Aku Rian, seorang guru honer di salah satu kota kecil. Atasanku, pak Tomo menyuruhku untuk tinggal di salah satu rumah, milik temannya namanya Nyai Konde.
Aku baru saja sampai di rumahnya Nyai Konde, dia yang menjemputku langsung ke terminal menggunakan mobil Ford jadul.
"Silakan masuk, ini kuncinya. Kamu bisa istirahat malam ini"ujar Nyai Konde sambil memberiku kunci.
Nyai Konde masuk duluan ke dalam rumahnya, sedangkan aku membuntutinya dari belakang lalu aku menuju kamar yang sudah ditunjuknya.
Aku mengunci pintu kamar, dan meletakkan koperku begitu saja.
Tok...tok..tok...
Tembok sebelahku berbunyi,
"Ya? Siapa?"tanyaku.
"Orang baru ya? Namaku Faisal, oh iya jangan lupa lihat laci ya, pas udah terbangun. Ingat! Kalau misalnya terlihat, kamu tutup mata terus baca doa. Udah dulu, ya!"pamit Faisal.
"Loh? Faisal?"aku mengetuk dinding itu, sepertinya Faisal teman baru sekamarku. Mungkin dia iseng saja pikirku.
Aku kemudian berjalan ke arah laci, kemudian membukanya. Ada sebuah amplop berwarna putih, aku mengambilnya.
"Besok ajalah dibukanya!"
Aku menyimpan amplop itu di saku, karena sudah larut dan tubuhku lelah juga, akhirnya aku pun langsung tidur.
Sekitar pukul 03.00 pagi aku terbangun, aku berniat untuk melaksanakan shalat tahajud
Sehabis berwudhu di kamar mandi kamar, aku membentangkan sejadahku lalu melaksanakan shalat.
Sehabis berdoa, tiba-tiba aku mendengar suara decit pintu yang sepertinya terbuka.
Aku menghadap belakang, rupanya pintu kamarku sudah terbuka lebar. Belum sempat aku mau bergerak, tiba-tiba muncul sosok di depan mataku seorang perempuan berwujud Nyai Konde dia berjalan kayang. Kepalanya memutar ke arahku sambil tersenyum menyeramkan,
Aku shock melihat kejadian itu, seketika aku teringat pesan Faisal. Kemudian aku menutup mataku lalu membaca doa-doa.
AAAAAAKKKKKHHHHHHH....
Pintu terbanting dengan kencangnya, dengan sigap aku langsung mengambil sejadah dan koperku. Aku melihat jendela dan keluar dari sana.
Dalam pelarianku, aku menangis. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk tidur di mushalla sekitar.
(Next)
Sehabis shalat subuh, ada salah seorang bapak tua menghampiriku,
"Masnya orang baru? Guru honorer ya?".
"Kok bapak tahu?".
"Kelihatan soalnya, mas pasti dari rumah Nyai Konde kan?"tanya bapak itu lagi.
Aku mengangguk,
"Syukur, masnya bisa selamat. Kalau enggak mungkin akan bernasib sama dengan korban sebelumnya, yang di temukan meninggal di sana"jelas bapak itu.
"Siapa namanya pak?"tanyaku penasaran.
"Kalau enggak salah, namanya Faisal. Kabarnya dia ditemukan bunuh diri disana. Tapi, warga yakin itu semua akal-akalan polisi saja dan orang-orang dalam. Sepertinya Faisal dijadikan tumbal disana, sudah dulu ya. Saya mau pulang"pamit bapak itu.
Aku shock mendengar itu,
"Faisal? Semalam kan aku bicara sama dia?".
Aku langsung teringat amplop putih yang dibicarakan Faisal, lalu aku membukanya,
"Siapa pun yang membaca surat ini, berarti saya sudah meninggal dan dijadikan tumbal oleh Nyai Konde dan pak Tomo pemilik yayasan X. Saya mendengar sendiri dari pak Tomo dan Nyai Konde bahwa saya akan di jadikan tumbal dan jika mayat saya di temukan, mereka akan mengatakan bahwa saya meninggal bunuh diri. Saya harap yang membaca surat ini untuk segera kabur di rumah itu, karena ada sosok perempuan yang berjalan kayang mencari tumbal di rumah itu. Saya melihat sendiri, teman saya meninggal di habisi jelmaan perempuan kayang itu. Saya mohon juga untuk yang menemukan surat ini, supaya mendoakan saya. Saya tidak minta yang lebih. Salam Faisal".
Setelah membaca surat itu, aku melipat kembali surat itu. Aku pun berdoa untuk Faisal yang sudah tenang di sana.
Tamat.
Yuk, mampir ke cerita ku yang lain. Jangan lupa vote atau komen, terimakasih!