Percayakah anda hantu penunggu rumah? Atau anda sama sekali tidak percaya? Anda harus percaya pada cerita yang akan kuceritakan kepada anda. Kejadian ini benar-benar kualami sewaktu berkemah di sebuah hutan.
Siang harinya aku dan temanku sedang berjalan-jalan. Kami ingin mengelilingi hutan tanpa terjebak. Aku tidak mau mengkhawatirkan orang lain. Terutama orang tuaku sendiri. Mereka akan khawatir karena aku perempuan sendiri.
"Na, aku mau kesitu!!"kata temanku Silla. Kuakui dia cewek yang suka penasaran dengan hal-hal baru. Namun kuturuti dan entah kenapa aku mau.
Aku melihat sebuah rumah yang tampak menyeramkan dan suram. Walaupun aku ceweknya penakut, aku harus melawan rasa takutku. "Aku ingin tahu apakah ada orang disini?" Yaya, pertanyaan itu benar-benar bodoh.
"Ayo cepetan!!". Tanganku diseretnya dan aku mengetuk pintu rumah tersebut dengan gugup.
"Halo, apa ada seseorang disini?" Sebenarnya, kita berdua tersesat dan tidak tahu arah jalan pulang.
Kubuka mataku dan melihat seorang wanita muda dengan tubuh penuh darah. Sepertinya, wanita itu adalah salah satu orang yang menjadi korban pembunuhan dan dibuang di rumah ini.
Aku langsung ketakutan ketika wajahnya menghadap kearah kami. Terlihat pipi yang sobek dan mengeluarkan darah.
"Katakan, kenapa kalian berani kesini? Apa kalian mau mati mengenaskan sepertiku? Apa kalian tahu rumah ini begitu suram dan menyeramkan?"kata wanita itu menjelaskan.
Dengan gugup dan takut, kujawab pertanyaannya. "A-aku tidak tahu"
Wanita itu tidak puas mendengar jawabanku. Dia lalu mencekik leherku dan temanku. Nafasnya hampir saja habis.
"Ahh.."
"Haha, memang perempuan seperti ini patutnya mati saja. "
Belum sempat ia menusukku dengan pisau, kulihat seorang pria tua yang lebih menyeramkan. Ia menoleh dan langsung menundukkan kepalanya. Aku bingung dan bertanya-tanya dalam hati. Kenapa dia seperti itu?
"Dasar tidak berguna!!"pria itu memberikan cambukan di tangan wanita itu. "Kau memang anak yang tidak berguna saja!!"katanya dengan nada kesal.
"Ayah, kenapa kau menyiksaku? "Kata wanita yang terdengar terisak. "Tidakkah cukup kau membunuhku? "
Plass
Satu cambukan lagi membuatku ikut merasakan sakit yang luar biasa. Bulu kudukku bahkan berdiri.
"Tidak. Aku tidak pernah menginginkanmu!!"kata pria itu dengan nada yang meninggi.
Aku merasa kasihan dengan wanita itu yang telah rela berkorban untuk pria itu. Tapi apa yang didapatkannya? Tidak ada, malahan rasa malu dan harga diri turun. "Hey, anda tidak boleh bersikap kepadanya seperti itu. Anda seharusnya menghargai usahanya walaupun tidak seberapa. "kataku dengan berani.
Ikatan tali terlepas dari tangan temanku. Ia perlahan membebaskan ikatan tali pada tanganku. Ia juga berhati-hati dan waspada. Butuh waktu beberapa detik saja melepaskan ikatannya.
"Kau tidak perlu ikut campur urusanku!!"kata wanita itu dengan nada membentak.
"Apakah anda ingin menderita?"bukan, itu bukan aku. Tapi temanku yang melawan rasa takutnya. "Anda tidak boleh seenaknya bersikap seperti itu. Apakah anda tidak memiliki perasaan? Inikah tugas seorang ayah? Cih, anda tidak pantas untuk menjadi ayahnya"
"Gadis kecil, kau tidak usah ikut campur!!"katanya membuatku semakin tidak terima.
"Anda seharusnya memperlakukan anak anda dengan baik. Bukan berbuat seenaknya saja"bentakku tanpa rasa takut.
"Kenapa kalian tidak takut?"tanya wanita tersebut.
"Huh, aku tidak pernah takut pada hantu seperti ini. Aku lebih takut pada Tuhan karena dia yang melindungiku."
Wanita itu tampak terharu dengan ucapan ku. Dia kemudian menarik tubuh pria tersebut dengan kuat. Lalu memojokkan di dinding. "Iya dia benar ayah. Kau jangan menyiksaku lagi. Aku akan membuatmu membayarnya."ancamnya.
Wanita itu menusukkan pisau sampai tubuh ayahnya mengelus darah yang lumayan banyak. Sepertinya itu cukup adil baginya. "Kau rasakan pembalasanku!!"
"Hey, cukup itu saja!!"kataku. Aku merasa ngeri melihat kondisi ayah wanita itu. Wanita itu pun berhenti dan berjalan kearah kami. Aku kemudian berdiri dengan tegap. "Apakah itu cukup adil?"
Wanita itu tersenyum simpul dan dia berkata. "Kurasa cukup. Apakah kau sedang tersesat di hutan? " Tanyanya membuat alisku naik.
"Anda tidak berbohong kan?"tanyaku khawatir tersesat.
"Tenang saja. Aku bukan orang yang seperti itu. Dimana tempat perkemahan mu?"tanyanya dan langsung kujawab.
Pengalaman itu sungguh mengerikan namun menyenangkan. Aku percaya bahwa kematian hanya ada di tangan Tuhan. Dan aku lebih takut pada Tuhan daripada manusia atau makhluk lain.