Malam yang gelap tanpa di sinari bintang satupun. Sudah larut malam tapi gadis remaja itu masih belum tidur juga. Masih menunggu orang tuanya pulang kerja. Pasti lembur lagi, pikirnya.
Ia memutuskan mengunci semua pintu dan menutup jendela. Celingukan takut ada yang ketinggalan Merasa sudah semua ia melangkah masuk ke kamar.
Malam ini ia berdua dirumah dengan kakak laki-lakinya. Biasanya kakaknya yang bergadang, menunggu kepulangan orang tuanya.
Angin dingin berhembus menyapu wajahnya. Andini tercenung. Kakinya berhenti melangkah, menoleh cepat. Secepat berubahnya air mukanya. Matanya membulat. Degup jantungnya memompa cepat.
“Suara apa itu?” gumamnya. Ia menyentuh belakang lehernya. Bulu kuduknya merinding. Sekilas tadi seperti ada sesuatu yang melesat cepat dari hadapannya. Ya ampun.. itu apa tadi?
Sreesss..
“Oh ya.. aku, aku lupa mematikan air.” Batinnya lagi. Ia menghapus ketakutannya. Menduga hanya suara angin atau suara air. “Oke tenanglah Andini, kau tidak sendiri, ada kak Andi disini. Jika ada apa-apa kau tinggal teriak. Yah..” katanya menyemangati dirinya sendiri.
Ia meremas jemarinya, berjalan ke ruang tengah. Di ruang tengah, ia berbelok, jalannya cepat sekali. Hingga saat ia melihat sebuah boneka berbentuk anak kecil yang tengah duduk di sofa sontak memberhentikan langkahnya.
Ia gelagapan, kepalanya bergetar ingin menoleh ke belakang. Tapi ia takut. Ia memejamkan matanya, keringat dingin menghiasi pelipisnya. Ia memutuskan kembali melangkah. Menghapus ingatannya tadi. Mungkin ia hanya salah lihat.
Tapi.. tapi entah mengapa ia nyakin sekali ia lihat boneka itu ada disana dan.. menatapnya intens. Tapi..
Srak srak..
Ia selesai dengan tugasnya. Seumur-umur Andini tak percaya sama yang ginian. Tapi itu apa tadi?! Apa..
“Ah, mungkin kerjaannya kak Andi. Dia suka kali iseng. Jika itu benar dia, ntar kujambak-jambak rambutnya.” Gumamnya gemas. Kak Andi emang suka iseng sama dia. Mentang-mentang dia cengeng, suka ngadu. Suka-sukanya aja bikin dia susah pas ngak ada Mama Papanya disini.
Awas aja ntar dia aduin ke Papanya.
Huh.
Ia membuka pintu kamar mandi, sejenak ia tertegun. Menyadari sesuatu. Jika… kak Andi ‘kan ada di.. lantai atas tadi. Jadi..
Srak.
“KYAAAAAA!!!!!” BRUK!! Air mata Andini menetes. Punggungnyaa menubruk pintu kamar mandi. Dia menangis kencang. Sekencang teriakannya. Matanya membulat sejadinya, di depannya..
Didepannya boneka itu ada lagi di depannya! Di depannya!!
Dia duduk di depannya sambil menatapnya dalam. “AHHHH!!!!”
Senyum berbentuk garis hitam yang melengkung tergambar di wajah boneka itu. Andini semakin gemetar.
Apalagi saat kepala boneka bergerak kekanan. Kiiiiikkk.. “AHHHH!!!!” Andini sontak berlari cepat. Dia berteriak ketakutan, di ruang tengah ia tersandung lalu jatuh. Ia langsung bangkit berdiri. Berlari ke lantai atas dengan teriakan yang semakin kencang.
Andini masuk ke kamar. Menyelinap masuk ke selimutnya lalu menutup wajahnya dengan bantal. Dia sangat ketakutan. Air matanya terus mengucur dari pelupuk matanya. Bibirnya tak henti-hentinya memanggil Mama Papanya.
Di kamar mandi suara cekikan terdengar nyaring memenuhi ruangan. Semakin keras hingga gelak tawanya meledak. Andi menjambak rambut bonekanya, mencoel-coelnya sambil terus tertawa.
“Astaga Andini!! Penakut!! Gitu aja takut hadeh.. kalah sama anak kecil wuhh!!” katanya meledek. Ia berjalan ke ruang tengah, mendongak ke atas. Saat suara tangis Andini masih terdengar, ia memegang perutnya. Tertawa terbahak.
“Bisa-bisanya dia takut kayak gitu! Padahal dah sering aku gangguin.. masih takut aja.. hadeh.. hadeh.. Andini-Andini. Mama Mama.. Papa Papa… idih.” Andi membuang napas. Ia menggeleng pelan. Adiknya itu emang.. cengeng. Penakut pula itu.
Andi merengut, hidungnya mendadak berkerut saat tersadar ada bau aneh yang tercium.
Andi mendengus. Baunya berasal dari luar rumah. Jam berdentang menandakan pukul 12 malam. Andi membuka tirai jendela lalu mengintip ke luar.
Di depan rumahnya, asap putih menguar disana. Andi menyipitkan mata. Semakin seksama melihat ke luar. Saat otaknya baru nalar, ia akhirnya ingat.
Sore tadi Papanya menyuruhnya membakar barang usang yang ada di gudang. Ah.. pantas saja. Apinya pasti belum padam. Bau terbakar pasti berasal dari sana.
Andi terkekeh kecil, ia kira bau kemenyan tadi. Tapi ngak mungkin ‘kan ya. Apalagi..
Ia baru ingat, karena udah rusak, boneka Andini juga ia bakar.. tadi.
Tawa Andi mereda. Di jendela terpantul wajahnya yang berubah pucat. Ia menelan ludah.
Jika ia udah bakar tapi kenapa..
Kenapa sekarang.. bayangan bonekanya Andini.. ada di jendela juga?!
….