sangat buruk walau merupakan satu tim yang seharusnya bekerja sama.
---
Beberapa hari setelah itu, mereka bertiga, Ardi, Retno, dan Tetra pergi menuju ke vila tempat mereka akan melakukan penelusuran sambil membawa semua peralatan yang diperluas untuk membuat rekaman.
Berkendara dengan mobil, jalanan terlihat rapi dan halus. Dengan pepohonan berada di sekitar jalan. Namun, pohon itu tidak terlalu lebat. Beberapa kali terlihat area yang sama sekali tidak ditumbuhi tumbuhan yang membuat hutan tidak terlalu lebat.
*Criiit…
Ardi yang mengendarai mobil menghentikan mobilnya didepan vila.
Mereka bertiga sampai ke vila pada pukul 15.00. sekarang matahari masih bersinar sangat terang di langit dengan awan mendung yang menghiasi langit.
"Kenapa kamu berhenti?" Retno yang duduk disampingnya bertanya heran.
"Kita sudah sampai. Menurut GPS, ini adalah tempatnya." Jawab Ardi menunjukkan wajahnya yang tidak senang pada Retno atas kejadian pertengkaran mereka.
"Tapi apa benar ini tempatnya? Vila ini terlihat sangat megah dan mewah 'lho?" Tetra menengok keluar jendela pada sebuah vila yang mewah.
"Aku sendiri juga bingung. Tapi, memang ini tempatnya menurut aplikasi." Ardi sendiri juga heran saat melihat keluar jendela pada vila yang mewah.
"Bagaimana kalau kita turun dan coba menemui orang yang tinggal di dalam vila itu? Siapa tahu, kita akan mendapatkan petunjuk atau penjelasan." Ucap Retno yang membubarkan rasa heran mereka berdua yang sedang menatap vila.
Mereka bertiga kemudian turun dari mobil, lalu berjalan menuju pintu gerbang vila yang tampak mewah dengan sebuah gembok yang menguncinya. Pintu gerbang itu terbuat dari besi yang kuat dengan ornamen rumit yang menghiasinya.
*Tank… tank… tank…
Ardi mengetuk pintu gerbang besi itu dengan memukul-mukulkan gembok dari pintu gerbang itu sendiri. Suara besi yang saling beradu terdengar cukup keras.
"Memangnya tidak apa kita datang tanpa diundang?" Retno merasa risau atas kedatangan mereka yang tidak diharapkan oleh pemilik vila.
"Sudah, kamu tenang saja. Jika kita tidak boleh masuk, setidaknya kita bisa melakukan wawancara pada mereka." Ardi santai dalam menanggapi Retno dan tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Jangan risau, aku akan mencoba berbicara dengan pemilik vila jika dia marah." Tetra ikut menenangkan Retno.
Tak lama kemudian, dua sosok wanita berjalan keluar dari vila itu. Mereka berjalan dengan satu didepan dan satunya lagi berjalan di belakangnya.
Wanita yang berjalan didepan merupakan gadis kecil yang memiliki rambut hitam panjang dan memiliki mata yang berwarna hitam legam. Kulitnya putih dan lembut yang membuatnya cantik. Umur dari wanita itu berada pada kisaran sepuluh tahun yang membuat tubuhnya pendek dan mungil. Pakaiannya terlihat sangat santai yang merupakan kaos T-shirt hitam dan celana biru pendek. Selain itu, rambut gadis itu terlihat basah yang menandakan dia baru saja selesai mandi.
Lalu, di belakangnya adalah Wanita itu terlihat pada kisaran umur enam belas tahunan. Dia memiliki rambut hitam panjang yang dikepang. Pakaian yang digunakan oleh wanita itu merupakan kebaya berwarna putih dan bawahan kain batik dengan motif parang berwarna coklat.
Hubungan mereka berdua tampak seperti nona dan pelayan. Karena cara berjalan mereka yang satu di depan dan satu mengikuti.
"Ada keperluan apa kalian bertiga datang kesini?" Gadis itu bertanya pada mereka bertiga.
"..." Wanita dibelakangnya diam dan menunjukkan senyuman ramah yang terasa hangat.
"Kami disini untuk melakukan penelusuran tentang vila angker? Apakah benar jika ini di vila ini terdapat hantu, dan bolehkan kami tinggal beberapa hari disini?" Ardi bertanya sopan dan menyembunyikan rasa kesalnya pada Retno saat memberikan pertanyaan.
"..." Gadis itu diam dan memegangi dagu nya serta memandang ke bawah. Posenya ini menunjukkan jika dia sedang berpikir antara menolak mereka atau menerima mereka.
"Oke, kalian bertiga boleh menetap di vila ini selama beberapa hari. Aku juga berharap kita bisa membuat hubungan baik." Gadis itu mengarahkan wajahnya pada mereka bertiga dan membuat senyuman hangat pada mereka bertiga.
"Kami sangat berterimakasih. Perkenalkan, namaku Ardi." Ardi tampak senang atas izin yang gadis itu berikan.
"Retno. Dan terimakasih sudah mengizinkan kami." Retno menjawab mengikuti Ardi.
"Tetra." Tetra memperkenalkan dirinya dengan singkat, sangat berbeda dengan kedua temannya.
"Aku Elena, Elena Madison. Biasa dipanggil Elena." Gadis kecil itu memberitahu namanya.
"Saya Melati. Saya merupakan pembantu di dan pengurus di vila ini. Jika ada yang kalian butuhkan, kalian bisa mengatakannya kepada saya." Wanita itu yang bernama Melati menunjukkan wajahnya yang ramah dan hangat.
"Oke, Melati. Aku akan menyerahkan mereka bertiga kepadamu. Ada beberapa hal yang perlu aku lakukan." Elena berjalan menuju pintu masuk vila meninggalkan mereka berempat.
"Dimengerti, nona." Melati memberikan respon atas perkataan Elena.
Melati mendekati pintu gerbang dan membuka gembok yang menguncinya. "Kalian bertiga, ada urusan apa datang kemari." Ucap Melati sambil membuka gerbang.
"Kami bertiga melakukan penelusuran terkait aktivitas angker. Jadi, apakah benar jika vila ini berhantu?" Ardi berjalan masuk ke dalam halaman vila.
Retno ikut masuk ke dalam setelah Ardi. Sedangkan Tetra masuk ke dalam mobil dan mengendarainya masuk ke dalam vila.
---
Setelah hal itu, mereka bertiga bersama Melati berkumpul di ruang tamu. Melati duduk di seberang mereka bertiga dengan meja yang memisahkannya.
"Sebelum tinggal di vila ini, saya akan menjelaskan tentang apa yang boleh dan dilarang selama kalian berada di vila atau lingkungan sekitarnya. Di tempat orang, tentunya kalian perlu bersikap secara sopan santun." Melati menatap mereka satu per satu dengan serius yang bahkan menghilangkan senyuman ramah pada wajahnya.
Ketiga orang itu terlihat sangat serius dalam memperhatikan penjelasan yang akan diberikan Melati. Mereka paham jika vila ini angker dan perlu mengikuti aturan selama berada di vila ini.
"Pertama, kalian semua harus berlaku sopan di dalam vila ini. Perilaku sopan mulai dari tidak mengatakan hal-hal kasar, berbau tidak senonoh, membuang sampah di sembarang tempat, atau berbicara dengan keras."
"..." Mereka bertiga diam dan mengangguk atas penjelasan Melati.
"Kedua, tidak boleh berkeliaran saat lewat jam 22.00 malam dan membuat suara berisik."
"Ketiga, jangan pergi ke hutan di sekitar vila atau hal yang sangat buruk akan terjadi. Ini merupakan salah satu aturan paling penting."
"Keempat, dilarang memasuki ruangan dengan huruf "P" di depannya."
"Kelima dan yang paling mendasar, kalian boleh menggunakan fasilitas yang ada di dalam vila ini dan melakukan apapun yang kalian sukai selama itu tidak mengganggu penghuni lain disini."
"Jika kalian, tidak bisa menepati hal itu, maka kalian akan mendapatkan teror yang sangat menyeramkan. Apa kalian paham?" Melati menatap tajam mereka satu per satu sebagai tanda peringatannya sangat keras dan berakibat sangat buruk jika mereka sampai melanggar.
"..." Mereka diam dan menanggapi serius tentang apa yang dikatakan Melati.
Ardi mengangkat tangannya. "Jika boleh saya tahu, ada berapa penghuni di vila ini selain kami?"
"Di Dalam vila ini terdapat delapan penghuni, aku, Nona Elena, Nona Theresa, Nona Sophia, Nona Ruin, Nyonya Yovanca, Tuan Flee, dan Tuan Noctis. Namun saat ini hanya kami berdua yang berada di vila saat ini." Melati menjawab dengan ramah dan meninggalkan tatapan serius.
"Apakah kalian bertiga masih memiliki pertanyaan?" Senyuman ramah Melati membuat mereka bertiga tenang.
"..." Mereka bertiga menggelengkan kepalanya menunjukkan jika tidak ada pertanyaan.
"Kalau begitu, saya akan mengantarkan kalian berkeliling vila ini dan ke kamar tamu kalian masing-masing. Silahkan ikuti saya dan jangan sampai tertinggal karena vila ini cukup rumit bagi orang awam." Melati beranjak dari tempat ia duduk.
Selanjutnya, Melati memandu mereka berkeliling vila dan menuju kamar tamu dengan diikuti oleh mereka bertiga. Seperti yang Melati katakan, vila ini sangat luas dan rumit hingga membuat mereka yang tidak terbiasa akan tersesat di dalamnya.
---
Setelah selesai berkeliling vila, mereka bertiga berkumpul di kamar Ardi terlebih dahulu karena merasa sepi sebab luasnya vila ini dan betapa megahnya kamar mereka. Karena banyaknya ruangan yang perlu mereka perhatikan, mereka melakukan perkumpulan itu saat malam hari atas sebab banyaknya waktu yang mereka habiskan dalam melihat semua ruangan.
"Kamu merasa aneh gak 'sih? Di vila seluas ini hanya ada tujuh orang yang tinggal. Maksudku, apa tidak ada pembantu lain untuk membersihkan vila ini." Retno berdiri di depan Ardi yang sedang duduk di pinggir kasur.
"Sudah kamu tenang saja. Tidak baik berburuk sangka pada mereka yang sudah mengizinkan kita tinggal di dalam vila ini untuk melakukan penelusuran." Ardi menjawab sambil mengeluarkan kamera dari dalam tas nya.
"Tapi!.." Retno ingin mengatakan sesuatu dengan keras. Namun, Tetra segera menutup mulut Retno sebelum berucap.
"Sstt… kalian semua harus berlaku sopan di dalam rumah ini. Perilaku sopan mulai dari tidak mengatakan hal-hal kasar, berbau tidak senonoh, atau membuang sampah di sembarang tempat. Hal ini mungkin akan mengganggu para penghuni tak terlihat disini. Jadi, jangan berteriak, mengerti?" Tangan Tetra masih menutupi mulut Retno.
"..." Retno mengangguk karena suaranya tersumbat.
"Aku mungkin setuju denganmu jika ada yang aneh pada villa ini." Tetra melepaskan tangannya dari mulut Retno.
"Setidaknya, ada dua ruangan yang memiliki huruf "P" di depan pintu ruangan. Di depan pintu itu, juga bertuliskan nama "Sophia" dan "Noctis" aku memiliki firasat buruk tentang hal ini." Tetra berdiri tegak. Tatapan matanya serius tertuju pada mereka berdua.
"Halah… palingan huruf "P" itu merupakan bahasa Inggris yang merupakan singkatan "Personal" yang artinya pribadi." Ardi memastikan kamera miliknya tidak ada masalah untuk kelancaran dalam melakukan penelusuran.
"Tapi aku rasa tidak dilihat dari pakaian Melati yang memakai kebaya, mereka semua lebih menuju ke adat Jawa." Tetra menyangkal atas apa yang dikatakan Ardi.
"Kata dalam bahasa Jawa dengan awalan "P" 'ya?" Retno berpikir keras dari petunjuk ini."Kalau tidak salah, itu merupakan singkatan dari "Pati" yang berarti "mati"?"
"Benar, salah satu datu dari kata Pati artinya adalah mati. Jadi, aku memiliki kesimpulannya jika penghuni lain sedang pergi ke tempat lain kecuali Sophia dan Noctis yang sudah ditumbalkan oleh mereka berdua." Tetra memberikan teorinya pada mereka berdua.
"Tapi mana mungkin mereka berdua melakukan hal itu? Dan jika mereka melakukannya, berarti kita bertiga merupakan tumbal mereka berdua selanjutnya dan karena itu mereka membiarkan kita tinggal?" Retno merasa bingung dan takut saat ini. Dia merasa gundah dan tidak tenang, merasakan bahaya yang datang dan merasa sangat buruk.
"Ini masuk akal." Ardi menyela berhenti fokus pada kemeranya dan masuk dalam percakapan antara mereka berdua. "Aturan ketiga, dilarang masuk ke dalam hutan yang ada di dekat vila. Mungkin, mereka melakukan persembahan pada hantu di hutan itu. Lalu, karena itu juga mereka memberikan aturan keras pada hal ini." Ardi mendukung tentang apa yang dikatakan Tetra.
"Terus apa yang akan kita lakukan?" Retno bingung dan saling bergantian menatap mereka berdua.
"Hmm… menurut peraturan Kedua, tidak boleh berkeliaran saat lewat jam 22.00 malam atau membuat suara berisik. Itu menyiratkan jika akan terjadi sesuatu di atas jam 22.00 dan kita tidak boleh berisik yang mungkin akan memberitahukan kabar masing-masing dari kita." Tetra mengingat pada peraturan yang dikatakan Melati.
"Itu berarti, kita justru harus keluar saat malam dan tetap bersama-sama agar tidak terpisah satu sama lain. Aku juga akan membawa kamera untuk merekam semua kejadian." Ardi mengangkat kameranya dengan bangga dan percaya diri.
"Seperti yang dia katakan, kita akan bersikap normal hingga jam 22.00 malam. Lalu kita akan berkeliling vila setelahnya. Kita juga akan merekam semua kejadian yang ada, dan membuat itu menjadi bukti untuk laporan kepada polisi." Tetra tidak menyalahkan Ardi yang merasa percaya diri walau dalam situasi berbahaya dan justru mendukungnya.
"Aku akan kembali ke kamarku, akan mencurigakan jika aku tetap berada di kamar ini." Retno berjalan menuju pintu keluar.
Langkahnya pelan dan perasaannya sangat takut serta resah, kulitnya menjadi agak pucat karena rasa takutnya, dan dia sedikit gemetar.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya dia mengunjungi tempat angker, namun ini pertama kali dia mengetahui dirinya berada satu bangunan dengan pembunuh.
Dia perlahan mendekati pintu, saat berada di depan pintu…
*Cetarrr…
Petir keras menyambar di luar vila hingga kilatan cahaya memasuki kamar mereka bertiga berada saat ini. Tempat yang disambar petir itu cukup dekat dengan vila yang membuat suara terdengar semakin keras.
Hujan deras turun setelah itu, suasana menjadi semakin mencekam, hawa dingin menusuk dalam ke kulit, dan perasaan takut semakin bertambah.
"Kyaaa…" Retno yang tadinya menjadi takut, berteriak keras. Dan apa yang dilakukannya merupakan pelanggaran terhadap aturan pertama yang menyuruh untuk bersikap sopan.
"..." Kedua pemuda itu diam melihat Retno yang kaget. Mereka juga sedikit merinding karena aturan pertama dilanggar.
"Sudah… sudah… aku rasa bukan masalah karena ada suara petir." Tetra menenangkan Rey yang menjadi takut atas kelakuannya sendiri.
"I… iya…" Retno masih tampak takut. Namun dia kembali mencoba untuk membuka pintu.
*Kriet…
Pintu terbuka sebelum Retno memegang pegangan pintu.
"..." Mereka bertiga diam dan memperhatikan sosok Melati yang berada di depan pintu.
"Saya disini hanya ingin memberitahukan kepada kalian bertiga. Makan malam sudah siap, kalian bisa pergi ke ruang makan sekarang." Senyuman ramah Melati masih terasa hangat di cuaca hujan dingin ini. Namun, itu tak cukup untuk menghangatkan mereka, atau itu malah membuat mereka bertiga semakin takut.
*Jlek…
Melati menutup kembali pintu kamar dan pergi. Meninggalkan keheningan pada mereka bertiga yang resah.
"Ayo makan." Tetra mengambil inisiatif sebelum mereka berdua.
---
Diruang makan, suasana tampak kurang menyenangkan dan sangat canggung. Walaupun saat ini ada lima orang, namun tidak ada satupun dari mereka yang berbicara atau membahas satupun topik. Mereka semua diam dan fokus pada makanan mereka masing-masing.
Melati berdiri di belakang kursi Elena makan dan memasang senyuman ramah nan hangat di wajahnya.
Elena tetap fokus pada makanannya mengabaikan semua orang yang ada di sana. Kelakuannya memang sopan, namun disaat bersamaan membuat mereka bertiga waspada.
Sedangkan mereka bertiga terutama Retno tidak enak makan atau tidak selera makan karena memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi pada mereka.
Suasana sepi, senyap, dan canggung menyelimuti saat mereka semua berada di ruang makan. Ditambahkan dengan vila luas dan minim penghuni, mereka bertiga tambah waspada.
.
.
.
.
.
Setelah beberapa jam, akhirnya jam 22.00 telah sampai. Mereka bertiga berkumpul di kamar Ardi dan menyusun rencana untuk melakukan penelusuran kali ini.
"Oke, begini rencananya. Kita berdua akan menuju kedua ruangan dengan simbol "P", yaitu kamar Noctis dan Sophia untuk mencari bukti apa saja yang berada di dalam sana." Tetra berdiri di hadapan mereka berdua saat mengusulkan sebuah rencana pada kedua temannya.
Retno mengangkat tangannya. "Bagaimana jika kita ketahuan?" Dia merasa khawatir jika saja dia ketahuan.
"Tenang saja, kita tidak akan berpencar dan tetap bersama. Karena vila ini sangat luas, mereka seharusnya tidak selalu bersama setiap saat. Mereka pasti hanya sendiri untuk saat ini. Dengan itu, kita akan memanfaatkan jumlah yang lebih banyak dibandingkan mereka." Tetra memahami atas penyebab kekhawatiran Retno. Bagaimanapun, mereka merasa jika berurusan dengan seorang penyembah iblis.
"Ardi, apa kamera infrared milikmu sudah siap?" Tetra menatap pada kamera di tangan Ardi.
"Siap, kita bisa mulai penelusuran kapan saja." Jawab Ardi dengan sigap.
"Baiklah, mari kita berangkat." Tetra mulai berjalan menuju pintu keluar ruangan itu dan membukanya.
Hanya dengan peralatan seadanya, mereka bertiga menelusuri vila yang luas dan mencekam ini. Bahkan, mereka bertiga tidak yakin bisa selamat dalam penelusuran ini. Namun, dalam benak mereka, mereka juga merasa jika hanya diam mereka akan menjadi korban cepat atau lambat.
Pintu terbuka. Tidak seperti sebelumnya, suasana vila diatas jam 22.00 sangat gelap yang menambahkan sensasi horor dan rasa waspada mereka bertiga.
*Step… step… step…
Melewati lorong-lorong gelap sambil mengarahkan senter ke depan, mereka bertiga bertujuan menuju kamar Sophia terlebih dahulu karena merasa jika kamar itu lebih dekat.
"Sssttt… kita akan segera memasuki ruangan." Tetra menyuruh diam kedua teman di belakangnya.
"..." Mereka berdua mengangguk kecil sebagai tanggapan. Sebenarnya, mereka sudah diam sejak awal, namun mereka mengangguk agar persoalan ini tidak menjadi lebih panjang.
*Kriiit…
Pintu berderit, perlahan-lahan ia memperlihatkan apa yang ada di dalam ruangan.
Mereka bertiga masuk ke dalam ruang kamar itu dengan Tetra yang memimpin dan mereka berdua mengikutinya. Langkah mereka bertiga pelan, sebanyak mungkin meredam suara langkah. Senter diarahkan pada seluruh ruangan gelap itu, semua sudut dinding terlihat oleh mereka.
"Tidak ada apa-apa disini." Tetra yang paling depan melangkahkan kakinya dan tetap maju ke depan sambil menyorotkan senternya pada dinding ruangan.
*Spart… spart…
Setelah berjalan beberapa langkah, alas kaki Tetra menginjak suatu cairan.
"???" Mereka bertiga mengarahkan lampu senter ke lantai.
"Ini… darah..?" Retno merasa takut. Tubuhnya menjadi bergetar, nada suaranya pun pelan.
Bukan hanya Retno, mereka bertiga juga ketakutan melihat cairan merah yang berceceran di lantai yang menghiasi ruangan dengan bercak berwarna merah.
"Ardi, rekam ini menggunakan kamera infrared milikmu." Perintah Tetra pelan dan seminimal mungkin menggunakan suara.
"Siap." Ardi menjawab dengan datar, lalu menyalakan kamera dan merekam pada bercak merah itu. Akan tetapi, karena mereka menggunakan kamera infrared, apa yang terlihat tidak berwarna.
*Jlar…
Pintu tiba-tiba tertutup, mereka terjebak di dalam ruang. Bingung gelisah melanda, mereka merasa resah.
"Tenang… tenang… aku akan mencoba untuk membukanya." Bahkan dalam suasana ini, Tetra masih bersikap tenang dan mengambil keputusan logis.
Sesampainya pada pintu, dia menarik dan mencoba untuk membuka pintu. Akan tetapi, semua usaha sia-sia, daya terbuang percuma, tak ada cara pintu terbuka.
"Berat, tidak berhasil." Tetra menunjukkan kegelisahan pada kedua temannya.
Mereka bertiga kembali menyoroti ruangan itu dengan seksama. Mereka tidak melewatkan satupun sudut di dalam ruang kamar persegi itu.
"Pintu." Retno melihat sebuah pintu kecil di salah satu sudut ruangan.
Pintu itu berbentuk persegi kecil dan berada dibawah. Tempatnya cukup terkamuflase oleh gelapnya malam.
Mereka bertiga menuju ke arah pintu kecil itu.
Tak ada jalan lain, tak ada cara lain, dan tak terpikirkan ide lain. Mereka bertiga memilih masuk ke dalam pintu yang membawa mereka ke bawah.
"Kira-kira, kita akan turun sampai mana?" Retno yang berada paling bawah merasa heran.
"Sudah cepat kamu turun, kami berdua sama-sama tidak tahu." Jawab Tetra yang ada di tengah dengan datar.
"Vila ini lebih rumit dari yang aku pikirkan." Ardi yang berada paling atas bergumam. Kameranya masih aktif dan merekam apa yang ada di sekitarnya.
Makin lama, makin dalam. Makin lembab pula perasaan di bawah. Hujan deras di luar vila mendatangkan kelembaban yang bertambah dan rasa dingin yang mengalir di tubuh.
Setelah turun selama beberapa puluh menit, akhirnya mereka bertiga sampai pada ruang bawah tanah.
Ruangan itu dilapisi oleh batu yang berbentuk persegi pada dinding, lantai, serta langit-langit. Semen tidak digunakan di sini. Pemandangan dan perasaan seperti berada di ruang kastil di masa lalu.
"Tempat ini sangat luas, aku baru tahu tentang ruang bawah tanah ini." Tetra berjalan paling depan, menyorot jalan di depannya.
"A… aku… ta… takut…" Melihat pemandangan kuno di sekitarnya, Retno menjadi lebih takut dan merinding. Ia sampai tergagap karena rasa takutnya.
"Woah… apakah kita baru saja menemukan reruntuhan kuno?" Ardi merasa kagum dengan semua ini. Kameranya tak henti-hentinya merekam apapun di sekelilingnya. Namun, rasa kagum itu juga diikuti oleh rasa takut.
Mereka tetap memberanikan diri berjalan melalui lorong gelap dan panjang. Hingga, tiba-tiba…
*Crack…
Lantai yang dipijak oleh Ardi runtuh dan membuatnya jatuh.
"Aaahhh!!!" Ardi berteriak saat dia jatuh.
"ARDI!!!" Retno dan Tetra berusaha untuk menangkap Ardi. Namun, mereka berdua gagal dan Ardi jatuh ke bawah.
"..." Mereka berdua diam dan memandangi lubang dalam tempat Ardi terjatuh.
"Sekarang bagaimana?" Tanya Retno yang menatap Tetra menunggu saran tindakan darinya.
"Kita akan lanjut menelusuri lorong ini. Percuma jika kita menolongnya yang mungkin gagal. Lebih baik kita keluar dan meminta bantuan." Tetra masih tegar bahkan saat salah satu temannya terjatuh ke dalam lubang. Pemikiran logisnya memang mengatakan inilah yang paling tepat untuk dilakukan.
"Ba… baik." Retno masih ragu terhadap keputusan Tetra, namun dia memutuskan untuk setuju karena dia sendiri tidak memiliki ide lain yang lebih bagus.
Mereka berdua lanjut menelusuri lorong gelap dan lembab itu. Lumut menghiasi dinding dan lantai lorong yang terasa dingin. Lorong gelap di depan mereka terasa mencekam.
Akan tetapi, ada satu hal yang tidak mereka sadari. Jalan pada lorong itu tidak benar-benar lurus, yang artinya mereka hanya berjalan memutar pada satu jalur tengah sama.
Retno dan Tetra tidak menyadari hal ini karena pelengkungan pada jalan terlalu sedikit. Alhasil, mereka berdua tetap lanjut berjalan disinari oleh cahaya senter.
---
Di tempat lain, Ardi telah berhasil mendarat di dasar lubang yang dalam. Lubang itu berbelok-belok seperti seluncuran yang sangat panjang.
*Boing...
"Aaaaahhhhhh!"
Ketika Ardi mendarat, di bawahnya ada sebuah trampolin yang mencegah dirinya dari benturan keras.
"Adu… du… duh… sakit dan memusingkan juga rasanya jatuh dari tempat yang tinggi." Ardi memegangi bokongnya yang mendarat terlebih dahulu.
"Apa ini?" Dia bangkit dari tempat dia jatuh dan mengarahkan lampu senter pada tempat disekitarnya.
"Seram…" Ardi melihat jeruji besi berada di kiri kanan tempatnya berada saat ini.
Ia lalu berjalan menyusuri lorong dengan jeruji besi di kiri kanan. Jerangkong dan tulang-tulang manusia terlihat di dalam penjara itu. Mereka semua seperti sudah lama berada di dalam sana.
Ardi berhenti di salah satu penjara dan melihat isinya. "Penampilan jerangkong ini sangat unik." Dia memfokuskan senternya pada kerangka yang memakai pakaian bajak laut.
"Yah… sudahlah, mungkin ini peninggalan masa lalu." Ardi melanjutkan perjalanan menelusuri lorong. Kamera dan lampu senternya mengarahkan ke depan menunjuk jalan.
*Trak… tak…
Sebuah suara terdengar dari jalan di belakang Ardi.
"Apa itu!?" Secara refleks, lampu senter diarahkan ke tempat itu.
*Tak… tak… tak…
Terdapat jerangkong yang hidup dan berjalan ke arahnya.
Jerangkong itu bukan hanya satu, melainkan ada delapan jerangkong yang berjalan ke arahnya. Mereka semua memiliki penampilan seperti bajak laut, mulai dari menutup salah satu mata hingga memakai bandana.
"Baiklah… saatnya… KABUR!!!" tanpa menunggu lebih lama lagi, Ardi segera lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu. Dia takut kepada jerangkong, terutama yang membawa pedang. Selain itu, dia juga kalah jumlah yang membuatnya tidak berani melawan.
*Tak… tak… tak…
Para jerangkong itu lari mengikuti Ardi. Suara tulang mereka saat berlari terdengar sangat keras.
---
Kembali ke tempat Retno dan Tetra. Mereka berdua masih berjalan pada lorong yang mereka anggap lurus. Jalan mereka saat ini tetap terasa lembab walau sudah tidak ada lumut di lantai dan dinding.
"Apa jangan-jangan kita tetap berjalan memutar?" Retno mulai menyadari keanehan ini.
"Aku rasa tidak, jalanan kita tadi ditumbuhi lumut, dan sekarang jalanan ini sudah bersih dari lumut walau masih terasa kelembabannya.
*Grrrrkk…
Lantai di lorong itu tiba-tiba bergetar dan sesuatu yang besar terasa menghampiri mereka.
"Apa itu?" Retno segera mengarahkan senternya ke belakang mereka.
"Entahlah..?" Tetra juga ikut mengarahkan senter ke belakang.
Sesuatu yang tidak tidak mereka harapkan dan inginkan muncul di belakang mereka. Itu merupakan…
*Grawk… rawk… rawk…
Sebuah bola batu besar menggelinding ke arah mereka. Ukuran dari bola batu itu memenuhi lorong di jalan mereka, sehingga mereka tidak bisa menyingkir ke tepi lorong untuk berlindung.
"Lari!!!" Teriak Retno sambil lari menjauhi dari batu.
"Tidak usah berteriak! Aku sudah tahu jika harus lari!" Tetra juga ikut berlari menjauhi batu.
*Rawk… rawk… rawk…
Batu itu menggelinding ke arah mereka berdua. Melindas apapun yang ada di jalannya. Jika mereka sampai terkejar batu itu, mereka pasti akan remuk dan hancur dengan luka patah tulang yang menyakitkan.
.
.
.
Mereka berdua terus berlari. Entah berapa lama mereka lari dengan tergesa-gesa dan rasa takut atas batu yang bisa melindas mereka.
Lorong gelap mampu mereka lalui karena mata mereka mulai beradaptasi pada cahaya gelap di sekitar mereka berdua. Namun, lampu senter masih mereka hidupkan.
"Hah… hah… hah…" nafas Retno mulai tersengal-sengal, lelahnya mulai terasa karena jauhnya jarak yang ditempuhnya.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Tetra berlari di sampingnya.
"Hi… iyah…" Walaupun itu yang dikatakannya, namun kondisinya terlihat berbeda.
"..." Tetra diam dan melihat pada lorong di depannya.
Dia melihat dua belokan kekiri dan ke kanan. Masing-masing dari mereka akan terpisah karena tidak sempat pergi pada salah satu lorong yang sama.
"Belokan!" Tetra menunjuk pada lorong di depannya.
"Iya!" Retno mempercepat laju larinya untuk segera mencapai lorong di depannya.
Mereka berdua secepat mungkin berlari menjauhi batu dan berbelok ke dalam lorong untuk menyelamatkan diri dari batu yang akan melindas mereka berdua.
*Bammm….
Batu itu menabrak dinding, untungnya mereka berdua berhasil masuk ke dalam belokan pada waktu yang tepat. Namun, jalan keluar mereka tertutup oleh batu besar yang membuat mereka tidak bisa saling bertemu.
"Kamu baik-baik saja, Retno?" Teriak Tetra dari balik batu.
"Ya! Aku baik-baik saja!" Jawab Retno yang berada di lorong satunya.
"Cobalah untuk mencari jalan keluar dari lorong itu, aku akan mencari jalan di lorong ini!" Tetra memberikan instruksi.
"Baik!" Retno masuk menelusur jalan lorong itu sendirian dalam gelap gulita.
"Sekarang aku juga harus berjalan." Gumam Tetra pelan.
Kemudian, Tetra mengarahkan lampu senternya ke lorong dia berada saat ini. Lorong itu tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, itu masih memiliki lantai dan dinding yang terbuat dari batu.
"..." Dengan diam dan dalam sepi, dia terus berjalan sendirian. Perasaannya gelisah, kedua temannya telah terpisah. Namun, dia tak pasrah dan tak menyerah.
"Hmm… tempat ini sangat aneh. Memang rasanya aku hanya berputar-putar di satu tempat yang sama. Aku sendiri juga sulit menandai jika itu tempat yang sama karena penampilan setiap tempatnya mirip. Tapi, jika aku menjatuhkan suatu benda disini, aku juga tidak bertempat dengan benda itu kembali. Rasanya seperti tempat ini seakan-akan hidup dan memiliki keinginannya sendiri dan dia bisa dengan leluasa mengubah apapun yang berada di dalam sini." Tetra bermonolog sendiri sambil terus lanjut di perjalanan di lorong.
.
.
.
Setelah berjalan sekian lama di lorong, akhirnya dia sampai pada sebuah ruangan berbeda, bukan hanya lorong dengan dinding, lantai, dan atap batu.
Ruangan itu berbentuk seperti gua. Stalakmit dan stalaktit terlihat di dalam ruangan itu. Selain dua hal itu, terdapat sebuah danau di tengah-tengah ruangan dengan air jernih dan bersih. Anehnya, air pada danau memancarkan cahaya yang menerangi ruangan.
"Dingin." Tetra memasukkan tangannya pada air danau dan membasuh mukanya.
"Hah… mungkin aku akan beristirahat sejenak. Semoga air danau ini tidak beracun." Dia duduk di tepi danau dan mengambil air menggunakan tangannya lalu meminumnya.
"Hmm… rasanya sangat menyegarkan." Ucap Tetra saat memasukkan air ke dalam mulutnya.
Sambil duduk di tepi danau, Tetra mengamati sekitarnya. Dia tidak perlu menghidupkan senternya karena cahaya dari air danau cukup untuk menyinari seluruh ruangan.
"Apa itu?" Tetra menyipitkan matanya dan melihat sesuatu di tengah danau.
Sebuah kotak terlihat di tengah-tengah danau itu. Itu lebih terlihat seperti peti harta karun dibandingkan dengan kotak biasa. Warnanya coklat seperti kayu dan dihiasi oleh ornamen emas.
"Baiklah, aku akan mencoba untuk mengambilnya. Mungkin itu akan memberikan petunjuk terhadap vila ini."
Tetra masuk ke dalam danau. Danau itu tidak terlalu dalam dan tidak bisa dikatakan dangkal. Kedalaman danau merendam tubuh Tetra hingga sampai ke pinggangnya yang membuat dirinya tetap aman.
Ketika tubuh Tetra masuk ke dalam danau, air di danau bersinar dengan terang melebihi yang lokasi air danau yang tidak disentuh. Ini membuat Tetra sedikit takut. Namun karena tidak ada yang terjadi, maka dia tetap tenang.
"Tempat ini cukup baik hati dan tidak memberikan siksaan."
Dengan mudah, Tetra berhasil sampai ke tengah danau. Tidak ada halangan yang mengganggunya saat berada di dalam danau.
Meraih peti harta itu, dia membuka isinya dan melihat apa yang ada di dalamnya. Peti yang tidak terkunci, membuat Tetra tidak terlalu sulit untuk membukanya.
Selembar kertas yang tergulung terdapat di dalam peti itu. Tetra mengambil kertas itu dan mulai membukanya.
"Ini kan!?" Tetra merasa terkejut atas apa yang apa yang tertulis di dalam kertas itu.
"Tidak bisa dipercaya."
---
Di tempat lain, Retno menelusuri lorong gelap dan lembab dibantu oleh cahaya senter yang redup. Matanya mungkin sudah beradaptasi dengan gelapnya lorong, namun ini masih belum cukup untuk membuatnya melihat seperti di siang hari.
"Hah… hah… hah…" nafasnya masih tersengal-sengal karena lari dalam jarak yang jauh dan merasakan ketakutan yang tinggi.
Kegelapan di sekelilingnya membuat dirinya menjadi waspada. Kelima indra menajam, imajinasi meliar.
*Sss…
Sebuah bayangan putih muncul di belakangnya dan mulai mendekatinya secara perlahan.
Bayangan putih yang transparan dalam bidang tiga dimensi berbentuk seperti lingkaran dengan satu tangan besar yang muncul darinya.
"Hah… hah… hah…" Retno tetap berjalan menelusuri lorong.
Perasaan yang campur aduk dari takut, sedih, waspada, menyesal, dan kesepian, membuatnya rasa takut mendalam yang hampir membuatnya menderita trauma karena hal ini.
.
.
.
Dia tetap melanjutkan jalan di lorong yang gelap dan sepi. Bola bayangan putih dengan tangan besar yang keluar darinya tetap mengikuti Retno dari belakang.
Retno sama sekali tidak menengok ke belakang selama ini. Bukan karena dia tidak menyadari hal ini, namun karena dia terlalu takut untuk melakukannya.
"Huft…" Retno menarik nafas dalam dan memberanikan dirinya. Dia mencoba untuk melihat ke belakang dan…
"GRHAAAA!!!" Bola cahaya putih dengan satu tangan besar mengeluarkan teriakan keras dan menyeramkan.
Warna dan wujudnya berubah. Sekarang bila itu berwarna merah kehitaman yang sangat mengintimidasi dan memiliki bentuk mulut dengan puluhan gigi tajam yang menghiasinya.
Tangan yang dikeluarkan oleh mulut itu, menumbuhkan kuku yang sangat panjang, tajam, dan kering seperti tulang tanpa daging ataupun kulit.
"Kyyaaahhh!!!" Retno berteriak keras.
Larian kencang menjauhi mulut hitam di belakangnya mengikuti setelah Retno berteriak takut.
"Graaaa….!!!!!" Mulut itu melayang-layang mengikuti arah Retno lari dan tidak membiarkannya pergi menjauh.
Lorong gelap lembab dilaluinya dengan sangat cepat. Untunglah lantai tidak licin dan tidak membuat Retno terjatuh.
---
"Hah… hah… sampai kapan aku akan terus berlari dari para jerangkong itu!!!" Ardi sejak tadi masih terus berlari tanpa tujuan di jalanan lurus dengan jeruji besi di kiri kanannya.
*Tak… tak… tak…
Jerangkong di belakangnya masih tetap mengikutinya dan tidak lelah-lelahnya mengikuti Ardi.
Tiba-tiba, Tetra muncul di depan Ardi. Wajah dan kelakuan Tetra sangat tenang tanpa menunjukkan rasa takut sekalipun dia mengetahui tentang kedelapan jerangkong yang lari di belakang Ardi.
"Apa yang kamu lakukan disana!? Cepat lari!" Ardi terus berlari sambil memperingatkan Tetra.
"Hah… tenang… tenang… kamu tidak perlu takut. Para jerangkong itu tidak berbahaya." Tetra malah menghela nafas dan tetap santai di depan jalur lari Ardi.
*Set…
Ardi berlari melewati Tetra dan bersembunyi di belakang tubuh Tetra. Pada saat yang bersamaan, dia menggunakan tubuh Tetra sebagai perisai untuk melindunginya dari para jerangkong itu.
*Tak… tak… tak…
Para jerangkong tetap berlari ke arah mereka berdua.
Ketika sampai tepat di depan mereka berdua, para jerangkong itu berhenti dan mengepung mereka dari berbagai arah.
“H… Hi…” Ardi terlihat sangat ketakutan mengetahui dirinya dikepung oleh para jerangkong itu. Dia memegang tangan Tetra dengan erat.
Kedelapan jerangkong itu mengangkat pedang mereka masing-masing dan siap menebas keduanya. Kemudian…
*Slice…
Pedang ditebaskan menembus tubuh mereka berdua. Di saat itu juga, tidak terjadi apa-apa pada mereka berdua. Tebasan pedang itu hanya menembus tubuh keduanya dan melewati begitu saja seperti para jerangkong itu hanya ilusi.
“Eh???” Ardi kebingungan karena tidak ada yang terjadi kepada mereka berdua setelah terkena pedang.
“Tenang saja, jerangkong ini tidak nyata.” Tetra dengan tenang mendekati salah satu jerangkong dan mencoba untuk menyentuh kepala jerangkong. “Lihat.” Dia menunjukkan tangannya yang menembus tengkorak jerangkong begitu saja.
“O… oh? Be… begitu ‘ya? Ma… masak benar?” Ardi masih tidak yakin tentang kejadian barusan.
“Sudah… sudah… Sekarang ayo kita pergi mencari Retno. Mungkin saat ini dia sedang ketakutan setengah mati.” Tetra berjalan ke suatu tempat menembus tubuh kedelapan jerangkong yang mengepungnya.
“Oke..?” Ardi sementara itu masih tidak yakin. Namun dia tetap mengikuti Tetra dan menembus tubuh ke jerangkong.
“???” Ardi masih berhenti melihat kebelakang pada para jerangkong itu. Lalu…
*Zztt…
Kedelapan jerangkong itu menghilang tanpa jejak secara tiba-tiba.
“Ardi, cepat!” Panggil Tetra yang menjadi tidak sabar. Dia tahu jika Retno pasti baik-baik saja, namun dia juga kasihan pada Retno karena dia yakin Retno pasti sedang ketakutan saat ini.
“Oke.” Ardi segera menuju ke tempat Tetra.
Mereka berdua melewati sebuah tangga yang terbuat dari batu yang menuju ke atas. Setidaknya mereka berdua masih membawa senter karena tempat ini tetap terasa gelap.
---
“Hah… hah… hah…” Sementara itu, Retno masih berada di posisi sama dengan Ardi. Dia masih lari terbirit-birit dikejar oleh hantu mulut yang mengeluarkan tangan.
*Sret…
Tiba-tiba, sebuah tangan yang tak lain dan tak bukan adalah Tetra menarik Retno menuju ke sebuah belokan yang menghubungkan tangga dilewati oleh Tetra dan Ardi.
Belokan itu cukup tersembunyi dan tidak akan terlihat jika tidak diperhatikan secara seksama. Apalagi oleh Retno yang sedang lari dan ketakutan, dia sama sekali tidak mengetahui tentang hal itu.
"!!!" Retno terkejut, namun mulutnya ditutupi oleh tangan Tetra yang membuat suaranya tidak bisa keluar.
"Kamu tenang saja, oke." Ucap Tetra untuk menenangkan Retno.
"..." Retno diam dan mengangguk. Dia merasa kembali tenang setelah berkumpul dengan kedua temannya.
"Bwah… cough… cough…" Retno terbatuk setelah Tetra melepaskan tangannya yang menutupi mulut Retno.
"Ka… kalian… kalian dari mana saja?" Tanya Retno yang masih kelelahan setelah bermain kejar-kejaran dengan hantu mulut bertangan itu.
"Aku aku jatuh dan dikejar-kejar jerangkong bajak laut yang sangat bersemangat." Ardi menjawab dengan datar karena tidak ada gunanya khawatir setelah mengetahui hantu-hantu itu aman.
"Dan aku menemukan peta tentang tempat ini." Tetra mengeluarkan peta yang ditemukannya pada danau.
"Berarti kita bisa keluar dari sini." Retno bersemangat setelah mengetahui jika dia akan meninggalkan tempat ini.
"Iya. ikuti aku, aku akan menunjukkan jalan keluar, atau kamu lebih suka istirahat dulu? Kelihatanya kamu sangat lelah." Tetra memperhatikan pada seluruh tubuh Retno yang dipenuhi keringat.
"Tidak, Aku akan mengikuti kalian menuju jalan keluar." Retno sangat ketakutan mengingat apa yang terjadi padanya.
"Baiklah jika itu maumu." Tetra mulai mendaki anak tangga satu persatu. Ardi dan Retno mengikuti Tetra dari belakangnya.
.
.
.
Sesampainya di puncak, mereka muncul di salah satu sudut ruangan dalam ruang tamu yang tampak tidak terlalu mencolok.
"Uh… mataku." Retno menutup matanya saat menerima intensitas cahaya pagi yang terlalu banyak hingga membuat matanya sakit.
Mereka bertiga berada di bawah tanah selama semalaman dan pagi sudah menunggu mereka di luar. Hujan kemarin juga sudah berhenti dan membuat udara pagi hari ini sejuk.
"Aku sangat lelah." Tetra berjalan pada salah satu kursi di ruang tamu dan duduk disana.
"Tunggu..! Tunggu..! Tunggu..! Apakah tidak apa-apa kita bersantai di vila ini? Bukankah mereka berdua memiliki hubungan dengan makhluk halus dan akan menumbalkan kita!?" Ardi terkejut dengan sikap Tetra yang terlalu santai saat masih berada di vila ini.
"Jika tentang hal itu, kamu tanyakan saja pada Melati. Dia akan menjelaskan semuanya." Ucap Tetra datar dan menyandarkan punggungnya pada kursi yang didudukinya.
*Klek…
Pintu ruang tamu terbuka. Elena dan Melati muncul dari balik pintu.
"Selamat pagi kalian semua. Apakah petualangan kecil kalian menyenangkan?" Elena yang masuk ke dalam ruangan itu langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Tetra.
"..." Melati diam. Di Wajahnya terlihat senyuman ramah nan hangat. Ia berdiri di belakang kursi Elena.
"Petualang kecil?" Retno bertanya-tanya dan menatap heran pada Elena dan Melati yang ternyata mengetahui tentang kejadian kemarin malam.
"Silahkan duduk, sepertinya kamu sangat lelah." Elena menunjukkan pada kedua kursi kosong yang berada di kanan kiri Tetra.
"Iya." Retno duduk di sebelah Tetra dengan masih sedikit enggan karena terbayang-bayang atas kejadian tadi malam, mulai dari cairan merah di dalam ruangan Sophia hingga hantu yang mengejarnya.
"Baik." Ardi terlihat lebih santai, namun dia masih menunjukkan keheranan pada mereka berdua.
"Oke… kalian berdua silahkan bertanya apapun tentang kejadian kemarin malam. Melati dan aku akan menjelaskan." Elena menatap pada mereka bertiga, menunggu apa yang akan dikatakan mereka.
"Mulai saja dari identitas mereka berdua. Aku rasa itu adalah yang paling penting untuk kalian ketahui." Tetra menyarankan dengan matanya yang terpejam karena sudah mengetahui semuanya dari kertas yang ditemukannya.
"..." Ardi dan Retno mempertanyakan tentang saran Tetra. Mereka berdua masih berpikir jika Elena dan Melati adalah manusia biasa.
"U… Um… kalian berdua memangnya siapa?" Ardi melemparkan pertanyaan walau masih tidak yakin dengan apa yang dikatakannya.
"Saya akan menjelaskannya." Melati menyahut sebelum Elena. Ardi dan Retno fokus padanya dan menunggu penjelasannya.
"Sederhananya, saya merupakan hantu penunggu vila ini. Dan untuk nona, penjelasan paling sederhananya dia adalah manusia dari dunia lain atau alien." Malati menjelaskan.
"???" Ardi dan Retno tidak bisa mempercayai kenyataan ini begitu saja. Mereka berdua mengerutkan kening karena rasa heran mereka.
*Syuuu…
Beberapa paku melayang mengelilingi mereka berdua.
"!!!" Retno dan Ardi merasa terkejut karena datangnya paku itu yang sangat tiba-tiba. Dan yang lebih membuat mereka kaget, adalah paku-paku itu yang melayang.
"Sekarang kalian percaya 'kan?" Elena menyeringai pada mereka berdua.
"Iya…" Mereka berdua mengangguk sebagai mengerti.
*Sss…
Paku-paku itu mulai menjadi transparan dan menghilang.
"Sebagai hantu vila ini, saya memiliki kemampuan untuk mengontrol objek yang berada di dalam vila ini. Kemampuan ini termasuk menciptakan suatu benda dan menggerakkannya. Namun, saya memiliki suatu batasan tertentu dimana saya tidak bisa menerapkan hal ini pada makhluk hidup atau sel biologis." Melati menjelaskan.
"Jadi, kamu membuat seluruh ruangan itu?" Tanya Retno pada Melati.
"Benar, saya adalah yang melakukannya." Melati mengangguk. Mukanya yang menunjukkan senyuman ramah masih tampak.
"Lalu, kenapa kalian melakukan hal itu kepada kami?" Ardi bertanya atas perlakuan yang mereka dapatkan kemarin malam.
"Alasannya sangat sederhana, itu karena kalian memasuki ruangan dengan huruf "P" diatasnya. Huruf "P" itu adalah singkatan dari "Personal" yang artinya "pribadi". Karena itu kami melakukan itu pada kalian." Elena menatap tajam pada mereka berdua. Tatapan Elena menunjukkan ketidaksenangan pada mereka.
"Tenang saja, semua hantu yang kalian temui adalah merupakan hologram yang saya ciptakan dan batu yang mengejar kalian terbuat dari kertas." Melati menjelaskan agar mereka tidak berpikir yang aneh-aneh.
"Begitu 'ya, semuanya terlihat sangat nyata. Bahkan aku berpikir jika jerangkong itu adalah sungguhan. Ha… ha…" Ardi tertawa garing mendengar hal itu.
"Selanjutnya, itu cairan merah yang ada di dalam ruangan Sophia sebenarnya apa?" Tanya Retno.
"Itu adalah cat. Sebelum kalian datang kesini, aku berusaha mendekorasi kamarnya. Tapi, saat mengecat langit-langit aku malah terjatuh dan membuat bercak merah di lantai. Te~ he~" Elena berkata tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Saya sudah menyarankan nona untuk tidak melakukannya dan ruangan itu akan dihias oleh saya. Namun, nona menolak dengan alasan ingin melakukan sesuatu kepada teman baiknya." Melati memberikan penjelasan tambahan sebelum mereka bertanya lebih jauh tentang mengapa Elena melakukan itu.
"Sekarang kalian sudah mendapatkan pelajaran 'kan?" Tatapan tajam Elena ditujukan kepada mereka bertiga.
"Iya." Mereka bertiga menjawab secara bersamaan.
"Saya menyarankan kalian untuk bersikap sopan saat bertamu di rumah orang." Melati menyarankan.