Acara pernikahan Laras dengan Arya telah usai, sebagian keluarga besar sudah kembali pulang ke Kota masing-masing. Hari ini Laras dan Arya akan menempati rumah peninggalan orang tua Arya di Desa, semua persiapan sudah lengkap, mereka hanya pergi berdua saja, Orang tua Laras tidak bisa ikut mengantar karena masih sibuk dengan keadaan rumah pasca acara.
"Dek, nanti kita berangkat jam 2 siang yah, takutnya sampai sana terlalu malam" Ucap Arya.
"Iya mas, aku juga udah siap semua" Jelas Laras.
"Bilang sama Ibu, apa lagi yang harus kita bawa"
"Iya mas"
Ibu datang sambil membawa bungkusan plastik yang di lipat kecil.
"Ini bawa yah, buat jaga-jaga" Ucap Ibu.
"Ini apa bu?" Tanya Laras.
"Ini dari kakek kamu, kalian kan pengantin baru, kita gak tau nanti ada apa, ya semoga aja gak terjadi apa-apa, ini namanya penangkal, buat kalian berdua, di simpan yah, bawa selalu kemana pun" Jelas Ibu.
"Iya bu, makasih"
Jam menunjukan pukul 2 siang, Laras dan Arya berangkat menuju Desa Orang tua Arya.
7 jam perjalanan darat menuju Desa, Laras sudah lelah sekali, dan ingin segera istirahat.
"Aduh mas, capek banget rasanya, pinggangku pegel banget, pengin cepet istirahat rasanya" Ucap Laras.
"Apa lagi mas yang nyetir, berasa gak punya pinggang haha, sabar yah bentar lagi kok" Jelas Arya.
"Jam segini kok udah sepi banget mas, kita masuk desa harus lewatin hutan dulu mas?"
"Iya emang gini keadaan di desa bapak dan ibu, nanti setelah melewati hutan banyak rumah penduduk kok"
"Kok kamu dulu gak tinggal di sini mas?"
"Aku gak boleh ikut tinggal di desa kata bapak, suruh belajar aja di kota biar jadi orang katanya"
"Emang dulu kamu apa mas? Siluman haha" Ucap Laras dengan meledek.
"Siluman ganteng ya kan? Aduh bentar, mas mau kencing dulu"
"Iiih bentar lagi juga sampai kan mas, tahan dulu deh"
"Gak bisa, bentar doang kok"
Arya berhenti untuk kencing di sebelah bongkahan batu besar, suasana memang sunyi sepi tidak ada satu orang pun yang lewat, jalanan di kelilingi pohon dan batu besar, terlihat seperti hutan mati.
Arya dan Laras melanjutkan perjalanan, hanya butuh 15 menit untuk melewati hutan sepi itu.
Di depan Rumah terlihat ada seseorang, ternyata Pakde Saryo yang sudah menunggu keadatangan Arya dan Laras.
"Assalamualaikum pakde, gimana kabarnya? Sehat?" Ucap Arya.
"Alhamdulillah sehat, akhirnya kalian sampai dengan selamat, kirain kalian kesasar" Jelas Pakde Saryo dengan tertawa.
"Engga pakde, tadi dijalan kita pelan-pelan aja biar santai, capek banget soalnya"
"Ini istrimu Arya? Wah cantik sekali, ya sudah kita masuk ke dalam, rumah sudah pakde bersihkan tinggal kalian tempatin aja"
"Hehe terimakasih pakde, jadi ngrepotin pakde" Ucap Laras.
"Engga kok, malahan pakde seneng ada kalian disini, semoga kalian betah ya"
Arya dan Laras masuk ke rumah di temani Pakde Saryo dan membawa masuk barang-barang dari mobil.
"Arya, nanti kalau butuh apa-apa bisa panggil pakde ya"
"Iya pakde, terimakasih"
"Oh iya tadi di jalan kamu gak di gangguin apa-apa kan?"
"Engga kok pakde, emang ada apa?" Tanya Arya.
"Engga papa, kalau kamu mau ke kota, bilang pakde dulu ya"
" Siap pakde"
Arya dan Laras langsung beristirahat, pagi harinya Arya dan Laras bekerjasama untuk membereskan barang-barang mereka.
"Dek barang kamu banyak banget sih?"
"Masa aku bawa baju 3 biji ya gak mungkin dong mas"
"Dasar cewek"
"Mas kita harus belanja nih, sama sekalian beli keperluan rumah"
"Iya nanti siang, kita ke rumah pakde dulu sebelum pergi"
"Emang kenapa mas?"
"Gak tau dek, yang penting kita bilang dulu"
Siang hari Arya dan Laras pergi ke Kota untuk berbelanja keperluan Rumah, sebelum pergi mereka ke Rumah Pakde Saryo yang tidak jauh dari Rumahnya.
"Pakde, kami mau ke kota dulu untuk beli keperluan rumah"
"Oh iya hati-hati, jangan pulang pas waktu magrib ya, kalau mau malam ya malam sekalian, jangan jam tanggung"
"Oh gitu ya pakde, emang kenapa pakde?"
"Engga papa, yang penting kamu jangan lewatin hutan itu pas jam magrib, kalo ada yang manggil kamu, atau tiba-tiba ada yang minta bantuan di jalan, kamu hiraukan aja"
"Kok gitu pakde?"
"Pokoknya jangan!"
"Iya pakde"
Di perjalanan Laras diam saja, memikirkan percakapan Pakde dan Arya tadi.
"Kamu kenapa dek?" Tanya Arya.
"Pakde mu tadi bilang gitu, maksudnya apa ya mas?"
"Oh itu, mungkin kita orang baru disini jadi takut ada orang jahatin kita, jadi harus jaga diri"
"Oh iya bener mas"
Arya dan Laras sedang sibuk berbelanja di pasar, keperluan dapur sangat penting untuk Laras, karena tahu jarak rumah ke pasar jauh, jadi laras berniat belanja untuk 1 bulan ini.
"Udah yuk mas udah sore nih udah jam 3, inget kata pakde mu tadi"
"Iya iya ayok, nanti kita mampir beli makan dulu ya buat di rumah, sama beli buah buat pakde"
"Iya mas"
Arya dan Laras berhenti di rumah makan sederhana, untuk membeli nasi dan lauk karena Laras belum masak hari ini, Laras tetap di mobil karena sudah sangat capek, jadi hanya Arya yang turun.
"Bu, beli nasi sama lauknya ya, agak cepet ya bu"
"Iya mas, buru-buru banget kenapa mas?"
"Iya takut keburu magrib hehe"
"Emang rumahnya mana mas?"
"Di Desa Lebuk bu"
"Hah yang nglewatin hutan batuan itu?"
"Iya bu, kok tau?"
"Eng.. ngga papa, emangnya di situ ada penduduk mas?"
"Banyak bu, ramai malahan"
"Banyak??"
"Iya bu banyak, kok kaget gitu sih bu emang kenapa?"
"Setau saya di situ gak ada penduduk, ada rumah sih itu pun katanya banyak yang ninggalin rumahnya, sekarang yang tersisa hanya juru kuncinya desa Lebuk, karena dulu pernah ada kejadian mistis, warga setempat ada yang melakukan perjanjian antara roh gunung Lebuk jadi hutan dan desa Lebuk sangat terkutuk"
"Ah masa sih bu, sekarang udah ramai lagi bu, orang tua saya juga dulu tinggal di situ bertahun-tahun, tapi orang tua saya sudah meninggal, karena sakit"
"Iya mungkin yah udah ramai lagi, yang penting mas hati-hati kalau masuk desa Lebuk, kalau ada orang selain mas di jalan, hiraukan aja, pura-pura gak tau aja mas, ya udah mas ini cepat pulang sebelum bagrib"
"Iya bu terimakasih"
Arya menuju mobil dan langsung bergegas pulang, Arya tidak berani bercerita tentang cerita ibu tadi di mobil, karena takut Laras tidak mau pulang karena hal itu.
Sampai di Desa, Arya berhenti dulu di Rumah Pakde untuk memberikan buah yang tadi di beli.
"Pakde ini buah segar buat pakde, tadi beli di pasar"
"Wah makasih, belanja banyak banget kamu"
"Hehe ini belanjaan Laras semua"
"Buat 1 bulan pakde, biar gak bolak balik ke kota, jauh" Ucap Laras.
"Iya bagus kalo gitu, oh iya ini kamu simpan yah"
"Apa ini pakde?" Tanya Arya.
"Ini penangkal saja"
"Kemarin orang tua Laras juga kasih ginian ke kita pakde"
"Sukurlah kalo gitu jadi kalian aman"
"Iya pakde, kami pulang dulu"
"Iya terimakasih buahnya yah"
Arya tidak berani bertanya soal yang di ceritakan ibu tadi, karena Arya rasa itu hanya cerita desa Lebuk jaman dulu, sekarang sudah tidak berlaku.
Malam hari setelah selesai makan malam, Laras langsung mencuci piringnya, dari jendela belakang, Laras melihat Pakde Saryo pergi berjalan menuju arah Hutan seorang diri, dengan membawa dupa di tangannya.
"Pakde Saryo mau kemana malam-malam gini?" Ucap Laras dalam hati.
"Hayoo lagi ngapain kamu?" Ucap Arya mengagetkan Laras.
"Hih kamu apa-apaan sih kaget tau"
"Lagian kamu kaya liat sesuatu, sampai bengong gitu"
"Liat cewek cantik tadi lewat" Jelas Laras sambil pergi meninggalkan Arya.
"Dimanaa dekk heiii jangan pergi"
Jam menunjukkan pukul 22.33, Arya dan Laras bersiap untuk tidur.
"Dek, kamu udah tidur?"
"Belum mas, ada apa?"
"Tumben biasanya kamu udah teler, aku mau cerita ke kamu"
"Aku juga mau cerita ke kamu mas, kamu dulu deh"
"Tadi waktu mas beli nasi, ibu pemilik warung cerita banyak ke mas, katanya Desa Lebuk itu udah seperti Desa mati, gak ada penduduknya, itu katanya dulu, tapi buktinya sekarang masih ramai kan?"
"Emmm, tapi kamu ngerasa sepi gak sih mas disini?"
"Iya sih, padahal ramai, tapi kok berasa sepi ya?"
"Kaya cuma kita berdua disini"
"Oh iya ibu tadi juga kasih pesan sama persis kaya yang pakde bilang"
"Ya udah mas ikutin aja kata orang sini, mereka yang lebih tau, oh ya mas emang dulu ada kejadian apa disini sampai di bilang desa mati?"
"Katanya sih dulu ada keluarga yang melakukan perjanjian antara Roh gunung Lebuk sini"
"Hah gunung Lebuk yang sering kita lewatin dong mas"
"Ya emang iya, apa mungkin itu ada kaitannya sama yang di pesan pakde sama ibu tadi, kita gak boleh hiraukan siapapun yang minta bantuan kita di jalan hutan Lebuk tadi?"
"Dan kita di bekali seperti jimat gini dari kakek dan Pakde?"
"Emm, udah udah jangan berpikiran aneh-aneh, sekarang kita tidur, besok harus kerja bakti pagi sama warga sini"
Pagi hari.
Laras sedang membersihkan rumput di halaman rumahnya, terlihat suasana Desa sangat sepi.
"Mas kok ini sepi banget sih gak ada orang sama sekali"
"Paling lagi ke sawah, mas ke rumah pakde dulu ya"
"Iya mas"
Laras sekarang sendirian di Rumah dan melanjutkan bersih-bersih.
"Ini batu susah banget di pindahin, geser dulu aja lah nanti mas Arya yang pindahin"
Laras berniat untuk mandi karena tubuhnya sudah sangat kotor.
"Sekarang tinggal mandi deh, segar banget kayanya"
"Emm kok bau asap kemenyan ya? apa mas Arya yang bakar ginian?" Tanya Laras dalam hati sambil mengendus.
Laras mengikuti asal bau tersebut, ternyata bau itu berada di belakang Rumah.
Brraakkkkkk......
(Jendela tertutup)
"Aa.. apaa itu, padahal gak ada angin kok jendela nutup sendiri" Ucap Laras sambil ketakutan.
Tiba-tiba ada suara gamelan jawa terdengar oleh Laras yang tidak tahu dari mana asalnya.
"Allahuakbar, ini suara apa, dari mana??"
Guubbrraaakkkkk......
(Pintu belakang terbuka dengan sendirinya)
"Mass Arya, itu kamu??" Ucap Laras dengan ketakutan.
Ada seseorang berdiri tepat di tengah pintu menggunakan baju serba hitam.
"Ss.. sii.. siiiapaa yah?" Suara Laras dengan jantung yang berdebar.
Orang itu hilang dalam sekejap tanpa sepatah kata pun. Laras terjatuh dan menabrak lemari di belakangnya, tiba-tiba Arya datang tepat waktu.
"Kamu kenapa dek?"
"Maass.. tadi ada orang berdiri di pintu mas, aku takut" Ucap Laras dengan menangis.
"Udah tenang yah, kan ada aku sekarang"
Arya membawa Laras ke kamar, Laras semakin tidak betah tinggal disini.
Sore hari Laras demam dan harus di bawa ke Rumah sakit, karena waktu sudah hampir magrib jadi Arya hanya minta tolong kepada Pakde Saryo.
"Kenapa Laras istrimu?" Tanya Pakde Saryo
"Tadi siang Laras ketakutan pakde, katanya ada orang datang pakai pakaian serba hitam dan Laras langsung terjatuh, sekarang tubuhnya demam"
"Mereka datang" Gumam Pakde Saryo.
"Apa pakde??"
"Kamu kasih air ini ke Laras, di minum sampai habis ya"
Pakde Saryo memberikan air putih yang sudah di do'akan sebelumnya, dan Pakde Saryo berjalan menuju belakang Rumah untuk membakar kemenyan di sekitar Rumah Arya.
"Ini untuk apa pakde?"
"Ini untuk penjagaan, biar istrimu tidak di ganggu lagi"
"Oh iya pakde"
Malam hari, keadaan Laras sudah membaik, Arya sudah agak lega melihatnya dan Arya berniat untuk mandi sebentar.
"Dek, mas mandi dulu ya, kalo ada apa-apa panggil aja"
"Iya mas"
Setelah mandi, Arya mendengar gamelan jawa yang tadi sama terdengar oleh Laras.
"Suara dari mana itu?"
"Kok makin keras suaranya"
Tubuh Arya seketika merinding mendengar suara itu, keadaan menjadi dingin sekali.
"Aaaaa...aaaaaaaa"
Teriakan Laras dari dalam kamar.
"Dekkk!!"
Laras terjatuh pingsan di sela-sela jendela, dengan tangan seperti tertarik ke luar jendela.
"Dek, dek.. Bangun dek"
"Ada apa ini sebenernya?" Gumam Arya sambil meneteskan air mata.
"Kamu bertahan ya, aku mau ke rumah pakde dulu"
Arya pergi menggunakan motor menuju Rumah Pakde Saryo, tiba-tiba jalan yang biasanya Arya lewati di tutup karena sedang ada acara hajatan dan mengharuskan Arya untuk mencari jalan lain. Pemilik hajatan menyuruh Arya melewati jalan dekat hutan untuk lebih cepat sampai ke tujuan.
"Aduh bensinnya mau habis lagi, ini kok lama banget yah"
1 jam berlalu, Arya belum juga sampai.
"Sudah 1 jam aku ngikutin jalan ini, kok malah makin gak jelas sih, gak ada sinyal lagi buat liat maps"
Tiba-tiba ada pengendara motor lain lewat, dan Arya coba bertanya pada orang itu.
"Pak, maaf mau tanya, jalan menuju rumah Pak Saryo lewat mana ya?"
"Ikuti saya" Dengan suara dingin.
"Baik terimakasih"
Jam menunjukkan pukul 21.22, Arya belum juga sampai di Rumah Pakde Saryo.
"Maaf pak, ini masih lama?"
"Sudah ikuti saja!"
"Bb.. bbaik"
Arya mulai ketakutan sekarang, namun terlihat dari jauh rumah Pak Saryo terlihat.
"Alhamdulillah akhirnya sampai walupun lama, terimakasih ya pak" Sambil menengok ke belakang.
"Pak.. Pakk...?? Kemana bapak itu tadi??" Arya mencari di sekeliling.
"Ah mungkin sudah pergi lagi"
Arya langsung berlari menuju Rumah Pakde Saryo, terlihat sepi sekali.
"Assalamualaikum, pakde ini saya Arya" Sambil mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban sama sekali dari rumah Pakde Saryo.
Krekeeetttt ......
Pintu rumah Pakde Saryo terbuka sendiri.
"Pakde?? Apa pakde di dalam?"
"Ada apa?!" Muncul pakde di belakang Arya dengan memakai baju serba hitam.
Tidak biasanya Pakde Saryo menggunakan baju serba hitam, di tambah lagi perkataan yang ketus terucap dari mulut Pakde Saryo.
"Pakde dari mana?" Tanya Arya dengan kebingungan.
"Kamu mau apa kesini?!"
Arya kebingungan dengan sikap Pakde Saryo yang terlihat galak dan ketus sekali.
"Laras pakde, Laras tadi pingsan, saya bingung mau minta tolong ke siapa, jadi saya kesini"
"Biarkan saja laras kesakitan!"
"Maksud pakde apa??"
"Istrimu, berhak kesakitan!" Dengan suara yang keras membuat Arya marah.
"Maksud pakde apa, seperti ini?!"
Tiba-tiba Pakde Saryo menghilang di balik asap putih.
"Pakde, dimana pakde??"
Setelah asap menghilang, Arya melihat rumah Pakde Saryo hilang, dan tersadar Arya sekarang di tengah hutan dengan batu besar di sekelilingnya
"Aku dimana ini" Suara Arya yang mulai ketakutan.
Dari kejauhan ada sorot lampu mendekati Arya.
"Lagi ngapain mas disini?"
"Tolong saya, saya gak tau sekarang dimana, bawa aku pergi dari sini pak"
"Iya iya mari saya antar"
Sementara itu di Rumah.
Braakk brakk...
Terlihat eseorang sedang duduk di batu belakang Rumah.
Mas Arya, itu kamu?"
Larrasss.....
"Aaaaaaaaaa"
Orang itu menoleh dengan wajah pucat tanpa mata.
Laras terjatuh ketakutan dan pergi ke kamar lagi.
Tok.. Tok.. Tok..
"Laras"
"Pakde, bukde?? Mas Arya mana?"
"Loh, Arya gak di Rumah?"
"Tadi saya sempat pingsan pakde, dan samar-samar mendengar perkataan mas Arya katanya mau ke rumah pakde, tapi sampai aku sadar, mas Arya gak kembali lagi, terus tadi saya liat orang duduk di batu belakang kirain mas Arya, tapi pas saya dekati, wajahnya aneh dah menakutkan pakde" Ucap Laras sambil menangis.
"Duh gusti, mas mu pasti di bawa roh gunung!"
"Roh gunung? Siapa pakde?"
"Arya gak cerita apa-apa ke kamu?
"Gak pakde, saya gak tau apa-apa, tapi setiap hari saya selalu di datangi orang-orang menggunakan baju serba hitam sambil membawa tongkat, seperti tadi yang saya liat" Jelas Laras sambil ketakutan.
"Ya udah kamu yang tenang, kamu sama bukde dulu ya, pakde mau jemput Arya"
"Kamu minum air ini dulu ya nak" Ucap Bukde.
Sementara itu dengan Arya.
"Pak ini dimana? Ini kan orang hajatan yang tadi?"
"Oh kamu sudah lewat sini ya?"
"Sudah pak, sebentar lagi dekat dengan rumah saya"
"Kamu duduk disini, istirahat dan makan dulu yang ada di meja, pasti kamu cape kan?"
"Makasih pak"
"Sukurlah aku ketemu bapak ini, tadi itu aku kenapa ya, pasti tadi bukan pakde" Ucap Arya dalam hati.
Dari belakang ada yang menepuk pundak Arya.
"Arya?"
"Pakde?? Pakde kemana aja, tadi saya ke rumah minta pertolongan karena Laras pingsan, tapi pakde malah marah seperti gak suka pada Laras"
"Sekarang kita pulang dulu, ini bukan tempat kamu, motormu dimana?"
"Maksudnya bukan tempatku?"
"Kita keluar dari tempat ini"
"Tapi pakde? Saya belum ketemu orang yang tadi nolong saya?"
Pakde Saryo tidak menjawab pertanyaan dari Arya. Pakde Saryo menarik tangan Arya dengan keras.
"Ini motormu kan? Dan sekarang liat ke belakang"
"Haah???? Saya dimana???"
Arya sangat terkejut, melihat dirinya tadi berada dalam Goa, yang penuh dengan bangkai.
"Huuuweekkkkk, bau banget"
"Kamu terbawa roh gunung sampai ke tempat persembahan, nanti pakde jelaskan, sekarang kita pulang"
Sampai di depan Rumah, tubuh Arya penuh luka sayatan, dan tangannya seperti bekas di ikat tali, terlihat Orang tua Laras dan keluarga Laras sudah berada di Rumahnya.
"Mas Arya?? Tubuh kamu kenapa mas?"
"Aaww, mas juga gak tau, setelah keluar dari hutan tubuh mas perih dan sakit sekali, ibu sama bapak udah dari kapan disini?"
"Dari semalam, kamu baik-baik aja kan nak?" Ucap Ibu Laras.
"Ayo kita masuk, pakde mau membicarakan semua ini"
Semua orang di luar masuk, juru kunci Desa Lebuk semua berada di Rumah Arya dan Laras.
Pakde Saryo membakar menyan sambil menceritakan tentang Desa ini.
"Dulu waktu ibu sama bapakmu tinggal disini hidupnya susah, makanya menyuruh kamu tinggal di kota bersama keluarga besar bapakmu, biar kamu tidak merasakan susahnya, bapakmu dulu sering di caci maki di desa sini karena miskin, tidak punya sawah, rumah pun mau roboh, sementara itu pakde gak bisa berbuat apa-apa, karena warga desa sini hanya berlomba untuk terlihat kaya, tapi bapakmu melakukan kesalahan yang fatal sekali"
"Apa itu pakde?"
"Huufff, bapakmu melakukan perjanjian dengan Roh gunung Lebuk" Jelas Pakde Saryo dengan menghela nafas.
"Apa??"
"Ya, bapakmu melakukan perjanjian dengan roh untuk meminta kekayaan, dengan tumbal wanita yang masih muda dan pengantin baru seperti kalian, batu di belakang rumahmu itu sudah terisi roh pengawal gunung, beserta rumah ini sudah menjadi pemilik roh gunung, makanya kalian sering di ganggu roh roh gunung, tapi karena istrimu di beri penangkal dari kakeknya yang kuat, akhirnya roh gunung marah seperti tersaingi, dan akhirnya mengambil paksa kalian dari sini, pakde sudah berusaha untuk menjaga kalian tapi kekuatan roh gunung sangat kuat"
"Tapi kenapa malah saya yang di bawa ke dunia mereka pakde"
"Karena kamu tidak punya penangkal dan mungkin kamu melakukan kesalahan disini"
"Mas, kamu juga pegang kan yang dari kakek?" Tanya Laras
"Waktu itu pas mas mandi, mas taruh di dekat lemari, karena saat itu mas kaget dengar suara gamelan jawa, jadi mas lupa ambil lagi dan waktu kita kesini mas sempat kencing kan di perjalanan, mas kencing di bongkahan batu"
"Itu membuat roh gunung marah"
"Aduh mas, dan mas juga dengar gamelan jawa?!"
"Saya benar-benar gak tau pakde, iya mas dengar, dan waktu kita cerita lama di kamar dan nyuruh kamu cepat tidur, sebenarnya mas ngerasa ada yang memperhatikan kita dari luar, takut kamu gak betah disini makanya mas gak bilang ke kamu"
"Dan waktu aku di dapur, yang kamu ngagetin aku mas, aku liat mirip sekali seperti pakde memakai baju serba hitam, di belakang rumah sambil membawa tongkat" Ucap Laras.
"Roh itu bisa menyerupai siapa saja, yang lebih sering menyerupai pakde, karena pakde yang sangat dekat dengan keluargamu, bapakmu sebenarnya bukan sakit jantung, tapi perjanjian itu lah yang membuat bapakmu di sajikan untuk persembahan roh, dan karena ibu mu menggaggu persembahan roh, ibumu juga ikut tertarik terbawa roh gunung"
Arya menangis mendengar cerita sebenarnya.
"Jadi yang kamu liat selama tinggal disini itu palsu, kecuali pakde mu ini yang selalu bawa menyan kemana-mana"
"Terus warga itu?"
"Itu hanya pengawal roh gunung"
"Jadi yang di katakan ibu penjual nasi benar?"
"Semua yang di ceritakan orang di luaran sana itu benar"
"Aku mau pergi dari sini" Laras menangis memeluk Arya.
"Pakde juga sebenarnya mau melarang kamu tinggal disini, tapi pakde gak berhak melarang kamu tinggal di rumah mu sendiri, makanya pakde hanya bisa menjaga sebisa pakde, sekarang lebih baik kalian cepat keluar dari desa Lebuk, ini bukan tempat kalian"
"Terus luka di tubuhku dari mana pakde?"
"Selama kamu di hilang, sebenarnya kamu sudah di sandera oleh pengawal roh dengan di ikat tangan dan kakinya makanya mau lari kemana pun kamu tetap tidak bisa keluar dari hutan, beruntungnya pakde tidak terlambat menjemputmu"
"Aku gak habis pikir kejadian ini terjadi pada keluarga saya"
Arya dan Laras di beri air yang sudah di beri do'a untuk menetralkan dan membersihkan jiwanya.
Arya dan Laras memutuskan kembali tinggal di Kota dan berangkat besok siang, sekarang Arya dan Laras sementara tinggal di Rumah Pakde Saryo.
Pagi Hari.
"Mas kepalaku pusing banget"
"Kok bisa sih, ya udah mas antar ke kamar"
"Aaaaaaa"
"Kenapa dek?"
"Suara gamelan jawa, terdengar banget di telinga mas"
"Mas panggil pakde Saryo dulu ya"
Pakde Saryo datang berlari menghampiri Laras.
"Laras kenapa Arya?" Tanya Pakde Saryo.
"Laras tiba-tiba pusing dan mendengar suara gamelan jawa itu lagi, lebih parahnya katanya terdengar sekali di telinganya"
"Duh, apa ada yang terbawa di tubuh Laras?" Ucap Pakde Saryo dengan khawatir.
Arya langsung menanyakan pada Laras.
"Dek, apa kamu merasa ada barang yang di bawa dari rumah itu?"
"Batuu, iyah batuu, aahh pusing sekali" Ucap Laras sambil memegang kepala.
"Batu? Batu apa dek?"
"Waktu aku bersih-bersih halaman aku coba pindahin batu besar itu ke sebelah jalan pintu belakang biar tidak menghalangi jalan, di bantu tetangga dan tiba-tiba di beri batu kecil warna hitam katanya untuk penangkal jadi aku simpan dan aku taruh di tas"
"Roh gunung sudah menempel pada tubuh Laras!" Ucap Pak Saryo dengan nada putus asa.
"Aaaaaa sakitt sekaliiii masss"
"Pakde kita harus gimana" Ucap Arya dengan menangis.
"Aaaaa sakiittttt"
Gubrakk...
Laras terjatuh di lantai.
Tiba-tiba Laras mengeluarkan darah bercampur batu hitam dari mulutnya, dan Laras sudah tidak bernafas lagi.
"Larassss sayangggg, banguuunnnn" Tangisan Arya tidak terbendung lagi.