Jalanan sudah begitu lengang. Membebaskan deru kendaraan yang melintas di atas kecepatan rata-rata. Dua pemuda, Mike dan Alson menembus dinginnya udara tengah malam, yang menurunkan rintik-rintik hujan di atas mobil mereka.
"Mike, apa kau yakin Emely setuju?" tanya Alson ragu dengan keputusan Mike mengajak Emely.
"Jangan khawatir. Dia gadis pemberani," yakin Mike dengan keputusannya.
Mike, Alson dan Emely memang sangat mencintai hal mistis. Bertemu sebuah penampakan mungkin merupakan bagian dari mimpi mereka. Bisa jadi.
Setelah beberapa menit memacu kendaraan roda empat itu diatas kecepatan 90 km per jam, Mike membunyikan klakson. Tak lama kemudian Emely muncul dibalik pintu rumahnya, dengan membawa ransel yang sudah melekat dibalik punggung gadis bertubuh mungil itu.
"Ayo! Aku sudah tak sabar lagi," terang Emely seraya menutup pintu belakang mobil.
"Huh, aku juga tak sabar mendengar jeritanmu. Haha!" ledek Alson pada gadis yang duduk di belakang mereka.
"Mungkin itu kau yang akan berteriak, Alson Sam." gadis itu mengumpat tak terima.
"Sudah, kita lihat saja nanti siapa yang akan berteriak lebih kencang. Haha ...." Mike menyalakan mesin mobilnya dan memacu dengan kecepatan tinggi.
~~
"Guk ... Guk ... Guk ...."
"Auuuuu ...."
Malam kian larut. Bahkan udara dingin semakin terasa mencengkram setiap inci bagian tubuh ketiga remaja itu. Suara binatang malam tak henti bersautan. Seakan bersorak menyambut kedatangan tamu baru di dalam hutan yang tak terjamah manusia.
Mike menghentikan mobilnya di tepi jalan seperti yang sudah diberitahukan oleh Niel, teman yang memberinya lokasi tersebut. Dia mengedarkan cahaya lampu senter di tangannya. Begitu pula Alson dan Emely, mereka mengikuti langkah Mike yang memimpin di depan.
Gelap, dingin, sunyi, sepi, sudah menjadi hal biasa. Bahkan semua itu mereka butuhkan untuk mampu membangkitkan suasana yang mencekam dan horor. Pohon tinggi menjulang, tanaman rambat menghalang dimana-mana, tetap saja tak membuat langkah ketiganya mundur. Justru semua itu menjadi tantangan yang membangkitkan semangat. They are crazy kids.
"Wow ... it's very beautiful." Mata Mike penuh kilatan kagum saat sinar cahaya senternya menyorot sebuah bangunan megah berjarak 9 meter dari tempat mereka berdiri.
Ketiga remaja itu berjalan kian mendekat. Mengarahkan senter kecilnya ke seluruh sisi bangunan. Bangunan berlantai dua yang telah koyak seluruh bingkai jendelanya, membuat kesan menyeramkan semakin bertambah. Ya, mereka bertiga mendapatkan lokasi rumah ini dari seorang creator yang sudah kemari sebelumnya.
"Siapa yang membangun rumah sebesar ini di hutan? Haha ... apa mereka gila!" ucap Alson.
"Sstt ... jaga bicaramu Alson. Kita di tengah hutan sekarang," geram Emely pada ucapan Alson.
"This is the real haunted house. Alson kamera siap?" tanya Mike.
"Siap!" kata Alson.
"Ready?" Mike memastikan kesiapan kedua kawannya yang lain.
"Hemm ..."
"I'm ready!"
Setelah mendapat persetujuan dari dua temannya, Mike menyentuh kedua gagang pintu, lalu mendorongnya kuat.
Krieettt !!!
Pintu rumah terbuka dan menimbulkan bunyi engsel yang sudah berkarat. Baru saja ketiganya berdiri selangkah di dalam rumah itu, mereka telah disambut oleh suara hentakan kaki yang tak terlihat wujudnya.
TAK! TAK! TAK!
Mike dan yang lain langsung terperanjat dan menjadi waspada seketika.
"Wow ... wow ... mereka sensitif sekali," celoteh Alson ditengah keterkejutannya seraya mengarahkan kamera memutari setiap sisi.
"Hello ... apa ada orang disini?" Emely tak mendapatkan jawaban apapun.
Sementara Mike terus memfokuskan pandangannya pada seisi ruangan. Seolah tak ada sedikitpun rasa takut, ia kembali menyisir setiap kamar. Mereka bertiga, keluar masuk di tiap-tiap ruangan namun tak mendapatkan satupun kejutan ekstrim.
"Bangunan ini hanya tampaknya saja seram. Tapi tak ada apapun disini." Alson jengah karena ia belum bertemu dengan satupun penampakan penghuni bangunan itu.
"Ayo kita ke lantai atas." Ajakan Mike secara tak langsung dicegah oleh cengkraman Emely pada lengannya. "Em ... kenapa kau mencengkramku?"
Emely yang lebih sensitif dari kawan-kawannya yang lain telah memiliki firasat buruk. Terlebih lagi saat ia merasakan dengan jelas ada banyak pasang mata yang mengawasi mereka dari lantai dua.
"Aku merasa kita sedang diawasi Mike. Sebaiknya kita kembali saja," ucap Emely dengan mencengkramkan lebih erat lagi pada lengan Mike.
"Itu bagus Em. Berarti mereka sengaja memancing kita untuk naik ke atas lantai dua." Alson semakin bersemangat, berbanding terbalik dengan Emely.
"Bukan seperti itu. Aku merasakan atmosfir yang sangat berbeda dengan pengintaian sebelum-sebelumnya." Emely bersikeras.
"Kita sudah disini Em, sayang kalau kita tidak mengeksplor semua sudut di rumah ini," tukas Mike meyakinkan Emely.
Alson berdecak lalu menjeda vidionya. "Aku setuju Mike! Emely, come on gilr ... kenapa kau jadi penakut sekarang? Payah! Waktu kita terbuang karena rasa takutmu." Alson kembali mengaktifkan kamera vidionya seraya melangkah sembari memberi kode kepada Mike dengan menggerakkan kepalanya untuk menuju lantai dua. "Ayo Mike! Tinggalkan gadis penakut itu."
"Ayo Em. Buang ketakutanmu. Ini bukan kali pertama kita melakukan penelusuran mistis," ujar Mike mencoba meyakinkan hati Emely.
"Mike! Ayo!" Alson cukup tak sabar. Dan ia meneriaki Mike dari anak tangga yang dipijaknya sekarang.
Emely menghembus nafas pelan seraya menatap Mike pasrah. Akhirnya dengan segenap keberanian yang berhasil ia kumpulkan, langkahnya yang semula berat kini telah membawanya menaiki anak tangga menuju lantai atas.
Atmosfir mencekam begitu kental dirasakan Emely setelah memijak lantai dua. Entah mengapa kali ini nyalinya bisa dikalahkan oleh bangunan terbengkalai, yang tak jauh berbeda dengan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi sebelumnya.
Samar-samar suara lirih seakan membelai telinga gadis itu. Ia mencoba menepis kembali kekhawatirannya. Namun, lagi dan lagi telinganya mampu kembali menangkap suara tak bertuan.
"Peergiii ... pergiii."
Tentu saja suara lirih itu hanya Emely yang mendengarnya. Namun Emely tak menggubris, atau rengekannya akan menjadi pembangkit emosi Alson lagi.
Alson berjalan seraya menatap cermat tangkapan gambar pada layar kamera di tangannya. Samar-samar sebuah asap tak berbentuk begitu saja melintas dan berhasil tertangkap kamera hingga membuat mata Alson membulat.
"Wow .. wow, aku menangkap sekelebat asap di depan kita," ucap Alson girang. "Dia menuju ke sana." Alson menunjuk arah perginya sekelebat asap tadi seraya terus memantau gambar di layarnya.
Mike dan Emely mengikuti langkah Alson yang mendekati sebuah ruangan dengan pintu tertutup. Langkah mereka melambat seiring semakin dekatnya jarak mereka pada pintu coklat yang usang di depannya. Mike memegang ganggang pintu dan siap untuk membuka.
"Satu ... dua ... tig ..."
BRUUAAAKK!
Tiba-tiba di belakang mereka terdengar suara hantaman yang sangat jelas dan dekat. Ketiganya berbalik secara bersamaan dengan deru nafas yang sama tak beraturan.
"Suara apa itu?" Mike mulai panik, ia mengedarkan senternya, berusaha mencari kejanggalan yang mungkin menyebabkan suara tadi.
Krit ... Krit ... Krit ...
Belum pulih irama jantung mereka, kini sebuah suara kecil namun menakutkan kembali terdengar. Emely menjadi tak berani mengarahkan senternya menelusuri bangunan yang seluruhnya gelap. Ia berusaha menempel dan tak mau berjauhan dengan Mike dan Alson.
Alson menyorotkan senter dan mendapati kursi goyang yang bergerak-gerak dengan sebuah boneka kumal memandang ke arah mereka. Tatapan mata, maupun seringai boneka perempuan itu menjadi sangat menakutkan pada kegelapan.
Mereka bertiga mendekati boneka tersebut. Satu yang tak mereka sadari, bagaimana mungkin boneka bisa berdiri tegak diatas kursi yang terus menerus bergerak. Boneka itu terjatuh setelah ketiganya mendekat, dan membuat Emely terkejut.
"Oh My God. Bagaimana mungkin boneka itu bisa berdiri?" Emely bergidik ngeri, ia segera mengalihkan pandangannya. Perasaan yang sama pun dirasakan oleh Mike dan Alson.
Jujur saja, nyali ketiganya mulai menciut. Namun sensasi inilah yang membuat Mike dan Alson menjadi candu.
"Bagus Emely. Aku berhasil menangkap moment itu tadi." Alson terus menatap pada layar.
"La ... la ... la ... la ... la ...."
Suara senandung wanita samar-samar terdengar oleh mereka. Netra ketiganya tak henti menelisik ke segala arah. Namun suara itu justru terdengar di belakang mereka.
Mike, Alson dan Emely membalikkan tubuhnya perlahan. Namun tak mendapatkan apa-apa disana.
"La ... la ... la ... la ... la ...."
Kini suara itu terdengar semakin jelas, seakan menunjukkan arah seperti meminta dijemput. Mereka berjalan mengikuti nurani seraya menajamkan pendengarannya, dimana mereka kembali dibawa pada pintu coklat usang yang hampir dibukanya tadi.
"Laaa ... laaa ... laaa ... laaa ...."
Saat mereka berdiri tepat di depan pintu itu, suara senandung tadi berubah. Kini suaranya terseret-seret dan kian melemah.
Mereka bertiga menelan saliva dalam-dalam. Mike kembali menggenggam gagang pintu coklat itu dan menghitung untuk kedua kalinya.
"Satu ... dua ...." Mike kembali menelan salivanya. Bukan hanya sekali, namun dua kali. "Tiga ...."
Krek!
Krek!
Krek!
"Pintunya terkunci," ucap Mike dengan tangan yang masing memutar-mutar gagang pintu.
"Ah, Shit! Dobrak saja Mike. Aku penasaran," umpat Alson ketika ketegangannya menurun drastis.
Mike menuruti Alson. Ia segera mengambil jarak dan berlari membenturkan tubuhnya pada pintu coklat itu.
BRUK!
"Ahh ... ternyata pintu jelek ini masih begitu kuat!"
Mike kembali mundur kebelakang. Mengukur jarak dan memperkirakan kecepatan yang akan ia ambil. Setelah cukup yakin, ia lantas berlari lebih kencang dan ...
BRUK!
Pintu terbuka, hingga Mike terjatuh ke dalam ruangan itu. Seketika isi perutnya memberontak ingin muntah takkala bau amis menyeruak disana.
"Uwek!" Mike tak tahan lagi. Sementara Emely yang sudah mual lebih dulu telah menyumbat rapat hidungnya.
"Mike yang kau duduki ...." Alson terkejut saat para belatung bergeliat manja di lantai tempat Mike terjatuh. Hewan menjijikkan itu seolah berendam pada cairan merah yang mulai mengental.
Mike menunduk. Seketika matanya membulat dan ia tak tahan lagi untuk kembali muntah. Mike berdiri kalang kabut, dengan noda darah dan beberapa belatung yang tertindas oleh tubuhnya masih melekat di baju Mike.
"Apakah itu darah manusia?" tanya Emely.
"Jika itu darah manusia, artinya ...."
"Pembunuhan!" Alson menyela ucapan Mike.
Ketiganya saling pandang lalu secepat kilat berlari menuruni anak tangga untuk meninggalkan tempat itu secepatnya.
Tap!
Tap!
Tap!
Suara langkah kaki mereka menggema di ruangan gelap itu. Mereka bertiga berlari menuju pintu utama yang akan membawa ketiganya keluar.
Brak Brak Brak!
"Ah! Shit! Terkunci!" Alson kembali mengumpat.
Emely menangis, ia benar-benar takut jika seandainya benar mereka telah masuk ke kandang pembunuh.
"Stop! Tangisanmu tak akan membantu pintu ini terbuka!" Alson mendorong bahu Emely untuk menjauh darinya.
"Son, kau keterlaluan!" Mike mendorong tubuh Alson lalu menarik kembali Emely untuk dekat padanya.
"Kau tak seharusnya membawa dia!" tunjuk Alson pada Emely membuat Mike geram.
Mike mencengkram kerah baju Alson "Kau lupa, Emely sudah mengingatkan kita. Tapi kau memaksa!" Ia melepas dengan kasar cengkraman tangannya pada kerah Alson, sehingga membuat Alson sedikit terdorong.
BUK!
BUK!
Sebuah pukulan mendarat di tengkuk mereka. Hingga pandangan mereka menjadi gelap, lalu tubuh mereka ambruk tak sadarkan diri.
~~
Mike membuka matanya perlahan. Nyeri yang dirasakan di pergelangan tangan dan kakinya disebabkan oleh tali yang mengikat erat di bagian itu. Dalam setengah kesadarannya ia melihat dirinya dikelilingi oleh orang-orang berjubah putih, dan menggunakan tudung kepala berwarna senada.
Nyala lilin berbaris mengelilingi dirinya. Samar ia melihat di sisinya terdapat garis merah yang tampak tebal. Ia menelisik ke arah kakinya. Garis itu menyatu dan membentuk gambar bintang. Oh, bukan! Lebih tepatnya Pentagram!.
"Lepaskan aku. Lepaskan aku. Tolong! Tolong!" Mike berteriak meminta tolong.
Berkat sinar lilin yang banyak itu, ruangan menjadi remang dan membantu jarak penglihatannya. Ia melihat dua kawannya yang lain menggantung dengan posisi terbalik. Tali yang menggantung mereka terikat pada teralis besi lantai dua.
"ALSON! EMELY! BANGUN!" teriak Mike.
Namun jeritan Mike tak menghasilkan pertolongan apapun untuknya. Orang-orang berjubah putih itu bergerak memutar seraya merapalkan mantra yang terdengar kompak bak paduan suara.
"HELP ME! HELP!"
Tak lama kemudian sinar merah dan kabut asap menyatu. Membentuk makhluk menyeramkan setengah hewan setengah manusia yang tiba-tiba muncul di hadapan Mike. Begitu makhluk itu turun, semua orang yang berjubah putih mengelilingi Mike membelakanginya.
Makhluk itu mendekat, hingga kulit semerah darah yang membungkus tubuh kekarnya, serta tanduk panjang di kepala kerbaunya semakin terlihat jelas oleh Mike.
Kali ini ketakutan Mike telah mencapai puncak, ia berteriak kala melihat iblis dihadapannya bersiap menerkam.
"HELLLLPPPPP!"
~~
"Apakah sudah?"
"Ya. Yang Mulia Cludeos telah mengambil jiwa Mike. Kini tubuhnya menjadi milik kami. Tubuh tak bernyawa itu masih bernilai milyaran."
"Kalau begitu turunkan aku Niel. Aku sudah tak tahan menggantung terbalik seperti ini."
"Hahaha ... Aku rasa, aku perlu mempersembahkan seorang lagi," kata Niel membuat Alson yang semula tenang kini menjadi segugup Mike.
"Apa maksudmu? Kau bilang kau akan membayarku jika aku berhasil memberimu satu persembahan." Alson bergidik sekarang. "Emely sadar!" teriak Alson pada Emely yang juga diikat menggantung sepertinya.
"Patuhlah Son," ucap Emely datar yang secara tiba-tiba membuka matanya.
"Baby, Are you okay?" Niel melebarkan senyumnya.
"Owwh ... ini sangat menyiksaku baby. Lepaskan sekarang, aku ingin ikut melakukan persembahan bersama kalian," ucapan Emely berhasil membuat Alson lebih tercengang.
"Emely? Kau?"
Niel menebaskan samurai pada tali yang menggantung tubuh kekasihnya, lalu menangkap Emely. Mereka sempat menyambut dengan kecupan mesra, lalu kembali teralihkan pada Alson yang masih berusaha mencerna kenyataan di hadapannya.
Ya, kenyataannya adalah Niel berhasil menarik mereka ke tempat ini dengan beragam cerita yang dikarangnya. Sedangkan Emily dikirimnya setelah Niel menargetkan mereka berdua.
"Emely kau dan Niel sepasang kekasih? Lalu kenapa kau mendekati Mike?" Alson berteriak marah.
"Haha ... Mike? Kau juga temannya bukan? Lalu kenapa kau korbankan dia?" Emely kembali menautkan bibirnya dengan Niel. "Kau lebih buruk dariku Alson. Kau penghianat, pecundang, dan satu lagi, kau penakut! Kau takut sekarang? Lihat, siapa diantara aku dan kau yang berteriak paling kencang. Itu balasannya jika kau menghinaku!"
Niel menyeringai pada Alson. Dia lalu memakaikan jubah putih pada Emely. "Hehe ... bersabarlan Son, sekarang giliranmu."
"Kau tak perlu repot untuk menjelajah rumah hantu lagi. Karena setelah ini, kau yang akan menghantui rumah ini, Alson Sam!" Emely dan Niel berjalan meninggalkan Alson yang masih menggantung.
Tak lama kemudian, para pasuka berjubah putih itu menuruhkan Alson dan menempatkannya di atas lambang pentagram yang sempat menjerat tubuh Mike.
"LEPASKAN! LEPASKAN!" Alson memberontak, namun sia-sia. Ikatannya terlalu kuat untuk tubuhnya yang mulai melemah.
Rapalan mantra tak henti terdengar. Kini giliran air mata Alson yang lolos dari netranya. Ada rasa takut sekaligus penyesalan yang ia rasakan. Bagaimana mungkin, hanya perkara uang ia tega menukarkan jiwa temannya sendiri. Menempatkan Mike di posisi menakutkan seperti yang dirasakannya sendiri saat ini.
Tak lama kemudian iblis bernama Cludeos kembali muncul. Setelah semua pasukan berjubah putih itu membelakangi Alson, Cludeos menerkam tubuh Alson. Meninggalkan bekas cakaran panjang yang mengoyak pakaiannya.
"AAAAAA ...." erangan demi erangan terdengar menyakitkan dari mulut Alson.
"HEEEE ... ELLLPPP!"
Makhluk itu mendekatkan wajahnya pada wajah Alson yang menghembuskan sisa-sisa nafasnya. Lalu dengan beringas makhluk itu membuka mulutnya yang berlendir, menghisap udara dan jiwa Alson bersamaan.
"AAAAAAA ...." Alson menjerit untuk terakhir kalinya. Makhluk itupun menjulurkan lidah puas mendapat dua persembahan sekaligus.
Setelah dua ritual selesai, mereka membawa tubuh Alson ke dalam ruang berpintu coklat di atas lantai dua. Ruang yang sebelumnya sudah Mike buka paksa. Kini jasad keduanya disimpan disana untuk melakukan pembedahan dan menjual bagian tubuhnya tersebut di dark web.
-TAMAT-