"Tugas seorang kakak adalah melindungi adiknya. Aku tidak ingin kehilangan adikku satu-satunya ini!"
............................................................
Namaku Ishikawa Shiika, usiaku lima belas tahun. Aku mempunyai seorang kakak bernama Ishikawa Taka, yang kini berusia sembilan belas tahun.
Sekarang adalah hari Minggu, keluarga kami baru saja bersenang-senang selama akhir pekan. Saat ini, aku dan kakakku berada di dalam mobil yang sedang melaju menuju rumah kami di prefektur Chiba. Kenapa hanya aku dan kakakku? Orang tua kami sedang mengunjungi bibi dan pamanku di kota yang lumayan jauh. Dan aku harus berangkat sekolah besok.
Saat ini, hari sudah malam. Sekitar jam 19.00 waktu setempat. Kami sedang memasuki kawasan hutan lindung. Hmm, hutan yang gelap dan sedikit berkabut. Aku tidak suka lewat jalan ini, tapi mau bagaimana lagi? Tiba-tiba..
CIIIT!
Mobil kami tiba-tiba berhenti. Karena mengerem tiba-tiba, tubuhku sampai hampir membentur bagian depan kursi penumpang, yang dinamakan dashboard atau tempat airbag, atau.. entahlah! Tapi untung saja aku menggunakan sabuk pengaman.
"Ada apa kak?" tanyaku pada kakakku yang sedari tadi hanya diam fokus menyetir.
"Ada yang melintas," ucap kakakku dengan nada datar, pandangannya ke depan. Aku pun mencoba melihat apa yang kakakku lihat. Tidak ada apa-apa.
"Tadi apa yang melintas kak?" tanyaku lagi.
"Entahlah, tidak terlalu jelas, mungkin kucing hitam."
Aku hanya mengangguk setalah mendengar yang dikatakan kakakku.
"Onii-chan, ayo kita pulang, aku mengantuk." ucapku sambil menarik-narik tangan kiri kakakku.
"Iya-iya, sabar."
Akhirnya kami akan melanjutkan perjalanan. Tapi, saat kakakku akan menyalakan mesin mobil, tidak bisa di nyalakan.
"Kenapa kak? Kenapa tidak mau menyala?" ucapku mulai khawatir.
"Entahlah. Hmm, energinya habis," ucapnya setelah melihat petunjuk energi yang letaknya di dekat speedometer.
"Apa? Bukankah kita tadi sudah mengisi energi?" tanyaku lagi.
"Sudah, baiklah.. kita tidak punya pilihan. Gunakan energi alternatif,"
"Kak.. sekarang malam hari, tidak ada matahari jika akan menggunakan tenaga Surya." fyi, mobil kami sudah modern. Menggunakan energi listrik supaya tidak menimbulkan polusi udara, sehingga lebih ramah lingkungan.
"Oh iya kau benar, sekarang kan sudah malam ya." ucap kakakku sambil menggaruk tengkuknya.
"Aku akan mencoba untuk melihat peta." ucapku seraya mengaktifkan ponsel ku. Kemudian aku membuka aplikasi maps untuk melihat peta. Oh iya, di sini sinyalnya tidak terlalu sulit, meskipun di hutan, soalnya ponselku sudah 5,5G. Dan, saat aku sedang melihat peta..
"Kak, ini.. kenapa kita berada di 'hutan tanpa ujung'?" tanyaku ketika melihat suatu kejanggalan dalam peta.
"Hah? Coba ku lihat," ucapnya sambil melihat layar ponselku.
"Hmm, tidak. Kita sedang berada di hutan lindung. Apa kau terlalu mengantuk sampai salah baca?" ucap kakakku menyimpulkan.
"Apa? Yang benar saja?" batinku setelah membaca kembali peta tersebut. Perasaanku mulai tidak nyaman.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan kak?" aku bertanya pada kakakku yang sedang melihat-lihat sekeliling nya dari dalam mobil.
"Eh? Hmm, ayo kita keluar. Siapa tau kita akan menemukan tempat pengisian energi." ajak kakakku sambil melepas safety belt nya.
"O..Okey, jangan lupa membawa senter kak."
"Iya-iya, kita kan habis berkemah, tentu saja aku membawa senter."
......................................................................................
Pada akhirnya, kami berdua pun keluar dari mobil untuk mencari tempat pengisian energi supaya kami dapat pulang. Haah.. aku lelah, kami sudah berjalan sekitar satu kilometer.
"Onii-chan, aku lelah. Aku ingin istirahat," keluhku, aku mulai merasa pegal-pegal di bagian kaki.
"Sabar dulu, kita sedang berada di tengah hutan. Bagaimana kalau nanti kita di terkam hewan buas?" ujar kakakku terus berjalan sambil menggandeng tanganku.
Setelah berjalan lagi sejauh seratus meter, kami menemukan cahaya yang berasal dari dalam sebuah rumah. Rumah berlantai dua itu sekilas terlihat menyeramkan, tapi masih kokoh.
"Kak, itu ada cahaya di rumah itu. Bagaimana kalau kita mampir sebentar di sana?" aku membujuk kakakku supaya kami dapat beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
"Hmm, baiklah. Aku juga merasa lelah, ayo. Sekalian aku juga mau bertanya apakah ada tempat pengisian energi disini." ucap kakakku menyetujui saranku. Kami berdua pun berjalan menuju rumah tersebut. Ketika sampai di halaman rumah tersebut, kami sudah disuguhkan pemandangan yang mengerikan.
"Onii-chan, itu.. itu kenapa ada makam disitu?" ucapku ketakutan sambil memeluk tangan kakakku, setelah melihat delapan makam berjejer di halaman rumah itu.
"Jangan takut, kamu tidak sendirian, Shiika-chan." ucap kakakku sambil mengusap kepala ku untuk menenangkan aku yang penakut ini.
Saat ini, kami sudah sampai di depan pintu. Rumah itu, ada bel nya. Kemudian, kakakku memencet bel itu, tak lama setelah, ada orang yang membukakan pintu untuk kami.
"Oyasuminasai, ada yang bisa saya bantu?" ucap sang pemilik rumah, yang merupakan seorang laki-laki berusia sekitar dua puluh lima tahunan.
"Kami sedang dalam perjalanan pak, tapi mobil kami kehabisan energi. Jadi.. bolehkah kami menumpang istirahat sebentar?" ucap kakakku meminta izin pada sang pemilik rumah.
"Oh, tentu saja, lama pun tidak apa. Ayo, silahkan masuk." orang itu mengajak kami masuk ke rumahnya. Dalam rumahnya pun gelap, hanya diterangi oleh cahaya sebatang lilin di ruang tamu tempat kami berada.
"Oh iya, ngomong-ngomong, nama kalian siapa?" Tanya laki-laki si pemilik rumah.
"Namaku Ishikawa Taka, dan ini Ishikawa Shiika." Ucap kakakku memperkenalkan dirinya dan diriku.
"Ooh, namaku Tatsuya Seiko. Senang bertemu dengan kalian."
"Senang bertemu dengan anda." Ucap kami berdua bersamaan.
Saat itu, sekilas aku melihat benda mengkilap di sudut ruangan. Dilihat dari bentuknya, sepertinya itu adalah katana.
Tak lama kemudian, cuaca memburuk. Suara hujan mulai terdengar, dan semakin lama semakin deras. Hmm, padahal aku ingin cepat-cepat pulang, dan sekarang sudah sepuluh malam lagi.
"Waah, hujan turun. Sudah sepuluh hari disini tidak turun hujan." Ujar Tatsuya sambil memandang ke arah kaca jendela yang basah akibat terkena air hujan.
"Kalian tunggu sebentar ya, aku akan membuatkan minuman." Lanjut Tatsuya sambil beranjak dari duduknya.
"Tidak perlu repot-repot pak," ucapku untuk mencegahnya berdiri, jujur saja, aku sedikit tidak nyaman disini.
"Iya pak, kami baik-baik saja." Ujar kakakku mendukung. Kami membawa air minum saat perjalanan kemari tadi.
"Ooh, baiklah." Kata Tatsuya sambil kembali duduk.
"Pak, apakah disini ada tempat pengisian energi?" Tanya kakakku.
"Ada, tapi sangat jauh. Jauhnya sekitar sepuluh kilometer."
Setelah mendengar hal itu, kakakku tampak berpikir.
"Jangan bilang kalian akan pergi kesana. Sekarang sudah malam, lagipula sekarang hujan lebat. Kalau kalian mau menginap juga boleh," Ucap Tatsuya lagi. Kakakku menatapku.
"Bagaimana?" Tanya nya.
"Terserah kakak, aku tidak sekolah satu hari juga tidak apa-apa." Jawabku. Jangan kira aku suka membolos ya.
.......................................................
Singkat cerita, saat ini kami sedang tidur di kamar yang letaknya di lantai dua. Ya, aku dan kakakku tidur sekamar. Bagi kami, itu sudah biasa. Lagipula, kakakku bukanlah orang yang suka aneh-aneh. Aku baru saja terbangun dari tidurku yang hanya sebentar. Aku merasa haus. Aku pun mencoba membangunkan kakakku.
"Onii-chan, onii-chan, tolong antar aku ke dapur." Ucapku sambil menepuk-nepuk pipi kakakku untuk membangunkannya. Tapi, dia sama sekali tidak bergeming. Kalau sudah tidur pulas, memang sulit membangunkannya.
Aku pun memutuskan untuk pergi sendiri. Dan.. peristiwa nya pun dimulai.
Aku berjalan ke dapur yang letaknya di lantai bawah. Ruangannya yang tidak terlalu luas dan gelap. Aku menyalakan lampu flash dari ponselku untuk penerangan. Tiba-tiba, terdengar suara besi jatuh dari arah belakang ku. Aku pun segera menoleh ke arah sumber bunyi, tapi tidak ada apa-apa. Aku pun melanjutkan niatku. Aku terkejut setelah melihat Tatsuya yang berada di depanku.
"Eh?! Apa yang anda lakukan disini?" Tanyaku.
"Terserah aku, ini kan rumahku. Kau sendiri?" Dia balik bertanya.
"Aku haus, aku ingin minum," ucapku berusaha terlihat baik.
"Ooh, minumnya ada disitu. Gelasnya silahkan ambil di rak ya.." ucapnya sebelum dia masuk ke ruangan yang tak jauh dari situ.
Aku pun melakukannya apa yang dia minta. Mengambil gelas dari rak, kemudian mengambil air minum dari teko. Tapi.. aneh, airnya berwarna merah!
Ketika Tatsuya kembali, aku pun segera menghampirinya..
"Tatsuya-san, ini.. kenapa airnya berwarna merah?" aku menanyakan perihal air itu sambil menunjukkan nya.
"Kau baru tau, aku tidak meminum air?" ucapnya dengan nada aneh. Kemudian, tampak dia mengelap sudut bibirnya sekilas. Kemudian, selangkah demi selangkah, dia berjalan mendekatiku.
"A.. ap.. apa yang akan anda lakukan?" ucapku takut, sambil melangkah mundur. Dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan ku, dan terus mendekatiku. Dan tiba-tiba, dia mendorongku hingga terjatuh, sebelum aku bisa bangkit, dia sudah berada di atasku!
"Tabetai," bisiknya ketika wajahnya berada di sebelah wajahku. Tabetai, berarti 'aku ingin makan', tunggu, dia ingin memakanku?! Tapi sebelum itu,
"Shiika-chan, kau dimana?" panggil kakakku ketika dia sampai di ambang pintu dapur.
"Onii-chan.." panggilku dengan suara serak.
"Shiika? Apa yang kalian lakukan?!" ucap kakakku terkejut setelah melihat ku dan Tatsuya.
"Cih! Pengganggu," Tatsuya berdecih ketika kakakku mendekati kami.
"Apa yang kau lakukan pada adikku?!" ucap kakakku lantang dengan sorot mata tajam.
"Haih.. aku hanya ingin adikmu menjadi tumbal ku, untuk yang kesembilan.."
"Apa..? Jadi, delapan makam di depan rumah.." ucap kakakku tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Ya, kau benar. Kalau begitu, menyingkirlah!" ujar Tatsuya sambil mendorong tubuh kakakku, supaya tidak menghalanginya. Dia pun kembali mendekati ku.
"Jangan sentuh adikku!!" ucap kakakku dengan suara lantang nya. Tatsuya menghentikan langkahnya.
"Oh, baiklah. Aku akan melangkahi mayatmu terlebih dahulu." ucap Tatsuya berbalik, dan menghadap kakakku. Tunggu, aku baru tau kalau Tatsuya tidak mempunyai bayangan, dia hantu?!
..........................................................
Normal POV
TCING! TCING! TCING!
Tatsuya mulai menyerang Taka menggunakan katana miliknya.
"Apa?! Kenapa aku tidak tau kalau dia membawa katana?" batin Shiika. Dia sangat khawatir dengan keadaan kakaknya.
TCING! TCING! TCING!
Terlihat, Taka mulai lengah. Bagaimana tidak? Dia bertarung tanpa menggunakan senjata, berbeda dengan Tatsuya yang menggunakan katana. Hingga suatu saat, Tatsuya jauh lebih unggul, dia menodongkan katana nya di depan leher Taka.
"Ya ampun, aku harus bagaimana?!" batin shiika. Dia masih takut, terkejut, dan juga syok dengan apa yang di lihatnya.
"Ah, itu dia.." batin Shiika, dia mempunyai ide yang mungkin dapat mengulur waktu untuk kakaknya.
TYANGGG!
Katana itu terjatuh dari tangan kanan Tatsuya, akibat tangannya dilempar sandal oleh Shiika. Keduanya pun terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Shiika.
"Shiika, apa yang kau lakukan?!" ucap Taka terkejut dan khawatir.
"Jangan lukai kakakku!" Shiika berteriak. Kemudian berjalan ke arah Taka, dan berlari bersama untuk menyelamatkan diri.
"Cih! Kalian takkan bisa lolos," gumam Tatsuya.
........................................................
Shiika dan Taka sudah sampai di ruang tamu. Mereka hendak keluar dari rumah itu, meskipun diluar hujan turun dengan derasnya.
"Kenapa, pintunya tidak bisa dibuka?!" ujar Shiika setelah memutar-mutar kunci pintu itu, dan saat menarik gagang pintu. Sama sekali tak bisa terbuka.
"Shiika-chan," ucap Taka sambil menempelkan kedua tangannya di samping wajah Shiika.
"Onii-chan, apa kau baik-baik saja?" tanya shiika cemas.
"Ya, aku baik-baik saja," jawab Taka.
"Hah? Tapi, tangan mu berdarah!" ucap Shiika bertambah panik ketika menengok ke kiri, dan melihat punggung tangan kanan Taka yang mengucurkan darah.
"Ini, tidak sakit,"
"Tapi, itu darahnya keluar banyak sekali.."
"Sungguh, ini tidak sakit. Lebih sakit saat orang yang kusayangi telah meninggalkan aku."
"Apa maksudmu, kak?"
"Shiika-chan, dengarkan aku. Tugas seorang kakak adalah melindungi adiknya. Aku tidak ingin kehilangan adikku satu-satunya ini!" ucap Taka tegas.
"AAGGHHH!" terlihat, Taka menahan rasa sakit setelah merasakan satu tebasan katana di bagian punggungnya.
"Kakak!" teriak Shiika khawatir.
"Shiika-chan, kau.. tidak boleh mati duluan.." bisik Taka.
"AGGHH!" Taka kembali berteriak kesakitan. Hal yang sama terlah terjadi lagi.
"Kak, biarkan aku menyerahkan diriku.." ucap Shiika saat dia hendak pergi.
"Tidak," Taka mencegahnya dengan memegang bahunya.
"Tapi, aku kasihan pada kakak." kata Shiika, air matanya mulai menetes.
"Kau jangan khawatir, rasa sakit ini tidak akan bertahan lama."
JLEEBB!
Shiika sangat terkejut setelah melihat ada dua pedang katana yang menembus tubuh kakaknya. Si pemilik pedang mencabut salah satunya.
BRUK! Taka telah ambruk dengan tubuh yang berlumuran darah.
"Kakakk!" teriak Shiika ketika kakaknya ambruk.
"Shiika-chan, pergilah.." ucap Taka terdengar lemah.
"Tapi, aku.. hiks.. tidak bisa meninggalkan kakak.. hiks.." Shiika menahan air matanya.
"Sayonara.. Shiika-chan.." ucap Taka sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
"Hiks.. Onii-chan.." Shiika menggenggam telapak tangan kiri Taka yang mulai memucat.
"Akhirnya, selesai juga dramanya.." ujar Tatsuya sambil mengelap katana nya.
"Apa yang kau lakukan pada kakakku?! Kau harus bertanggung jawab!" Shiika berteriak, meskipun matanya berkaca-kaca.
"Baguslah, sekarang tidak ada lagi yang menghalangi niatku.." ucap Tatsuya, sambil memasukkan katana miliknya ke wadahnya. Setelah itu, dia berjalan mendekati Shiika.
"A.. ap.. apa yang akan kau lakukan?!"
"Heh.. darah laki-laki, tidak enak.."
"Jawab aku, apa yang akan kau lakukan?!"
"Menurut mu?" kata Tatsuya sambil menatap Shiika dengan tatapan haus darah.
"Yang ku inginkan darimu bukanlah darahmu, tapi.. jantungmu!"
TCING! JLEB!
Tiba-tiba, pedang katana itu telah menancap di perut bagian atasnya. Kemudian, di pemilik pedang mencabut dengan sangat perlahan. Hal itu sangat menyiksa.
"AGGGGHHHH!" teriak Shiika menahan rasa sakit.
Dan pada akhirnya, ketika katana milik Tatsuya sudah tercabut, darah yang keluar dari tubuh Shiika sangat banyak. Pandangannya mulai kabur, tubuhnya melemas.
BRUK! Shiika juga ambruk, tepat di depan Taka. Berusaha sekuat tenaga, Shiika mencoba untuk kembali menggenggam tangan Taka.
"Sayonara, Onii-chan.."
~TAMAT~
............................................................
Note:
Terima kasih bagi yang udah mau baca sampai selesai^^
Isi cerita ini hanya fiksi‼️
Gimana menurut kalian? Mendebarkan ngga?
Maaf kalo ada kesalahan🙏🏻
Semoga kalian suka ya(≧▽≦)