*Kami tak pernah menyadari dan menyangka bahwa hal ini akan terjadi pada kami disaat kami merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya antara teman dan sahabat*
Aku seorang remaja perempuan berusia 16 tahun. Hari ini aku di ajak oleh sahabat karibku. Dia mengajakku dan ketiga teman lainnya pergi kesebuah tempat wisata yang kami suka. Ya, kami memang suka dan hobi sekali berkemah dan menapak jalan sekitar perkemahan.
"Widia!!" Lita memanggilku. Ia keluar dari mobil keluarga nya. Ia baru saja datang dan menghampiri ku di teras rumah.
"Gue pikir elu sore mau kesini!" sahutku.
"Tempat kemah kita lumayan jauh, jadi siang ini kita berangkat! gue udah nelpon gengs kita tau!" seloroh Lita.
"Baiklah, gue ambil tas ransel sekalian pamit ya!" ijin ku dan berlalu masuk kedalam rumah.
Aku berpamitan kepada kedua orang tuaku. Kucium mereka bergantian. Pandangan keduanya seolah lesu tak bersemangat ketika aku berpamitan.
"Ayah, ibu tolong biarkan aku menjelajah lagi! biarkan aku menjadi gadis yang kuat!" senyuman ku lebar.
"Baiklah anak ibu! kalau sudah berkemah kalian itu memang jagonya! padahal kalian ini masih kecil!" sahut ibu.
"Dia bukan anak kecil lagi bu! Dia udah remaja dan sudah masuk sekolah SMA!" ucapku.
"Pergilah nak! jangan biarkan Lita menunggu lama!" suruh ayah.
Aku pun mulai meninggalkan mereka. Kuhampiri Lita yang sudah menunggu di dalam mobil. Ia memang sudah berpesan bahwa tak mampir kedalam rumah. Kami meninggalkan rumah ku dan menuju kediaman sahabat kami selanjutnya.
Sepuluh menit berlalu. Aku, Lita, Wanda, Elsa dan Rianna telah berkumpul dalam satu mobil. Kami berceloteh riang sepanjang perjalanan. Semua barang bawaan ada di bagasi mobil. Kami sudah menyiapkan keperluan kami masing-masing.
"Eh, kalian tahu gak sih?" tanya Wanda.
"Tau apa sih?" potong Elsa.
"Dengerin gue dulu! nanti tempat kemah kita itu ternyata dulunya sebuah bekas pertumpahan darah!" cerita Wanda.
"Itu kan dulu! sekarang pasti rame kan disana?" tanya Rianna enteng.
"Pasti rame dong! kan gue udah nyari info!" sela Lita enteng.
"Penasaran deh gue, pertumpahan darah pas perang dulu pasti!" kernyit ku heran.
"Dari yang gue denger sih bukan Di, antar keluarga yang merebut kekuasaan dan warisan!" jawab Wanda.
"Elu denger dari siapa Wan?" Elsa pun bertanya.
"Nenek gue yang cerita!" jawab Wanda tersenyum aneh.
"Kita disana hanya berkemah dan menjelajah lingkungan sekitar, jadi ngapain juga pusing gegara kejadian lampau" gerutu Lita.
Semuanya terdiam dan memikirkan perkataan Lita yang memang ada benarnya.
Dua jam kemudian kami sampai di tempat perkemahan. Tak banyak orang yang mendirikan tenda disana. Hanya ada beberapa saja tenda yang terpasang termasuk tenda kita yang memang sudah Lita persiapkan sebelumnya. Lita memang anak orang kaya, Ia yang selama ini menyiapkan tempat dan biaya lainnya. Kami hanya membawa keperluan pribadi saja.
Matahari tenggelam dengan indah nya. Kami bersiap memakan bekal dan akan melanjutkan kegiatan malam kami. Malam ini ada suatu dataran yang harus kami kunjungi. Disana pemandangan nya sungguh indah. Apalagi ketika fajar menyingsing.
"Kalian udah ngumpulin tenaga kan?" tanyaku bersemangat.
"Tentu saja!" sahut mereka kompak.
Kami pun tertawa bersamaan. Tawa kami seolah menggema diantara lebatnya hutan tempat kami mendirikan tenda. Orang-orang di sebelah kami hanya menatap sambil mengendikkan bahu.
Senja sudah tak terlihat, kami mulai memasuki kawasan hutan lebih dalam lagi. Angin dingin mulai terasa menusuk walaupun pakaian tebal sudah kami kenakan. Tas yang kami bawa untuk persiapan bertengger di pundak masing-masing.
Wusshhh.
Angin dingin menerpa wajahku. Aku menggandeng lengan Lita dan Elsa yang berada di kanan kiriku.
"Anginnya dingin banget nih!" ucapku membuat mereka semua terkejut.
"Gue pikir gue doang yang ngerasa dingin!" ujar Elsa.
"Gue juga ngerasa lho!" timpal yang lain.
"Ya udah deh kita langsung menuju lokasi!" Wanda bersemangat.
Angin berhembus semakin kencang dan dingin ketika kami masuk kedalam hutan. Ada kabut mengitari tempat kami melangkah. Kami tak peduli akan itu semua. Kami sudah terbiasa dengan kondisi alam hutan walaupun kami masih berusia 16 tahun. Ini ke lima kali kami melintas dan menjelajah hutan bersama-sama.
Braakkkk.
Tiba-tiba saja sebuah ranting pohon besar jatuh di depan kami. Kami tersentak dan menghentikan langkah.
"Bikin jantungan saja!" ucap Elsa yang memang penakut diantara kami.
"Ranting pohon aja sampe segitunya elu El!" ledek Wanda tersenyum.
"Udah lah, kita lanjutkan. jangan sampai tengah malam sampe sana! tengah malam kita harus kembali ke kemah!" seru Lita.
Kami melanjutkan perjalanan lagi. Kabut semakin tebal menghalangi pandangan kami. Di depan sana terlihat ada sebuah rumah kuno yang berkabut.
Semakin dingin hawa kurasakan. Jari tangan mulai sedikit demi sedikit membeku. Aku menggosok kedua telapak tanganku.
"Kalian melihatnya juga kan? rumah didepan kita!" Elsa berkata pelan.
"Iya, aku melihat rumah itu!" jawab Wanda enteng sambil tersenyum.
"Kenapa bisa ada rumah ditengah hutan seperti ini?" tanya Lita heran. Ia sudah mengumpulkan informasi mengenai hutan ini sebelum menuju kemari.
"Entahlah, mungkin tak terdeteksi oleh yang lain karena di dalam hutan!" lanjut Rianna yang bergetar ketakutan.
"Ck, Na. Kaya gitu doang elu takut, hanya sebuah rumah kuno dan kosong tak berpenghuni!" ledek Lita.
Tik, tik, tik.
Air menitik dari langit. Hujan turun dan membasahi hutan. Kami tak menyangka akan hujan di tempat seperti ini. Mau tak mau kami berlari menuju rumah tua itu. Kami berdiri berdempetan di teras rumah yang terbuat dari kayu.
"Hujan di musim kemarau!" lirihku pelan.
"Iya juga sih!" Lita mendengar lirihanku.
Malam semakin mencekam. Angin semakin menusuk kulit, sementara hujan tak mau menghentikan curahan nya. Kami berlima seakan kehabisan energi. Bekal di dalam tas sudah kami makan separuh. Kami pun memakai syal agar tak kedinginan.
Bruaakkk.
Pintu rumah itu terbuka dengan kencang. Kami tersentak dan saling berpandangan.
"Apa kita masuk saja ya? diluar dingin sekali!" Rianna mulai bergetar kedinginan.
Yang lain mengangguk setuju. Kami pun melangkah perlahan kedalam rumah tua itu. Semua perabotan di dalamnya dari kayu jati.
"Rumah tua yang menarik!" batinku.
"Wah, ini piring dan mangkuk jaman dulu!" Elsa memegang peralatan makan yang ada di atas meja.
"Tunggu dulu! bukankah ini rumah lama! seharusnya banyak debu dan kotoran, tapi kenapa isinya bersih dan terawat?" tanyaku heran.
"Mungkin ada orang yang rutin membersihkan!" sahut Wanda enteng.
Bruakkk. Pintu kamar terbuka lebar. Keluar sesosok nenek berambut putih yang di gelung. Baju kebaya yang digunakan nya sungguh mencolok.
"Apa yang kalian lakukan disini?" nenek itu menatap tajam kearah kami berlima.
"Maaa-aaf nek, kami hanya mee-numpang sebentar! kaa-mi ke-hujanan!" Rianna bergetar dan tergagap menjawab pertanyaan sang nenek.
"Kalian jangan salahkan aku kalau terjadi apa-apa nantinya! sekarang juga kalian pergi dari sini!" usir sang nenek.
"Nek, kami mau berteduh sebentar lagi!" mohon Wanda.
"Terserah kalian saja!" Nenek itu kembali kedalam kamar dan pintu menutup kencang.
"Gila, si nenek cepet banget sih masuk nya!" heran Elsa.
Aku memberanikan diriku membuka pintu kamar. Perlahan aku membuka pintu itu tanpa suara. Wanda, Elsa, Lita, dan Rianna menatap ku dan mengikuti di belakang.
Tiba-tiba.....Blammmmmm.
Pintu terbuka. Sang nenek berubah menjadi sosok makhluk yang bertaring. Rambut panjang nya berjuntai sampai lantai rumah. Mata nya menyalak kepada kami. Senyum nya lebar dan licik.
"Tunggu, apakah kamu nenek tadi?" tanya ku memberanikan diri.
"Ya benar sekali, aku adalah penghuni rumah ini dan kalian sekarang ada di wilayah ku, ha..ha..ha!" Nenek itu tertawa nyaring. Hujan deras tak bisa menyamarkan tawa kerasnya.
Kami mundur perlahan dan akan segera berlari. Tapi, langkah kami seakan terasa berat. Kami semua ketakutan. Dari mulut makhluk itu menyemburkan darah segar. Sekujur tubuhku berbau anyir darah. Aku pusing, lemas dan tak berdaya. Kami tak bisa berbuat banyak. Hanya rintihan suara minta tolong yang kami ucapkan. Walau kami tahu itu tak berguna.
Aku mual dan pusing. Kepala ku sungguh berat dan aku sudah tak ingat apapun lagi.
16 Jam berlalu.
Aku melayang di dalam hutan. Rasanya aku seperti terbang dan tak menginjak bumi. Kulihat Wanda disana tersenyum puas dan lebar. Rumah itu sudah tak ada lagi.
"Bagus sekali Wanda! kamu memang keturunan ku yang sempurna. Kamu mengorbankan nyawa sahabat mu sendiri untuk posisi yang akan kamu raih di dalam keluarga!" wanita tua itu tersenyum lebar.
"Dari awal aku memang sudah berencana menumbalkan mereka dan akan membuat mereka terperangkap di hutan ini!" Wanda berucap sinis.
"Ingat lah Wanda, setiap tahun kamu harus membawa mangsa ke rumah tua kita agar nenek moyang kita bisa membantu kita terus!" perintah wanita tua itu.
Aku melihat tubuhku, Elsa, Lita dan Rianna bersandar di sebuah pohon besar.
Roh ku masuk kedalam tubuhku tapi, sayangnya terpental. Teman-teman ku yang lain diam terbujur kaku, wajah mereka pucat pasi. Aku tak menyangka aku meninggalkan dunia ini begitu cepat. Ayah, ibu maafkan aku.
*Maaf kalau panjang ya 😌 Selamat membaca!!!