Bulan Juni adalah bulan yang tidak tepat untuk merencanakan pendakian di daerah Bogor, gunung yang terletak di daerah puncak bogor ini adalah gunung yang sangat di buru oleh para pendaki, karena keelokan pemandangannya dan destinasi yang disuguhkan oleh keasrian pegunungan khas Jawa Barat ini, yaitu gunung gede. akan tetapi di bulan Juni sampai Agustus biasanya masuk di musik penghujan, tetapi kalau dilihat dari kotanya, kota bogor adalah kota yang memliki curah hujan yang cukup tinggi.
untuk pendakian di bulan ini kita sudah merencanakannya dua bulan kemarin, aku bersama rekan kerja lainnya sudah mempersiapkan perbekalan dan alat penunjang pendakian lainnya. titik kumpul sudah ditentukan, yaitu di stasiun bogor, dua jam yang perlu disiapkan untuk sampai ke puncak, yaitu di cibodas, gerbang pendakian yang sering dipakai pendaki untuk mulai tracking ke gunung gede.
aku sudah menunggu dari jam 8 pagi di stasiun, kebetulan rumahku di bogor, aku menunggu teman-temanku yang lain datang, setelah menunggu hampir dua jam, teman-temanku pun datang.
"Jung, thanks ya jung udah nungguin gue lama, gua nunggu si joni lama" Tian berbicara kepadaku.
"santai aja, rumah gue deket dari sini nyantai"
"kita sekarang naik berdelapan orang yak" tanya aku
"iya, kayanya udah lengkap semua bro, alat-alat dan perbekalan udah dibagi rata"
"kita langsung berangkat aja kalau gitu"
kita berdelapan langsung berangkat menuju ke cibodas dengan menaiki empat motor. hari ini kebetulan arah puncak lancar.
setibanya di gerbang pendakian kita langsung ke tempat pendaftaran dan sekaligus pengecekan perbekalan dan alat-alat.
kami berdelapan mulai melangkah sedikit demi sedikit melewati jalur cibodas.
sekitar satu jam perjalanan kita melewati telaga biru yang lokasinya seperti rawa dengan air yang berwarna hijau di sebelah kiri jalur.
"wah keren, berhenti dulu berhenti jung gua mau foto" tanya tian
"boleh boleh silahkan, jangan lama lama kita masih jauh. takut hujan" jawabku
"oke bentar doang yaelah kalem"
aku pun bersandar di batang pohon melihat teman teman yang lain asyik berfoto.
sambil melihat sekeliling dan menikmati udara sejuk pegunungan.
"ok jung, lanjut"
aku pun segera melanjutkan perjalanan. sejauh ini tim kita solid dan aman, setelah telaga biru kita akan melewati air terjun air panas.
"guys, setelah ini kita lewatin air terjun yang airnya panas. hati hati. pijakan kita cuma batuan" tanya ke rekan yang lain
"oke, jangan lupa siapin jas hujan guys" tambah maya
Saat ini jam sudah menunjukan pukul tiga sore, butuh waktu setengah jam lagi untuk sampai di air panas.
formasi kita masih solid dan belum ada kendala berarti selama pendakian ini.
"hati hati guys, ini jalur air panas, ada tali besi setiap sisinya, perhatikan langkah kalian, kanan kalian jurang, tetap fokus ke depan, kabut makin tebal karena uap air panas" seruan ke teman yang lain.
"oke siap"
perlahan sedikit demi sedikit kita mencoba melewati rintangan jalur ini.
"nah, yan kita berhenti dulu disini siapkan perbekalan, dan niko bantu untuk siapkan makanan, kita istirahat sebentar disini"
"bener jung, kaki gua keram" kata maya
"gua buatin spageti aja yak" jawab noval
noval adalah salah satu teman yang jago masak jika berada di alam-alam kaya gini.
"duhhh enaknya berendem di air panas gini, mana ada di jakarta ya jung" kata maya
"hahahahah ya jelas lah ya, disamain sama metropolitan yaiyalah jelas beda. jangan lama lama nanti malah males gerak"
"jung, jung, gua perhatiin jarang banget ada yang naik jung" Tanya Noval
"Banyaknya naik malem kayanya, Yuk lanjut lagi"
Kita berdelapan melanjutkan kembali perjalanan, target sementara adalah kandang badak, kadang badak adalah pos terakhir untuk sampai ke puncak gede.
"Jung, kita mau diriin tenda di mana" Tanya ilham
"Kita berkemah di kandang badak dulu aja, tidur sebentar, lanjut pendakian ke puncak, jam 10 aja"
"Ayo Bang semangat, bentar lagi kandang badak. " Saut dari seorang pendaki yang hendak turun. Mungkin bisa dibilang ini salah satu kebiasaan yang baik jika kita berada di jalur pendakian saling sapa.
"Nah, ini dia kandang badak, diujung sana ada mata air dan kamar mandi, gua minta isi air yang habis untuk kita ngopi"
"Gua sama Noval diriin tenda, sisanya bantu bikin kompor untuk masak"
Aku dengan yang lain saling kerjasama dengan tugas nya masing-masing.
"Tenda udah siap nih, masukin barang barang masing masing ya"
Jam menunjukan pukul sembilan malam, tepat berada di pos kandang badak. Yang lain asik bercengkrama didalam tenda, dengan alunan musik the Beatles yang mengalun. Hujan pun turun ditengah percakapan kami di dalam tenda, dan kabut pun bertambah tebal. Aku bergegas menyiapkan flysheet untuk melindungi tenda dari turunnya hujan agar air tidak masuk kedalam tenda.
Estimasi kita untuk naik ke puncak, adalah pukul 10 malam. Ada waktu sejam untuk beristrahat.
Aku putuskan untuk beristrahat.
"Jung, Jung, bangun, mau naik kapan? " Tanya Noval
"Hmmm iya iya, yuk ah kita siap siap" Jawab aku
Kita semua segera berkemas. Dan kembali melanjutkan perjalanan.
Ditengah perjalanan, aku melihat sosok wanita yang tengah berjalan sendirian dengan memakai carier berwarna pink dan serba pink. Dan aku segera mendekat kebarisan belakang.
"Guys, bentar ya, gua mau kebelakang. Kalian duluan aja"
"Kenapa Jung" Tanya Noval
"Kaga, itu gua liat ada cewe dibelakang dia sendirian"
"Masa iya, gua ga liat ada pendaki lain" Ujar maya
"Gua kebelakang dulu deh, tunggu gua di atas aja deket plang" Jawab aku
"Siap siap, hati hati bro" Jawab Noval
Aku segera menghampiri wanita tersebut.
"Lah, perasaan tadi dia disini" Sambil aku melihat ke sekeliling
Tengok kiri dan kanan, ternayata ada sebuah tenda yang berdiri di jalur yang tidak wajar untuk tempat orang mendirikan tenda. Aku segera mendekat.
"Permisi, mba" Sahut ku
"Mba... "
"Permisi"
Kemudian dia membuka tenda
"Iya, ada apa" Jawab si wanita itu dengan wajahnya yang datar dan pucat seperti orang kedinginan.
"Mba, saya liat mba jalan sendiri di jalur, rombongan kamu kemana mba"
"Sudah duluan" Singkatnya
"Ayo aku antar, kebetulan teman teman ku yang lain sedang menuju ke puncak juga" Tanya aku kepada si wanita tersebut
"Tunggu, aku ikut" Dengan wajah datar
"Baik"
Aku menunggu ia selesai merapihkan tenda, setelah selesai akupun langsung mengajak wanita itu melanjutkan perjalanannya.
"Kenapa wanita ini selalu diam dan tidak banyak bicara ya" Bertanya dalam hati
Aku menghiraukan hal itu, akupun terus menjaganya untuk sampai kepuncak.
Di setengah perjalanan dia menoleh dan berbicara kepadaku.
"Ka, aku lelah, aku mau istirahat disini dulu, aku mau tidur sebentar" Tanya si wanita itu
"Siap"
akupun lalu membantu dia mendirikan tenda, danmemutuskan untuk berhenti disini dan menjaga dia saat beristrhat.
Dengan kondisi hujan yang cukup deras, akupun tertidru.
Tak lama berselang. Aku mendengar sayup-sayup suara dari kejauhan.
"Junggggggg"
"Jungkyyyyyyy"
"Woyyyy jungky"
Aku mendengar banyak orang yang menyebut namaku, aku segera membangunkan si wanita tersebut, dan ternyata.
"Hah, kemana dia"
"Bukankah semalam dia tidur disebelahku, tasnya masih ada, tapi orangnya kemana yah"
Aku lalu bergegas keluar tenda, untuk mendekati sumber suara.
"Sialll, gua di tebing jurang!!!" Mukaku panik setengah mati, salah sedikit gua bisa terperosok ke jurang
Akupun langsung berteriak, untuk memberikan isyarat ke teman temanku di atas.
"Woyy, gua dibawah"
"Guys, itu suara si jungky" Kata Noval
"Mana mana mana" Jawab maya
"Oh itu itu itu dibawah"
"Ya Allah ngapain lu di bawah situ, gua cari cari lu ga ada di puncak, gua udah nungguin lu seharian di atas"
"Nih nih tali tali" Kata maya
Noval pun langsung mejulurkan tali kebawah, dan menarik aku ke atas.
"Thanks bro" Aku pun masih shock, setelah melihat posisi tenda gua yang ada di pinggir jurang.
"Semalem, gua ketiduran, cewek yang gua samperin, dia kecapean, dia minta istirahat, dan minta bangun tenda untuk istrahat, dan setelah itu, gua gatau lagi, gua ketiduran" Jelas aku sambil muka panik dan nafas tak beraturan
"Bro, selama gua di atas, ga ada cewek yang naik, dan ga ada cewe yang naik, paling maya sama tari doang ini"
"Ini tas dia val" Sambil menunjukan tasnya
"Coba coba gua cek" Jawab maya
Maya pun merogoh isi tas, dan isi tas itu benar barang barang dan sisa perbelalan, dan memang pakaian wanita.
"Lagi baca apaan lu may" Tanya Noval
"Ini kayanya note dia deh, soalnya isinya tentang curhatan dia semua nih, eh bentar, ada alamat. Kayanya alamat rumah deh" Jawab maya sambil memberitau ke yang lain.
"Ayo ayo kita cepet turun, dan langsung antarkan kerumahnya, mungkin dia di antarkan petugas turun" Jawabku
"Yaudah ayo ayo, udah mau gelap juga nih"
Aku bersama ketujuh teman yang lain segera cepat turun kebawah untuk mengantarkan tas si cewe itu.
Selang beberapa jam kemudian kita tiba di pintu gerbang pendakian.
"Jung, lu yakin ini tas cewek itu" Tanya noval sambil wajahnya kebingungan melihatku
"Iya bro, jelas jelas dia sama gua semalam, cuma gua ga sempet nanya namanya, keburu ketiduran" Jawab gua
"Udah udah, mending kita langsung ke rumahnya aja, mumpung belum malem" Maya menjawab
"Dimana alamatnya may"
"Kalau di note ini sih alamatnya cipanas, perumahan imperiun nomor 18" Jawab maya sambil memegang note tersebut.
Tanpa pikir panjang, kita langsung berangkat ke lokasi menggunakan google maps. Jaraknya lumayan deket hanya butuh 1jam dari tempat pendakian.
"Wah bro, rumahnya gede gede bro, pasti orang kaya dia" Sambil teriak dimotor.
"Nah nah nah ini ini rumahnya"
Aku langsung turun, dan langsung menekan bel rumah itu.
Teng nong..... Teng nong...
Kreeekk suara pintu
"Iya mas, ada perlu apa yah" Tanya orang rumah
"Ini bu, saya jungky dan tujuh teman saya, mau mengantarkan tas, dan alamatnya disini" Tanya jungky
Maya maju kedepan menghampiri saya, dan membisikan
"Jung, namanya tasya" Membisikan di telingaku
"Ini bu saya mau mengantarkan tasnya tasya, saya ketemu anak ibu berjalan sendirian, sepertinya dia tertinggal rombongan, lalu tasya meminta saya untuk menemaninya Dan tasya memutuskan istrahat untuk bisa naik ke puncak, terus saya ketiduran dan tasya sepertinya sudah duluan atau pulang kerumah. Jadi saya antarkan tas ini" Jelas jungky
"Mari masuk dulu mas" Jawab ibu itu sambil muka kebingungan.
"Wahhh rumahnya gede banget Jung, banyak guci dan tanamannya" Sahut maya
"Ayo ade ade silahkan duduk"
"Terimakasih"
"Kalau boleh, tolong panggilan tasyanya bu, saya juga mau minta maaf karena saya ketiduran" Jungky bertanya kebahagiaan pada ibunya.
"Begini de, Tasya udah 1 tahun meninggal" Jawab ibu
"Innalillahi, meninggal bu"
"Lalu ini"
"Iya setahun lalu tasya mengalami kecelakaan di puncak gunung gede, dan terperosok ke jurang, mayatnya di temukan di sisi tebing" Jelas ibu
"Lalu ini benar tas tasya" Tanya jungky
"Benar mas, yang belum ditemukan hanyalah tas ini" Jawab ibu sambil memegang tas carier anaknya yang telah meninggal itu.
Semua teman temanku diam seribu bahasa, bak petir di siang bolong.
Semenjak kejadian itu, ketujuh temanku hanya bisa tertunduk dan ketakutan. Hampir dua tahun semenjak kejadian itu, kita tidak lagi membuat acara pendakian apapun.