Pagi hari sudah berlalu, kini malam datang bersambut dengan cuaca dingin yang menusuk. Langit biru tua sudah mulai menampakkan dirinya, beserta bintang-bintang yang bercahaya di bentangannya.
Hari yang tenang dan damai, namun seorang gadis berwajah mungil yang sedang duduk dengan gelisahnya itu mulai memainkan rambutnya gugup. Jam pulang sekolah sudah terlewati, namun adik laki-laki tunggalnya itu belum kunjung pulang.
Paniknya tidak mungkin bisa berlalu, mengingat adiknya yang tidak pernah pulang selama itu, tanpa mengabari sedikitpun. Telapak tangan dan kakinya bertambah dingin, seiring dengan detakan jam yang tidak pernah berhenti.
"Riu-!" Gelisahnya membuat sang gadis bernama Lumine itu tanpa sengaja memanggil nama sang adik. Tangan berkeringat dingin miliknya itu bergemetaran, seraya sang gadis mencoba membuka knob pintu rumah untuk keluar dan pergi mencari adiknya.
Adik tunggalnya, satu-satunya keluarga yang tersisa untuknya setelah kejadian beberapa tahun yang lalu. Ia tidak bisa berhenti memikirkan skenario terburuk jika adiknya menghilang dan tidak akan kembali lagi.
Kaki jenjangnya membawa Lumine kepada seorang pos satpam, untuk menayakan barangkali sang satpam melihat adiknya. Namun karena jawaban sang satpam yang tidak memuaskan, Lumine kecewa dan terus berlari tanpa arah, hanya dengan motivasi dan ketetapan hatinya untuk terus melangkah.
"Kakak-!"
Seketika, Lumine membeku pada tempatnya. Suara yang terdengar pada telinga kirinya itu merupakan milik sang adik, yang biasanya selalu tertidur pada pangkuannya.
Dengan refleks maniknya mengunci sebuah pemandangan berkabut, dimana pohon-pohon tumbuh menjulang tinggi dan asap putih yang memblokir kemampuannya untuk melihat lebih jauh kedalam.
'Area rawan penculikan. Jangan melewati pagar ini.' Tulis sebuah papan kuning dengan tanda seru sebagai pengingatnya. Tanda itu tertempel jelas pada pagar besi yang hendak dipanjat oleh Lumine. Kakinya menempati sela-sela pagar, sedangkan tangannya yang masih bergemetaran itu mencoba menopang berat tubuhnya dengan sela pagar sebagai tumpuannya.
Mendadak, seseorang menarik rambut putihnya dari belakang. Membuatnya kehilangan pijakkan dan terjatuh pada kerasnya jalanan yang dipenuhi batu.
"Aaah," desisnya. Kemudian netranya mendelik dan menangkap sawah basah dimalam hari, namun tidak dengan sosok yang menarik rambutnya. Manik birunya yang bercahaya pada malam hari itu, menyapu seluruh pemandangan yang masih dapat dijangkaunya, sebelum akhirnya kembali memusatkan fokusnya pada pagar besi yang belum selesai dipanjatnya.
Hal tadi dihiraukannya dengan anggapan bahwa ketakutannya sendiri, telah membuatnya merasa ditarik dan terjatuh. Kali ini, ia akan terus memanjat pagar untuk mencari adik kesayangannya.
Lumine menaiki puncaknya, terjatuh pada sisi lain pagar dan mengarahkannya pada tempat tujuan yang tidak menentu.
Lutut yang tergores, bibir yang tergigit hingga berdarah, bahkan telapak tangannya yang merah dan lecet tidak menghentikannya dari mencari sang adik.
"ICARIUS!" Teriaknya pada malam hari yang sudah cukup gelap itu. Lumine khawatir suaranya tidak akan sampai pada sang adik, mengingat luasnya hutan pada pijakannya, dan kabut putih yang menghalau getaran suaranya.
Namun, telinga kanannya mendengar sebuah teriakan kecil, "Kakak-!" yang pastinya merupakan suara sang adik. Lalu kakinya yang mulai mati rasa kembali berlari, dan angin yang bergesekan membawa tangisan disudut mata sang gadis jatuh, sebelum mengenai pipinya.
Teriakan sang adik yang menyesakkan paru-parunya itu kini terhenti pada sebuah rumah tingkat 2 tanpa jendela yang sangat kotor dan usang. Sudut-sudut bangunan yang cukup berjauhan, menunjukkan seberapa megahnya rumah tanpa kehidupan itu.
Lumine percaya, disitulah adiknya berada. Insting buasnya mengatakan untuk cepat pergi dari rumah yang tidak diketahui asal-usulnya itu, namun ketetapan sang gadis tidak akan goyah semudah itu.
Selagi kakinya melangkah untuk masuk lebih dalam, hatinya berkata bahwa ia akan menemukan sang adik, dan kembali pulang kerumah bersamanya.
Bau tidak sedap memenuhi oksigen pernapasannya. Amis, busuk, berdebu. Semuanya tetap tidak cukup untuk membuat sang gadis menyesali keputusannya.
"Icarius-!" Panggilnya lagi. Ia terus melihat kedepan, mencari sang adik untuk mengembalikannya pada pelukan. Maka ia tidak akan tahu, bahwa rumah tanpa kehidupan itu tidak lagi memiliki pintu yang baru saja dibukanya.
"Kakak-!" Suara sang adik tiba-tiba berpindah kebelakangnya, membuat sang gadis bergidik kaget dan kemudian memutar tubuhnya 180° untuk melihat adiknya.
Disitu, adiknya berada. Hatinya menjadi tenang seiring tatapan sendunya menghilang. Pertemuan yang indah, karena sang kakak akhirnya menemukan adiknya. Lumine berjalan mendekati adiknya, tangannya direnggangkan untuk memeluk saudaranya itu.
Bruk-!
Tubuhnya terjatuh, dan sang adik tidak berhasil dipeluknya. Ia mencoba lagi untuk memegang tangan sang adik, namun usahanya berujung sia-sia. Tangan Icarius tidak dapat digenggamnya. Tangannya seakan-akan menembus sang adik, membuat jantungnya berpacu tidak karuan.
"Uuuuuh... Riu!!" Teriaknya yang berada diujung asa. Netranya berputar dan mendelik, pikirannya kacau dan tulang rusukknya seakan-akan hancur oleh dinginnya malam hari dan hawa yang sangat menyesakkan dalam rumah itu.
Ditengah ketidakberdayaanya, disitulah seorang gadis dengan surai coklat datang dari belakang lehernya.
"Riu, akhirnya aku menemukanmu. Apa yang kamu lakukan disini?!" Ujar sang gadis bersurai coklat itu. Ia kemudian memeluk Icarius, melakukan hal yang begitu mustahil bagi Lumine.
Sedangkan Lumine yang melihat pemandangan itu, hanya terdiam dengan mulut yang menganga, dan manik yang terbutakan oleh air mata.
Gadis bersurai coklat dengan mata biru bercahaya itu adalah dirinya, dan yang tengah terduduk dengan keputus-asaan itu juga merupakan dirinya.
Ia melihat dirinya sendiri pada netranya, dimana 'dirinya' sedang memeluk sang adik dan menunjukkan senyuman licik penuh kemenangan terhadap Lumine.
'Dirinya' kemudian membawa Icarius yang tersenyum dengan cerahnya keluar dari rumah usang dan kotor tersebut, menanyakan sang adik apa yang ingin dimakannya untuk makan malam. Dan ketika pintunya tertutup rapat, dalam sekejap, pintu itu akan hilang dan meninggalkan Lumine yang gagal membawa pulang sang adik.
Ia kehilangan tubuh fisiknya, dan sekarang tengah terduduk lemah didalam rumah yang mengisolasi dirinya dari dunia luar. Rasa sakit akan membekas untuk selamanya, kemudian memberi efek mati rasa pada hatinya.
Epilog dari hidupnya, mungkin akan berakhir sampai sini saja.
.....
"Arin! Dimana kamu, rin?!!" Seorang gadis berteriak, diselingi hembusan nafas yang begitu berat akibat berlari. Gadis itu bersurai hitam legam dengan mata hijau. Selagi kakinya berlari tanpa arah, matanya mengunci sebuah pemandangan rumah tua yang usang dan sangat kotor.
"Kak Lunaaa-!" Suara sang adik bergema pada telinganya. Rumah tua yang menjadi sumber suaranya itu, membawa kedua kaki sang kakak untuk masuk kedalam, mencoba menjemput sang adik pulang.
Rumah tua itu dimasukinya, untuk mencari adik perempuannya yang tengah hilang.
Saat ia menengok kebelakang, sejarah akan terulang. Dia akan ditempatkan pada ambang ketakutan ketika melihat 'dirinya' yang lain, menjemput adiknya pulang.
Sampai detik berhenti, keputus-asaan akan terus menari. Kutukan tidak akan pernah berakhir, karena yang kehilangan akan mencuri,
Dan yang tercuri akan kehilangan.
-Selesai-
Terimakasih sudah membaca-! Aku minta like dan kritik sarannya boleh, ya 😊.