Kantin adalah tujuan utama bagi Bella, karena disanalah ia selalu mengisi perutnya yang sudah keroncongan. Bukan tanpa sebab, kebiasaannya begadang, menyebabkan ia selalu bangun kesiangan, hal itulah yang membuatnya selalu terburu-buru untuk berangkat ke sekolah dan akhirnya melupakan sarapan.
"Bella ... !" seru Kimmy, sahabatnya.
"uhuk-uhuk," Bella tersedak kuah bakso, yang sedang ia santap.
"Bisa nggak sih, kalau dateng itu salam, jangan teriak-teriak gitu, kaget tau nggak!" ucap Bella.
"Kamu sih, kebiasaan deh main tinggal-tinggal aja, aku kan juga lapar, Bell!" dengan mata memicing, Kimmy mendudukkan bokong nya tepat diseberang Bella. Sementara yang ditatap tampak tidak acuh, tetap fokus dengan makanannya.
"Eh Bell, sabtu ini ada acara nggak? Ikut aku aja yuk, aku mau kerumah nenek aku yang dikampung, beliau sedang sakit." ucap Kimmy.
"Nenek cuma punya dua orang anak, Ayah dan Om saja. Kamu tau sendiri kan, orang tua ku lagi diluar negeri, sementara Om dan Tante ku juga nggak bisa kesana, karena Tante baru saja melahirkan, jadi mereka mengutus ku untuk merawat nenek," lanjutnya lagi.
"Aku sangat jarang kesana, tidak mengenal banyak orang, pasti sangat membosankan. Ayolah Bell, itung-itung liburan, hehehehe." ujarnya menerangkan.
"Nggak ada acara sih, oke deh aku ikut kamu," jawab Bella.
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️
Hari Sabtu pun tiba, pagi sekali Bella dan Kimmy sudah bersiap untuk berangkat. Perjalanan mereka akan cukup panjang, memerlukan sedikitnya 7 jam naik bus. Mereka duduk bersebelahan, Bella duduk didekat jendela, sedangkan Kimmy disisi satunya.
Sepanjang perjalanan mata mereka di manjakan oleh pemandangan yang indah. Indahnya pegunungan, hijaunya persawahan, dan rindangnya hutan. Tanpa sadar, rasa kantuk membuat mereka tertidur. Hingga guncangan bus beberapa kali, dan suara berisik dari para penumpang lainnya, berhasil membuat kedua gadis itu terbangun.
"Hoamm," Kimmy merenggangkan otot nya sambil menguap.
"Aku masih ngantuk, tapi harus terbangun sekarang, memangnya ada apa sih,?" ucapnya, seraya memperhatikan sekitar.
Bella mengerjapkan matanya, badannya terasa sakit karena harus tidur dalam posisi seperti ini. Ya, Bella baru pertama kali melakukan perjalanan seperti ini.
"Itu neng, jalannya sedikit rusak, padahal perjalanan kita masih dua jam lagi dari sini, mana sekarang mendung banget, takut hujan neng. Pasti jalannya akan lebih sulit untuk kita lalui," ucap salah satu penumpang.
Jeledug, ciiiiiiiiiitt ... brugh!
Lagi-lagi mobil bus berguncang kesana-kemari, namun kali ini sang sopir memberhentikan bus nya. Rasa penasaran membuat Bella dan Kimmy berdiri dari duduknya. Berharap dapat melihat ada apa sebenarnya, kenapa pas sopir berhenti di tengah hutan seperti ini.
"Ada apa?"
"Kenapa berhenti?"
Suara riuh dari para penumpang, melihat sang sopir turun dari bus, mereka pun ikut turun, untuk memastikannya.
"Bella, aku penasaran, turun yuk?"
"Kamu aja deh, Kim. Badanku pegel banget, aku mau didalem aja boleh ya?" jawab Bella.
Kimmy pun turun dari bus, ternyata ban depan dari bus itu pecah, dan mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan.
"Haiii, boleh aku duduk disebelah kamu?" tiba-tiba seorang pria menghampiri Bella.
"Aku Edo, aku duduk dibelakang mu tadi, boleh kita berkenalan?" sapa nya ramah, dengan tersenyum manis.
"Benarkah? Aku tidak melihatmu sejak tadi," jawab Bella cuek.
Sebenarnya dia merasa tidak melihat pria itu sejak tadi, tapi pria itu mengaku duduk dibelakang nya. Entahlah, Bella tidak ingin memikirkannya.
"Nama kamu siapa? Hendak kemana?" tanya pria itu lagi.
"Hmm aku Bella, ingin ke desa Telaga Said, kampung teman ku," jawab Bella.
"Oh Telaga Said? Masih cukup jauh dari sini, Bell. Perjalanan dua jam lagi untuk sampai ke haltenya, terus kamu harus naik angkot lagi sekitar 30menitan untuk masuk kesana," sambungnya lagi.
"Benarkah? kamu kok tau? Kimmy nggak bilang apa-apa,"
"Aku tau, karena aku warga sini. Aku habis dari kota untuk melakukan pekerjaan, dan sekarang aku ingin pulang," ucapnya dengan tersenyum manis, memperlihatkan deretan gigi nya yang putih.
Seketika Bella terpesona melihat senyuman pria itu, dia berawakan tinggi, alis nya terukir bagaikan bulan sabit, dengan bibir yang sedikit tebal.
"Perpaduan yang sempurna, hanya kulitnya saja yang sedikit pucat," ucap Bella dalam hati.
"Oh gitu, ngomong-ngomong bus nya kenapa ya? kenapa mereka lama sekali? Kimmy juga nggak muncul-muncul, ada apa ya?" Bella hendak bangun, namun sebelum itu di cegah oleh Edo.
"Uda nggak usah turun, aku tadi uda liat, ban depan bus pecah dan sekarang mereka sedang memasang ban serep nya, kamu tenang saja, bentar lagi pasti beres kok," ujar pria itu.
"Mudah-mudahan cepet kelar deh, supaya cepat berangkat, mana sekarang lagi di tengah hutan lagi," papar Bella, tangannya masing-masing menggosok lengannya karena merasa kedinginan.
Ya, saat ini tepat pukul 12:00, namun matahari sama sekali tak nampak, tertutup pohon-pohon yang menjulang. Angin mulai berhembus, daun-daun mulai berterbangan, suara jangkrik dan katak, menambah keriuhan saat ini.
"Kamu kedinginan ya? Ini, pakai aja jaket ku, nanti masuk angin loh. Hmm, kamu sudah makan? Ini sudah waktunya makan siang,"
"Belum sih, tapi aku nggak lapar kok, dari tadi ngemil terus aku, hehehe," jawab Bella cengengesan.
"Ini ada bekel aku, kamu makan aja, jangan nunda-nunda makan, entar sakit,"
"Baik banget sih ni orang, padahal baru kenal," batin Bella lagi.
"Kalau aku makan bekel kamu, kamu emang nggak apa-apa? Entar kamu makan apa?"
"Aku uda makan kok, aku bawa ini untuk jaga-jaga aja, uda gih kamu makan, apa perlu aku suapi?" sambungnya, menaik-turunkan kedua alisnya, semakin memperlihatkan ketampanan yang dimilikinya.
Bella sempat memanggil Kimmy, mengajaknya untuk makan, namun Kimmy menolak, masih kenyang katanya.
Akhirnya Bella memakan nya, satu suap, dua suap, tanpa terasa Bella memakan semuanya, habis tanpa tersisa. Pria itu tersenyum, lalu mengusap puncak kepala Bella,
"Gadis pintar," ucapnya menyeringai.
Tik tik tiik..
Yang mereka takutkan akhirnya terjadi juga, rintik hujan mulai turun dengan derasnya.
"Mereka kok nggak masuk? ini kan hujan, mereka bisa basah. Kimmy ..., " seru Bella.
Ia sedikit berdiri, dan ingin turun dari bus mencari Kimmy. Namun aneh, tak seorang pun disana. Matanya mencari kesana-kemari, kemana hilangnya mereka semua? tidak mungkin meninggalkan nya bukan? Sebab semua barang-barang mereka masih di mobil bus.
"Kimmy ... Kimmy ..., " serunya lagi.
"Ada apa?" suara Edo tepat dibelakang telinga Bella, mengejutkan nya.
"Ya ampun, kamu! Bisa nggak ngagetin nggak sih, nggak tau aku lagi panik apa?"
"Maaf, Bella. Maafkan aku jika membuatmu terkejut,"
"Ya sudah, tidak apa. Sekarang aku bingung, kemana mereka semua? Kimmy dimana? Pada kemana semua orang, Edo?" tanya Bella yang mulai panik.
"Entahlah, mungkin mereka mencari tempat berteduh,"
"Ha? Bukankah mereka bisa masuk ke bus? kenapa harus mencari tempat lain? Lagi pula, bagaimana bisa Kimmy meninggalkan aku sendirian disini? dia tidak setega itu padaku kan? hiks hiks ...,"
"Tenang Bella, mungkin mereka pikir tidak ada orang lagi di bus ini dan teman mu, mungkin ia lupa. Tapi kamu jangan khawatir, disini masih ada aku, aku tidak akan pernah meninggalkan mu, percayalah,"
Pria itu menarik Bella pelan, agar mendekat ke arahnya, lalu mencoba memeluk gadis itu. Mencoba menenangkan, ia menarik sudut bibirnya, entah apa yang ada didalam pikirannya.
"Hujan nya begitu lebat Bella, sepertinya tidak baik kalau kita tetap disini, sebaiknya kita cari tempat untuk berlindung. Disana ada rumah warga, ada cahaya. Ayo kita kesana, mungkin semua orang juga kesana,"
"Rumah warga? di tengah hutan seperti ini?" tanya Bella tak percaya.
"Bukankah ku bilang aku warga sini, percaya saja padaku," imbuhnya lagi.
Mereka berjalan di tengah derasnya hujan dengan satu payung yang didapat pria itu entah darimana, Bella tidak mau memikirkan nya, asal ketemu dengan Kimmy dan yang lainnya dia pasti tenang, pikirnya. Jalanan setapak terus mereka lalui, tanpa Bella sadari mereka justru melangkah semakin jauh masuk kedalam hutan.
Hari pun mulai semakin gelap, jika saat siang hari yang cerah saja sinar matahari tak nampak, bagaimana dengan sekarang?
"Sepertinya hari makin gelap, lebih baik kita kerumah ku saja, Bell!" seru Edo sedikit menguatkan suaranya.
Bella hanya mengangguk pasrah, berjam-jam ia telah berjalan ditengah hujan seperti ini, didalam hutan pula, bukan hanya dingin yang ia rasakan, ia juga takut dan khawatir.
Sekarang hari benar-benar gelap seperti malam hari, dengan sedikit berangin. Tubuh mungil itu tampak membiru karena kedinginan. Dari jauh, seperti ada cahaya putih berkedip-kedip, semakin lama semakin dekat, dan tampak lah sebuah rumah kuno disana.
"Ini rumahku, Bella. Silahkan masuk, jangan sungkan. Tapi ya beginilah keadaannya, hanya sebuah gubug reok, tak seperti rumah-rumah dikota," ujarnya menerangkan.
Bella hanya tersenyum menanggapinya, dirinya terlalu lelah, bibirnya membiru karena kedinginan.
Edo membuat api unggun, membuat kan teh untuk Bella, namun Bella belum membaik, justru tubuhnya makin menggigil hebat.
"Dingin, dingin Edo," ucap Bella gemetar.
"Maafkan aku Bella, hanya selimut ini yang aku punya disini,"
"Masih dingin Edo, diingiin sekali, hiks hiks ..., tolong aku," serunya lagi.
Edo sedikit kebingungan, ia sudah membuat api unggun, memberikannya teh hangat, memakaikan jaket dan selimut yang ia punya, namun Bella tetap saja berkata masih kedinginan, bahkan tubuhnya menggigil.
"Dingin, Edo tolong aku, dingin sekali ...," Bella terus meracau tak jelas.
Melihat keadaan Bella, Edo tidak tega. Terbersit dalam pikirannya, saat ini hanya cara itu yang bisa membantu Bella. Ya, hanya itu.
"Aku akan menolong kamu Bella, aku akan membuatmu hangat, dan kamu pasti tidak akan kedinginan lagi untuk seterusnya," ucapnya, ia pun merengkuh tubuh mungil Bella, memeluknya sangat erat.
Suara kicauan burung yang hinggap pada ranting pohon, suara katak yang bernyanyi setelah habis turun hujan, mengusik tidur dari gadis cantik yang kini tengah terbaring di kasur yang terbuat dari anyaman bambu dan tilam kapuk tersebut. Ia mengerjab-ngerjabkan matanya, sembari merenggangkan semua ototnya, tidurnya sangat nyenyak.
Namun sebuah tangan besar tengah melingkar di perutnya, ia menoleh kesamping, dilihatnya seorang laki-laki tengah terbaring disampingnya, sambil memeluknya posesif.
"E ... ee ... Edo, apa yang kau lakukan?" ucapnya terkejut.
"Kau sudah bangun? hoaam, sudah pagi ya?"
Pria itu mengucek matanya, bangun dari posisinya, Bella begitu terkejut ketika selimut yang digunakan nya tersingkap, memperlihatkan Edo yang tanpa mengenakan pakaian.
Sontak ia melihat tubuhnya, benar saja, tubuhnya juga polos tanpa sehelai benangpun.
"Kkk Kau, kau! Apa yang kau lakukan padaku, brengsek?" umpat Bella, ia memukul-mukul dada pria itu dengan kuat.
Pria itu membiarkan Bella meluapkan emosinya, setelah puas Bella pun berhenti, ia melipat lututnya, menenggelamkan wajahnya disana dan menangis sekuatnya.
"Maafkan aku Bella, maafkan aku, aku tau tidak seharusnya aku melakukan ini padamu, aku tau ini salah, aku telah menyakitimu, tapi aku terpaksa Bella. Aku nggak tega lihat kamu seperti kemarin, kamu kesakitan, aku nggak kuat melihatnya,"
"Kamu bukan hanya menyakitiku, tapi kamu mengorbankan hidupku, hiks hiks ...," ucap Bella disela isak tangisnya.
"Maafkan aku, aku akan bertanggung jawab Bella, aku akan menikahi mu,"
"Menikah? tidak Edo, aku masih sekolah, aku belum mau menikah, aku masih ingin belajar dan meraih cita-cita ku, aku ingin menjadi orang sukses," tukasnya sembari mengusap air matanya.
"Aku ingin pulang, iya Edo, aku ingin pulang, aku mau pergi dari sini,"
Ia ingin beranjak dari sana, namun bagian bawahnya terasa sakit dan perih. Ia meraihnya, ada darah disana. Bella menangis kembali, ia kehilangan mahkotanya, selama ini ia begitu menjaganya, namun sekarang mahkota itu tengah direnggut oleh pria yang bahkan baru dikenalnya.
"Kamu tidak bisa pulang Bella, kamu harus tinggal disini selamanya," sergah Edo.
"Kenapa aku tidak bisa pulang? Aku akan mencari Kimmy dan penumpang lainnya, aku akan pulang bersama mereka," tukas Bella lagi.
Ia memungut pakaian nya, berjalan keluar kamar, melewati ruang tamu yang terdapat bekas api unggun tadi malam.
Ia melihat pintu keluar lalu membukanya, namun sebelum kakinya melangkah keluar, tiba-tiba lehernya terasa sangat sakit, ia mengeluh kesakitan.
Ia meraih leher nya, seperti terdapat luka disana. Memperhatikan sekeliling rumah, ia melihat ada kaca kecil tepat didekat jendela, dilihatnya luka itu.
"Luka apa ini? aku tidak ingat kenapa aku bisa punya luka seperti ini. Ini seperti luka gigitan hewan, tapi hewan apa?"
"Argh, sakit, ya tuhan hiks hiks...,"
"Aku harus cepat keluar dari rumah ini, aku harus pulang," ucapnya lagi.
Bella kembali ingin pergi dari sana, begitu ia ingin melangkah keluar, lagi-lagi luka itu kembali bereaksi, namun Bella menahannya.
Bella berlari sekencang-kencangnya, namun ia seperti hanya berputar-putar ditempat yang sana. Semua terlihat sama, ia tidak bisa membedakan jalan mana yang harus ia tempuh untuk keluar dari sana.
"Bella, dimana kamu Bella?" terdengar suara pria itu memanggil namanya, ia harus segera pergi, Bella tidak ingin kembali kesana.
Ia kembali berlari, namun lagi-lagi kembali ke tempat yang sama, ia mulai putus asa.
"Ya Tuhan, tolong aku. Tunjukkan aku jalan pulang, aku tidak ingin disini, disini menakutkan," ucap nya dalam hati.
Saat ia hendak berlari kembali, sebuah tangan meraih bahu nya dari belakang, Bella menjerit sekuatnya.
"Aaaaarrrggghrt, tolong lepaskan aku,"
"Bella, percuma kamu berlari kesana-kemari, itu tidak akan membuatmu kembali ke tempat asalmu. Jika kau mau, aku bisa menunjukkan nya," ucap Edo, namun wajahnya terlihat pucat kembali, seperti saat pertama kali mereka bertemu.
"Kau pasti berbohong kan, aku tidak percaya lagi padamu. Aku salah karena telah mempercayaimu kemarin, hidupku hancur sekarang, dan itu karena kau!" umpat Bella berteriak.
"Untuk itu maafkan aku Bella, aku tidak bisa merubah apa yang telah terjadi, dan aku tidak bisa mengembalikan hidupmu, Bella. Tapi aku bisa menjagamu untuk kedepannya, aku akan menikahi mu, dan kita tinggal berdua disini, selamanya," sambungnya lagi.
"Apa kau gila? aku sudah bilang tadi, aku tidak ingin menikah denganmu, dasar sinting," umpat nya lagi.
"Tapi kau tidak bisa kembali Bella, kau bukan seperti mereka lagi, kau sekarang telah menjadi seperti ku,"
"Apa maksudmu, aku tidak seperti mereka lagi, dan aku sekarang sepertimu?"
"Ya Bella, kau sekarang sepertiku, lihat luka di lehermu, itu tanda nya bahwa kau sekarang sama seperti aku. Aku bukan manusia Bella, aku adalah mahluk berdarah dingin dari lembah ini, desa berkabut,"
"Coba kau perhatikan kelinci diujung sana, perhatikan dengan seksama," ujarnya seraya menunjuk kearah dimana kelinci tersebut.
Begitu melihat kelinci itu, entah kenapa Bella hampir meneteskan air liur nya, tanpa sadar ia berjalan mendekat lalu menangkapnya, tanpa ba bi Bu Bella menerkam kelinci itu, menghisap darahnya, dan memakan daging mentah dari kelinci tersebut.
"Eeekkkh," Bella bersendawa, segar. Rasa haus dan lapar yang menderahnya lenyap begitu saja, ia mengusap mulutnya menggunakan lengan tangannya. Betapa terkejutnya ia mendapati darah di tangan dan mulutnya .
"Aaargh, darah apa ini?" Bella histeris.
"Ini yang ingin aku tunjukkan padamu, Bella. Kamu bukan manusia lagi, kamu sekarang adalah mahluk sepertiku. Kau akan melahap hewan yang melintas dihadapan mu, dan kau akan sangat menikmatinya seperti barusan ini," ujarnya menerangkan.
"Arrrrggh tidak, aku manusia, aku bukan mahluk seperti mereka, hiks hiks."
"Pergumulan kita kemarin, aku begitu menikmatinya, kamu sangat sexy, tubuhmu begitu nikmat, Bella. Aku sering melakukannya tapi baru denganmu aku meraih puncak kepuasan, aku seperti terbang ke awan, aku seperti benar-benar terbang ke surga, dan itu membuat ku lupa, jika aku melakukan itu murni ingin menolong mu, lalu tanpa sengaja aku menggigit mu, karena itu lah kau sekarang berubah menjadi seperti ku, Bella!" terangnya, raut wajah pria itu sangat terlihat menyesali perbuatannya.
"Maafkan aku Bella, aku ingin membantumu, tapi aku malah merenggut kehidupan mu,"
Edo menundukkan kepalanya, Bella merasakan penyesalan itu, diraihnya tangan pria itu, di genggamnya, lalu berkata,
"Sudahlah, ini semua sudah terjadi, mungkin ini sudah jalan hidupku, Edo. Aku akan belajar menerima diriku sendiri sekarang, hiks hiks," Airmata itu turun begitu saja, Edo yang merasa bersalah langsung meraihnya, merengkuhnya dalam pelukan.
Kini Bella kembali kerumah itu, rumah kuno dengan pencahayaan minim, yang berada ditengah hutan. Namun bedanya, sekarang Bella tak lagi kedinginan ataupun ketakutan, karna ada Edo yang siap memberikan perlindungan dan kehangatan untuknya.
Pada setiap pukul 12;00 am, hutan ini selalu hujan hingga tepat tengah malam, hujan lebat di sertai angin.
"Edo, Edo, kamu dimana?" panggil Bella. Mencari ke sekitar rumah, melihat dari jendela, tak pernah ada sinar matahari, hanya suasana mendung dan hujan ditempat ini lalu berkabut jika dipagi hari.
"Ya, sayang. Aku disini, ada apa?"
Edo memeluk Bella dari belakang, menaruh dagunya di pundak Bella, sesekali membenamkan wajahnya diceruk leher Bella, menikmati aroma tubuh mungil itu.
"Edo, dingin ...," ucap Bella malu-malu.
"Mau aku hangatin?" tanyanya, dan dibalas anggukan oleh Bella.
"Dengan senang hati, sayang!" Edo memutar tubuh mungil Bella, lalu menggendongnya, membawanya ke tempat ritual mereka memadu kasih, saling memberi kenikmatan dan kehangatan.