Sore hari itu adalah sore paling sial untuk Diana,entah apa yang telah dia perbuat sebelumnya hingga dia dibawa ke sebuah rumah tua tak berpenghuni itu.
5 orang yaitu Eflyn,Hendra,Risa,Yogi dan Emi,mereka membawa Diana dengan paksa ke rumah tua itu,entah apa tujuannya.
Dengan riang mereka mengepang rambut Diana dan memakaikannya dua pita merah besar,kemudian terus memotret Diana seperti sebuah benda pameran dan menyerukan nama 'Anable' kepadanya.
"Eh cupu,coba tebak ini berapa?" tanya Eflyn setelah melepas kacamata Diana dan mengacungkan dua jarinya untuk ditebak.
"Yah maap aku lupa,kan rabun mana bisa nebak tanpa kacamata" lanjutnya.
Gadis itu hanya diam saja walau dia tau berapa jari yang di tunjukkan,Diana tidak rabun seperti yang dipikirkan mereka,dia hanya tidak bisa membaca dengan jelas tanpa kacamatanya.
"Ups jatuh" ucap Emi yang dengan sengaja menyenggol Eflyn dan menjatuhkan kacamata yang dipegangnya.
Kacamata itu pecah,mungkin itu tandanya harus membeli yang baru,dalam diam Diana sudah merelakannya jika itu dirusak oleh mereka.
"Eh Anabel,diem diem aja lo,marah napa biar kaya orang kesurupan" ucap Yogi yang memegang ponsel sambil terus mengambil gambar.
"Udah ah pulang yuk,gue merinding nih" ucap Risa yang sedari tadi tak setuju untuk datang ke tempat ini.
Sejak awal,Risa sudah menolak untuk datang ke rumah tua ini,namun reaksi penolakannya selalu disebut penakut oleh teman temannya.
"Diem lo penakut,kalo mau pulang aja sendiri" ucap Hendra.
"Ciusss ini serem banget tau,kalian dari mana si tau tempat kayak gini?" ucap Risa.
"Dari Yogi tuh,katanya disini sepi,teriak teriak juga gak bakalan kedengeran dari luar,jadi aman kan buat main" sahut Emi.
"Lagian kenapa sih ngajak si penakut?" tanya Yogi.
"Ihh aku gak penakut,tapi semenjak masuk sini perasaanku jadi ga enak" ujar Risa.
"Halahh gak usah alay,kalo takut pulang aja sana" ucap Eflyn.
"O..oke aku pulang,kalo ada apa apa aku gak mau ikut ikutan" ucap Risa yang memantapkan dirinya untuk pulang karena merasa semakin gelisah.
GLUDAKK!!!
GLUDAKKK!!!!
GLUDAK!!!
Terdengar suara benda besar yang berjatuhan di lantai dua rumah tua itu,Risa yang awalnya mengambil langkah untuk pergi keluar,seketika terdiam di tempat dia berdiri.
BRUAKK!!!!
Selang beberapa detik kemudian,sebelum ada satu orang pun yang berbicara,sebuah lemari kayu besar menjebol langit langit dan jatuh tepat di tempat Yogi dan Emi berdiri.
"Emiiii!!!!!" teriak Eflyn yang tak melihat temanya dibalik debu yang berterbangan.
Debu yang mulai menghilang memunculkan pemandangan darah yang mengalir dari bawah lemari besar tadi disusul bau amis yang membuat mual siapapun yang menciumnya.
"Yogi!! Yogi lo gak papa kan!?" teriak Hendra yang mencoba mengangkat lemari besar itu.
Diana hanya terdiam melihat kejadian itu,menatap sekeliling dan mulai merasakan hawa yang tak menyenangkan didalam rumah itu.
"Ef..Eflyn..badan gue sakit semua" rintih emi dengan separuh tubuhnya yang tertimpa lemari besar itu.
"Yogi mana yogi!! Yogi!! Lo gapapa kan!?" teriak Hendra yang berusaha keras memindahkan lemari itu.
"Cupu bantuin angkat!" teriak Eflyn setelah melihat Emi tak bisa bergerak karena lemari besar itu.
Mereka ber empat mengangkat lemari besar itu,dengan penuh usaha akhirnya mereka berhasil menyingkirkan lemari itu.
"Yo...gi" ucap Risa yang mulai menangis melihat keadaan Yogi.
"Yogi!!!!" teriak Hendra.
Tubuh Yogi sudah dipenuhi dengan darah,dia sudah tidak terlihat seperti Yogi,tak ada respon apapun dari tubuhnya yang tergelatak di lantai berdarah itu,semuanya terdiam kecuali Risa yang menangis karena ketakutan.
"Sa..sakit" rintih Emi.
Dengan cekatan Hendra mengangkat tubuh gadis yang terluka itu disusul Eflyn yang membersihkan darah di wajah Emi.
"Se..sebaiknya kita segera keluar dan mencari bantuan" ucap Diana.
"Apa? Keluar!? Lo mau ninggalin Yogi sama Emi disini?" bentak Hendra.
"Ta..tapi"
"Gue..gue setuju sama cupu! Lebih baik kita keluar dan cari bantuan dulu!" ucap Risa.
"Enggak,gue gak akan ninggalin temen-temen gue!" ucap Eflyn.
"Aku sama Eflyn bantu Emi sama Yogi disini! Kalian berdua cari bantuan" ucap Hendra.
.
.
.
Akhirnya keputusan diambil,Risa dan Diana pergi keluar untuk mencari bantuan,sedangkan Eflyn dan Hendra tetap didalam bersama Emi dan Yogi yang terluka.
"Diana...perasaan kita tadi masuknya gak kedalem amat sih? Kok gini?" ucap Risa yang mulai khawatir.
"Harusnya setelah di ruang tengah kita bisa langsug keluar,tapi rasanya kita udah jalan lama deh?" ucap Diana.
"Kita muter muter Diana" ucap Risa.
"Kamu bener!! Harusnya kita udah keluar dari tadi"
"Ini gimana Diana!" ucap Risa ketakutan.
"Arghh!!!!!"
Diana dan Risa terkejut mendengar teriakan Eflyn,seluruh badan mereka gemetar ketakutan,mereka berdua semakin merasa tidak nyaman berada di dalam rumah itu setelah hawa mencekam muncul tepat setelah teriak Eflyn.
"Eflyn? Kenapa? Ada apa?" tanya Risa bingung.
"Diana aku takut!!" keluh Risa.
"Le..lebih baik kita segera keluar" ucap Diana yang menarik tangan Risa.
"Dianaa!!!!!!" Risa berteriak saat sesuatu menariknya menjauh dari Diana.
"Risa!!!!" Diana berlari mengikuti Risa.
Mereka berdua berakhir di sebuah ruangan tanpa jendela,Diana melihat Risa ketakutan di sudut ruangan itu dengan luka dikakinya.
"Ta.. tadi apa? Aku nggak tau,kenapa gini" ucap Risa menangis ketakutan.
"Tenang Risa,pokoknya kita harus segara keluar!" jawab Diana menenangkan Risa.
BRUAKK!!!
Pintu kamar itu tertutup dengan keras,spontan Diana menghampirinya dan sesuai dugaan,pintu itu terkunci.
"Gimana Diana? Gimana kalo kita gak bisa keluar?" tanya Risa yang berdiri menghampiri Diana.
"Kita pasti bisa keluar!!" ucap Diana yang berusaha mendobrak pintu itu.
Tubuh Diana tak sanggup merobohkan pintu kayu yang kokoh itu,sedangkan Risa mengawasi dan memperhatikan sekeliling untuk menemukan celah.
BRUAKK!!!
Sebuah kursi kayu terjatuh dari lantai dua tepat di depan Risa,hal itu membuat Risa terkejut dan terdiam.
"Diana!! Rumah ini ada hantunya!! Aku nggak mau mati disini!!" ucap Risa menangis putus asa.
"Kita bisa keluar Risa,pasti bisa! Kita nggak akan mati,tenang aja tenang!!" ucap Diana menenagkan Risa.
"Aku harus keluar!!" teriak Risa yang bersamaan dengan Diana mendobrak pintu itu.
Usaha mereka berhasil,pintu itu terbuka dan mereka bisa keluar dari kamar itu,sesegera mungkin Diana menarik tangan Risa menuju kesebuah jendela besar.
BRUAKKK!!!!
AAAAAA!!!!!!!
Terdengar benda besar jatuh dan disusul teriakan seorang wanita yang tidak salah lagi adalah Eflyn.
"Diana aku mau pulang" ucap Risa menangis sambil meremas baju Diana.
"Ki..kita bisa keluar,kita keluar lewat jendela itu!" ucap Diana.
"Hitungan ketika kita lari" ucap Diana sambil mengambil potongan kayu yang akan dia gunakan tuntuk memecahkan kaca.
"Ba..baik!" ucap Risa.
"Satuu... dua..." ucap mereka berbisik bersamaan.
"Tiga!!" teriak Risa dan mereka berlari.
Baru beberapa langkah mereka berlari dan saling bergandeng tangan,tiba tiba Risa kembali di tarik oleh sesuatu yang tidak terlihat wujudnya.
"Risa!!" teriak Diana yang mulai panik.
"Diana..aku mau pulang,aku gak mau disini" ucap risa menangis sambil menggenggam erat tangan Diana.
Namun sesuatu menariknya semakin kencang hingga membuat seluruh tubuhnya terasa sakit,luka dikakinya mulai melebar karena tarikan itu,darah Risa mulai mengalir,Risa mulai menangis dan putus asa.
"Diana kamu cepet keluar cari orang buat nolongin Risa" ucap Risa yang mulai melonggarkan tangannya.
"Gak bisa!! Kita harus keluar berdua" ucap Diana.
Di waktu waktu terakhir saat Risa akan melepaskan tangannya,Diana dengan cepat memukulkan kayu tepat di belakang Risa,dimana dia merasa ada sesuatu yang menariknya.
Teriakan keras terdengar setelahnya,tubuh Risa terjatuh dan Diana menariknya.
"Ayo kita keluar" ucap Diana.
Diana dan Risa dengan cepat berlari menuju ke ruang tengah dan menemukan pintu keluar,dengan kakinya yang terluka Risa segera memegang gagang pintu itu dan dengan segera membukanya.
Sebelum pintu itu terbuk sepenuhnya,kini giliran Diana yang ditarik oleh makhluk itu,kaki kiri Diana mulai terluka seperti dicakar cakar oleh binatang buas.
Kaki kiri Diana bergerak sendiri seperti ditarik dan diputar dengan paksa,Risa memeluk Diana dengan erat agar dia tidak kehilangannya,raut muka Diana menjelaskan ras sakit yang tidak dapat ditahan lagi,melihat itu dengan susah payah Risa menahan Diana dan mencoba meraih sepotong kayu dan melahkukan hal yang sama seperti yang dilakukan Diana tadi.
BRUAKK!!!!!
Namun kayu itu patah dan hancur,itu semua tidak berguna makhluk itu tidak melepaskan Diana,tak ada cara lagi untuk melarikan diri,sepertinya makhluk itu tidak akan membiarkan mereka berdua pergi.
"Risa lepasin aja,kamu harus keluar" ucap Diana.
"Engga!!! Enggga!!! Percaya sama Risa, sekarang kamu pegang Risa erat erat!!!" teriak Risa.
Diana menuruti perkataan Risa dan memegang erat tubuh Risa,di sisi lain Risa memegang Erat pintu keluar itu.
Sesuai bayangan Risa,pintu itu terbuka,namun selanjutnya ketika semakin keras tarikan makhluk itu,pintu pun mulai lepas dari tepatnya dan dengan keras menimpa dua gadis itu.
.
.
.
.
.
Siang hari pukul 11:40 Diana melihat jam dinding di ruangan yang tak dia kenali,kemudian dia melihat di samping ranjangnya yang terbaring seorang gadis dengan perban di kaki dan tangannya yang tak lain adalah Risa.
"Kita berdua selamat" ucap Diana melihat Risa yang belum sadar.
Kemudian Diana mendengar langkah kaki menuju ruangannya,pintu putih itu mulau terbuka dan menampakan seorang wanita berseragam perawat dengan senyum ramahnya.
Diana menanyakan siapa yang membawa mereka ke rumasakit dan menanyakan apa yang sebenernya terjadi pada mereka hari itu.
Perawat itu menceritakan bahwa mereka tertimpa reruntuhan rumah tua dan beberapa warga menemukan mereka.
"Lalu bagaimana keadaan yang lainnya?" tanya Diana.
"Kalian berdua terluka di bagian kaki,gadis disampingmu tidak mengalami luka serius,tapi kaki kirimu patah dan akan memerlukan waktu untuk pulih" jawab perawat itu.
"Tiga orang lagi terluka parah,satu mengalami pendarahan di bagian kepala,dan yang laki laki kira kira terluka seperti kalian,dan satu lagi mengalami trauma"
"Dan yang satu meninggal dunia" ucapnya.
"Meninggal? Trauma? Itukah yang terjadi pada seseorang yang terkena reruntuhan? Itu tidak mungkin,itu bukan kecelakaan reruntuhan biasa,rumah itu terkutuk!!" ucap Diana dalam hati.
----TAMAT----