Happy reading all ✨........
"Dimana aku?"
"Kenapa tempat ini seram sekali", monologku ketika melihat jika sekarang aku sudah berada di sebuah ruangan yang bisa di bilang ini adalah sebuah kamar tidur, tapi sayang terlihat sudah lama tidak di bersihkan.
"Rumah siapa ini?"
Tak berselang lama di saat aku mengamati bagian kamar tersebut, tiba-tiba terdengar suara kaki melangkah menuju ke tempatku sekarang.
Tak....
Tak....
Takk....
Dengan memberanikan diri dan juga karena penasaran tanpa pikir panjang aku pun mulai bertanya.
"Siapa disana?"
Tapi nihil, tidak ada suara yang menyahut pertanyaannya ku. Karena terlanjur rasa penasaran ku yang aku punya sudah terlalu kuat, aku pun memutuskan untuk mencoba melihat siapa gerangan di balik pintu tersebut.
Disaat aku membuka pintu kamar itu tak ku sangka, didepan mataku saat ini, aku di suguhkan sebuah pemandangan yang cukup menyeramkan yakin dimana aku sedang melihat adegan penganiyayan yang dilakukan seorang laki-laki kepada seorang wanita yang bisa dibilang cukup lumayan cantik.
Juga bisa aku lihat di pojok belakang lemari yang ada di ruangan tersebut ada seorang anak kecil perempuan yang sedang bersembunyi mungkin karena dia ketakutan akan apa yang di lihatnya saat ini.
Tetapi sayang wajah anak kecil itu tak bisa aku lihat dengan jelas.
Dan di saat aku kembali memfokuskan diriku ke arah laki-laki tadi adegan yang selanjutnya tak pernah aku sangka adalah laki-laki tadi dengan tega dan sadisnya membu*uh wanita yang sudah tak berdaya tersebut, dengan cara menu*uk perut dan juga jantung wanita itu.
"JANGANNN"
Hah...Hu..Hah...
"Kenapa"
"Kenapa mimpi buruk itu datang lagi", takut ku.
Tak berselang lama tiba-tiba Bunda dan Ayah datang ke kamarku dengan raut wajah khawatir.
"Sasa kamu kenapa sayang?, kamu mimpi buruk lagi", tanya Bunda yang terlihat cemas melihat ku dan langsung memelukku.
"Ini Bun, Sasa dikasih minum dulu biar lebih tenang", kata Ayah sambil menyodorkan gelas yang sebelumnya sudah terisi oleh air kepada Bunda.
Bunda pun langsung menuruti perkataan Ayah dan langsung meminumkannya kepadaku.
Setelah dirasa jika aku sudah mulai tenang, Ayah pun ikut duduk di samping ku sembari mengelus rambut ku dan bertanya.
"Ayah boleh tau ga, tadi Sasa mimpi apa?", tanya Ayah kepadaku.
"Boleh Yah", setelahnya aku pun langsung menceritakan tentang semua yang aku alami di mimpiku tadi mulai dari aku yang tiba-tiba terbangun di sebuah kamar kosong hingga saat dimana aku melihat adegan pembu*uhan tadi.
Setelah aku selesai bercerita Ayah dan Bunda pun langsung saling berpandangan seolah-olah sedang mengkode satu sama lain dan setelahnya sama-sama saling menghela nafas.
"Sasa kamu tidur lagi ya sayang, besok Ayah dan Bunda ingin membicarakan satu hal kepadamu", kata Ayah yang mana itu malah membuat ku menjadi penasaran.
"Iya Sasa tidur lagi ya cantik, dan biar Sasa ga mimpi buruk gimana kalau Bunda temenin Sasa malam ini, boleh kan Ayah?", kata Bunda sambil melihat ke Ayah.
"Oh..iya boleh kok Bun, Sasa nya di temenin dulu biar ga takut lagi, biar malam ini Ayah yang ngalah untuk tidur sendiri", ucap Ayah sambil memberikan senyuman di wajahnya. Dan setelahnya Ayah pun pamit untuk pergi tidur.
Tapi bukannya pergi tidur, Ayah malah kembali lagi sambil memasang cengiran di wajahnya.
"Lo Ayah kenapa balik lagi?", heranku.
"Heheh... setelah Ayah pikir-pikir kayaknya ayah ikut tidur di sini nemenin Sasa juga ya, dan nanti biar ayah tidur di sofa aja", setelah berucap demikian Ayah pun langsung pergi ke sofa dan merebahkan diri disana.
Bunda yang melihat tingkah Ayah pun hanya bisa tertawa heran. Sedangkan aku juga merasa terhibur akan kelakuan lucu Ayah.
***************************************************
Pagi pun datang, di iringi oleh kicauan merdu burung dan juga sang sinar yang mulai menampakkan dirinya. Embun yang mulai luntur menandakan jika memang waktu malam sudahlah berlalu di gantikan dengan pagi hari yang sejuk.
Sekarang aku, Ayah dan Bunda sedang menikmati sarapan pagi bersama di meja makan dengan menu nasi goreng yang sepesial buatan Bunda.
Setelah selesai sarapan seperti kata Ayah semalam yang ingin membicarakan sesuatu, kini Ayah dan Bunda mengajakku untuk ke ruang keluarga.
Jujur aku heran sebenarnya apa yang ingin di bicarakan oleh Ayah dan Bunda.
"Ayah, Bunda sebenarnya ada apa si?"
"Sebelumnya Ayah mohon untuk kamu, agar setelah mendengar cerita Ayah, kamu tidak akan benci atau marah sama Ayah Bunda", pinta Ayah kepadaku.
Tanpa rasa ragu aku pun langsung menganggukan kepala tanda setuju.
"Sebenarnya kamu bukanlah anak biologis Ayah dan Bunda, dulu Ayah dan Bunda tidak sengaja menemukan kamu pas masih kanak-kanak tergeletak tak sadarkan diri di pinggir jalan", jeda Ayah sambil sesekali melirik kearah ku.
"Dan karena pada saat itu kebetulan berbarengan dengan hari kematian anak kami dan juga karena kami tak tega melihat kondisi mu saat itu, jadi Ayah putuskan untuk membawamu ke rumah sakit agar mendapat penanganan".
"Iya sayang benar apa yang di bilang Ayahmu, saat itu dokter bilang jika kamu juga sempat mengalami gangguan mental mungkin dikarenakan suatu kejadian yang sebelumnya pernah kamu alami sebelum kami temukan". tambah Bunda menjelaskan.
"Tak hanya itu setelah kamu sembuh ternyata kamu malah melupakan semua kejadian yang sebelumnya kamu alami. Padahal saat itu Ayah dan Bunda juga sedang berusaha untuk mencari asal-usul mu sebelumnya. Tetapi entah kenapa sangat sulit bagi kita untuk mengetahui kebenaran tentang mu dan karena Ayah dan Bunda sudah terlanjur menyayangi mu seperti anak kami sendiri, akhirnya kami putuskan untuk mengadopsi mu". Kata Ayah.
"Dan setelah mengetahui kebenaran ini Bunda dan Ayah harap kamu tidak membenci kami dan masih tetap mau menjadi anak kami sayang", mohon Bunda sambil menggenggam kedua tangan ku.
Sedangkan aku, tentu saja saat ini aku merasa syok sekali akan kebenaran yang telah aku ketahui. Ternyata orang yang selama ini sudah aku anggap seperti kedua orang tuaku sendiri kenyataannya bukankah sesuai seperti dugaanku.
Marah dan kecewa. Tentu saja aku rasakan saat ini. Tapi setelah aku pikir bagaimanapun juga Ayah dan Bunda sudah sangat baik mau menolongku aku dan menganggapku seperti anak kandung mereka sendiri.
"Tidak, Sasa tidak marah sama ayah dan bunda justru Sasa sangat terima kasih karena kalian mau menolong dan mengangkat Sasa sebagai anak kalian. Jika saat itu kalian tidak menolong Sasa mungkin saat Ini Sasa sudah terlontang-lantung hidup di jalanan sana". Kataku dan kemudian langsung memeluk Bunda dengan sayang.
Ayah juga begitu, ia juga langsung ikut memeluk aku dan Bunda sambil sesekali mengucapkan jika mereka berdua sangat menyayangi aku seperti anak mereka sendiri.
***************************************************
"Clara sayang tolong Mama nak"
"TOLONGGG"
"Ma, Mama di mana?"
"Mama disini nak, tolong Mama"
"Dimana Ma, Clara tidak melihat siapapun di sini"
Namun nihil, tak ada seorangpun yang aku lihat di dalam rumah ini. Iya memang benar, sekarang aku aku sedang berada di sebuah rumah yang mana isi rumah ini terlihat tidak asing bagiku rasa-rasanya aku seperti pernah ke sini sebelumnya.
Dengan keberanian yang aku punya akupun mulai mengitari ruangan yang ada di rumah tersebut, tetapi sama seperti sebelumnya setiap ruangan yang aku lihat sepi tak ada tanda-tanda dihuni.
"Clara tolong sayang"
Tiba-tiba suara Mama muncul lagi, dan sama seperti sebelumnya ia masih tetap meminta tolong.
"Tapi Ma, Mama dimana Clara sudah mencari di setiap ruangan tetapi semuanya sepi"
"Ikuti asal suara Mama nak"
Aku pun menuruti perintah Mama dan mulai mengikuti asal suara Mama. Sampai aku pun tiba di depan sebuah pintu dapur yang mana di situ juga nampak sepi dan terlihat sudah lama tak dibersihkan.
Tanpa rasa takut aku mulai melihat-lihat isi dapur tersebut.
"Tetapi kenapa dapur ini juga sepi ya, seperti tak ada Mama di sini", monologku.
"Ma, Mama dimana?", panggil ku.
"Apa mungkin aku salah tempat ya", gumamku, yang mana setelah itu aku nggak ingin pergi meninggalkan tempat itu.
Duak....
Dak....
Dakkkk...
Tetapi sebelum aku bisa meninggalkan dapur tiba-tiba aku mendengar ada suara gedoran dari bawah lantai yang aku pijak saat ini. Sontak aku pun langsung kaget dan ingin berlari dari sana.
Seolah-olah ada sesuatu yang menarik kakiku, aku pun tidak bisa pergi dari tempat tersebut.
Jujur aku sudah takut saat itu tapi rasa takut ku itu tiba-tiba hilang dan aku mulai penasaran dengan kejadian yang barusan aku dengar.
Langsung saja aku berjongkok dan mencoba mendengarkan lebih jelas lagi suara gedoran tadi.
Duak....
Dak....
"Iya bener suaranya dari bawah lantai"
Akhirnya aku pun mulai memberanikan diri untuk mencongkel lantai tersebut dengan sebuah besi yang aku temukan di sekitar dapur itu.
Memang memang susah, tapi setelah aku berusaha mengulang mencongkel lantai tersebut akhirnya lantainya bisa aku bongkar.
Aku kemudian mulai menggali tanah yang ada di bawah lantai itu hingga akhirnya aku menemukan sebuah kerangka manusia, langsung saja hal itu membuatku berteriak ketakutan.
"MAMAAA"
"Hiks...hiks....Mama", tangisku. Dan setelahnya tiba-tiba saja kepalaku langsung merasakan pusing yang amat sakit sekali seolah-olah ada potongan memori masa lalu yang terulang di kepalaku.
Tanpa ku sadari ternyata Ayah dan Bunda sudah berada di kamar ku sambil khawatir melihat kondisi saat ini yang sedang kesakitan memegangi kepala.
"Hiks.....Sayang Sasa, kamu kenapa sayang. Jangan buat Ayah sama Bunda jadi cemas...hiks", tangis Bunda.
Dan setelah rasa sakit di kepalaku hilang aku pun tiba-tiba sudah mengingat tentang semua masa lalu kelam ku dulu. Yang mana itu sangat mengerikan sekali.
"Bunda, Ayah. Sasa sudah ingat semuanya. Sasa ingat nama asli Sasa itu adalah Clara. Dan juga Sasa bermimpi jika tadi Sasa melihat jenazah Mama dikubur di lantai dapur rumah Sasa dulu sama Mama", ceritaku.
"Mama juga minta agar jenazah nya untuk ditemukan dan dikuburkan secara layak".
Ayah dan Bunda pun terlihat terkejut dengan apa yang barusan aku ceritakan, terbukti dari raut wajah mereka.
"Ayah, Bunda kalian mau kan bantu Sasa untuk memenuhi permintaan Mama barusan", mohonku kepada mereka.
Terlihat Ayah dan Bunda saling berpandangan dan setelahnya mereka mengangguk setuju mau membantu ku untuk menemukan jenazah Mama.
Langsung saja Ayah menghubungi pihak kantor polisi untuk mencari keberadaan rumahku dulu, dan itupun aku mencoba memberi arahan dimana letak rumahku sesuai dengan ingatan yang ku punya.
Setelah mengunggu selama seminggu akhirnya kami mendapat kabar dari kepolisian jika mereka sudah menemukan keberadaan rumahku.
Mendengar hal itu aku, Ayah dan Bunda langsung pergi menyusul ke sana. Setibanya di sana dapat ku lihat jika rumah yang dulu aku tempati bersama Mama ternyata sudah kosong dan terlihat sudah sangat lama tak ditinggal setelah kejadian dulu.
Aku, Ayah dan Bunda langsung memasuki rumah tersebut di mana dia polisi ternyata sudah menemukan letak jenazah Mamaku dikubur.
Polisi pun langsung bergegas membongkar tempat itu dan mulai menggali tanah di bawah lantai tersebut sampai akhirnya mereka berhenti karena menemukan sebuah buntalan plastik besar di sana.
Dan ketika dicek benar saja itu adalah kerangka Mamaku. Aku langsung menangis diperlukan Bunda ketika bisa polisi membawa mamaku untuk di otopsi di rumah sakit.
Skip
Hari ini adalah hari pemakaman Mama. Dan setelah para pelayat pergi aku duduk di sebelah nisan Mama dan mengucapkan kata-kata maaf karena baru bisa mengingat nya setelah sekian lama berlalu.
Untuk pembunuh Mama polisi sudah mendapatkan kabar tentang pelaku dan sekarang sedang mencari keberadaannya untuk segera di ringkus.
~Ending~
Terimakasih ya untuk yg sudah mau membaca cerita ku ini, walaupun cerita nya agak kurang gimana gitu, aku pribadi mohon maaf ya🙏