Hari ini pertama kalinya kami sekeluarga pindah rumah. Aku bersama suami serta putraku pindah ke sebuah desa yang masih asri. Tampak pemandangan sawah serta para petani diluar kaca mobil yang kami tumpangi.
"Fris, friska!" Panggil suamiku, Dimas.
"Eh iya mas." Sahutku seraya menghampiri suami dan anakku.
"Jangan bengong terus. Sini bantuin angkat koper, udah sampe nih." Ucap suamiku. Aku pun mengangguk seraya melakukan apa yang diminta suamiku.
Setelah akhirnya selesai berbenah rumah baru kami, aku pun menuruni anak tangga menuju dapur. Samar samar kudengar suara gemericik air dari wastafel. Aku pun hanya mengabaikannya dan berkutat dengan sayur sayur segar yang baru ku beli. Suara gemericik air itu pun mereda. Namun tak lama kemudian, suara tawa anak kecil terdengar ditelingaku.
"Mungkin itu suara reyhan yang sedang bermain." Gumam ku sembari memotong sayur.
"Fris!" Teriak suamiku dari kamar atas.
"Iya mas."
"Reyhan bareng kamu kan?" Tanya nya yang membuatku bingung.
"Loh? Bukannya Reyhan main dikamar sama kamu, mas?" Ucapku.
"Tadi emang main sama aku, tapi aku tinggal bentar ke kamar mandi eh pas aku balik gak ada. Kalo gak ada bareng kamu mungkin main sama anak anak tetangga. " Ucap suamiku.
Aku pun mengiyakan apa yang dijelaskan suamiku. Makan malam pun tiba, hingga waktu itu Reyhan tak kunjung pulang. Itu membuatku panik. Kami pun mencari cari di rumah rumah tetangga, namun nihil, kami tak menemukan keberadaan Reyhan dimanapun.
"Gimana ini mas, Apa kita lapor polisi aja?" Ucap ku panik dan hampir menangis.
"Kita cari dulu bareng pak RT ya? kalo masih gak ketemu baru kita lapor polisi." Ucap suamiku.
Kami pun meminta bantuan pak RT dan para warga mencari bersama sampai larut malam. Kami pun memutuskan melanjutkan pencarian besok bersama polisi karena kami masih tak menemukan keberadaan Reyhan. Ketika sampai dirumah, kami mendengar suara tawa Reyhan yang diiringi tawa anak lain di lemari. Takut dan penasaran, suamiku membuka pintu lemari. Tampak Reyhan yang tertidur dengan posisi duduk didalam lemari itu. Kami pun membangunkan Reyhan dan bertanya apa yang terjadi dan kemana Reyhan menghilang.
"Aku gak hilang kok, mah. Tadi aku diajak main sama anak kecil yang kepalanya botak sama tante yang rambutnya panjang banget, mah!" Ucap Reyhan.
"Terus kok kamu bisa ada di lemari?" tanya suamiku yang seakan sedang menginterogasi.
"Aku ditarik tadi, terus wush! banyak banget mainan nya, ada pohon gede banget loh." Ucap Reyhan yang membuat kami bingung.
"Sudah sudah, ayo segera gosok gigimu dan tidur. mas juga udah tanyanya, yang penting Reyhan ketemu." Ucapku lega.
Hari esok pun tiba, kami menjalani aktivitas masing masing. Untuk pertama kalinya aku sendirian dirumah baru ini. Walau masih pagi, suasana hening di rumah ini bisa membuat bulu kudukku berdiri. Terkadang terdengar suara suara aneh seperti suara air mengalir dan suara tawa dan tangis anak kecil yang membuat suasana rumah menjadi cukup seram. Walau begitu aku hanya menghiraukannya.
Dari balkon kamar ku, aku melihat seorang pria aneh yang melakukan sesuatu yang mencurigakan. Aku pun keluar dari rumah dan menghampiri pria itu.
"Hei, siapa kau! Apa yang kau lakukan dirumahku!" Teriakku.
Pria itu memandangiku dari atas sampai bawah lalu melihat sekeliling. Pandangannya terhenti sejenak pada pohon mangga di halaman rumahku. Dia lalu kembali memandangku diiringi senyuman seram di wajahnya. Rambut yang kusut dan acak acakan serta gigi kuningnya yang terlihat jelas ketika tersenyum, malah membuatku merinding dan jijik.
"Sepertinya anda memiliki nasib yang sial, anda sebaiknya berhati hati setiap malam jum'at seperti hari ini." Ucap nya lalu pergi.
"Apaan sih, gak jelas." Ucap ku lalu kembali masuk dan menutup pintu.
Ketika aku baru masuk, punggungku tiba tiba terasa berat. Aku hanya menghiraukannya dan menganggap bahwa itu karena terlalu capek. Aku pun memutuskan ke kamar dan istirahat. Ketika aku melewati meja rias yang terdapat cermin, sekilas bayangan ank kecil di punggungku tertangkap ekor mataku. Aku kembali melihat ke cermin namun tak ada apa pun dipunggungku. Punggungku pun terasa lebih ringan. Aku merebahkan tubuhku dan menatap langit langit kamar. Pandanganku tertuju pada kotak yang berada diatas lemari kayu. Aku membuang jauh jauh rasa penasaran ku dan memilih untuk beristirahat.
Ketika baru menutup mata yang lebih tepatnya masih setengah sadar, sentuhan dingin terasa di kakiku. Aku tetap menghiraukannya dan tertidur.
Dering telepon membangunkanku, tanganku meraba meja disamping ranjang berusaha mencari ponselku.
"Halo." Ucapku.
"Maaf apa benar anda Ibu Friska istri Pak Dimas?"
"Benar, saya sendiri."
"Terjadi kecelakaan dijalan XX dan Pak Dimas salah satu korbannya, di TKP juga ditemukan anak mayat anak kecil bersama dengan suami anda. Kedua korban telah dilarikan di rumah sakit. Namun Pak Dimas dinyatakan meninggal saat tengah dilarikan di rumah sakit. "
Tak sengaja ku jatuhkan ponselku hingga layarnya retak. Tubuhku terasa kaku dan lemas. Air mata membasahi pipi ku. Aku segera berlari menuju mobilku dan mengemudikannya dengan kecepatan tinggi. Aku tak peduli lagi pada apapun. Saat ini yang aku pedulikan hanya keluargaku.
Rumah sakit, kaki ku terasa enggan masuk melihat keadaan suamiku yang kritis, dan mayat Reyhan yang sudah dingin. Melihat suami tercintaku dan jasad anakku, tubuhku seakan tak ada tenaga lagi. Aku terduduk lemas dilantai dengan air mata terus mengalir setetes demi setetes.
"Kenapa... padahal tadi pagi kita masih tertawa... Bangun.. BANGUN SEKARANG!!" Teriakku histeris.
.
.
.
Sepuluh hari telah berlalu, gangguan mistis di rumah semakin menjadi jadi. Bahkan, terkadang arwah Reyhan dan mas Dimas menunjukkan eksistensinya. Aku memutuskan untuk pindah rumah lagi dan berharap tak ada lagi gangguan mistis. Namun, ketika malam sebelum pindah rumah...
Suara pecahan kaca terdengar dan membangunkanku ditengah malam. Lalu, tubuhku bergerak sendiri seperti dikendalikan orang lain. Aku berusaha mengendalikan tanganku yang hendak mengambil pisau buah. Tanganku semakin mendekatkan pisau itu ke leherku dan... JLEB!
Keesokan harinya seorang warga yang tak sengaja menemukan mayat Friska yang sudah berlumur darah. Berita kabar malapetaka yang menimpa keluarga Friska pun menjadi bahan gosip dan mereka menyatakan bahwa rumah tempat tinggal mereka itu angker.