(Sebelumnya, Miku mau ngasih tau nih. Yang mau gabung ngobrol ke GC Miku, pencet aja profilku. Disana ada GC, masuk aja ehe :> Butuh banyak member). Arigatou ~
----
Pagi hari yang biasa di SMA Kyoto, sinar mentari memancar terang menerangi bangunan sekolah itu. Karena bel masuk jam pelajaran belum berbunyi, maka murid-murid pun masih bermain dan bercanda. Termasuk Ai Nozomi, salah satu siswi dari kelas 1-F. Ia terlihat sedang duduk di bangkunya sembari mengobrol bersama seseorang.
"Heee ... ke-kemah?" teriak Ai tampak terkejut. Wajahnya menunjukkan ekspresi seperti manusia yang sedang melihat hantu.
"Iya. Kita akan berkemah di hutan yang katanya angker itu. Kenapa kau terkejut seperti itu Ai?" tanya seorang gadis yang ada di sampingnya. Rin namanya, sahabat yang sudah menganggap Ai sebagai saudarinya sendiri.
"I-itu ... apa kita hanya kemah berdua saja? Di hutan yang gelap? Kita hanya berdua saja? Sungguh?"
"Iya! Kita akan menjadi anak SMA pertama yang bisa bertahan di hutan angker ini. Kau tidak usah takut, aku akan menjagamu. Percaya padaku!" ucapnya berupaya untuk meyakinkan Ai agar dia mau ikut.
Selepas mendengar ucapan sahabatnya tadi, Ai pun terdiam sejenak. Di satu sisi dia takut, tapi di sisi lain dia tidak mau membuat sahabatnya kecewa. "Emm ...." Ai menatap wajah Rin sambil memikirkan keputusannya.
"Hah ...." Gadis itu menghela napas, "baiklah, aku ikut." Pada akhirnya, Ai memutuskan untuk ikut berkemah dengan Rin, meskipun rasa takut dan ragu menyelimuti dirinya.
"Nah, itu baru sahabatku! Yoss, kita akan pergi nanti malam. Siapkan barang-barangmu ya!" ujar Rin berantusias.
"He'em, i-iya."
=•=•=
Singkat cerita, malam hari telah tiba. Rin datang ke rumah Ai dengan mengendarai mobilnya. Tentu saja, dia ingin menjemput sahabatnya.
Tok! Tok! Tok!
"Ai!" teriak Rin memanggil Ai sembari mengetuk pintu.
"A-" Ketika ingim memanggil yang kedua kalinya, pintu rumah Ai malah terbuka. Benar, yang membuka pintu tidak lain dan tidak bukan adalah Ai sendiri.
"Eh Rin kau sudah datang? Baiklah ayo! ... eghhh, tasnya sangat berat ...."
"Ee ... kenapa kau membawa tas sebesar itu? Kita hanya berkemah satu malam saja. Lagipula, seluruh pelaratannya sudah ada di mobilku." Rin bingung tatkala melihat sahabatnya yang sedang membawa tas besar.
"Yaa, tidak ada yang tahu kan. Kalau tiba-tiba kita kehabisan makanan bagaimana?" ucap Ai.
"Heeh, ya sudahlah. Ayo kubantu!" Rin mendekat dan mulai membantu mengangkat tas yang kira-kira punya berat setara dengan lima batu ukuran sedang.
Waktu terus berlalu, akan tetapi perjalanan Rin dan Ai tak kunjung sampai. Karena merasa tidak enak, Ai pun bertanya kepada Rin, "Rin, kenapa kita tidak sampai-sampai? Bukankah kita sudah melakukan perjalanan selama satu jam lebih?"
"Eh, hahaha ... aku lupa memberi tahumu ya." Bukannya menjawab, Rin malah tertawa terpaksa.
"Hm?"
"Yaa, lokasi hutan itu terletak di Osaka. Jadi yaa, mungkin akan memakan waktu yang sedikit lama. Tapi, tenang saja. Sebentar lagi kita sampai kok."
"O-ok ...." Untuk saat ini, Ai hanya bisa pasrah dan percaya kepada Rin.
Perjalanan masih berlanjut, hawa dingin malam dan pemandangan kendaraan lalu lalang jelas membuat dia mengantuk. Perlahan, matanya mulai kabur, sedikit demi sedikit dan lalu terlelap.
=•=•=
"Psst, Ai bangun. Kita punya masalah di sini. Psst hey ...." Seseorang menggoyangkan bahu Ai sambil berusaha membangunkannya dengan berbisik.
"Eemm ... hmm?" Setelah cukup lama tidur, Ai pun terbangun karena Rin membangunkannya. Walaupun begitu, kesadarannya masih belum utuh sepenuhnya.
"Kita punya sedikit masalah di sini. Mobilku berhenti secara tiba-tiba dan ternyata bannya bocor. Hah ... mana kita tersesat di tengah-tengah hutan lagi. Sinyal di hpku juga hilang. Hmp!"
"Heeeeee? Ma-maksudmu kita tersesat?"
"Bi-bisa dibilang begitu kurasa hahaha ... haha ... ha ... eee ...." ungkap Rin hati-hati agar tidak membuat sahabatnya yang penakut ini menjadi panik.
Namun, sepertinya ... dia tidak berhasil. "Heeeee ... Rin, bagaimana ini? Hari sudah larut malam. Dan kita malah tersesat di hutan seperti ini. Benar kan apa yang aku katakan? Aku sudah menduga ini akan terjadi. Haaaa, aku takut. Rin, ayo pergi dari sini huweeee ...." Ai merengek ketakutan, panik, dan mengajak Rin untuk segera pergi dari tempat gelap nan mencekam ini.
"Ee-eetto ... tapi Ai, ini sudah malam. Kita akan kesulitan melihat di dalam gelap. Jadi, ayo kita menginap satu malam di sini saja." Tak mau membuat Ai semakin panik, gadis dengan rambut hitam yang selalu dikucir itu pun memberi saran. Ia mengajak Ai untuk tidur di dalam mobil malam ini.
Ai yang awalnya menangis dan bingung akhirnya berhenti. Ia berbalik kemudian menatap Rin. "Maksudmu hiks ... kita akan tidur di mobil begitu ... hiks?"
Rin menganggukkan kepala. "Ya, mau bagaimana lagi."
"Hmmm ... hiks tidak mau. Tidurku tidak akan nyaman kalau tidur di mobil. Hiks ... terlalu sempit hiks ...."
"Eh Ai Ai, jangan menangis begitu ... hahh ... ya sudah. Ayo kita berkeliling. Siapa tahu ada rumah seseorang di sini. Lagipula hutan ini tidak terlalu luas bukan. Ayo!" Sambil menggandeng tangan Ai, Rin hendak berjalan untuk mencari rumah seseorang. Tapi, lagi-lagi Ai mempersulitnya.
"Tu-tunggu. Kalau ada hewan buas bagaimana? A-aku takut Rin ...," ucapnya menunjukkan betapa takutnya dia saat ini. Tangannya gemetar ketakutan.
"Ggrhhh ...." Namun, kali ini Rin tampak berubah ekspresi. "Kau ini! Tidur di mobil, tidak mau, sekarang ku ajak mencari rumah orang lain, kau juga tidak mau. Sebenarnya maumu itu apa sih Ai? Kau tahu, bukan kau saja yang takut saat ini! Aku juga. Tapi aku berusaha untuk tetap membuatmu tenang. Jadi setidaknya jangan menyusahkanku!" Karena sudah merasa tidak tahan dengan perilaku Ai yang selalu menyulitkan pilihan Rin, ia pun lepas kendali. Memarahi sahabat terbaiknya di tengah malam.
Ai seketika membisu dan mematung. Kalimat seperti itu jelas langsung masuk ke dalam hatinya, apalagi yang mengucapkannya adalah sahabatnya sendiri.
"Hee, a-ano ... a-aku tidak bermaksud untuk membentakmu, kau tahu ... aku hanya ... maafkan aku. Ai, maafkan aku, iya aku mengaku aku yang salah. Kalau saja aku tidak mengajakmu, mungkin ini semua tidak terjadi. Ai, maafkan aku ya?" Merasa bersalah, Rin segera meminta maaf kepada Ai.
Ai pun tersenyum, "Aku juga minta maaf karena telah menyusahkanmu. Kau tahu kan, aku itu penakut. Jadi ... berada di situasi seperti ini membuatku merinding dan ingin segera pulang. Pokoknya aku minta maaf. Baiklah, aku ikut mencari! Lagipula aku juga sudah mengantuk, ayo Rin!" Mereka berdua berjalan bersama sambil bergandengan tangan. Walaupun hawa dingin malam dan suara-suara aneh menyelimuti langkah mereka, tapi hal itu tak akan membuat Rin dan Ai berhenti. Karena mereka telah percaya satu sama lain.
Beberapa saat kemudian, usaha mereka membuahkan hasil. Ai dan Rin menemukan sebuah rumah kuno yang terbuat dari kayu. Tanpa menunggu lama, gadis gadis ini langsung berjalan mendekat dan berencana meminta izin untuk menginap selama semalam. Ketika telah sampai di depan pintu, barulah muncul sebuah perasaan aneh di benak mereka. Rin dan Ai merasa seperti ada yang mengikuti mereka dari belakang. Ai mencengkram baju Rin dengan erat, menandakan bahwa dia sangat ketakutan saat ini. Namun, dia tidak ingin berbicara atau merengek karena tak ingin menyusahkan Rin.
"Daijobou da no, Ai. Kita akan baik-baik saja. Percaya padaku." Rin menggenggam tangan Ai agar dia tidak takut.
"He'em."
Seraya meneguk salivanya, Rin menjulurkan tangan dan meraih gagang pintu usang yang ada di depannya. Sementara itu, Ai terlihat gemetar ketakutan, seolah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Rin saat ini.
Ceklek!
Pintu terbuka perlahan, siluet gelap dari dalam rumah semakin membuat Rin dan Ai ketakutan.
"Berhenti!" Namun, tiba-tiba suara seseorang berteriak menghentikan mereka berdua.
"Kyaaa!" Rin dan Ai terkejut dan seketika berpelukan. "Mundur, jangan mendekat kau!" teriak Rin seraya menggenggamkan tangan dan mengangkatnya ke atas. Dia berupaya untuk mengusir orang yang berteriak barusan.
"Ano? Kenapa kalian takut begitu? Hahaha ... jangan takut. Aku hanya seorang pengembala yang tersesat di sini. Ah iya, namaku Ryuji Watanabe. Kalian bisa memanggilku Ryuji." Ternyata, orang yang berteriak tadi hanyalah seorang pemuda dengan baju compang-camping. Ia mengaku kalau dia adalah seorang pengembala yang juga sedang tersesat di hutan ini.
"Hmm? Ka-kau benar-benar manusia, kan? Bukan hantu atau semacamnya, iya kan?" tanya Rin memastikan.
Pemuda itu tersenyum dan lalu tertawa. "Hahaha ... tidak, bukan. Aku manusia kok. Oh ya, kenapa kalian berdua bisa sampai ke sini? Hutan ini jauh dari pemukiman lho."
"Ano ... ya, mobil kami mogok di sana. Dan sahabatku ini bingung mau tidur di mana. Jadi, kami pun memutuskan untuk mencari rumah untuk sekedar menginap semalam. Setelah sekian lama, akhirnya kami menemukan rumah ini. Apa kau mengenal pemilik rumah ini?" tanya Rin seraya menjelaskan semua yang mereka alami malam ini.
"Ooh begitu. Ya, ini adalah rumahku. Jika kalian ingin menginap, maka silakan saja. Tapi mungkin akan sedikit tidak nyaman, karena rumahnya sempit hahaha ...." Ryuji menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.
"Aigoo ... tidak apa-apa. Ini lebih baik daripada kami tidak bisa tidur. Sebelumnya, terima kasih ya, Ryuji." Rin tersenyum kepada Ryuji.
"Sama-sama. Eemm ... kalau boleh tahu, siapa nama kalian? Siapa tau kita bisa menjadi teman akrab iya kan? Haha ...."
"Eh, kami belum memperkenalkan diri kah? Elaah, maaf maaf aku lupa. Namaku Rin Mizore dan temanku yang di sana adalah Ai Nozomi. Salam kenal!" ujarnya memperkenalkan dirinya dan Ai.
"Ah, ya salam kenal. Ya sudah masuklah dulu ke dalam rumah. Aku harus melakukan sesuatu dulu." Ryuji berbalik lalu berjalan menjauh.
"Ano, kamu mau kemana?" tanya Rin.
"Aku ingin membawa kambing-kambingku pulang. ... eh satu lagi, hati-hati ya. Aku dengar, ada rumor seorang pembunuh yang kabur dan tersesat di hutan ...." Ryuji menepuk tangannya, "kuharap kalian bukan pembunuh yang mereka bicarakan. Eh maksudku, lupakan saja. Aku hanya terlalu was-was. Semoga kalian nyaman!" sambungnya dan kembali berjalan menuju ke dalam hutan yang gelap.
Rin dan Ai hanya menatapnya dengan tatapan bingung.
Apa maksud Ryuji? Itulah pertanyaan yang menghantui mereka saat ini.
"Nah, Ai. Ayo kita masuk ke dalam rumahnya Ryuji. Aaah, aku sudah mengantuk! Heeemmm ...," kata Rin sambil meregangkan badannya.
"I-iya." Ai dan Rin masuk ke dalam rumah kuno yang ternyata adalah rumahnya Ryuji.
Sesampainya di dalam rumah, Rin dan Ai disajikan pemandangan rumah yang begitu gelap dan hanya bermodalkan lentera sebagai penerangan. Sinar jingga yang redup menerangi seisi rumah, hampir.
"Ai Ai, lihat ini! Woaah, bagaimana bisa lentera ini dapat bertahan lama? Sinarnya sangat menenangkan. Kau tahu ... seperti sedang berada di upacara adat."
"Kau benar, tapi ... apa kau tidak merasa aneh dengan rumah ini? Lihatlah lantai tanah ini! ... banyak bercak-bercak merah bukan?" ujar Ai seraya menunjuk ke bawah. Dia menunjuk sebuah tanah dengan bercak merah.
"Hmmm ... iya, benar. Jadi?"
"Apa ini darah?" Ai bertanya kepada Rin.
Rin langsung terdiam.
"Dan juga, kenapa ada banyak pisau di sini. Anehnya, pisau di sini semuanya adalah pisau yang besar. Maksudku, jika hanya untuk memasak, maka pisau yang digunakan pasti tak akan sebesar ini."
"Hmm, kurasa kau benar. Hmmp hmpp hmpp..." Pada saat yang bersamaan, Rin mencium sesuatu. Seperti bau yang tidak sedap. "Hei, Ai apa kau mencium bau ini? Bau tidak sedap?"
"Hmss hmss, eh iya. Baunya busuk sekali. Hmss hmss ... baunya berasal dari sana!" Ai menunjuk ke sebuah kantong plastik berwarna hitam. "Bau ini ... seperti bau bangkai ...," imbuh Ai.
"Be-benarkah? A-apa Ryuji menyimpan bangkai hewan hasil buruan di sini?"
Ai menggelengkan kepala. "Aku juga tidak tahu."
"Ya kalau begitu, aku buka saja. Ba-baik." Dengan perasaan takut, Rin membuka ikatan plastik itu secara perlahan. Semakin dia mendekat, maka baunya pun semakin menyengat. Saat ikatan plastiknya sudah terbuka sepenuhnya, mata Rin langsung membola. Dia tersentak ke belakang seketika. "Aaaaaaarrgghh!!! I-itu ...!"
"A-apa Rin?"
"I-itu ...." Namun, Rin tidak menjawab, dia hanya terdiam dengan raut wajah terkejut dan tangan yang menunjuk plastik yang dibukanya tadi. "I-itu, kepala manusia?!"
"A-apa?!" Ai pun terkejut saat Rin mengucapkan hal itu.
"A-ada kepala manusia di kantong plastik itu!" seru Rin terbata-bata.
Tap! Tap! Tap!
Di waktu yang sama, terdengar suara langkah kaki seseorang mendekat. "Ah, jadi kalian sudah tahu ya." Dari balik dinding rumah, terdengar suara seseorang bicara samar-samar. Saat orang itu sudah berdiri di depan pintu, barulah Rin dan Ai terkejut.
"Ry-Ryuji?!" Ai dan Rin berteriak bersamaan.
"Ya, aku Ryuji. Dan kenapa kalian membuka barang-barang di rumahku. Padahal aku sudah baik hati mengizinkan kalian untuk tinggal di sini. Tapi kenapa kalian malah melakukan hal seperti ini?" Ryuji tersenyum sinis.
"Harusnya kami yang bertanya kepadamu! Kenapa ada kepala manusia di sini? Apa kau adalah seorang pembunuh, ha?!" tanya Rin geram.
Ryuji masih mempertahankan senyumannya. "Ya, aku adalah pembunuh yang tersesat itu. Sebenarnya sih tidak tersesat, hanya ingin menghilangkan jejak saja. Dan sekarang kalian sudah mengetahui siapa aku sebenarnya. Tokoh-tokoh antagonis yang pernah kutonton di film selalu mengatakan, 'Jika kau sudah tahu siapa aku, maka kau harus disingkirkan.' Aku akan melakukannya kepada kalian, sekarang juga." Ryuji mengambil senjata api yang dia bawa kemudian bersiap. "Sayonara."
Dor!!
Ryuji menarik pelatuknya sehingga sebuah peluru timah meluncur cepat menembus perut Rin. "Ughhh ...."
Bruk!
Rin pun seketika tumbang karena peluru itu tepat mengenai jantungnya.
"RINNN!!!" Ai menjerit ketakutan. "Rin Rin, HAAAAA!!!" Tubuhnya langsung melemas seperti kehilangan nyawa. "Rin ...." Air mata Ai menetes, bercampur dengan genangan darah Rin yang sudah terbujur tak bernyawa.
"Hey, namamu Ai Nozomi ya? Begini saja, bagaimana kalau kau menjadi pacarku. Kita berdua akan berburu bersama dan membunuh orang-orang bersama. Aku berjanji, aku tidak akan melukaimu. Karena jujur saja, aku menyukaimu."
Ai berhenti menangis saat mendengar penawaran Ryuji. Dia bergegas menghapus air matanya dan berdiri. "Tidak akan! Aku tak akan mau menjadi pacar orang yang telah membunuh sahabatku. Sampai kapanpun, tak akan pernah!" tolak Ai kekeh.
Senyuman Ryuji perlahan memudar setelah mendengar jawaban Ai. "Tck ... kenapa semua gadis selalu menolakku. Hah ... tidak ada pilihan lain. Jika aku tidak bisa menjadikanmu sebagai pacarku. Maka setidaknya aku bisa membuatmu menjadi makananku. Haha ... bersiaplah, Ai!" Ryuji berjalan sambil menodongkan pisau berukuran sedang ke arah Ai.