Indah sekali ... cahaya lampu yang bergelantungan di atap rumah yang berjejer satu sama lain.
Ah! Aku tersenyum sekarang ... mataku melekuk, bibirku terangkat.
Suara mesin mobilmu terasa nyaman di telingaku. Hah .... Jantungku berdenyut lagi, aku tak sanggup menatapmu lebih lama.
Apa suara binatang malam memang semerdu ini sebelumnya? Entah mengapa aku tak ingin malam ini berlalu. Aku ingin tetap menggenggam tangan dan jemari mu yang bertaut dengan ku.
Betapa bahagianya hatiku saat kau memanggil namaku dengan suara beratmu itu.
Saat aku tak berharap kau membalas rasa ini, tapi dengan sendirinya kau menatapku, tersenyum, dan berharap kepadaku.
"Jadilah kekasihku, Asih!"
Ahh ... kata itu bagaikan racun yang membunuh akal sehatku. Tak bisa ku tahan untuk segera mengangguk dan menerimamu.
Walaupun rasa ini baru singgah di hatiku hanya dalam waktu tujuh hari, tapi hati ini tak bisa menahan rindu yang membakar setiap detik jantungku berdetak.
Rasa lega menjalar di setiap saraf ku saat wajah mu terlihat dibalik pintu kaca itu. Segera ku rapikan rambut yang ku sanggul dengan kedua tanganku. Dan siap melayanimu sebagai salah satu pelanggan ku.
Segelas kopi tanpa gula dan roti lapis selai kacang kesukaan mu, sudah terafal begitu jelas. Disaat itulah, mata ini tak henti melihatmu melepas rindu yang begitu berat.
~~~~
Entah bagaimana alur takdir ini membawaku. Dengan penuh sopan dan cinta kau memintaku untuk bertemu orangtua mu.
"Sebentar lagi kita sampai."
Ucap mu padaku dengan mata berbinar. Tak pernah ku bayangkan hari ini akan terjadi. Disaat cinta ini hanyalah angan, tapi dengan sempurna kau jadikan kenyataan.
Mataku terbelalak kaget melihat bangunan indah itu. Rumah putih dengan halaman yang dipenuhi bunga melati dan pohon Cemara. Begitu tenang dan bersih.
Oh ... Di sini kah tempat lelaki yang ku cintai tumbuh besar? Tak bisa ku utarakan rasa bahagiaku ini.
~~~~
Di garasi itu dia memarkirkan mobilnya. Dia tak membiarkan aku turun sebelum dia membukakan pintu itu untukku.
Ohh ... Kau sungguh pangeran berkuda putihku.
Dengan lembut, dia menggenggam tanganku. "Tidak perlu cemas, ada aku disini." Ucapnya padaku saat melihat wajahku yang cemas.
Kini aku sudah berada di dalam rumah indah itu. Aneh pikirku, rumah ini begitu rapi dengan perabotan yang sedikit. Ditambah warna semua perabot, mulai dari sofa, meja, lemari, bunga, dan lainnya berwarna putih. Indah ... tapi terasa hampa.
Dengan senyuman menawan miliknya, dia berjalan menghampiriku yang duduk tenang di atas sofa.
"Kau lelah, sayang?" Tanyanya dengan lembut.
Aku hanya menggelengkan kepalaku perlahan. Daripada rasa lelah, aku lebih merasa gugup untuk saat ini.
Seorang pembantu menghampiri ku dengan membawa segelas air.
Tak!
Aku tersenyum kearah pembantu itu, tapi dia tak terlihat ramah dengan ekspresinya yang datar.
"Minumlah ...," suruhnya padaku.
Minuman itu begitu segar mengalir ke tenggorokan ku yang kering. Lama sekali orangtuanya keluar, begitu pikirku saat melihat waktu sudah berlalu lima belas menit.
Aku tak berani bertanya. Biarkan saja, mungkin Meraka sedang keluar. Aku juga berharap mereka sedikit lebih lama lagi. Aku masih ingin melihat wajah lelaki yang membuat hatiku terguncang.
Ah ... Aneh! Aku sangat mengantuk. Apa aku kecapekan? Mungkin saja iya, aku tidak bisa tidur lelap semalam karna memikirkan hari ini.
~~~~
Emh ... Entah mengapa wajahku terasa dingin. Seperti ... terkena sesuatu yang dingin. Entah mengapa sangat berat bagiku untuk membuka mata ini.
Ting! Ting!
Suara apa itu? Suara itu terdengar samar di telingaku.
"Sayang ... Kau sudah bangun?" Kini suara beratnya memenuhi telingaku.
Perlahan ku buka mataku pelan. Kepalaku tiba-tiba berdengung. Otot tanganku juga terasa seperti ditarik. Sangat sakit sekali.
Apa yang sedang terjadi? Kenapa Mas Ardi terlihat pendek? Dan ... lantainya juga terlihat jauh dari pandangan ku. Kenapa ini? Aku bermimpi?
Kebingungan memenuhi pikiran ku. Namun, hanya perlu tiga puluh detik bagiku untuk menalar keadaan.
APA INI?!!! Bagaimana bisa aku tergantung seperti ini?! Di ...Dimana pakaianku?! Kenapa aku hanya memakai sehelai kain putih untuk menutupi tubuhku?!
"Ahh... tubuhmu indah sekali, sayang!"
Jiwaku seperti dihujam petir saat melihat matanya yang memandangku seperti kucing melihat ikan.
Mas? Apa yang kau lakukan padaku? Kenapa kau menatapku seperti itu?
Ingin ku tanyakan pertanyaan itu padanya, tapi niat ku terhenti saat melihat ke sekeliling tempat itu.
DEG!
Darah ada dimana-mana! Rantai dan pisau-pisau itu berlumuran dengan darah yang sudah mengering. Bau busuk dan amis menyerbu Indra penciumanku.
Deg! Deg! Deg!
A ... Aku tak sadar dengan tubuhku yang sudah gemetar tak karuan. Apa yang akan lelaki itu lakukan padaku? Siapapun tolong aku! Dia mendekat!
Sebilah pisau putih yang mengkilap dia jilat dengan lidahnya. Menjijikan!
"Sayang ... Ahh! Aku ... Aku tak bisa menahan diriku lebih lama lagi ... Lihat! Lihat lah cahaya mengkilap dari bilah tipis besi ini ... Cantikan? Indah bukan? Ini sangat cocok untuk mengukir ... di tubuh indah mu."
Dia tersenyum lembut kearah ku. Namun, bukan cinta yang membara, tapi ketakutan kelam yang menjalar ke seluruh tubuhku.
Perlahan, rantai yang menggantung tubuhku mengendur perlahan dan membuat kakiku berpijak pada lantai dingin itu.
'Ohh ... Aku akan mati sekarang.' Itulah kalimat yang terpikir di otakku saat melihat dia berjalan memperpendek jaraknya denganku.
"Jangan takut sayang ... Ini tidak akan sakit ... Ini akan terasa nikmat, emh?"
'To ... Tolong aku siapapun ... A.. Aku tidak ingin mati! AKU TIDAK INGIN MATI!!!' Jeritan ini terbungkam dalam hatiku.
Taka ada sepatah kata yang bisa keluar dari mulutku. Aku ... sangat takut! Tolong!
Dia mulai mengelus bilah pisau itu ke pipi kiri ku.
Tolong! Aku akan mati! Tolong!
"Ahhh ... Apa darah merah mu itu ... manis, sayang?"
"Akh!"
Itu ... sakit sekali! Saat bilah tajam pisau itu masuk ke daging pipiku.
Dengan pelan, dia menarik pisau yang menancap di pipiku ke bawah. Darah mulai menetes ke tubuhku.
"Ahh ... warna yang sangat menggoda, sayang."
Dia menjilat bilah pisau itu dengan lidahnya.
"Sekarang ... Pipi kanan mu," ucapnya dengan amat lembut hingga membuat tubuhku seketika lemas tak berdaya.
Dia mulai menyayat bagian-bagian tubuhku satu persatu. Mulai dari wajahku, lenganku, leherku, perutku, kedua pahaku, serta yang sangat menyakitkan, saat dia menyayat bibirku hingga terbelah dua.
Dia terus bermain dengan tubuhku. Dia mulai membelah mulutku hingga ke telinga. Dia memotong lidahku. Dia mengiris kedua telingaku. Dia mencabut satu persatu kukuku. Dia mengeluarkan seluruh isi perutku. Dia ... Dia ...
MEMAKAN KU!
HA HA HA HA!!!!
*****
"Hah ... Hah ... Hah ..." terengah-engah.
"Kau baik-baik saja Maya?! A ... Apa yang terjadi?! Kenapa kau tidur di sini?!" Tanya seorang gadis saat melihat temannya tertidur di atas meja kotor di dalam sebuah ruangan gelap.
"Mi ... Mika?! Sedang apa kau di sini?" Tanya Maya dengan bingung.
"Kau yang sedang apa?!! Kenapa kau masuk ke rumah orang tanpa permisi?! Apa kau gila!" Bentak Mika heran dengan sikap temannya itu.
Tiba-tiba Maya terlihat panik dan terburu-buru keluar dari ruangan itu. Bukan berlari keluar dari rumah kosong itu, dia malah berlari ke arah tangga yang akan membawanya ke lantai atas.
"Maya! Mau apa kau kesana?! Maya! Ayo cepat keluar! Maya!" Panggilan Mika sama sekali tak didengar oleh Maya.
Gadis itu terlihat terburu-buru menaiki anak tangga itu. Sesampainya di lantai dua, Maya terus berjalan dengan cepat ke arah satu ruangan.
Mika hanya bisa mengikutinya dari belakang dengan perasaan yang mulai tidak tenang.
****
Perlahan Maya menarik gagang pintu di depannya ke bawah. Dibukanya pintu itu dengan perlahan. Begitu terkejutnya dia saat melihat kamar yang begitu rapi dan bersih ada di rumah tua dan kosong ini.
Padahal tempat lain di rumah ini sudah berlumut, bahkan sudah ditumbuhi rumput liar.
"May ...?" Mika tak berani masuk ke kamar itu.
BHAM!
kejadian aneh terjadi saat tiba-tiba pintu kamar itu tertutup sendiri dan terkunci dari dalam.
"MAYA!!! MAY! MAYA!" Begitu paniknya Mika menemukan temannya yang terkunci di dalam sana.
"AAAAAAAAAAKKHHH ....!!!!" Seketika Mika terjatuh ke lantai saat mendengar teriakan Maya yang begitu nyaring dari dalam sana.
"Ma ... Maya ...?! A ... Apa yang terjadi?!" Mika ketakutan setengah mati.
BHAM! BHAM! BHAM!!
"Mika ...! To ... Tolong aku!" Jerit Maya di balik pintu sana.
Mika tak bisa melakukan apa-apa. Dia sudah dibatas kemampuannya. Perlahan Mika mulai merangkak mundur dengan posisi tubuh masih terduduk di lantai.
BUK!
Mika menyadari bahwa, ada sesuatu di belakangnya. Perlahan dia memalingkan wajahnya.
"AAAAAAAAA ...!!!!"
Sosok itu tersenyum dengan pisau di tangan kanannya.
***
"RSUD Melati menerima dua orang pasien terluka parah dengan sayatan di sekujur tubuhnya. Korban ditemukan di sebuah rumah kosong di kawasan hutan lindung. Tersangka masih dalam pencarian. Kapolres setempat memutuskan kejadian ini sebagai pembunuh berencana. Untuk sementara waktu, kawasan hutan lindung telah di tutup. Kasus ini masih dalam penyelidikan. Kembali ke studio."
🔪🔪🔪🍷
TAMAT☠️
🏡🏡
Terimakasih banyak atas like dan komen nya.. semoga anda terhibur dan tetap baik-baik saja🔪💋😚
Maap ya agak panjang 💋