Apa jadinya jika liburan ke rumah kakek dan nenek yang seharusnya menyenangkan malah menjadi mencekam?
____
Nama ku Erick, dan umurku sudah 14 tahun. Aku punya seorang adik perempuan berumur 8 tahun yang sangat manis bernama Rara, dia anak yang periang walau kami dibesarkan tanpa sosok seorang ayah
Hari ini kami akan pergi liburan ke rumah kakek dan nenek kami yang jauh di desa
"Maa~ Mama beneran gak bisa ikut?" tanya Rara dengan mata memelas nya mencoba membujuk
"Rara, maaf ya.. Mama ada urusan mendadak, jadi gak bisa ikut" jawabnya sambil mengelus rambut panjang Rara
Akibat sebuah rapat penting yang tiba-tiba diadakan, mama tidak bisa ikut bersama kami karena harus pergi keluar kota selama beberapa hari
"Erick, jaga Rara baik-baik ya.." Ucap mama dengan senyum manisnya
Aku hanya membalas nya dengan anggukan kecil, Aku tidak berbicara bukan karena bisu hanya saja aku adalah orang yang sangat pendiam dan jarang bersosialisasi
Kami pun pergi menaiki taksi online yang sudah dipesan, mama tidak bisa mengantar kami karena kota tujuan nya berlawanan arah dengan desa tempat kakek nenek tinggal
"Kakak, apa kau pernah bertemu dengan kakek dan nenek?"
"Sepertinya, ya.." jawab ku singkat, tapi sepertinya Rara sudah menganggap biasa sikap ku yang selalu cuek ini
"Kalau begitu mereka orang yang seperti apa?"
"Entahlah aku tidak ingat.." Itu benar, aku memang tidak ingat karena terakhir kali aku bertemu kakek dan nenek saat aku berumur 2 tahun
Suasana di taksi menjadi sunyi ketika Rara sudah tertidur akibat perjalanan yang panjang
Aku memalingkan wajahku pada jendela mobil, dan melihat suasana pedesaan yang sangat asri, hanya ada pepohonan dan rumput hijau dimana-mana
Akhirnya kami sampai disebuah rumah tua yang cukup besar, di depan pintu masuk rumah itu sudah ada sepasang lansia yang menunggu sambil tersenyum hangat
"Kakeeek! Neneeek!" Teriak Rara girang sambil berlari memeluk mereka. Walau baru pertama kali bertemu sepertinya dia sangat cepat menjadi dekat dengan mereka
"Ricky kau jadi sangat tinggi ya sekarang" ucap kakek sambil mengelus kepala ku
"Maaf.. Tapi namaku Erick bukan Ricky" jawab ku dingin sambil berjalan masuk ke dalam rumah, tanpa memerhatikan kakek yang terus tersenyum lebar ke arah ku
____
Semuanya berjalan normal, kami bermain dan berbincang seperti hubungan antara kakek nenek dan cucu pada umumnya
Malam pun tiba dan kami berjalan menuju kamar masing-masing, karena Rara yang takut tidur sendiri, jadi aku pun satu kamar bersamanya
"Kakak, disini sangat menyenangkan ya! Menurutku ini adalah liburan terbaiiiik! " seperti seekor kelinci, Rara terus melompat-lompat di atas tempat tidur
Aku hanya tersenyum tipis sambil lanjut membaca komik 'Ya, mungkin liburan ini tidak terlalu buruk..'
Waktu berjalan, dan sekarang sudah sangat larut malam. Aku yang tadinya tertidur lelap mulai terganggu akibat suara aneh
DUK DUK
BAK BUK BAK
Aku akhirnya terbangun karena tak tahan lagi dengan suara berisik itu, aku sedikit terkejut ketika melihat Rara tidak ada disamping ku melainkan di depan jendela yang mengarah langsung ke arah halaman belakang rumah
"Ra? Rara.."
"K-Kakak.. Se-sebenarnya apa ya-yang dilakukan ka-kakek dan nenek?" tanya Rara gugup dengan mata yang masih terpaku menatap jendela yang tertutup setengah tirai
Aku langsung ikut melihat di jendela, dan betapa terkejutnya ketika aku melihat sepasang lansia yang tadi bermain dengan kami, sekarang sedang mengubur mayat seseorang
Seolah tau ada yang melihat, si nenek membalikkan wajahnya dan menatap ke arah kami. Refleks, aku langsung menutup tirai jendela rapat-rapat
"Rara.. Apa saja yang mereka lakukan tadi?" tanya ku dengan tangan yang sudah bergetar
"Me-mereka tadi a-ada mengubur be-berapa orang la-lain" walaupun matanya berkaca-kaca dan tubuh yang bergetar hebat Rara masih berusaha memberitahukan apa yang dilihatnya
Mendengar itu, aku memberanikan diri untuk melihat di jendela lagi. Kali ini aku semakin terkejut karena sepasang lansia itu sudah tidak ada, berganti dengan suara pelan langkah kaki yang mendekat ke arah kamar kami
Tangan ku semakin bergetar, aku langsung memeluk erat Rara
"Kita harus pura-pura tidur, ok?"
Aku menarik selimut menutupi seluruh badan kami, aku bisa merasakan Rara yang sangat ketakutan
"Sst.. Jangan takut, ada kakak..Kita pasti aman"
Suara langkah kaki itu semakin mendekat, perlahan pintu kamar kami mulai terbuka bersamaan dengan munculnya suara nafas yang terdengar berat
Tangan keriput nya menarik selimut kami, lalu mengelus pipi kami dengan lembut
"Anak baik.. Anak baik.." ucap si nenek sebelum berjalan meninggalkan kamar kami
Haah, aku rasanya mau mati karena menahan nafas dari tadi
Aku kemudian memeluk Rara sambil menatap lekat matanya
"Rara, dengar.. Ada yang tidak beres disini, kita harus keluar dari rumah ini ok?" Rara mengangguk cepat dengan mata yang berkaca-kaca
Aku segera mengambil tas ransel ku dan Rara, mencari dimana ponsel ku berada
Segera kuketik nomor mama, tapi sialnya tidak ada sinyal disini
Ku acak-acak rambut ku karena tak tau apa yang harus kulakukan, lalu kuingat kalau ada ruang bawah tanah yang terhubung dengan jalan ke luar rumah
"Rara.. Perhatikan ke arah belakangmu dan pegang terus tangan kakak dan jangan lepas apapun yang terjadi" ucap ku seraya membuka pintu kamar
kami berjalan ke lantai bawah dengan penuh waspada
HAHAHAHA
Jantung ku serasa terlepas karena tawa menggelegar sepasang lansia yang sedang duduk di ruang tamu itu
Melihat kesempatan kabur yang besar, aku segera membawa Rara pergi ke dalam ruang bawah tanah dan ku kunci rapat pintunya
Ruangan ini sangat berdebu dan gelap
"Ra.. Jangan berhenti,ayo terus jalan"
"Tunggu kak.. Ini foto siapa? Kenapa ada mama?" ucap Rara menatap bingkai foto yang dipungut nya
Aku segera mengambil foto itu, dan melihat sepasang lansia yang berbeda dengan yang ada dirumah ini
DRRRT DRRRT DRRRT DRRRT
Rara dan aku sama-sama terkejut karena ponsel yang bergetar di kantong ku
Sebuah panggilan masuk dari Mama, tanpa pikir panjang segera ku angkat
"Erick.. Belum tidur ya? Bagaimana keadaan di san-
"Ma.. Cepat katakan ciri-ciri kakek dan nenek"
"Eh? Ya.. Nenek mu itu badan nya sangat tinggi, matanya berwarna hijau, kalau kakek mu itu berbadan besar dan hanya memiliki satu kaki akibat kecelakaan.. Memangnya kenapa?"
Aku dan Rara terdiam karena semua ciri-ciri itu sama dengan lansia yang ada di foto ini, sudah sangat jelas yang bersama kami tadi bukan lah kakek dan nenek
Aku baru mau menceritakan nya pada mama, ketika bau bangkai menyeruak masuk kedalam hidung kami, segera kami berbalik ke arah asalnya bau bangkai itu
Pupil mata ku bergetar hebat, ketika sepasang lansia yang ada di foto ini, sekarang sedang tergantung tak bernyawa
Ku peluk Rara, agar tak terus melihat hal mengerikan itu
Tiba-tiba suara debrakan pintu mengagetkan kami, aku segera menarik Rara dan berlari ke arah jalan keluar
"Erick?Haloo"
"Ma, telfon polisi! Kami dalam bahaya! Sekarang!"
"Erick?!"
Teeet.. Teeet..
Panggilan nya terputus akibat sinyal yang hilang
Suara debrakan pintu itu semakin menjadi bersamaan dengan suara teriakan marah kedua lansia gila itu
Kami akhirnya keluar dari ruang bawah tanah, aku menggendong Rara dan berlari ke arah jalan, Aku terus berlari tanpa melihat kebelakang
DOORR!!
DEG DEG DEG
Sebuah peluru dari senapan yang dipegang si kakek menembus tepat dadaku.. Pandangan ku mulai kabur
"KAKAAAK!!"
Aku masih bisa mendengar teriakkan Rara yang histeris, aku membuka mulutku yang mulai mengeluarkan darah hanya untuk berkata
"Rara.. Lari..La..Ri.."
Aku tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, namun aku mendengar suara sirene polisi yang berdatangan..
-TAMAT-