Malam ini ku sendiri ,tak ada yang menemani, seperti malam-malam yang sudah-sudah.
Sebuah lirik lagu yang cocok menggambarkan kesepian Aline.
Aline teringat pada malam yang gelap dan berangin, sebuah cahaya putih terlihat berkedip-kedip dari sebuah jendala rumah kuno yang ada di hutan. Seolah memanggil siapa saja yang melihatnya.
Suasana yang sama dengan hari ini. Sebelum akhirnya Aline terjebak dalam rumah kuno ini.
Ada banyak suara yang sering ia dengar namun tidak ada wujud dari empunya suara itu. Namun karena telah terbiasa akhirnya Aline bisa mendengar suara itu tanpa rasa takut lagi.
*****
"Aline ayo bangun sayang...hari ini kita akan ke rumah Nenek." Ucap Mama Aline.
"Ummmhhh masih ngantuk ma..." Jawab Aline dengan suara baru bangun tidur.
"Anak gadis nggak baik loh bangun kesiangan, nanti jauh jodohnya." Ujar Mama Aline lagi.
Aline sudah lulus kelas 9 dan hari ini libur pertamanya. Dia akan menghabiskan hari liburnya di desa tempat tinggal Nenek dari Papanya.
Singkat cerita Aline sudah tiba di desa Neneknya, tempat yang jauh dari keramaian kota. Pepohon dimana-mana dan suara kicauan burung sayup-sayup terdengar menghibur penduduk desa dengan nyanyiannya.
Setelah 1 hari di desa kedua orang tua Aline kembali ke kota. Aline kini tinggal berdua dengan Nenek, karena Kakek sudah lama tiada.
Pagi itu Nenek hendak pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar setelah sarapan pagi. Aline pun minta ikut. Pagi itu cuaca sangat cerah di hutan banyak orang mencari kayu bakar. Tua-muda, besar-kecil ikut mengambil ranting pohon yang telah kering dan jatuh dari dahannya. Aline mengenal beberapa dari mereka, karena hampir tiap liburan Aline akan ke rumah Nenek.
Nenek sudah selesai dengan kayu bakarnya dan beberapa dari yang mencari kayu bakar juga sudah selesai. Biasanya mereka akan pulang bersama begitu juga dengan hari ini dan bercerita sepanjang jalan. Anak-anak yang paling kecil berjalan di depan membawa kayu bakar di atas kepala sebanyak yang mereka sanggup.
Aline juga ikut membawa kayu bakar yang disesuaikan dengan kemampuannya. Rasanya malu jika hanya dia yang kembali dengan tangan kosong.
Di saat sedang berjalan pulang Aline melihat sebuah rumah kuno di tengah hutan.
"Rumah siapa itu? Kok rumahnya di hutan." Ucap Aline pada teman-temannya.
"Rumah apa?" Tanya Cipluk.
"Itu yang di sana..." Tunjuk Aline dengan jari telunjuknya.
Plak! Tangan Aline ditepuk.
"Heiii pantang menunjuk-nunjuk begitu di hutan, nggak sopan." Ucap Cipluk.
"Eh kenapa?" Tanya Aline.
"Nanti kena sial." Ucap Cipluk.
"Kalau ada hantu yang kebetulan ada di sana, dikiranya nanti kita lagi nunjuk dia. Cepat hisap jari telunjukmu itu lalu bilang amit." Ucap Cipluk.
"Ahh ada-ada saja." Ujar Aline.
"Kalau nggak percaya ya sudah."
*****
Hari sudah sore penduduk desa pergi ke sungai untuk mandi. Mereka melepas semua pakaian dan memakai sehelai kain untuk menutupi tubuh mereka. Aline juga ikut melakukan hal yang sama. Karena sejak kecil ia sudah di ajari cara mandi di sungai. Aline mengeramas rambutnya yang terasa lepek setelah banyak berkeringat saat membantu Nenek memanen jagung di ladang.
"Waduh kok keramas sore-sore." Ucap Cipluk.
"Habis gatal nih." Ucap Aline sekenanya.
*****
Senja sudah berlalu rambut basah Aline belum kering jadi dia membiarkannya tergerai.
"Aline ikat rambutmu cucu matahari sudah terbenam." Ucap Nenek.
"Belum kering nek." Ucap Aline.
"Belum kering juga jangan dilepas pantang, ayo di ikat." Ucap Nenek.
Aline malas berdebat dengan Nenek jadi dia menuruti saja ucapan Nenek dan mengikar Rambutnya.
*****
Desa makin sepi Nenek telah tertidur pulas, Aline melepas ikatan rambutnya. Rambutnya masih lembab. Sambil mengeringkan rambutnya Aline mendengar sebuah ketukan di pintu.
"Nek...buka pintu nekkk...ini Cipluk." Ucap sebuah suara.
"Nenek sudah tidur..." Jawab Aline.
"Boleh minta sirihnya Nek?" Ucap Cipluk lagi.
Aline mencari sirih Neneknya ternyata tidak ada. Aline baru ingat Nenek sudah lama tidak mengunyah sirih. Aline pun membuka pintu.
"Maaf Cipluk sirih nenek nggak ada." Kata Aline setelah melihat Cipluk yang berdiri di luar.
"Oh begitu ya. Aline bisa minta tolong nggak?" Ucap Cipluk lagi.
"Minta tolong apa?" Ucap Aline.
"Temani aku minta sirih di rumah Gendis yuk." Pinta Cipluk.
"Eh tapi ini sudah malam." Ucap Aline menolak.
"Ayolah sebentar saja, rumahnya dekat kok." Ucap Cipluk sedikit bernada memaksa.
"Rumahnya jauh nggak? Tanya Aline mencoba mencari celah untuk menolak.
"Enggak kok, itu rumahnya." Tunjuk Cipluk.
Rumah yang di tunjuk Cipluk tidak jauh jika berjalan paling hanya 5 menit. Akhirnya Aline setuju untuk menemani Cipluk. Aneh saat Aline keluar rumah Nenek angin bertiup sangat dingin. Aline berjalan di belakang Cipluk yang membawa obor bambu. Sudah lebih 5 menit berjalan, namun mereka belum sampai juga. Jarah rumah itu tidak semakin dekat.
Aline menoleh kebelakang untuk melihat rumah Nenek, siapa tau Nenek terbangun dan mencarinya. Namun rumah Nenek sudah tidak terlihat. Dan saat melihat ke depan Aline sudah berada di teras rumah kuno yang ia lihat tadi siang. Aline terkejut dan bingung. Cipluk sudah tidak ada. Angin bertiup kencang dan samar-samar terlihat cahaya dari balik jendela.
"Arrgghh lepaskan aku..." Sebuah teriakan menggema dari dalam rumah.
Aline ketakutan. Siapa itu tadi? Dan dimana Cipluk?
Aline mencoba mencari bantuan dia berlari kearah dia datang. Tapi sudah sampai 1 jam berlari dia belum sampai ke rumah Nenek. Hujan turun, suara guntur saling bersahutan. Kilatan cahaya saling bergantian menghiasi langit malam.
Aline menangis karena takut.
"Tolong...Aline...tolong aku."
Aline menoleh ke sebuah suara. Itu suara Cipluk. Ini aneh. Sudah sejam Alin berlari meninggalkan halaman rumah kuno itu. Tapi saat berpaling rumah itu tepat di belakangnya.
Entah apa yang di pikirkan oleh Aline. Ia pun masuk ke rumah itu karena mendengar teriakan Cipluk yang kesakitan. Pintu rumah itu tidak terkunci. Aline masuk dengan basah kuyup, mengikuti arah suara. Arahnya semakin jauh ke dalam ruangan kamar. Terdengar suara benda-benda di lempar tidak beraturan.
"Arrrggg lepaskan aku..." Teriak Cipluk.
Aline mencari sesuatu untuk menjadi senjatanya. Dia mengambil vas bunga keramik yang ada di meja. Aline tiba di sebuah kamar tempat suara berasal. Tampak seorang pria berlumuran darah terbaring di lantau. Dan satu pria memegang pisau. Dan seorang gadis cantik dengan pakaian yang berantakan.
Pria itu menatap ke arah pintu tempat Aline berdiri. Aline ketakutan dan melarikan diri. Saat hampir mencapai pintu depan, tiba-tiba pintu terkunci. Aline tidak bisa membuka pintunya. Aline menoleh kebelakang. Tidak seorang pun yang mengejarnya. Rumah itu tampak hening. Lalu terdengar suara tangisan pilu dari arah kamar. Aline kebingungan.
Aline mencoba mencari jalan keluar dan saat melewati kamar tempat gadis itu menangis ia terkejut. Tubuh gadis itu sudah tergantung di seutas tali. Dan sebuah kursi yang tergeletak di lantai tepat di bawah kakinya.
Jantung Aline berdetak kencang. Bagaimana gadis itu masih bisa menangis setelah lehernya terjerat tali dan tergantung. Bahkan tubuhnya berayun-ayun. Aline berlari lagi dan mencari pintu keluar namun tidak ada satu pun pintu terbuka. Aline mencoba merusak kunci pintu agar bisa terbuka, namun gagal. Suara tangis itu tetap terdengar kemana pun Aline melangkah.
Aline mencoba keluar dari jendela. Namun tidak satupun jendela tang bisa dibuka.Aline kelelahan, tanpa sadar ia pun ketiduran. Pagi hari pun datang setelah malam panjang. Rumah yang berantakan sudah tertata rapi. Suara tangis sudah tidak ada lagi.
"Sayang tunggu aku kembali ya. Aku akan cepat pulang." Sebuah suara terdengar di ruang tamu.
Membangunkan Aline yang tertidur. Tapi tidak ada siapa pun di sana.
"Aku tidak mau terus di kurung di sini. Aku ingin pulang ke rumah orang tuaku."
Terdengar suara seorang gadis.
"Orang tuamu tidak merestui hubungan kita "
Suara pria yang tadinya lembut mulai meninggi.
"Aku tidak mau kalau terus begini, sendirian di rumah ini." Suara gadis itu mulai meninggi.
"Diam...aku sudah mengeluarkan banyak biaya untuk membangun rumah ini. Untuk kita berdua dan juga anak-anak kita." Suara Pria itu marah.
"Aku ingin hidup bahagia denganmu sama seperti wanita lainnya. Bukan seperti ini, ini tidak lebih seperti kurungan. Aku akan kembali pada orang tuaku saja dari pada harus sendirian di sini."
"Aku tidak akan mengijinkanmu keluar satu langkah pun dari rumah ini."
"Apa katamu?"
"Ya, selamanya kau akan tetap di sini."
Suara langkah kaki menuju pintu, pintu di buka dan di tutup dengan kasar terdengan suara pintu di kunci dari luar.
"Tidakkk lepaskan aku...aku ingin kembali pada orang tuaku...."
*****
Hanya ada suara yang sama, entah sudah berapa lama Aline sendirian di rumah itu. Sepertinya sudah bertahun-tahun lamanya. Air matanya sudah kering. Ia sudah mencoba segala cara untuk keluar namun gagal. Meski tidak makan ia tidak lapar. Setelah berusia 18 tahun perubahan pada dirinya terhenti. Dia tidak bertambah tua. Meskipun garis-garis di dinding hampir penuh satu dinding sebagai bukti berapa lama ia tinggal di rumah itu.
Hingga suatu hari ia melihat rombongan orang kampung membawa kayu bakar.
"Hei lihat itu ada rumah." Ucap seorang gadis Remaja.
Aline merasa mendapatkan ide untuk keluar dari rumah itu. Dia berteriak sekuat tenaga. Namun tidak seorang pun mendengar teriakannya.
Malam pun datang lagi. Aline memasang lentera dan diletakkan di dekat jendela. Jika ada yang lewat mungkin mereka akan datang karena tau di sini ada orang pikirnya.
Saat Aline tertidur terdengar suara ketukan.
"Tolong buka pintunya bolehkan aku menumpang." Suara seorang Pria terdengar jelas di tengah malam yang sepi dan angin bertiup dengan kencang.
"Aku hanyalah seorang pemburu di hutan. Aku melihat cahaya...ku pikir Ada orang di dalam." Ucapnya lagi.
Aline tersentak lalu berlari menuju pintu.
"Tolong keluarkan aku dari sini." Teriak Aline.
Pintu terbuka. Pria itu muncul di depan pintu. Aline merasa senang karena pada akhirnya bisa bebas. Namun tiba-tiba Pria itu memuntahkan darah dari mulutnya dan terjerembab. Pria yang Aline lihat 50 tahun yang lalu berada tepat dibelakangnya. Lalu tubuhnya di seret ke dalam rumah.
Aline menjerit minta tolong dan berlari lalu bersembunyi di kamar.
"Jangan pernah mencoba meninggalkan rumah kita ini sayang. Kalau tidak akan lebih banyak lagi korban." Ucap pria itu dari balik pintu kamar.
"Lastri aku suamimu sudah pulang...kenapa kau tidak menyambutku sayang..."
***Tamat***