Senja menarikku keluar dari rumah, bermain dengan Adik kecil di sebuah lapangan hijau yang luas, di sana banyak sekali wahana permainan yang sudah usang dan tak lagi bekerja seperti dulu, aku mengajak dan menarik pergelangan tangan Adikku untuk naik ke dalam wahana bianglala namun, sebuah angin berhembus kencang seakan-akan aku turut ikut dalam permainan angin itu, aku memejamkan mataku dan menutupnya dengan tangan kananku agar debu-debu tidak masuk ke dalam mataku tapi ... Ini dimana?
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, memejamkan mata guna membangunkan aku dari mimpi, ah bukan. Aku tengah mengira ini adalah sebuah mimpi namun, aku salah–aku bukan berada di dalam mimpi melainkan di depan sebuah rumah yang aku sendiri tidak tahu ini dimana, aku menaiki beberapa anak tangga dan mengetuk pintu rumah itu, aku cukup terkejut karena decitan pintu yang terbuka sendiri dengan perasaan takut aku memberanikan diri untuk masuk kedalam rumah tersebut dan meminta tolong kepada pemilik rumah agar memberitahu aku dimana jalan dari tempat ini, seperti jalan besar.
Saat aku memasuki ini, yang aku lihat hanya ... Rumah biasa seperti asrama semua arsitektur terbuat dari kayu yang sudah usang, tidak terlalu rapi dan bersih. sesekali aku mengeratkan tanganku pada rok berenda yang aku pakai mengedarkan pandanganku yang sangat hening di sini.
Mataku mengelilingi sepenjuru ruangan, ketika aku tengah sibuk melihat-lihat sebuah tawaan dan tepukan di pundak kananku membuat aku terkejut bukan main.
"Aku mendapatkanmu!" seru orang itu, aku menoleh melihat Anak perempuan lusuh yang lebih pendek dariku, rambut di kepang dua. Dia tertawa ke arahku membuat aku merinding dan bingung kemudian beberapa Anak-anak seusianya datang bergerombol bersama satu orang Wanita paruh baya bersama mereka, mereka berpakaian sangat amat lusuh, rambut tak terurus, gigi yang menguning, wajah sangat kotor namun, mereka tetap tersenyum manis kearahku walaupun aku sudah berkali-kali meneguk salivaku namun, rasa penasaran dan ingin pulang lebih besar dari ketakutanku.
"Hallo Nak, ada yang bisa kami bantu? Kenapa kamu bisa kemari malam-malam?" tanyanya dengan nada ramah, aku tersenyum tipis dengan perasaan tidak nyaman karena di tatap oleh lebih dari enam anak kecil.
Aku menggaruk belakang leherku. "Ah itu ... Aku kemari ingin menanyakan jalan keluar dari sini, aku juga tidak tahu kenapa dan bagaimana aku bisa kemari bisa Nyonya bantu aku cari tahu jalan keluar?" tanyaku dengan sangat sopan, Wanita itu terkekeh dan menatap Anak-anak kecil yang ada di sini.
"Sekarang sudah malam, sebaiknya kamu bermalam di sini, apa kamu punya ponsel?"
Astaga! Bagaimana bisa aku sebodoh ini? Aku memiliki ponsel bagaimana bisa aku lupa, aku bisa menelpon orang rumah untuk menjemputku namun, ada apa ini? Otak dan mulutku tidak ingin sejalan seperti ... Aku ingin terus berada di sini, bersama mereka.
"Ya aku memiliki ponsel," jawabku seandainya, dia tersenyum lalu menyuruhku menaruh ponsel di meja nakas yang tak jauh dari tubuhku.
"Di sini ada peraturan, tidak boleh memegang ponsel itu bisa merusak Anak-anak saya, ini sudah larut jalanan di luar sangat gelap sebaiknya kamu bermalam di sini jadi ... Mari saya antar kamu ke kamarmu."
Aku mulai mengikuti Wanita ini, baru beberapa langkah aku berjalan Anak perempuan yang pertama datang menyapaku berseru.
"Kamu suka daging?!!" Aku mengerutkan dahiku saat mendengar semua Anak-anak di sini tertawa terbahak-bahak menatap ke arahku.
Wanita itu menuntunku ke arah kamar yang ia maksud, setelah kepergian Wanita itu aku di buat penasaran dengan suara Anak perempuan seusiaku dia seperti menggerutu dengan nada bergetar.
Aku menghampiri suara itu yang letaknya ada di belakangnya lemari tepat di samping kananku, menghampiri dia yang tiba-tiba tersentak kaget karena kedatanganku, dengan cepat dia menyembunyikan benda kotak kecil berwarna hitam di balik tubuhnya.
"Kau sedang apa di sini?" tanyaku dengan hati-hati lalu duduk di samping tubuhnya, aku terus saja di buat terkejut dengan semua yang terjadi di rumah ini, kemudian–dia mengeluarkan ponselku dari balik tubuhnya.
"Bagaimana cara menggunakan benda ini? Aku ingin pulang," tiba-tiba dia terisak walaupun nyaris tak terdengar suara tangisan, aku melirik sekilas pintu hijau yang tertutup rapat tepat di samping kiri Gadis itu, aku tersenyum tidak masalah jika ada yang ingin mencoba ponselku toh ... Ponsel itu sudah mau rusak.
"Mari aku bantu," Dia berdesis saat mendengar suaraku, meminta aku menurunkan volume suaraku namun, aku tidak mengerti dari raut wajah dan gerakan tubuh dia seperti ketakutan dan khawatir ada yang datang, ketika aku hendak bertanya ada apa Wanita paruh baya itu datang dan menyeret Anak Perempuan itu entah kemana.
setelah kepergian mereka mataku tertuju pada pintu hijau yang terkunci rapat saat ingin menyentuh pintu itu, Wanita paruh baya itu sudah menghampiriku dan memergokiku hingga aku terkejut dan terbentur pintu hijau itu.
"Sedang apa kau? Ayo keluar kita akan makan malam, mau membantuku memasak, bersama Anak-anak?" tanpa menaruh rasa curiga aku mengiyakan itu semua dan membantu mereka.
Aku tersenyum melihat Anak-anak itu bermain bersama, berlari, berbincang namun, saat aku sampai di sana raut wajah mereka menjadi datar kembali, membuat aku paham mungkin mereka belum terbiasa melihat orang asing di sini.
Kini aku tengah membantu Wanita ini memasak makan malam, walaupun aku tidak lapar tapi ... Jiwa koki-ku bergejolak untuk memasak makanan enak untuk mereka namun, aku di buat bingung, ibu itu bilang kita akan memasak daging tapi ... Di sini hanya ada sayuran mentah dimana dagingnya?
Satu Anak kecil Laki-laki menghampiriku. "Kakak berdiri di tengah jalan itu, ayo kita main, habis dari sana kita bisa makan daging," pintanya, dia menarik tanganku namun, aku menolak untuk beranjak dan mengatakan aku ingin di sini membantu wanita ini.
Tidak lama kemudian aku mendengar suara tabrakan yang sangat kencang tapi ... Kenapa mereka semua tertawa? Dan mengatakan akan makan daging saat aku tahu yang tertabrak adalah Anak Laki-laki yang baru saja mengajakku berdiri di sana, seketika aku sadar–aku sedang tidak aman di sini.
"Kak! Dagingnya sudah ada ayo masak!"
"Yah ... Padahal aku ingin makan daging Kakak, pasti enak, Kakak cantik sih!"
Damn!! Aku harus mencari jalan keluar dari sini namun, mereka lebih gesit dari yang aku kira.
Aku berlari dari tempat itu, dengan suara tawaan mereka yang bergema di telingaku, berlari tanpa tentu arah kemudian aku bersorak ria ketika menemukan seorang Pria tengah berbincang dengan seorang Laki-laki seusianya. Aku menghampiri Pria tersebut namun, dia seperti Laki-laki tak bernyawa tapi dia hidup. Itu aneh!
Aku menggoyangkan tubuhnya, untuk meminta tolong tapi tetap saja orang-orang yang ada di sini semuanya aneh! Aku harus apa? Apakah semua orang di sini adalah Zombie?
aku menemukan mobil Jeep di dekatku, membawanya walaupun aku tidak bisa menyetir karena usiaku masih 15 tahun tapi ... Baru saja aku menyalakan mobil Anaknya hanya tertabrak tadi bangkit dengan berlumuran datar memegang wajahku lalu terkikik.
"Jika bisa masuk, maka kamu tidak bisa keluar, ayo kita makan daging Kak!" serunya, tanpa pikir panjang aku menginjak gas lalu bergerak pergi.
Suasana menjadi mencekam ketika kemanapun aku pergi dan singgah mereka selalu datang dengan sebilah pisau di tangannya, aku terus berlari hingga aku menemukan rumahku yang terlihat sangat kosong dan kotor.
Saat aku mau memasuki rumahku, tanganku sudah di cekal oleh Wanita itu, dia membawa pisau dapur yang sangat besar dan menodongkannya di depan wajahku, aku berdoa kepada Tuhan siapa saja bantu aku!!
Tiba-tiba Wanita itu terdorong ke samping kiriku, dan tubuhku terhuyung menjauh dari wanita itu tanpa sadar aku sudah berada di belakang tubuh Laki-laki yang jauh lebih tinggi dariku.
"Bisa kamu berhenti mencari manusia!" teriak Laki-laki yang ada di depanku.
Wanita itu bangkit dengan pisau di tangan kirinya, aku menoleh ke arah kananku tak jauh aku melihat pintu hijau yang sempat ingin aku buka dan aku sadar.
Itu pintu yang akan membawanya kemana pun korbannya melarikan diri dan membunuhnya.
"Bisa kamu berhenti mengganggu kami?!! Dia mangsa kami Lee!" teriaknya, aku memejamkan mata karena aku takut mati.
Tangan Laki-laki itu menggenggam tangan kiriku, dan aku mendongkak walaupun wajah Laki-laki itu menatap lurus tapi aku bisa merasakan jiwa hangat dari tubuhnya karena aku merasa aman di dekatnya.
"Aku janji aku akan membawamu keluar dari neraka ini," sahutnya kepadaku, genggamannya dari tanganku terlepas dan dia berlari ke arah Wanita itu dengan tangan kosong.
Namun, perasaanku menjadi khawatir ketika pintu itu mengeluarkan asap hitam dan ...
Anak-anak itu muncul, berlumuran darah aku yakin dia habis memakan rekannya atau Gadis itu? Astaga!
Aku berjalan mundur saat Anak-anak itu mulai mengepung diriku mereka tersenyum salah satu dari mereka membawa satu buah tangan tanpa pemilik membuat aku mual dan pusing mencium bau amis.
Tiba-tiba Laki-laki berhati malaikat itu datang menghampiriku lagi membawaku ke arah belakang tubuhnya mengoyak semua tubuh Anak-anak itu dengan tangan kosong, membanting mereka dan entah ini mimpi atau apa pintu hijau itu terbuka saat tangan kirinya mengarahkan ke arah pintu itu dan terbuka.
dengan cepat laki-laki itu membanting mereka dan memasukkan ke dalam pintu itu satu persatu walaupun tubuh mereka sudah tak berbentuk hasil karya Laki-laki itu menjagaku.
Aku menoleh saat Wanita itu mengerang di selingi tangisan, aku tahu bagaimana bisa seorang Ibu tega melihat anaknya di sakiti orang lain sama seperti Wanita ini tapi ... Kenapa dia memakan salah satu dari Anaknya?
Pintu itu terkunci lagi dan aku tetap berada di belakang tubuh Laki-laki itu, Wanita itu mengerang lalu berlari ke arah Laki-laki yang ada di depanku dengan cekatan Laki-laki itu memegang wajah Wanita itu lalu mencengkeramnya hingga tengkorak Wanita itu pecah dan mengeluarkan banyak darah, dan dia berlutut.
Aku kira ini sudah selesai ternyata tidak. Wanita itu masih bisa bangkit dengan pisau dapur di tangan Kanannya kemudian menusuk tubuh Laki-laki itu hingga menembus ke belakang, aku berteriak spontan serta menutup mulutku apakah aku akan berakhir di sini? Mati konyol?
Dia mengerang kesakitan lalu menarik pisau yang menancap di tubuhnya. "Apa kamu kira aku akan mati dengan tusukanmu ha?!!" Dia berteriak kesal lalu menarik rambut wanita itu mematahkan lehernya menusuk-nusuk tubuh wanita itu hingga tak berhenti dan terakhir memasukkannya ke dalam pintu hijau itu, saat terakhir wanita itu masuk, pintu itu mengeluarkan cahaya putih dari celah-celah pintunya lalu Laki-laki itu bisa bernapas lega dan ini adalah kali pertama aku melihat wajahnya saat dia berbalik ke arahku.
"Mulai sekarang, jangan bermain di lapangan itu dan mulai sekarang aku yang akan menjadi malaikat penjagamu, aku akan membawamu pulang sesuai janjiku."
Dia memegang pergelangan tanganku lalu sebuah angin berhembus kencang hingga membuat mataku tertutup takut debu masuk ke dalam mataku namun, saat aku membuka mataku aku berada di tengah-tengah lapangan tepat di depan bianglala yang kosong.
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri saat aku tidak menemukan Adikku, apakah aku mimpi? Atau aku memang bermain sendiri? Aku berjalan mendekati bianglala namun, aku menginjak sesuatu.
Boneka Adikku.
Astaga! Apakah dia ikut masuk kedalam tempat terkutuk itu?!!!
Aku berlari mencari Laki-laki itu meminta bantuan untuk membawa kembali Adikku namun, aku tidak menemukan! Tolong bantu aku!
"Tuan Lee!!"
Namun, di sisi lain Lee tengah mengerang kesal karena dia tidak menemukan Adiknya di ruang lingkup dunia Kanibal kemudian ... Wanita itu muncul tepat di sampingnya.
"Gadis itu sedang tertidur, kamu tidak akan bisa membawanya Lee! Seperti jiwamu!"
END.