Kami pulang dari sekolah melewati rumah yang tak pernah terlihat penghuninya.
"Ko Loe mau kita buat tantangan, siapa yang berani masuk kerumah seram itu, kita kasih uang satu juta?" Dika berkata.
"Ash, kalian itu jangan aneh-aneh deh, kata kakek aku di sana itu pernah ada pembunuhan berantai, kalau hantunya gak suka dengan kedatangan kita bisa mampus kita" mengebu-gebu Lehan menceritakan kisah rumah yang mereka lewati.
"Konyol, kalau Loe gak mau ikut ya gak usah ikut, Cemen" Sindir Marvin.
"Sut.. apaan sih kalian, gue males debat kayak gini, gue berani terima tantangan itu asal gak ada yang boleh mundur!"Riko menantang.
"Oke siap takut" Dika menyepakati tangan Riko dan Marvin, sedangkan lehan tak berani mengikuti kemauan teman-temannya yang uji nyali.
Hingga suatu malam pada hari Jumat Kliwon tanggal 13 april 2003, Riko, Dika, dan Marvin telah berada di depan rumah yang terkenal bernama He died with a dream (Dia mati dengan mimpi) karena semua penghuni meninggal dengan kondisi terlelap saat di bantai.
KREK
Membuka pintu bersama-sama memasuki ruangan utama, melangkahkan kaki perlahan dan memandang ke arah setiap ruangan yang mereka lewati.
"Uh.. kotor sekali rumah ini, banyak hewan bersarang disini" Dika mengibaskan tangan dan terbatuk-batuk ke arah ruangan selanjutnya.
Menoleh kebelakang tak di dapati kedua temanya yang ikut bersamanya masuk.
"Marvin, Riko! kalian jangan coba-coba buat jebakan ya ke gue" Dika sebenarnya sangatlah tegang dan bergidik karena dia sedang sendirian dan sudah setengah jalan.
Kuk kuk
Suara burung hantu bersautan, Dika sudah mulai menciut nyalinya, memohon kepada kedua temanya untuk tidak mengodanya.
"Marvin, Riko kalian gila ya, menyusun rencana menghilang agar aku takut dan menyerah! haha gak akan, demi kesepakatan kita gue gak takut, dengar kalian hah kalian dengar!" Dika berteriak-teriak sok berani.
BRAK
Wus wus angin kencang tiba-tiba datang, suara petir menyambar hujan deras menguyur dan di rumah itu atapnya meneteskan air hujan di beberapa bagian.
Dika bergeming, kakinya dingin dan takut untuk beranjak, melihat kesana- kemari berharap menemukan kedua temanya.
KREK
Dika membuka pintu kamar utama, Dika melihat kamar yang begitu mewah dia terkejut, rumah yang lusuh tapi kamarnya mewah membuat Dika semakin penasaran dan masuk ke dalam kamar itu.
Tiba-tiba pintu menutup sendiri dengan keras.
BRAK
"Ash Sid.." Dika mengumpat dan membuka, memaksakan diri untuk menarik dan mengoyak gagang pintu karena dirinya benar-benar ketakutan.
DOR.. DOR
"BUKA WOI, BUKA.. Haah plis gue ketakutan ini!" perasaan Dika sudah sangat tertekan, lampu berkedip seolah akan mati, Dika merasakan ada seseorang yang menghampirinya, bulu kuduknya merinding, diks tak berani menolehkan wajah ke arah belakang, merasa ada yang memegang pundaknya.
"To..long, jangan.. am.. ampun" Dika kencing di celana karena dirinya benar-benar ketakutan, kakinya gemetar tak karuan, menangis meraung-raung memohon untuk di lepaskan, Dika terduduk menghadap pintu tanpa berani menoleh kebelakang.
"AH..HA..HA, lihat.. haha.. Dika ngompol" Ternyata Marvin dan Riko yang ada di belakang Dika dan menertawakan penderitaan temanya itu.
"KALIAN! PUAS..PUAS HAH..RESEK!" Dika marah dan melempar sandalnya ke arah Marvin dan Riko.
"Loe yang buat tantangan Loe juga yang ketakutan, gue fikir Loe paling berani karena yang buat tantangan, hah Cemen juga ternyata" Marvin mengejek.
"Sudah Vin, Loe keterlaluan.. teman kita ini benar-benar butuh ketenangan, ayo kita keluar saja lagian kita gak seharunya di sini karena gak baik kita main-main menantang kematian" Riko menolong Dika untuk berdiri dan mengambil sandal dan mengembalikannya ke Dika.
"Kalian saja yang keluar duluan, gue masih penasaran kamar ini bersih dan mewah lihat kasurnya nih masih empuk dan wangi"
Marvin duduk di ranjang dan melompat-lompat seperti anak kecil.
"Vin.. Vin! turun..ayo turun, Loe gila ya ini buka rumahmu, kita gak di undang disini dan kita sudah mengusik kehidupan penghuni di sini, mereka sedang mengawasi kita Vin" Riko melihat ke arah cendela, dia merasa ada seseorang tadi berdiri membawa gergaji.
SREK SREK
Terdengar suara seseorang mengosok pisau di arah luar.
"SUTT, jangan berisik ayo segera keluar rumah ini Vin, dik!" Riko mulai curiga dengan suara itu.
Tiba-tiba terdengar teriakan di jalanan belakang rumah.
AAH TOLONG JANGAN!
Mereka semua keluar kamar dan menuju halaman belakang, mereka mencari asal suara itu terlihat banyak bercak darah tercecer di dekat tangga kecil menuju ruang bawah tanah.
"Enggak ini sudah tidak bagus untuk di lanjutkan, kita pulang atau kita akan mati disini!" Dika ketakutan dan gemetar.
"Tapi kita harus menolong wanita yang meminta tolong tadi dik! seru Marvin.
"Ini sudah malam, pukul 12,30. Ayo kita cepat pulang saja Vin" meremas pergelangan tangan Marvin dan terlihat Dika sudah kabur duluan.
"Ha.. agh.. ha.." deru nafas Dika tak beraturan, dia berlari hingga melupakan teman-temannya masih di lingkungan rumah itu.
"Sial!" Marvin mengumpat.
"Pintu ini terkunci, bagaimana bisa kita keluar.. dan halaman rumah itu tak ada jalan menuju depan rumah" Riko sudah putus asa dan terduduk mengingat kata-kata mamanya.
"Ko, Loe jangan menyerah ayo kita coba mendobraknya!" meyakinkan Riko.
DOR DOR DOR
"RIKO! MARVIN! kalian di dalam nak, kami akan mencoba membuka pintu ini" terdengar suara bersautan di luar.
BRAK
NGURS..NGGUNG..
Terdengar suara gergaji mengarah ke arah ruang tamu, Riko dan Marvin ketakutan perasaan berdebar,kaki terasa tidak bisa berdiri dengan benar, nafas mengebu keringat bercucuran.
"Gak gue gak boleh mati konyol disini, BUKAA.. TOLONG, TOLONG KAMI!" Marvin menendang-nendang pintu, mencoba sekuat tenaga teriak.
Marvin terkejut dengan wajah dan tanganya terciprat basah air.
"Apa ini" MARVIN melihat tangan dan mengusap wajah sebelah kiri dan dia melihat di telapak tanganya adalah semburan darah.
Marvin perlahan menoleh ke arah di mana Riko berdiri di sampingnya.
"AGH..AAAAH" MARVIN teriak dan berlari ke arah mana saja yang bisa membuatnya keluar dari rumah itu.
"Oh tidak, tuhan selamatkan aku!"
Marvin lari dan masuk ke dalam pekarangan yang di penuhi pohon Pinus dan terus berlari berharap bisa menembus perkampungan desa dekat perumahan yang mereka tinggali.
Dilain sisi Riko terbangun dari pingsannya, merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
"Ah.. apa yang telah terjadi,hu..hu..sakit sekali" menderu nafas dan Tersengal-sengal.
Suasana tempat itu gelap tak ada cahaya sama sekali, dan terdengar suara lirih wanita paru baya yang sedang menyapa Riko.
"Hai anak muda, apakah kamu baik-baik saja"
Riko tersentak dan mendekap diri dalam kegelapan dan mulai menangis kecil.
"A.. anda siapa? tolong saya bu.. maafkan saya telah mengusik rumah ibu" memohon.
"Aku adalah pemilik rumah itu, hampir 10tahun aku di siksa disini menderita dengan semua perlakuan IBLIS JAHANAM ITU!" menangis dan terisak.
"Bagaimana bisa dia sekejam itu bu"
"Dia adalah suamiku, dia laki-laki yang telah cacat dan sudah tidak bisa bekerja, anak-anak ku tidak ada yang perduli padanya karena ayahnya sudah tidak bisa bekerja karena kehilangan 1 kaki"
"Oh tuhan, lantas untuk apa dia berlaku tidak adil seperti ini padamu Bu?"
"Karena dia merasa aku juga ikut mengintimidasi dia! sudahlah, dia sedang mencari temanmu di pekarangan belakang.. aku akan menolongmu keluar dari sini dan segeralah mencari pertolongan demi temanmu sebelum suamiku menemukanya"
Wanita itu tanpa kaki dan jalanya pun ngesot dan tertatih mencoba memberikan kunci yang dia taruh di kaki buntungnya itu.
"Ayo segera buka pintu itu!"
DUAR
Terdengar suara pecahan kaca di kamar utama karena pintu belakang di kunci oleh wanita itu.
"KELUAR.. jangan perdulikan aku!" wanita itu maksa Riko untuk tetap keluar dan berlari pulang.
Riko telah berhasil keluar dengan luka di sekujur tubuhnya, dia baru menyadari kalau jari-jarinya terpotong 2
Disisi lain wanita bernama Aminah Suteja telah mati tergantung di pohon Pinus Bagian belakang rumah tersebut.
Riko pulang dengan kondisi yang memperihatinkan, terlihat polisi dan beberapa orang ramai ada di depan rumahnya.
"RIKO! ya tuhan sayang kamu gak apa-apa kan nak, mana Marvin?" ibu Riko menangis tak hentinya melihat Riko bersimbah darah.
"Ma..pa.. tolong segera temukan Marvin, kepung rumah itu pak polisi temukan teman saya, di sana ada penjahat kejam!"
Semua orang saling menangis dan menguatkan, Riko melihat Dika terdiam dan tak bisa bicara.
"LOE KEMANA.. HAH! temen Loe mau mati dik,hiks..hiks bisa-bisanya Loe nyelametin diri Loe doang, Sid.. egois Loe!!" Riko emosiaonal.
"Ma.. ma maaf Riko, aku.. aku sudah meminta bantuan orang-orang dan datang kesana tapi tiba-tiba pintu itu tidak bisa terbuka walaupun di dorong dan di rusak, besi itu berat sekali"
"BULDOSER, kamu tidak bisa menyarankan itu hah!"
"Sayang sudah, kamu mau istirahat dirumah saja, atau kamu ikut ke lokasi?" tanya mama Riko.
"Riko harus bisa menemukan Marvin ma, setidaknya dia bukan pengecut seperti DIKA!" Riko matanya memerah dan sangat tertekan melihat Dika yang hanya duduk bersandar di sofa.
Di sisi lain semua orang menyusuri ruangan demi ruangan dan tak di dapati siapapun, di halaman belakang hanya di jumpai Aminah Suteja yang tergantung di pohon dengan banyak luka sayatan.
Hampir sampai pagi, MARVIN lantas ditemukan di perkampungan perbatasan perumahan yang mereka tinggali, dia di tolong oleh beberapa warga saat ronda sekitar pukul 03,00 di dekat pagar besi berduri mencoba untuk melompat.
"Vin, Loe baik-baik saja kan!"
"Ah iya, apakah aku sudah di surga?"
"Perasaan dosa Loe banyak mana mungkin masuk surga! Loe lagi di neraka sama gue" Riko menahan tawa.
"Sudah berapa lama aku tidur ko?"
"Hampir 3 bulan kamu koma luka sobekan di perutmu mengharuskan mu oprasi 7kali dan kamu sering kesurupan arwah-arwah penghuni rumah kosong itu"
"Dika?"
"Dia sudah meninggal, sejak kejadian itu dia merasa bersalah mengakibatkan LOE koma gue kehilangan jari"
"Dika! apa dia depresi?"
"Tidak, dia mengakhiri hidupnya dengan mencari pembunuh rumah kosong itu, dan dari keterangan polisi Dika adalah otak dari sandiwara ini"
"Tega sekali dia, benar-benar tak habis pikir kenapa dia membuat kekacauan seperti ini!"
Dika adalah anak terakhir dari Aminah Suteja dengan Karim Benzema, dia di asuh oleh kedua orang tua angkatnya karena semua saudaranya di racuni di dalam gelas susu saat mereka hendak tidur malam, Dika berbuat seperti itu karena dendam ayahnya diintimidasi, ayahnya tinggal di ruang bawah tanah di belakang rumah yang saat ada penyelidikan akan sulit ditemukan.
Karena balas dendam sudah tercapai, Dika adalah ahli waris perusahaan poperti di jakarta, bersekolah di sekolah elit bersama teman-temannya, Dika adalah sosok yang royal dan sombong dalam hal keuangan, dia tidak punya prestasi bagus di sekolah, Riko pernah tidak sengaja menginjak jari-jari Dika saat berolahraga maka dari itu Dika memendam dendam kepada Riko dengan meminta bantuan ayahnya memotong jari Riko.
Sedangkan Marvin adalah sosok anak tengil dan suka usil kepada teman-temannya, secara tidak sengaja suka mengintimidasi Dika yang penakut dengan kata-kata sadisnya, maka dari itu Dika balas dendam ingin membuat Marvin hidup secara mengenaskan.
Dika bukan hanya mengakhiri hidupnya tapi Dika memberikan minuman racun kepada ayahnya dan menidurkan ayahnya di ranjang mewah yang pernah dia kunjungi bersama Marvin dan Riko, sebelum gantung diri di halaman belakang rumah mereka.
Pelajaran yang kita ambil dari kisah ini adalah, berbuatlah kebaikan walaupun sekecil butiran pasir dan janganlah menghina ataupun merendahkan orang lain, karena yang kita tau tuhan yang menentukan takdir seseorang seperti apa, hentah orang yang pernah kita sakiti merasa sakit hati, atau justru mereka mendoakan orang-orang yang menzolimi mereka dengan tuhan mengabulkan hajatnya.
Jangan lupa like'nya❤️ dan komentarnya ya reader's Terimaksih sudah mampir membaca cerita HE DIED WITH A DREAM 🤗 jumpa lagi di Lomba-lomba cerpen selanjutnya 😎😎
🔥🔥🔥🔥🔥🙏🙏🙏🔥🔥🔥🔥🔥