"Irish, Irish, Irish tolong aku...."
Rintihan seorang gadis itu terdengar parau di telinga Irish. Irish yang melihat gadis di hadapannya tengah diganggu oleh sekelompok orang hanya bisa terdiam. Tiba-tiba saja mata itu menatapnya. Darah yang mengalir dari kelopak mata gadis itu sontak membuat Irish terlonjak.
Irish terbangun dari mimpi buruknya dengan napas tersengal, keringat bercucuran dari dahi, dan jantung yang berdegup dengan kencang. Mimpi yang sama seperti hari kemarin mampu membuat pikirannya gelisah.
"Siapa dia? mengapa aku selalu bermimpi hal yang sama dalam beberapa hari terakhir?" gumam Irish.
Irish berjalan menuju meja belajarnya. Namun, sebuah novel yang tak sengaja terjatuh membuka salah satu halaman. Irish memungut novel itu dan mengambil pembatas halaman yang terpisah.
'Maria Josephine'
Setelah membaca nama yang tertulis di pembatas halaman itu, Irish langsung membuka laci meja mencari buku catatan yang sudah dia simpan selama lima tahun terakhir. Dibacanya satu per satu halaman itu dan berhasil menemukan catatan yang dicarinya.
04152015
Deret angka yang mampu mengacu pada kejadian lima tahun silam. Seketika kakinya langsung melemas. Kini dia tahu siapa orang yang berada dalam mimpi itu. Maria, temannya semasa SMA yang dinyatakan meninggal dengan misterius di satu-satunya rumah di tengah hutan.
"Aku melupakannya," batin Irish.
***
Siang hari saat di kampus, sikap Irish terlihat berbeda. Pria bernama Stevan yang menyadari hal itu kemudian bertanya. Namun, Irish mengatakan tidak ada yang terjadi dengan dirinya.
"Stevan, aku akan ke toilet." Irish berkata sembari beranjak dari tempat duduknya. Stevan menatap punggung Irish dengan dahi berkerut, lebih tepatnya seseorang yang berjalan di belakang Irish.
Irish mengirim pesan pada Sophia yang merupakan sahabatnya. Irish merasa ada yang janggal dengan kematian Maria dan ingin mendiskusikannya dengan Sophia. Baru kali ini Irish bermimpi Maria yang meminta tolong.
"Jadi, ada apa kau memanggilku?" tanya Sophia.
"Maria... kita tahu bahwa kematiannya misterius. Akhir-akhir ini aku sering bermimpi tentangnya yang meminta tolong. Mungkin dia memintaku untuk menyelidiki kasus ini," jelas Irish.
"Irish aku menganggap perkataanmu ini hanya lelucon. Kita semua juga tahu kalau satgas menutup kasus ini karena mereka tidak menemukan bukti apapun," kata Sophia.
Irish tahu untuk menyelidiki kasus ini sangatlah sulit. Tapi, dia tidak bisa mengabaikan mimpi yang terus-menerus menghantuinya. Stevan menyetujui rencana Irish yang akan membuka kembali kasus ini. Pada akhirnya, Sophia juga menyetujuinya mengingat Maria adalah sahabat mereka sewaktu SMA.
Sebelum benar-benar membuka kembali kasus ini. Irish dan Sophia mengunjungi kedua orang tua Maria untuk meminta izin membuka kembali kasus kematian Maria.
Penyelidikan mereka akan di mulai saat liburan musim panas dan hari itu akan segera tiba. Selama menunggu musim panas itulah Irish berusaha mencari informasi melalui penyelidikan yang sebelumnya dilakukan oleh satgas.
"Irish, jika boleh aku tahu ... Sebenarnya Maria itu orang yang seperti apa?" tanya Stevan.
"Dia gadis yang baik, selalu tersenyum dan menjadi yang paling ceria diantara kami bertiga. Sayangnya, dia harus pergi begitu cepat."
Stevan mengangguk paham dan menyetujui perkataan Irish. Jika dilihat-lihat, Maria sepertinya sangat ketakutan. Terlihat dari gerak-gerik Maria yang seolah-olah bersembunyi dibalik tubuh Irish. Stevan adalah seorang anak indigo, jadi tak heran saat dia melihat Maria yang kini sering mengikuti kekasihnya itu.
Maria adalah gadis manis yang selalu ceria. Banyak orang yang menyukainya dan tak sedikit pula orang yang membencinya. Irish dan Maria sangatlah dekat, mereka selalu pulang bersama setiap hari. Hanya saja saat itu Irish memiliki urusan dengan anggota OSIS dan menyuruh Maria untuk pulang lebih dulu. Awalnya memang Maria bersikeras menunggu Irish seperti biasanya, namun entah mengapa tiba-tiba saja Maria luluh dan pulang seorang diri.
Ketika perjalanan pulang, Maria bertemu dengan sekelompok pria dengan seorang wanita. Tiba-tiba saja Maria dipukul hingga pingsan, kemudian dibawa ke sebuah rumah tua yang ada di dalam hutan. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam rumah itu. Karena sampai saat ini jiwa milik Maria belum di temukan.
"Apa perjalanan kita lusa bisa menyenangkan?" tanya Alex yang merupakan kekasih Sophia.
"Diam! Jangan anggap masalah ini lelucon," kata Sophia.
"Aku tahu."
Irish menjelaskan mengenai data milik satgas. Memang ada yang mencurigakan, mulai dari hilangnya Maria selama beberapa hari setelah penculikan itu, dan tidak ditemukan jasadnya secara utuh. Ya, saat satgas menyelidiki rumah itu, dia hanya menemukan sebelah tangan yang dipastikan milik Maria.
***
Pada hari dimana keberangkatan mereka, orang tua Maria berharap mereka bisa menemukan petunjuk mengenai Maria.
Perjalanan menuju hutan itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Di tambah lagi, mereka harus membuka jalan kembali supaya bisa dilewati mobil.
Sesampainya di rumah itu, semuanya merasa tercengang, terutama Stevan. Rumah tua yang mereka pikir hanyalah gubuk sederhana, kini berubah menjadi rumah megah nan mewah.
"Rumah ini, siapa yang merenovasinya?" tanya Sophia.
Irish pun penasaran bagaimana ruangan di dalamnya. Mereka segera masuk ke dalam dan menunggu malam hari. Walaupun perasaan mereka cemas, Stevan berkata bahwa dia yakin bisa menemukan petunjuk mengenai Maria hanya saat malam hari.
Karena waktu yang masih dibilang sore, mereka memutuskan untuk melihat-lihat ruangan yang ada dan berpikir untuk menempati salah satu ruangan nantinya. Setelah menjelajah, mereka menemukan sebuah ruangan dengan sofa yang masih layak pakai. Mereka sepakat untuk memakai ruangan itu dengan alasan tidak berpencar.
Sophia mengeluarkan papan ouija untuk berinteraksi dengan Maria. Setelah menyalakan lilin, Irish dan Sophia memulai permainan itu. Sedangkan Stevan dan Alex hanya mengamati sekitar untuk berjaga.
Ketika mereka berdua berhasil berinteraksi dengan Maria, tiba-tiba saja nyala api lilin bergerak tak karuan. Tak berselang lama setelah itu, tubuh mereka berdua terpental beberapa meter. Alex yang panik langsung menolong Sophia. Dia tidak menyadari kalau Stevan sudah tidak bersama mereka.
"Dimana Stevan?" tanya Irish.
"Tadi dia masih duduk di sebelahku," jawab Alex.
Alex mengobati luka di kening Sophia, sedangkan Irish mencari keberadaan Stevan. Alex sempat mencegahnya dan berencana untuk mencari bersama. Namun, Irish yakin Stevan masih disekitar ruangan itu.
Saat menyusuri ruangan sebelah, ada sebuah tangan yang mendorongnya dan hampir saja membuatnya terjatuh dari tangga jika Stevan tidak segera menariknya. Jantung Irish berdegup sangat kencang hingga tak menyadari kedatangan Alex dan Sophia.
"Irish, kau baik-baik saja?" tanya Sophia khawatir. Irish hanya menganggukkan kepala tanpa bisa berkata-kata karena masih shock.
"Stevan, kau ini pergi kemana? kau yang memberitahu kami untuk tidak berpencar," ujar Alex.
"Maaf, aku mencari Maria," kata Stevan.
Stevan memberitahu bahwa saat permainan itu dimulai, Maria sudah diawasi oleh salah satu makhluk. Lebih tepatnya, orang yang membunuhnya. Oleh karena itu, saat Irish bertanya mengenai bantuan yang Maria inginkan, Maria langsung pergi karena sosok itu mulai mendekatinya. Stevan juga memberitahu kalau sosok yang mengawasi Maria sangatlah berbahaya. Kejadian yang menimpa Irish dan Sophia merupakan ulah dari sosok yang mengawasi Maria.
Irish meminta Sophia untuk menemaninya ke toilet. Untungnya toilet disana masih berfungsi dengan baik. Irish membasuh wajahnya dan menatap ke cermin. Sekelebat bayangan nampak lewat di belakangnya hingga membuat Irish menoleh. Namun, ketika dia kembali menatap ke arah cermin, alangkah terkejutnya melihat sebuah tulisan dengan darah.
'Death Note'
Irish langsung keluar dari toilet menarik tangan Sophia segera pergi dari sana. Irish membicarakan arti kata Death Note pada Stevan. Butuh waktu lama bagi mereka utuk memastikan jawabannya. Akhirnya, Irish memberikan jawaban yang membuatnya setuju.
"Death Note, menurutku itu adalah sebuah catatan kematian yang mungkin saja menimpa Maria. Kita harus mencari Death Note yang dimaksud untuk mengetahui jawaban dari kematian Maria. Terlebih lagi, rumah ini pasti memiliki ruangan rahasia," jelas Irish.
Mereka menaiki tangga menuju lantai paling atas. Hawa di lantai atas sangat berbeda dengan lantai bawah lainnya, suhu di lantai atas terasa lebih panas. Irish melihat sebuah pintu yang menarik perhatiannya, begitupun dengan Alex hingga tanpa sadar mereka berpisah. Irish dan Sophia menuju pintu ujung kiri, sedangkan Stevan dan Alex menuju pintu ujung kanan.
Pintu tertutup dengan sendirinya setelah Irish dan Sophia masuk ke dalam. Irish merasa ada tangan yang menariknya mendekati salah satu jendela. Sekuat tenaga dia menahan yang dibantu dengan Sophia. Namun, apa dayanya yang tidak sebanding dengan mahluk halus. Sophia terpental hingga ke sudut ruangan dan tak sadarkan diri, sedangkan Irish terpental keluar jendela.
"Sophia?! Stevan?! Arghhh!" Irish berteriak kesakitan saat kakinya merasa disayat dan tangan yang dia gunakan untuk menahan tubuhnya agar tidak terjatuh terasa perih akibat serpihan kaca.
Di tempat Alex dan Stevan sama sekali tidak terjadi apapun. Mereka baru menyadari kalau para wanita tidak bersamanya saat Stevan mendegar suara Maria yang memanggilnya bersamaan dengan suara teriakan Irish. Stevan yang terkejut langsung berlari dengan cepat mencari keberadaan Irish dan Sophia.
"Irish?!" panggil Stevan.
"Stevvv!"
Stevan melihat sebuah tangan di jendela dan segera menghampirinya. Dengan sekuat tenaga dia menarik Irish untuk naik. Banyak darah di kaki dan telapak tangan Irish. Stevan segera merobek syalnya untuk membalut kaki dan tangan Irish.
Mereka terpaksa menghentikan pencariannya karena kejadian kali ini benar-benar tidak bisa dianggap remeh. Sosok berbahaya itu terus mengincar para wanita, terlebih lagi nyawa Irish.
Stevan belum mengetahui mengapa sosok itu hanya mengincar para wanita dan mengapa Maria sangat takut dengan sosok itu. Stevan mengambil keris kecil mendiang kakeknya yang biasa digunakan untuk mengusir mahkluk halus.
"Bukankah rumah ini seharusnya memiliki ruang bawah tanah?" tanya Alex.
Semuanya berpikiran sama dengan Alex. Maka, mereka sepakat untuk mencari jalan menuju ruang bawah tanah. Kebetulan saat mereka berjalan di lorong, Steven berhasil menemukan Maria yang seperti tengah menunggu mereka.
Tak lama setelah itu Maria kembali menghilang dan lagi-lagi Sophia terjatuh dan kakinya ditarik begitu kencang dan cepat.
"Aaaa! Alexxx!" teriak Sophia.
"Sophia?!"
Alex berlari menggapai lengan Sophia dibantu oleh Stevan. Kini dia mulai memahami bahwa kepergian Maria akan menimbulkan masalah yang menimpa kepada para wanita.
"Gawat! Aku meninggalkan Irish," gumam Stevan.
Stevan menoleh kearah dimana seharusnya Irish berdiri. Tatapannya terbelalak melihat tangan Irish yang berusaha meminta tolong dan hampir tak terlihat di persimpangan lorong.
"Irish! Alex, jangan sampai kau lengah menjaga Sophia. Aku akan mengejar Irish," kata Stevan.
Stevan berlari kearah terakhir kali dia melihat Irish. Namun, sesampainya di sana dia hanya menemukan jalan buntu. Tiba-tiba Maria muncul dan memberitahu Stevan bahwa Irish berada di ruang bawah tanah dan memberitahu jalan menuju kesana.
***
Di ruang bawah tanah, Irish melihat 5 patung wanita dengan tubuh yang tidak utuh tergeletak di lantai. Ada material bangunan seperti yang digunakan pada patung dan juga sebuah alat pemotong yang besar.
Irish menemukan sebuah catatan kecil bersampul hitam. Death Note, itulah judul dari catatan kecil itu. Dibukanya satu persatu dan dia menemukan catatan.
Tercatat 05
Ciri: rambut sebahu, bermata hazel, mengenakan tas biru, gelang giok hijau.
Tempat: SMA Yordan
Waktu: 03.45 p.m
Tanggal kematian: 04152015
Peti: 20151304
Irish menutup mulutnya saat menyadari itu adalah Death Note yang dimaksud. Berarti patung-patung yang ada di ruang bawah tanah adalah manusia yang ditimbun dengan material dan sengaja menghilangkan salah satu anggota tubuhnya.
Ketika Irish akan mendekati peti yang terdapat dalam catatan kematian Maria. Tubuhnya terpental pada mesin potong yang tiba-tiba menyala.
Irish meronta sebisa mungkin menjauhi pisau potong yang yang akan merenggut nyawanya. Dalam hati dia terus berdoa agar Stevan dan yang lainnya segera datang.
"Irish?!" teriak Sophia.
"Sophia, hiks...maafkan aku," ujar Irish sembari terisak.
"Irish sebisa mungkin kau menjauh dari sana. Aku pasti akan menyelamatkanmu," kata Stevan.
Irish tidak memiliki tenaga lagi, ditambah kakinya terasa sangat sakit dan sulit digerakkan. Dia memandang Stevan yang mengeluarkan keris dengan mata terpejam, kemudian dia melemparkan keris itu ke samping mesin potong. Mesin potong itu berhenti dan Stevan langsung menarik Irish ke dalam pelukannya.
"Aku harap ini segera berakhir," kata Alex.
Stevan menyuruh Sophia untuk menghubungi satgas dan kedua orang tua Maria.
***
Tak terasa matahari sudah menampakkan diri. Mereka akhirnya berhasil menyelesaikan kasus Maria dan keempat korban lainnya. Ternyata pembunuh itu bernama Margaretha yang merupakan seorang wanita psikopat dengan menjadikan korban wanita sebagai tumbal.
Patung Maria dan keempat lainnya dikuburkan layaknya jasad manusia. Barang-barang milik Maria juga tersimpan dalam peti dan terlihat sangat usang.
"Maria sangat berterima kasih karena kalian sudah menemukan jiwanya. Terlebih lagi, dia memiliki pesan untuk disampaikan kepada Brian. Siapa Brian?" kaya Stevan.
"Brian? Oh pantas saja, Maria sangat menyukai Brian. Mungkin saat itu dia ingin mengejar Brian untuk pulang bersama," kata Irish.
Kedua orang tua Irish berterima kasih kepada mereka dan meminta maaf atas apa yang terjadi pada Irish dan Sophia.
Irish merasa lega karena bisa membantu Maria untuk terakhir kalinya, begitupun dengan Sophia. Irish menggenggam death note dan membakarnya.
"Maria, kali aku berharap kau tetap berada di sisiku...," gumam Irish.
END