Niat liburan setelah kelulusan wisuda, Reno yang calon dokter bersama kedua sahabatnya dan tak lupa sang pacar memutuskan gunung menjadi tempat pilihan mereka untuk menghabiskan waktu liburan, sebelum dia menjalani rutinitas sebagai dokter di sebuah RS swasta di Jakarta.
Siapa yang menduga kepergian mereka liburan menjadi malapetaka bagi mereka berempat. Reno dan kedua sahabatnya yang bernama Rafi dan Alan ditamah Rasti yang menjadi kekasih dari Reno terancam menjadi korban dari keangkeran gunung yang akan mereka daki.
Berawal dari hari wisuda Reno serta Rafi dan Alan para calon-calon dokter muda yang siap bertugas beberapa pekan yang akan datang.
Mereka bertiga sedang berkumpul di halaman kampus tempat mereka menimba ilmu, saling bercengkrama dan bercanda ria bersama. Rasti datang dan menyapa kekasihnya serta sahabat-sahabat Reno.
"Hai, Sayang, selamat yah ...." Rasti merangkul kekasihnya dan mencium pipi kiri dan kanan kekasihnya. "Selamat buat kalian juga."
Rasti adalah gadis cantik dan seksi, dia seorang kembang kampus dari jurusan bisnis. Siapa.yang tidak tertarik padanya, bodynya yang bak gitar spanyol membuat mata lelaki yang melihatnya pun akan melotot melihatnya.
"Acieeehh! Asik banget jadi Lo, Ren. Kayaknya kita butuh merayakan kelulusan kita nih, Bro." Rafi menepuk dan merangkul pundak Alan meminta pendapat.
"Yo'i, Bro ... harus banget kita rayakan, kira-kira ke mana asiknya, nih?" tanya Alan melirik kepada kedua sahabatnya.
"Terserah Lo berdua dah mau liburan ke mana, gue sama cewek gue ikut aja. Yakan, Sayang?" tanya Reno pada Rasti.
Rasti tersenyum seraya bergelayut manja di lengan kekar Reno. "Iya, Sayang," jawabnya.
"Gimana kalau kita hiking?" tanya Alan minta pendapat.
"Gunung Salak, gimana? Katanya puncak gunung itu sangat indah." Rafi terlihat bersemangat.
"Gila, Lo! Lo nggak pernah dengar mitosnya, serem tahu!" sahut Alan yang seraya bergidik takut.
"Haha, masih percaya aja Lo sama mitos? Lo tadi bilang itu mitos, ya berarti itu cerita bohong, itu cerita masyarakat yang membesar-besarkan halusinasi mereka sendiri," jelas Rafi yang tidak pernah percaya dengan hal takhayul.
"Serah, Lo aja deh, Fi." Alan akhirnya tak mau berdebat dengan Rafi.
"Oke, jadi fix yah, kita besok hiking berempat, gimana Ren. Lo ajak deh tuh cewe Lo biar asik." Rafi terkekeh.
Reno pun mengangguk. "Oke, siapa takut, besok kita kumpul di rumah gue."
"Oke, siap!" jawab keduanya, meski Alan tampak ragu-ragu dia tidak mau jadi bahan ejekan Rafi, jadi ia juga akan ikut hiking besok bersama kedua sahabatnya.
***
Esok hari, matahari begitu sangat cerah, Alan dan Rafi sudah sampai di rumah Reno. "Udah yuk berangkat!" ajak Reno seraya menggandeng pinggang Rasti di sampingnya.
"Bentar, Lo berdua semalam nginep di sini?" tanya Alan seraya menunjuk ke arah Reno dan Rasti yang tampak tersenyum.
"Halah, Lo kepo aja, Lan. Mereka mah udah biasa, gue tahu. Udah deh buruan tar keburu siang," ajak Rafi seraya menepuk pundak Alan.
"Iya, udah buruan pada naek deh Lo pada, kita berangkat." Reno berjalan menuju mobil jepnya dan membukakan pintu untuk Rasti dan kedua temannya segera naik ke kursi belakang.
Mobil pun melaju dengan cepat, di sepanjang jalan mereka terlihat begitu bahagia, merencanakan berbagai kegiatan setelah nanti jika mereka berhasil sampai di puncak gunung Salak.
Hingga tak lama mobil jep Reno sampai di sebuah desa di bawah kaki gunung tersebut, ia pun memarkirkan mobilnya di salah satu rumah warga. "Punten, Kang. Saya nitip mobil di sini yah, dan ini buat Akang, buat beli rokok." Reno mengepalkan beberapa lembar uang untuk sang pemilik rumah yang ia titipi mobil.
"Den, saya ingatkan, yah. Kalau kalian ada di gunung itu hati-hati, jangan sampai berkata kotor, jumawa atau melakukan perbuatan tidak baik di sana, berbahaya!" peringat laki-laki yang usianya sekitar 35 tahunan itu.
Reno dan kedua temannya saling pandang, tapi kemudian Reno mengangguk. "Siap, Kang. Terima kasih sudah mengingatkan," ucapnya seraya bersalaman dengan warga itu. "Kami permisi, Kang," pamit Reno.
"Ya, ya, hati-hati kalian, yah!" seru warga itu.
Reno dan ketiga orang lainnya pun mulai mendekati ke dalam hutan, mulai menyusuri jalanan setapak yang biasa pendaki lain lewati, sudah ada tanda-tanda petunjuk arah dan juga tanda peringatan.
Reno berada di depan disusul Rasti dan ketiga Rafi tentu yang di paling belakang ialah Alan. "Apaan sih si akang tadi segala meringatin kita kaya gitu, dia tuh cuma mau nakut-nakutin kita aja tahu gak sih!" Rafi terdengar kesal tapi yang lebih kesal lagi Alan yang mendengar ocehan Rafi.
"Eh, Raf. Lo gak boleh gitu, siapa tahu niat dia itu baik," timpal Alan.
"Baik apaan, bikin parno iya!" sahut Rafi kesal.
"Eh, woy, Lo pada bisa diam gak? Ini kita ke mana lagi? Tidak ada petunjuk jalan lagi di depan," kesal Reno yang merasa bingung.
"Eh, seriusan? Ya kali kita nyasar?" sahut Alan yang mulai merinding.
Mereka baru sadar kalau dari tadi langkah mereka seperti berputar-putar dan tidak ada titik temunya. "Sayang, kok aku takut, yah." Rasti memeluk lengan kekasihnya.
"Tenang, Ras. Kita berusaha cari jalan keluar," jawab Reno menenangkan.
SSSSHHHTTT!
Bayangan hitam berkelebat membuat semua orang terkejut. "Eh, buset apaan tuh, Bro!" Alan yang ada paling belakang langsung merangkul Rafi yang ada di depannya.
"Eh, wey, Lan. Lepas, nemplok-nemplok sama gue, bikin geli aja, Lo!" kesal Rafi membuat Reno dan Rasti terkekeh.
"Ya elah, Raf ... gue terkejut tadi, masa gak boleh pegang Elo," rajuk Alan.
"Ih, hih! Ogah!" sahut Rafi.
"Udah, udah ayo kita jalan lagi, kayanya itu jalannya." Reno kembali berjalan maju ke depan dan menemukan jalan setapak yang tidak ada petunjuk rutenya.
"Nah, ini ada jalan, tapi di sini tidak ada petunjuk jalannya, apa ini jalan lain menuju puncak?" tanya Reno.
"Mungkin, kita terus aja ke atas, Ren," timpal Rafi yakin.
"Oke, hati-hati, Sayang!" peringat Reno pada kekasihnya.
Reno tidak pernah melepas tangan kekasihnya hingga cuaca mulai mendung dan suasana di dalam hutan itu mulai menggelap.
"Gawat, sepertinya mau turun hujan, kita harus cari tempat untuk buat tenda," ucap Reno.
"Iya, ayo cepat, Ren. Jangan sampai kita kehujanan!" timpal Rafi.
Keempat orang itu pun terus berjalan mencari tempat bagus untuk mendirikan tenda, tapi sejak tadi tidak juga menemukan tempat yang tepat, hingga Reno melihat cahaya di depan.
"Eh, Lo pada lihat, gak? Itu ada kaya cahaya lampu?" tunjuk Reno ke depan yang memang terlihat mulai gelap dan turun kabut, suhu dingin juga mulai terasa menusuk tulang mereka.
"Bener, Ren. Mungkin di depan juga ada pendaki lain, ayo buruan kita gabung," timpal Alan.
Semua orang mengangguk, Reno dengan hati-hati terus memandu jalan agar orang yang di belakangnya tidak salah langkah.
Hingga keempatnya sampai di tempat yang datar, ternyata bukanlah cahaya lampu dari pendaki lain, melainkan itu adalah cahaya lampu minyak yang ada di rumah-rumah warga.
"Ada desa di sini?" tanya Reno merasa heran saat melihat rumah-rumah bambu yang tidak hanya satu, tapi sekitar ada belasan rumah di situ.
Ketiga orang lainnya pun merasa bingung dengan kebenaran penglihatan mereka saat ini, di tengah kebingungan mereka dikejutkan dengan suara seseorang dari arah belakang. "Kalian mau beristirahat?"
"Wey!" kejut Rafi dan Alan yang langsung loncat berbalik badan dan melihat sosok laki-laki berbaju batik dengan kopeah di kepala dan tak lupa sarung diikat di pinggangnya.
Reno dan Rasti pun ikut berbalik melihat siapa orangnya yang mengagetkan mereka. "Kalian ini pendaki? Tersesat sampai sini?" tanya bapak paruh baya itu.
"Iya, tapi ... apa benar di sini ini desa?" tanya Reno ragu, seraya menunjuk bangunan-bangunan sederhana di belakang mereka.
"Ya seperti yang kalian lihat, kami penduduk yang sengaja pindah dan tinggal di sini untuk mencari ketenangan jiwa," sahut si bapak tua itu.
Mendengar kalimat laki-laki tua itu, membuat Reno dan yang lain saling pandang. "Tapi, kalian manusia, kan?" tanya Alan dengan polosnya.
"Haha, ya tentu saja kami semua manusia, memang kalian kira aku ini yang ada di depan kalian ini demit?" tanya si bapak seraya tertawa.
Alan menggaruk tengkuknya seraya terkekeh. "Ya kali, abis si bapak tiba-tiba muncul, bikin kaget."
"Haha, dasar kalian ini." Si bapak menggeleng. "Ini, loh. Saya dari cari kayu bakar buat masaknya, istri."
Reno dan yang lainnya pun melihat kayu bakar yang ada di bawah kaki bapak tua itu dan mengangguk serempak. "Hari sudah mau gelap, sudah gerimis juga, apa kalian mau istirahat, kebetulan ada rumah yang kosong di sini, memang khusus untuk para pendaki yang tersesat. Warga sini suka mengantarkan mereka kembali turun besok harinya," tawar si bapak tua.
"Gimana nih, Gais? Hari emang mau gelap, udah turun nih gerimis," ucap Reno.
"Istirahat aja deh, Sayang. Aku udah kedinginan banget," sahut Rasti seraya mengeratkan jaketnya yang membalut tubuh sintalnya.
"Gimana, Raf, Lan?" tanya Reno meminta persetujuan.
"Ya, ya udah deh, kita istrirahat, percuma juga, kan? Meski kita jalan terus juga yang ada ngebahayain," sahut Rafi.
"Gimana, kita pergi? Hujannya mulai besar," ajak si bapak.
"Ya udah ayo, Pak!" Reno ingin segera berteduh karena hujan mulai turun deras.
Mereka semua berlarian menuju satu rumah bambu yang katanya kosong. "Silahkan masuklah, ada dua kamar. Kalian bisa istirahat di sana," ucap si bapak.
"Oya, Pak terima kasih. Bapak namanya siapa, dari tadi kita bicara tapi kita tidak saling kenalan," ucap Reno.
"Saya Wayan," jawabnya.
"Oh, kenalkan saya, Reno. Dan ini, Rafi, Alan dan ini Rasti," ucap Reno memperkenalkan semuanya.
"Ya sudah, bapak pulang dulu, kasihan istri saya sendirian di rumah. Saya pamit dulu, permisi."
"Ya, Pak. Terima kasih," sahut Reno dan Wayan pun tampak berlari menembus hujan yang lebat.
Reno menutup pintu kayu rumah itu, dan menaruh barangnya di ruang tamu. "Ya udah sana kalian masuk kamar, biar aku di sini aja," titah Reno yang langsung rebahan di atas dipan santai.
Rasti tampak masuk ke dalam kamar dan kedua temannya masuk ke dalam kamar lainnya.
👻👻👻
Hujan yang deras dan malam semakin larut, hawa dingin begitu menusuk tulang. Reno masih terjaga seraya memainkan game offline di ponselnya yang kini tak ada sinyalnya.
Tak lama terdengar suara pintu terbuka dan Rasti tampak berjalan menghampiri Reno yang tengah bersandar di kursi santai. Melihat Rasti keluar, Reno pun duduk tegak.
"Kamu belum tidur, Ras. Ada apa?" tanya Reno.
Rasti dengan nakalnya duduk di atas pangkuan Reno. "Di sini dingin, Ren. Aku tidak bisa tidur," ucapnya seraya jari-jari lentiknya menggoda wajah dan rahang kekasihnya.
Keduanya berciuman panas, tanpa mereka sadari Rafi mengintip dari celah pintu bilik yang berlubang. Sementara Alan sudah tertidur pulas dibuai mimpi.
Rafi menelan salivanya, dan merasakan sesuatu menegang di bawah sana. "Sial!" umpatnya.
Rasti dan Reno hanya berciuman, dan keduanya usai begitu saja. Rasti kembali ke kamarnya, dan terlihat Reno berjalan ke belakang.
Rafi menoleh ke arah Alan yang sudah tak sadarkan diri, Rafi pun keluar kamar dan berjalan mengendap-endap seperti maling, ia menoleh ke belakang takut Reno sudah kembali dari kamar kecil yang ada di rumah itu.
Dengan segera Rafi menyelinap masuk ke dalam kamar Rasti dan menutup pintunya dengan cepat. "Rafi, kamu sedang apa di sini?"
"Sshhh!" Rafi membungkam mulut Rasti agar tidak berisik. "Ras, aku tahu kamu butuh kehangatan, tapi Reno lagi males, kan? Gue butuh Elo, Ras. Please!" mohon Rafi agar Rasti jangan marah padanya dan mengadu pada sahabatnya.
Rasti membuka bekapan tangan Rafi dari mulutnya dengan paksa. "Ya elah, Raf. Gitu aja ribet, Lo mau? Ya udah, ayo!" Rasti tersenyum.
Rafi melongo, tak menyangka Rasti mau dan tidak masalah jika dia dan dirinya melakukan itu di belakang Reno. Dengan senyum nakal Rafi pun mulai melepas dan menanggalkan seluruh pakaiannya.
Mereka bisik-bisik dan menyuruh Rafi untuk mengintip Reno di ruang tamu, Rafi mengintip ternyata Reno belum kembali dari kamar kecil.
"Gimana?" lirih Rasti.
"Aman," jawab Rafi lirih.
Keduanya pun melakukan perbuatan terlarang itu di tempat yang tidak seharusnya, dan di belakang Reno yang kini masih di kamar kecil.
Reno pun selesai membuang hajatnya, ia berencana akan kembali ke ruang tamu. Tapi sesuatu menyita perhatiannya.
"Siapa yang hujan-hujanan malam-malam begini?" gumam Reno yang terus memperhatikan sosok wanita bergaun putih yang ada di tengah hujan itu.
"Itu, seperti Rasti. Sedang apa dia hujan-hujanan, bukannya tadi dia bilang kedinginan?" gumamnya tak habis pikir.
Reno pun berlari menerobos hujan dan menghampiri sosok yang mirip Rasti. Pakaian yang tipis membuat lekukan tubuh wanita mirip Rasti itu begitu jelas terlihat, membuat Reno menjadi semakin heran. Apa Rasti bawa gaun tidur ke gunung dan memakainya di sini? Di tengah hujan pula.
"Rasti, kamu sedang apa berpakaian seperti ini di sini? Kenapa juga kamu malah hujan-hujanan? Ayo, masuk ke rumah!" ajak Reno seraya menarik tangan sosok Rasti.
Tapi tubuh Rasti sama sekali tak bergerak, Reno menoleh dan sosok mirip Rasti itu tersenyum samar tertutup rintik hujan. "Ayo, kamu ikut aku!" ajak sosok itu.
Dan tercium wangi bunga sedap malam yang seakan menghipnotis Reno, hingga akhirnya laki-laki itu menurut dan pergi bersama sosok wanita itu menembus kegelapan malam.
👻👻👻
Esok hari, matahari menyoroti wajah Alan yang masih tertidur pulas. Di dalam hati kenapa di dalam rumah matahari bisa menembus genting dan membuat dirinya merasa silau.
Perlahan ia pun membuka matanya dan terkejut saat dia bangun bukanlah berada di dalam rumah, tapi ia terkapar di atas tanah. "Wah, i-ini gue kok di sini? Ke-ke mana yang lain?"
Alan celingukan mencari teman-temannya yang raib, yang tersisa hanya tas-tas ketiganya saja yang bergeletakan di tanah.
"I-ini ada apa sebenarnya? Sepertinya ada yang tidak beres." Alan berdiri dan menggendong ranselnya, kemudian mulai mencari teman-temannya.
Alan berjalan sambil memanggil ketiga temannya. "Reno, Rafi, Rasti! Lo pada ke mana!"
Tidak ada sahutan yang ada hanya suara hewan hutan yang saling berloncatan di dahan dan di semak-semak. "Ternyata ini adalah puncak gunungnya? Terus yang semalam itu desa apa?" gumamnya seraya melangkah untuk kembali mencari jalan.
DUG!
Kaki Alan menyandung sesuatu dan pada saat Alan melihat apa yang ia sandung. "Aaa!" Alan berteriak seraya mundur dan terduduk di tanah.
Kakinya mendadak lemas saat melihat mayat Rafi yang tertutup daun kering, dan terlihat tetesan cairan merah darah yang berasal dari atas. Perlahan Alan mendungak ke atas dan mulutnya menganga dengan lebar saat melihat sosok mayat Rasti tergantung di pohon dengan kondisi leher terjerat akar pohon.
"AAAA! AAAA! AAAA!" seketika itu Alan bangkit dan berlari mencari jalan keluar, ia tak peduli pada apapun lagi, yang ia tahu ia harus lari dan lari hingga ia selamat sendirian dan sampai di rumah warga.
👻👻👻
Alan masih shock, dia masih beristirahat di salah satu rumah warga, dia juga sudah melaporkan bahwa teman-temannya tewas di atas puncak gunung itu.
Alan mendengar kabar dari timsar yang mengevakuasi mayat Rafi dan Rasti, mereka tidak ada satu pun menemukan keberadaan Reno.
Hanya tasnya saja yang timsar bawa, sementara Reno tidak ditemukan, entah dia mati atau ada di mana.
Hai, Readers
Mohon dukungannya, yah😘