Namaku Finka. Aku tinggal di desa bersama ayah dan ibu, juga nenekku. Hm.. sebenarnya kami hanya berlibur di sini, tidak sepenuhnya menetap
Di desa ini, aku jarang menginjakkan kaki ku keluar rumah.
Entah karena itu dilarang oleh nenek, atau mungkin tidak ada keinginan sedikit pun untuk berjalan-jalan.
Di desa ini, penduduknya bisa di hitung jari. Aktivitas penduduk juga jarang terjadi.
Kadang, lewat jendela aku hanya bisa melihat beberapa warga dengan gerobak yang berisi entah itu padi atau sayuran.
Terkadang juga, aku tidak melihat siapapun.
Kami telah berulang kali membujuk nenek untuk pindah rumah saja kekota. Tapi, berulang kali juga nenek menolaknya.
Aku berpikir, apa bagusnya tinggal di desa seperti ini?
Ah, tapi ada satu hal yang membuatku ingin berlibur kemari. Yakni, sebuah rumah yang berada tepat di belakang rumah nenek ini.
Rumah itu kosong, beberapa bagian nya juga telah rapuh dan hancur. Namun, desain zaman dulu nya itu sama sekali tidak pudar.
Semua bagiannya terbuat dari kayu. Sangat kuno, bagiku.
Sejak kecil, nenek selalu bercerita mengenai rumah itu. Konon, dulunya rumah itu di huni oleh sepasang suami istri dengan kedua anaknya yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.
Desa ini pun menjadi begitu ramai karena kedatangan mereka--tidak seperti sekarang.
Keluarga harmonis, yang membawa kebahagiaan bagi semua orang. Warga desa menamainya sebagai 'Pembawa Kebahagiaan'.
Terdengar menggelikan. Kebahagiaan itu di rasakan oleh mereka yang pandai bersyukur. Semua orang mempunyai kebahagiaan, bukan? tapi, semua itu datang di waktu yang sudah di tentukan. Jadi, bersabar.
Nenek berkata, keluarga itu tiba-tiba saja terbunuh. Bahkan, mereka di bunuh dengan begitu sadis. Kedua anaknya pun tidak tertolong.
Ini.. seperti pembunuhan berantai?
Kasihan sekali.
Sore ini, nenek mengajak ku keluar, ke area belakang rumah. Ayah dan Ibu sedang berada di dalam mengobrol yang tidak aku mengerti.
Nenek membuka pintu belakang, yang sontak saja membuatku ngilu. Sepertinya, sudah cukup lama nenek tidak membukanya.
"Finka, kamu penasaran bukan dengan rumah yang selalu di ceritakan oleh nenek?" Nenek membuka pembicaraan dengan kedua tangan saling bertautan di belakang tubuh, ketika kami telah berada tepat di depan rumah si 'Pembawa Kebahagiaan'.
"Benar, aku penasaran." jawabku seadanya.
"Kalau begitu, mau menemani nenek berkeliling?" ajak Nenek. Aku mengangguk saja, toh bukankah itu merupakan salah satu alasan ku bersedia berlibur kemari?
Kami berdua memasuki rumah itu dengan raut yang berbeda. Nenek dengan wajah tenang dan santainya, dan aku dengan wajah ngilu beserta piasnya.
Ketahuilah bahwa, ketika aku menginjak teras rumah ini, lantai yang juga terbuat dari kayu itu seperti ingin roboh.
Hal itu membuatku takut jika sewaktu-waktu kayu nya tidak bisa menahan beban tubuhku dan akhirnya roboh dan ya.. tahulah.
Desainnya lumayan. Meski, beberapa lukisan sudah tidak terpajang dengan sempurna di dinding.
"Hati-hati. Biasanya beberapa kayu sedikit runtuh." ujar nenek memperingati. Aku mengangguk.
"Kenapa rumah ini tidak di huni lagi, nek?" tanya ku.
"Tentu saja karena kami semua tidak mempunyai hak." balas Nenek langsung. Aku mengernyit bingung.
Namun, aku malas untuk mencari tahu lagi. Jadi, aku diam saja sembari memandang sekeliling.
Sekitar 50 menit-an, kami menghentikan acara berkeliling kami. Membosankan.
Ternyata rumah itu biasa-biasa saja. Seperti rumah pada umumnya.
Saat ini, aku berbaring di kasur bersama nenek. Kami memang selalu tidur bersama.
"Nenek kenapa melarang Finka untuk sekedar berjalan keluar rumah?" Aku menatap nenek penasaran.
"Kamu tahu bukan bagaimana jadinya jika seekor serangga hinggap tepat di depan cicak?"
"Em.. serangga itu akan memakannya?" ucap ku sedikit ragu, tetapi Nenek membalas dengan anggukan. Apa itu benar?
Kenapa.. ini terasa aneh.
"Sudahlah, lebih baik kita tidur saja. Malam telah larut." Nenek mematikan lampu.
Aku masih terjaga. Mata ku menatap sekeliling yang gelap gulita. Entah aku sadar atau tidak, sebuah bayangan manusia berjumlah empat tiba-tiba saja muncul di hadapan ku.
Aku tersentak kaget. Bayangan itu menakutkan, sungguh.
"S-siapa?!" ucap ku panik. Aku berusaha meraih nenek yang jaraknya bahkan hanya satu jengkal di dekatku, namun aku hanya merasakan udara kosong. Tidak ada nenek.
Tubuh ku bergetar. "Pergi!" teriakku.
"Kalian yang harus pergi." salah satu bayangan itu membuka suara. Suara dingin bak hembusan angin.
"Desa ini terkutuk. Kalian harus pergi secepatnya!"
"Selagi kesempatan tersisa, larilah menjauh, dan pergilah ke tempat aman. Mereka semua.. mengincar kalian sekarang."
Seketika aku kembali ke dunia nyata, dimana nenek yang tertidur pulas di sebelahku.
Keringat bercucuran dari kening ku. Apa itu tadi? apa itu mimpi? atau.. itu sebuah pesan? Siapa mereka? Apa.. mereka si 'Pembawa Kebahagiaan'?
Tanpa menimbulkan suara, aku beranjak dari tempat tidur ku dengan sedikit kesusahan akibat suasana kamar yang begitu gelap.
Akhirnya, aku berhasil mencapai pintu belakang. Dengan sia-sia aku berusaha membukanya tanpa menimbulkan suara sedikitpun, namun nyatanya pintu itu tetap menimbulkan suara.
Aku dengan ragu melangkah memasuki rumah itu. Takut? ya, tentu saja, tapi aku harus mencari petunjuk mengenai apa yang baru saja ku alami.
Ketika memasuki rumah itu, pintu tiba-tiba saja tertutup dengan sendirinya. Awalnya aku merasa panik dan ketakutan, tetapi aku berusaha tenang.
Saat ingin melangkah kembali, sebuah kejadian tergambar jelas di pikiran ku, seolah ini sebuah rekaman.
Dimana empat orang di bunuh oleh berbondong-bondong orang. Dan yang membuat ku begitu terkejut adalah, tempat di bunuhnya empat orang itu adalah.. rumah yang sekarang ku pijaki ini.
Aku kembali ke dunia nyata dengan raut yang benar-benar syok. Aku menelan saliva susah payah. Dengan tubuh yang keseluruhannya bergetar, aku melangkah keluar rumah dengan cepat.
Aku menuju kamar ayah dan ibu. langsung memasuki nya begitu saja dan membangunkan mereka.
"AYAH IBU, BANGUN!! AYO KITA HARUS SEGERA PERGI DARI DESA INI!!" ucapku kelewat panik.
Ayah dan ibu bersamaan mengucek kedua matanya.
"Finka, ada apa malam-malam berteriak seperti itu? kenapa kamu belum tidur, hm?" Suara lembut ibunya itu bahkan tidak bisa membuatnya tenang.
"I-ibu, ayah, Finka mau pulang.. hiks.. ayo, kita pergi sekarang juga.." aku menangis memeluk lengan ibu dengan tubuh bergetar.
Kedua orang tuaku saling memandang satu sama lain, tidak mengerti.
Lalu, ayahku menepuk pelan kepalaku, seraya berkata. "Putri ayah mimpi buruk, ya? Bukannya kita masih memiliki 3 hari lagi untuk kembali ke kota?"
Aku menggeleng keras dengan air mata yang bercucuran. "Tidak mau! Finka mau pulang sekarang!"
"Finka, kenapa sayang?" raut khawatir terpampang jelas di wajah ibu ku.
"I-ibu, k-keluarga itu d-dibunuh.." aku langsung memeluknya erat tak kuasa menceritakan kejadian sebenarnya. Sungguh, apa yang ku lihat itu benar-benar mengerikan!
"Keluarga? Siapa, hm?" ibu mengelus kepala menenangkan ku.
Aku menarik baju mereka. "Ayo kita pergi sekarang!!" paksa ku.
"Oke, kalau begitu kita beres-beres du-"
"TIDAK! gak ada yang perlu di beresin. Kita harus pergi sekarang."
Walau sedikit bingung, kedua orang tua ku akhirnya mengangguk setuju. Kami berdua membuka pintu rumah nenek.
Masih dengan tubuh bergetar, aku bertanya-tanya.
Kenapa warga desa membawa obor juga pisau? Nenek juga, kenapa di tangannya ada kapak mengerikan?
*****
T.A.M.A.T
Cerpen > Haunted House
Selesai > Kam, 17 juni 2021
*****
Terima kasih telah membaca!
Maaf bila terdapat kesalahan kata juga penulisan.
Semoga terhibur!
Jangan lupa mampir di Novel saya-!