Gelap gulitanya malam , di sebuah desa sedang menghebohkan sebuah peristiwa yang membuat para warga ketakutan terhadap sebuah rumah kosong yang telah lama tertinggal . Rumah Kosong yang di sebut angker itu , berada di dekat hutan serta tak jauh dari rumah kosong itu ada sebuah danau yang cukup luas dan dalam .
menurut cerita para warga , sering terdengar suara aneh dari rumah itu ketika melewatinya di kala malam atau di kala hari masih terang dan Bahkan suasana di sekitar rumah kosong begitu sangat dingin . seperti saat ini , seorang pemuda dengan memakai topi , celana panjang berwarna putih dan baju tebal biru senada dengan topi yang di kembangkannya . dia di temani salah satu warga desa yang usianya mencapai kepala empat . serta juga ada tiga orang yang merupakan temannya ikut dengannya .
kini mereka berdiri tidak jauh dari Rumah Kosong yang di kenal angker .
" benaran ini rumahnya pak ? " tanya pemuda itu dengan sopan menatap rumah yang tak berpenghuni terlihat gelap di setiap sudutnya
" benar den ... bahkan bapak aja takut jika malam gini lewat sini " keluh bapak itu memberitahu pada pemuda yang berdiri di sampingnya
" Anan ... Lo yakin mau nyelidikin rumah ini ? gue takut cuma lihat doang . Uda kita ke rumah kosong lain aja de ... jangan yang ini ah ! seram ! pake banget lagi " bisik temannya cowok yang berdiri di belakangnya
pemuda yang berbaju biru yang bertanya tadi pada bapak desa . dia hanya tersenyum menanggapinya perkataan temannya yang hanya membisik .
" kita gak punya waktu lagi Rama . lusa kita harus memberikan tentang rumah kosong angker kepada dosen . anggap aja ... ujian . kalo Lo gak sanggup ... biar gue aja sama Jevan yang masuk . Lo pergi aja sama bapak ini ke desa dan bawa juga pacar gue . awas Lo ! kalo sampe cewek gue kenapa-napa ! "
" terserah Lo de . gue pamit by ! hati-hati Lo "
" pak ... ayo ? indah ... ikut gue " ajak Rama pada bapak desa dan menatap wanita yang sejak tadi berdiri di sampingnya dengan wajah berkeringat dingin bisa di katakan jika dia ketakutan
Indah hanya mengangguk dan mengikuti langkah Rama yang berjalan beriringan dengannya . serta tak lupa bapak desa itu berjalan di depan mereka berdua . sedangkan Anan dan Jevan sudah melangkah satu langkah . Tapi , langkah Anan terhenti ketika ada benda yang menepuk pundahnya dan ternyata tangan temannya , Jevan .
" kenapa Jev ? " Anan bertanya menatap wajah temannya dengan dahi yang berkerut
" sepertinya kita ngikutin kata Rama . gue ... merasa sesuatu akan terjadi An " jelas Jevan menatap wajah teman . ketika tadi sudah memperhatikannya setiap kegelapan di sekitar rumah itu dengan mata tajamnya .
Jevan dapat merasakan , sesuatu hal yang tak diinginkan akan terjadi . dia dengan cepat mengatakan dan membenarkan perkataan temannya yang lain , yaitu Rama . mencoba menghentikan Anan yang sangat ingin memasuki rumah kosong yang ada di depannya .
Anan merasa bingung dengan Jevan , temannya . tiba saja menghentikan langkahnya dan langsung membenarkan perkataan temannya tadi , si Rama. padahal Jevan tidak takut dengan apa pun dan kenapa sekarang Mala menghentikannya ? .
" Lo takut Jev ? " tanya Anan serius
" gue bukan takut An ... gue hanya merasakan sesuatu yang akan terjadi dan mungkin saja ... " penjelasan Jevan terpotong
" Lo mau ikut gue ? atau tinggalin aja gue ! " ketus Anan memotong penjelasan temannya
Jevan menghela nafas , dia tak mungkin tega membiarkan temannya sendirian kesulitan .
" ok . gue ikut Lo ! tapi ... kita harus bernafas keluar dari rumah ini "
" bagus . kalo gitu ayok ! "
Jevan pasrah mengikuti langkah temannya yang kini mereka sudah berdiri di depan pintu yang terlihat jorok dan terlihat kokoh .
Anan yang ingin memegang kenop pintu , tiba saja dia sudah merasakan hawa dingin yang mampu membuat buluh perindunya merinding . Bahkan Jevan saja sama halnya , dia juga seakan merasa ada sosok makhluk yang seakan mengawasi .
" Lo yakin An !? " tanya Jevan memastikan dengan suara yang begitu Pelang , seperti membisik
" Yakin " jawab Anan pelan dengan mengagukkan kepalanya dengan kaku
kenop pintu bergerak memutar , mengikuti arahan tapak tangan Anan . pintu perlahan terbuka dan cahaya senter Jevan menyalah . memberikan cahaya ke dalam rumah yang terlihat luas dan lebar . Namun , begitu gelap dan jorok , akibat lama tidak di tempati .
suasana semakin terasa mencekam
Jevan melangkah mundur , saat tak sengaja matanya menangkap bayangan sosok hitam dengan mata merah lewat dengan cepat di depan matanya dengan jarak jauh .
An ...
Anan ... gue ...
Jevan bersuara begitu pelan , membuat Anan tak dapat mendengar suara temannya . akibat angin yang semakin bertiup kencang dan suasana semakin dingin . seakan menusuk tulangnya dan membekukan aliran darahnya , tubuh Anan kaku membeku . sulit untuk dia gerakkan , membuatnya menjadi patung .
Jevan dan Anan hanya berdiri di pembatas pintu dengan tubuh kaku yang membeku . Sampai tiba saja muncul sosok ...
" selamat datang di rumah saya tuan ... hihihihhi " ucap makhluk berkain merah dan hilang dengan sekejap setelah mengucapkan Kalimatnya dengan di sambung cekikikan yang terdengar begitu menyeramkan
" Jevan ... kita lanjutkan . jangan mundur " tegas Anan menatap sahabatnya dengan ekor matanya
Jevan hanya mengangguk kaku , tak mampu bersuara . tenggorokannya terasa tercegat , seperti ada batu yang seakan menganjal di lehernya.
Anan berusaha melangkahkan kakinya dengan senter yang mengarah ke arah pintu yang terbuka kecil . Jevan melakukan hal yang sama dengan melangkah beriringan , dia mengikuti langkah Anan dengan begitu waspada .
langkah dan melangkahkan
masih dapat terasa mencekam ...
merasa ada sesuatu yang mengikuti mereka di belakang . ketika menoleh kebelakang dengan jantung yang semakin memompa dengan cepat .
terlihatlah ...
" Jevan ! awas ! " teriak Anan mendorong tubuh tekannya dan dia dapat merasakan tubuhnya terasa sakit
" Anan ! " pekik Jevan mencoba meraih tangan temannya , yang di tarik di lantai dengan begitu cepat oleh sosok hitam
" Jevan ! pergi ! jangan ke si... " tubuh Anan hilang di balik pintu bersamaan dengan suaranya yang hilang
" Anan !!! " teriak Jevan dan ...
Bruk
tubuhnya tersungkur kelantai , badannya terasa lemas dan perlahan-lahan pandangannya gelap . dia pinsang ...
sementara Anan ...
matanya terpejam dalam kegelapan yang amat dalam . dia tidak bisa bernafas , mata terpejam rapat dan bibir mengatup . dirinya berada dalam dekapan dinginnya air danau
tubuhnya semakin ke dalam
dalam ...
dalam ...
hingga dasar danau
mata tiba terbuka lebar , menyadari dengan cepat dia berada di mana . dia langsung berenang mencoba mencapai permukaan air dengan sekuat tenang , dengan sisa semangat dalam dirinya untuk hidup . sampai matanya dapat melihat cahaya dalam kegelapan malam .
" Anan ! cepat ke sini nak ! " seru seorang wanita di pinggir danau
Anan terkejut mendengar suara yang begitu familiar di pendengarannya . samar - samar dia melihat wajah cantik dengan tersenyum padanya .
" mama " satu nama terucap pelan . dirinya masih mencoba sampai ke pinggir danau
ketika dirinya sampai ...
bukan lagi kecantikan wanita yang di panggilnya mama . tapi , wajah datar tanpa rupa , tidak ada mata , mulut , telinga atau pun rambut . tubuh yang dia lihat yang dia kira mama , ternyata makhluk penghuni danau .
" kamu harus mati ! " kata makhluk dan langsung mengayunkan tangannya yang panjang dengan kuku yang panjang ke arah Anan
seketika Anan
Aaaaaaarrrrrrr !
teriakkannya menggelar dengan rasa sakit pada tubuhnya . mata akhirnya terpejam tanpa mampu terbuka . tubuhnya dapat merasakan aliran kental keluar dari tubuhnya.
langit pun berganti terang ...
suara teriakkan warga memanggil pada pagi hari yang begitu cerah .
JEVAN !!!
ANAN !!!
para lelaki , warga desa berteriak - teriak memanggil nama pemuda kemarin malam di sekitar dan di dalam rumah kosong yang terkenal angker . Namun , betapa terkejutnya mereka melihat ...
" Jevan ! " Rama langsung mendekati tubuh temannya yang terbaring kaku membeku seperti batu . bahkan tubuh temannya terasa dingin , seakan di bekukan oleh ES
" den ... kita harus bawah segera ke luar dari rumah ini den " ujar bapak desa yang memeriksa tubuh Jevan
" tapi ... pak ... teman saya .." perkataan Rama terbata-bata dengan air mata yang meluruh memikirkan keselamatan temannya
" den tenang dan sabar . saya dengan yang lain akan mencari teman den Rama yang satu lagi " tutur bapak itu lagi dengan tenang
Rama pun membawa Jevan bersamaan dengan beberapa bapak warga yang membantunya . sedangkan sebagian warga masih tinggal di rumah kosong mencari tubuh Anan yang entah berada di mana . karena para warga sudah pergi ke pinggir danau yang yang cukup jauh dari rumah kosong . tapi , mereka masih tidak menemukan Anan dan mereka memilih balik ke rumah kosong dan beberapa langkah berjalan ... tiba- tiba ...
Bruk
ada sesuatu yang jatuh dari atas . bapak warga melihat ke atas mereka , dan ternyata beberapa orang warga mereka yang hilang tergantung dengan tali pada pohon seperti janggal daging dengan lumuran darah . mereka langsung dapat mencium bau busuk yang menyengat Indra penciuman .
kemudian mereka melihat tubuh siapa yang jatuh ...
ternyata ...
" Den Anan ! " teriak para bapak warga desa
mereka langsung mendekati tubuh kaku Anan yang ternyata sudah tidak bernyawa dan dapat melihat darah yang masih mengalir dengan tubuh terasa dingin ES .
Innalilahi wainnailaihi ...
bapak warga desa kembali berkumpul , hanya para lelaki saja . mereka menguburkannya tubuh-tubuh yang tidak lagi memiliki jiwa dan hanya raga . walaupun terasa jijik , tapi mereka tetap melakukannya sesuai syariat agama Islam .
sedang Jevan , dia hanya membisu . Rama sudah bertanya berulangkali apa yang terjadi , tapi Jevan tidak merespon apapun . hanya tatapan kosong dan tubuh lemas tak berdaya berbaring di ranjang yang terbuat dari kayu .
dan indah ... pacar Anan . menangis , menangis kepergian pria terkasihnya yang tak dapat untuk dia dekap lagi .
pada akhirnya , tak ada yang berani mendekati atau pun melewati rumah kosong yang begitu sangat ANGKER ! . para warga desa memilih meninggalkan tempat tinggal mereka dengan pindah ke kota atau ke kampung lainnya. sedangkan Jevan , Rama , dan indah kembali ke kota ke lahiran mereka dengan membawa jasad Anan yang akan di kubur di kota .
rumah yang tertinggal , adalah rumah yang di huni oleh makhluk yang menyeramkan . dengan hanya mengetahui adanya suara aneh , tak ada lagi orang bermaksud untuk mendekati . sampai suatu waktu ...
satu tahun kemudian ...
seorang kyai dengan sorban putih dan pakaian serba putih . memasuki rumah kosong yang terkenal angker . dia berdiri dengan santai dan tasbih di jari telunjuk dan ibu jarinya bergerak mundur sambil bibirnya mengucapkan ayat-ayat . serta kedua tangannya terangkat ke atas dengan tapak tangan terbuka .
hingga terdengar suara jeritan penuh kesakitan
Aarrrr !!!
rumah kosong yang di kenal ANGKER seakan ingin runtuh . kyai itu melangkah maju memasuki pintu dengan bibir terus mengucap ayat sampai kemudian dia berhenti melangkah di danau .
terdengar lagi suara ...
aaaarrrrr !
suara teriakkan itu perlahan hilang . langit bumi terlihat semakin cerah . sang kyai tersenyum
" Alhamdulillah ya Robbi " ucapnya dan mengusap wajahnya dengan ke dua tapak tangannya
rumah kosong angker telah runtuh , danau terlihat jernih serta tumbuhan di sekeliling menghijau dan dapat tercium udara yang segar .
Rumah Kosong Angker ...
TAMAT