"Huft..."
Serena menghela nafas, ia begitu bosan karena teman temannya selalu membicarakan rumah kosong yang berada tak jauh dari sekolah dan area perkampungan ataupun perumahan.
Puk...
Seseorang menepuk pundak Serena dan ia pun menoleh.
"Ser lo percaya gak sih sama tuh rumah kosong." ucap Fany, Serena memutar bola matanya Rumah kosong lagi bosen bet dah seperti ini lah yang di hati Serena.
"Antara iya dan tidak. " ucap Serena datar dan mendengus kesal.
"Eh tapi lo inget gak pas kita lewat, kayak ada orang lagi sesuatu dari jendela lantai 2,lo gak penasaran apa?" ucap Fany, Serena terdiam sebenarnya ia juga kepikiran tentang orang yang berada di lantai dua.
Dan itu juga mengusik pikiran nya akhir akhirnya dalam hatinya ia selalu bertanya siapa orang itu, Tak luput juga Rumah kosong itu juga sering terdengar teriakan kesakitan, Tangisan, bahkan tawa.
Apalagi waktu itu ia dan Fany pernah lewat dan melihat orang di lantai 2 tengah melakukan sesuatu, ia pun menjadi penasarana.
"Gw juga penasaran siapa?" ucap Serena kedua berfikir hingga....
BRAK...
3 Orang cowok teman kedua orang ini menggebrak meja keras meja mereka hingga membuat kedua nya terkejut.
"Lo kagetin aja Dim." ucap Fany kesal, Dimas hanya cengar cengir saja.
"Eh lo berdua percaya kagak adaorang di dalem Rumah kosong sana, soalnya gw ama nih dua anak pernah lihat." ucap Dimas.
Serena dan Fany saling memandang,
"Pernah kita.l ucap Fany kelimanya berfikir siapa orang itu dan kenapa sering terdengar teriakan, tangisan dan tawa setiap sore dan malam.
"Eh gimana kita cari tahu tuh Rumah, biar warga gak pada was was gwjuga penasaran." usul Adi.
Serena berfikir ini pasti beresiko.
"Gw setuju gw juga penasaran." -Serena
"Setuju." -Fany.
"Setuju." -Dimas dan Akbar.
Mereka pun sepakat akan kerumah kosong saat pukul 3 sore.
Pulang sekolah.
Pukul 3 sore.
Mereka kini sudah didepan Rumah kosong, masing masing dari mereka membawa tas kecil yang berisi Minuman, lilin, korek api, buku pensil, 2 buah senter, dan alat obat.
Mereka memandang rumah itu lalu saat sudah siap dan mental mereka pun memberanikan diri masuk ke dalam untuk memecahkan misteri Rumah kosong ini.
Tanpa sadar mereka di awasi seseorang.
Ciit...
Suara decitan pintu.
Mereka pun masuk dan langsung di suguhkan suara teriakan seseorang kesakitan bersamaan tawa.
"AKH.... SAKIT...".
seperti itulah suaranya, bulu kuduk mereja berdiri Fany memeluk Akbar sepupunya dia menahan tangis ketakutannya.
"Dim mending balik aja, kasihan Fany kayaknya ketakutan banget." ucap Serena, Dimas pun setuju mereka hendak memutar balik tapi...
BRAK...
Pintu seketika tertutup rapat dan terkunci membuat mereka segera berlari ke arah pintu dan bersamaan juga muncullah suatu Suara....
"HAHAHA KALIAN TIDAK AKAN BISA KELUAR, KARENA KALIAN MANGSA KU BERIKUTNYA NYA."
Fany pun menangis ketakutan, Dimas berusaha menarik narik gagang pintu di bantu Adi Serena ia memainkan senternya melihat sekitar.
"KELUAR LO, JANGAN TAKUTI TEMAN TEMAN KITA." Ucap Serena berani semua menatap Serena, hingga terlihat sosok sangat di ujung didepan mereka memegang sebuah pisau ia menggunakan jas hitam bertudung hitam.
Ketakutan jelas di raut mereka semua tapi mereka harus berani, Sosok itu pun makin lama makin mendekat ke arah mereka mereka semua berpegangan erat bersama sama kecuali Fany yang memeluk.
Semakin lama ia semakin dekat suara derap kakinya membuat kelima remaja SMA ini agak ketakutan tapi mereka harus berani, karena mereka telah mengambil Resiko.
Sreet...
"akh..."
Sosok itu melempar pisau tepat di kaki Fany, Fany menangis kesakitan Akbar langsung melepas pisau itu dan melemparnya kesembarangan tempat.
Darah segar keluar dari kaki Fany, dengan cepat Serena menutup luka kaki Fany dengan perban miliknya.
"Uhuk..."
orang itu sudah didepan mereka dia mencekik Dimas, dan mendorong mereka semua.
Adi berusaha melepas cekikan itu Akbar senantiasa memeluk Sepupunya perintah dari Serena.
"Lepasin temen gw..." ucap Adi dan....
BRAK...
Adi Dan Dimas di lempar ke samping rumah menghantam dinding, keduanya terbatuk dan kesakitan akan punggungnya.
Sosok itu kini mendekat ke arah Akbar serta Fanya, Fany memeluk Akbar erat keduanya terpojok Serena ia pingsan terbentur sesuatu.
"Hiks akbar hiks.." Fany menangis ketakutan, orang itu mengambil pisau yang di lempar Akbar tadi dan mulai mengakat,
"Kini kalian berdua yang akan menjadi mangsa ku berikut nya." ucapnya semakin mendekat.
Dan...
BUGH...
BUGH....
Dari belakang seseorang memukul orang berjubah hitam itu hingga pingsan, dan itu adalah Serena yang sadar ia sadar saat ia mendengar tangis keras Fany ketakutan.
Serena mengambil sebuah kunci.
"Ayo kabur." ucap Serena dengan cepat ia mengambil kunci dan membuka pintu, mereka langsung keluar dan ternyata ada warga danw keluarga mereka.
"MAMA PAPA..." Fany lari dan memeluk orangtuanya semuanya memeluk keluarga, ternyata ada warga yang melihat mereka masuk dan segera melapor pada RT dan memberitahu keluarga mereka.
Tak lupa mereka segera memangik polisi, Orang berjubah tadi keluar hendak mengejar tapi sayang ia terlambat ia terkepung.
"Hahaha akanku bunuh kalian semua." ucapnya yang ternyata ia adalah Psychopat yang bersembunyi di sana ia sudah banyak membunuh banyak korban.
"Terima kasih kalian telah membantu kami, kalian memang anak pemberani." ucap Pak Polisi mereka tersenyum dan...
"ADOH MA SAKIT..."
Mereka berlima kesakitan lantaran telinga mereka ditarik,
"Kok nekat yah, Kita semua sebagai orangtua khawatir nak." ucap Mama Serena lalu memeluk putri nya ini sungguh ia takut jika terjadi sesuatu pada mereka semua.
Setelah kejadian ini Misteri rumah Kosong itu terpecahkan.
"TAMAT"