Clafita Alexa adalah namaku dan Cheno adalah adalah nama suamiku dan orang yg terdekatnya biasanya memanggilnya dengan nama chen.Aku adalah seorang guru kesenian di smp dan suamiku adalah seorang dokter yg tampan
Tidak serasa sudah 3 tahun kami menikah dan sekarang aku sudah mengandung anak pertama kami yang baru 6 bulan,senang rasanya aku akan menjadi seorang ibu
Bulan yang lalu adalah dimana wabah virus corona yg menyerang indonesia dan membuat sekolah dan tempat tempat umum lainnya tutup dan bahkan jalanan sepi seperti di malam hari.Aku sedikit merasa senang karena aku bisa mengajar sambil duduk dan lagi pula aku mengajar dari HP,tapi hal itu tidak berlaku untuk suamiku chen,dia sangat sibuk sekali di rumah sakit dan karena penyakit ini sudah tentu rumah sakit tidak akan tutup
Sekarang saatnya kami makan malam berdua di meja makan dengan tenang dan suasana yg damai tapi suamiku membuka topik pembicaraan
"sayang,karena ada banyak sekali orang terkena virua corona,jadi papa ditugaskan untuk menangani pasien yang positif corona jadi papa mungkin tidak akan pulang " Ujar suamiku dan tentu saja membuatku sedikit terkejut
"tidak pulang? jadi aku? kamu mau ninggalin aku disini sendiri? " Aku merasa sangat khawatir apalagi virus ini sangat cepat menyebar
"Aku gak bisa lakuin apa apa lagi sayang,ini adalah tugas papa dan tolonglah kamu ngertiin papa"
"Aku lagi hamil pa,bagaimana kalau ada apa apa padaku? dan kamu juga,bagaimana kalau kamu juga terjangkit virusnya?" Dadaku sangat sesak dan rasanya aku ingin menangis tapi aku harus menahan air mataku
"Ma,papa akan kerjakan pembantu di rumah ini buat jaga kamu dan sekarang kan udah canggih jadi kita bisa vc an" Chen membujukku dengan suara halusnya
"Tapi sama aja bohong kalau aku bisa lihat kamu depan mata,gak bisa meluk kamu,dan gak bisa makan bareng sama kamu lagi" Air mataku sudah tak terhankan sekarang
"Jangan nangis sayang" Chen manghapus air mataku " Bukankah kamu suka sama orang yg kerjaannya dokter,bukankah kamu yg bilang kalau dokter adalah pekerjaan yg mulia,tapi kenapa kamu larang papa"
"Mama takut pa,bagaimana kalau papa positif juga,bahaya virus ini pa,bahkan sudah banyak orang yang meninggal"Aku berkata sambil menangis dan selera makanku sudah hilang
"Ma,semua itu udah di atur sama yg maha kuasa jadi kita hanya menjalani saja,mama jangan berpikiran yang enggak enggak dan lebih baik mama berdoa biar papa selamat dan enggak kenapa kenapa dan doakan supaya orang yg terkena virus semakin berkurang, ya ma?"
Tanpa menjawah pertanyaannya,aku langsung pergi ke kamar untuk tidur,kepalaku mendadak pusing dan dadaku juga terasa sakit,entah kenapa aku merasa seperti ini padahal aku tau ini adlah tugas suamiku aku seperti merasakan hal aneh yg terjadi
----------------
Sekarang sudah pagi dan sekarang adalah untuk mengucapkan selamat tinggal untuk suamiku tapi bukan karena kematian tpi karena pekerjaannya
Aku memeluk suamiku dengan hangat dan pelukan ini berlangsung agak lama
"papa pergi ya sayang" Chen mencium keningku hanya sebentar dan tidak lupa dia juga mencium perutku
Aku melihat dia pergi dengan mobilnya,aku melambaikan tangan dan dia hanya membalasnya dengan senyuman manisnya
sebulan berlalu dan kami hanya berkomunikasi lewat hp dan biasanya kami vc saat dia tidak sibuk bahkan saat aku vc dia selalu memakai baju apdnya,dia selalu menunjukkan senyumnya padaku padahal aku tau dia sangat lelah dengan pekerjaannya.Dia selalu mengingatkanku agar menjaga pola makan dengan teratur padahal dia tidak sempat makan karena sibuk dan bahkan untuk minumpun dia susah tapi dia selalu mengkhawatirkanku dan juga bayiku,aku ingin sekali memeluknya dan menyentuh wajah manisnya itu,baru kali ini dia membuatku menangis setelah 3 tahun menikah dan 2 tahun pacaran,dia adalah suami yg baik dan sangat baik
Di setiap hari,setiap minggu dan setiap saat aku selalu merindukan suamiku dan aku selalu mengkhawatirkannya,ini sudah hampir 3 bulan tapi dia tidak pernah pulang,demi pasien dia meninggalkan di rumah dengan seorang pembantu yg baik hati untung dia sangat menjagaku dengan baik.Hanya tinggal hitungan minggu aku akan melahirkan seorang anak.Suamiku selalu mengirim videonya saat memakai baju apdnya,dari mulai masker,celana,baju yg di double double sampai beberapa lapisan dan kadang aku menangis melihatnya
Saat aku duduk di depan teras tiba tiba hpku berdering dan aku senang melihat siapa yg menelponku karena dia adalah suamiku,awalnya aku senang tapi kesenanganku hilang karena yg menelponku bukan suamiku tapi dokter yg lain dan yg paling membuatku syok adalah suamiku positif corona,aku mematung mendengarnya jika bisa aku ingin berlari sekencang mungkin dan menemui suamiku lalu aku memeluknya dan jika bisa aku yg akan merawatnya hingga dia sembuh
Aku menangis histeris dan pembantuku mencoba menenangkanku.Keesokan harinya aku di jemput oleh tim medis untuk melihat suamiku tapi saat disana aku hanya bisa memandanginya dari jauh,dia tersenyum ke arahku,aku sangat sedih melihat badannya yg kurus,wajahnya yg pucat,dan matanya yg merah
Karena tidak tahan aku pergi dari situ menuju taman rumah sakit aku menangis sejadi jadinya disana,karena terburu buru pergi aku jadi lupa untuk membuka baju apd yg aku kenakan
--------------------
2 minggu berlalu dan dokter mengatakan keadaan suamiku sama saja
Perutku terasa sakit sekali sampai penbantuku panik melihatku lalu dia membawaku ke rumah sakit untuk di periksa dan ternyata bayiku ingin keluar
Aku sudah di ruang bersalin,biasanya seorang suami akan menemani istrinya yg akan melahirkan tapi tidak denganku,aku hanya di temani oleh pembantuku dan dia selalu berusaha untuk membuatku semangat
Impianku hancur karena suamiku tidak bisa menemuiku,hatiku terluka dan rasanya sangat sakit .3 hari aku di rumah sakit dan akhirnya aku di bawa pulang
"Nyonya,anakmu sangat cantik"puji bi nia saat menggendong putriku dan aku hanya senyum saja
"nyonya yg sabar ya,tuan chen pasti pulang" itu adalah kata kata yg sering dia ucapkan untuk menyemangati diriku
Suara hp berdering dan dengan cepat bi nia mengangkat teleponnya dan ternyata suamiku mengajak untuk video call
aku memegang hp itu dan melihat suamiku yg tengah terbaring
"bagaimana anak kita?" dia bertanya dengan suaranya yg sudah hampir hilanga
"sehat,dia cantik" aku menunjukkan putriku,dia menyentuh layar hp seolah olah dia ingin memeluk putri kami
"Clafita" dia memanggil namaku
"ya?"jawabku dengan tangisan
"maaf aku bisa ada disamping kamu"
mendengar itu tentu membuat tangisku pecah
"gak papa pa,yg menting papa sehat disana"ujarku
"sayang,papa belum lakuin tugas papa untuk putri kita,papa belum azanin dia " suaranya mulai pelan dan wajahnya juga sangat pucat sehingga wajah tampannya yg dulu hilang entah kemana
Aku mendekatkan hpnya ke depan wajah anakku lalu suamiku mulai mengumandangkan azan dengan suaranya yg mulai habis dengan sekuat tenaga dia kumpulkan semua tenaga tenaganya yg tersisa untuk mengumandangkan azan dan di ayat terakhir dia tersenyum lalu memejamkan matanya
"HUAAA" aku menjerit sekuat tenaga,aku merasa suamiku telah pergi
"innailahi wainnailahi rodziun" salah satu dokter mengatakan itu dan tentu saja aku menangis sejadi jadinya,aku seperti dia tembak oleh 1000 peluru yg mengenai dada dan hatiku dan air mataku seperti banjir bandang.
Dia memberikan tenaga terakhirnya untuk anakku dan aku bahkan belum sempat memeluknya dan melihatnya secara langsung,dia belum memeluk putriku tapi kenapa Tuhan tega mengambil nyawanya pada sekarang ini dengan semua kerja keras yg dia lakukan tapi ini yang dia dapatkan,Tuhan aku belum siap untuk menerima ini semua,aku belum siap untuk kehilangan suamiku yg sangat kucintai.
Seluruh tangisan mengisi rumahku karena banyak keluarga yg berdatangan menemuiku dan untuk melihat bayi kecilku yg malang.Untuk ibu yang baru hamil pasti sangat sulit menerima situasi sepertiku dengan keadaan lemas aku langsung kehilangan suamiku untuk selamanya dan aku berharap dia berada di tempat yang indah bersama sang pencipta.