Hai Kenalkan namaku Ayu Safitri, usiaku lima belas tahun. Aku duduk di kelas satu SMA, ayah di pindahkan bekerja di luar kota. Jadi dengan sangat terpaksa aku harus ikut orang tuaku. Akupun harus beradaptasi dengan lingkungan rumah dan sekolah. Ayah menyewa sebuah rumah yang terdapat di ujung jalan.
Lingkungan rumahku yang baru Sangat sepi, karena tidak ada satupun orang-orang yang melewati jalan di depan rumah tersebut. Setiap aku pulang sekolah atau pulang dari manapun. Warga yang ada di sekitar tempat tinggal aku pada berbisik-bisik sepertinya mereka pada membicarakan kami sekeluarga.
"Assalamualaikum" ucap aku pulang dari sekolah.
"Wa'alaikumsalam" jawab ibu yang ada di dapur.
Akupun duduk di meja makan di dekat dapur, ibu menoleh dan melihat aku yang lagi duduk dengan wajah cemberut.
"Ada apa Ayu" tanya ibu.
"Ibu, aku kesal dengan semua warga di sini. Kalau aku lewat pasti mereka berbisik-bisik, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan tapi sepertinya mereka membicarakan keluarga kita".
"Jangan menunduh yang tidak-tidak, itu tidak baik" kata ibu.
"Tapi bu" kata Ayu.
"Ganti pakaian, sudah itu makan" titah ibu, akhirnya dengan wajah masih kesal Ayu masuk kedalam kamarnya.
Setiap malam Ayu selalu bermimpi di gangguin oleh seorang anak kecil. Dan pas dia bangun, dia sudah berada di ruang tamu dan kejadian itu sudah beberapa malam terjadi semenjak mereka pindah ke rumah ini. Bukan itu saja Ayu sering mendengar orang Bertengkar pas jam dua belas malam dan menjelang Magrib tercium bau amis seperti darah.
Ayu tidak menceritakan semuanya dengan orangtuanya karena Ayu tidak ingin orangtuanya menganggap dia aneh.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, ibu keluar kamar dan ibu tiba-tiba ke kamar Ayu dan mendekati Ayu yang sedang tidur. Ayu terbangun karena mendengar suara langkah kaki dan dilihatnya ibu yang lagi duduk di sampingnya.
"Ibu, ada apa?. Buat aku kaget" ucap Ayu.
Ibu mendekati Ayu dan mencekik lehernya, Ayu meronta minta tolong dengan ayah. Ayah yang terbangun karena tidak menemui ibu disampingnya langsung mencari ibu dan waktu melihat kamar Ayu, ayah melihat ibu lagi mencekik leher Ayu. Ayah langsung Mendekati ibu untuk melepaskan tangan ibu dari leher Ayu. Tapi tidak bisa karena diri ibu sangat kuat.
"Lepaskan ibu, ini Ayu anak ibu" teriak ayah sambil membaca ayat-ayat surat pendek diatas kepala ibu.
Ibu tiba-tiba pingsan dan melepaskan cekikan di leher Ayu.
"Ayu, kamu tidak apa-apa" tanya ayah.
Ayu menggelengkan kepalanya "Ayah, ibu kenapa" tanya Ayu sambil memegangi lehernya yang habis di cekik oleh ibu.
Ayah membawa ibu kekamar dan mengikat tangan dan kakinya di tiang-tiang ranjang supaya ibu tidak melakukannya hal seperti tadi. Ibu meronta minta di lepaskan ikatannya.
"Lepaskan ikatan ini" teriak ibu seperti orang gila.
Ayu sudah menangis melihat keadaan ibu.
"Ayah, ibu kenapa?" tanya Ayu menangis.
"Lepaskan, dasar bangsat kalian semua. Aku akan membunuh kalian semua dengar itu" teriak ibu sambil berusaha untuk melepaskan ikatannya.
"Ayu tunggu di sini, ayah mau pergi sebentar. Jangan pernah melepaskan ikatan ibu, dengar itu!" pesan ayah.
Ayah pun keluar dari kamar dan pergi meninggalkan rumah. Ayu menangis melihat keadaan ibu yang seperti orang kurang tidur beberapa hari.
"Lepaskan aku" teriak ibu dan meludahi wajah Ayu dan ibu pun pipis di kasur. Ayu mendekati ibu dan menangis melihat keadaan ibu.
"Ibu kenapa" tanya Ayu.
Ibu berteriak-teriak dengan kata kasar di depan wajah Ayu.
Satu jam kemudian, ayah datang bersama seorang pak kyai. Pak Kyai tersebut mendekati ibu dan memegangi kepala ibu dengan membacakan ayat-ayat Alquran. Ibu menjerit karena merasakan kesakitan.
Akhirnya ibu pingsan, aku mendekati ibu dan memeluk ibu yang pingsan.
"Pak Wibowo, lebih baik kalian pindah dari sini karena aura di dalam ini sangat gelap. Sepertinya ada kejadian mistik di rumah ini yang membuat ibu Ruli seperti tadi" jelas pak kyai.
Pak Wibowo terdiam mendengar perkataan pak kyai, "Wajar kalau di sewakan dengan harga yang sangat murah" ucap ayah dalam hati.
Setelah selesai mengobati ibu, pak kyai juga memagari diri ayah dan Ayu supaya jangan di ganggu oleh makhluk halus.
Ibu sadar tapi ibu tidak mengingat apapun juga, yang ibu tahu dia tidur di dalam kamar bersama ayah.
Satu minggu setelah kejadian malam itu, ayah sekeluarga mendatangi pemilik rumah. Ayah pun menceritakan apa yang terjadi dengan istrinya.
Pemilik rumah terdiam mendengar cerita ayah, Kemudian pemilik rumah tersebut bercerita.
Sebenarnya rumah yang di sewa ayah adalah rumah milik kakak laki-lakinya. Tapi suatu malam ada kejadian naas, anak laki-laki di keluarga tersebut melakukan pembunuhan terhadap orang tuanya dan tiga saudaranya. Dan setelah melakukan pembunuhan ia pun melakukan bunuh diri tapi tidak berhasil. Kemudian anak laki-laki itu di bawah ke kantor polisi, tapi waktu di periksa dia hanya berkata "Ada bisikan yang menyuruh aku untuk membunuh mereka semua". Dan kata-kata itu terus di ulang oleh anak laki-laki tersebut.
Ayah diam mendengar penjelasan pemilik rumah dan ayah pun mengangguk walaupun sebenarnya menurut ayah itu tidak masuk akal.
Setelah mendengar perjelasan dari pemilik rumah, kami sekeluarga akhirnya pindah dari rumah tersebut.