Buku Masakan Nusantara, begitulah judul yang tertera pada sampulnya. Tergeletak pada tumpukan buku bekas. Tempat biasa pengepul meletakan hasilnya mengais sampah. Kali ini waktu menunjukkan pukul tengah hari. Para pemulung berbaris menyetorkan perolehannya hari ini. Tidak sabar menunggu upah untuk dibelanjakan kebutuhan rumah tangga. Hari ini dia tidak harus menahan kelaparan, upah kali ini cukup menghidupi keluarganya sampai tiga hari kedepan. Tidak sia-sia dia berangkat sebelum fajar menampakkan sinarnya. Setidaknya perolehan besok bisa dia tabung pada celengan berbentuk ayam.
Setelah mendapatkan upah, dia mendekati tumpukan buku tidak jauh dari tempatnya berdiri. Rona matanya bersinar. Seakan menemukan durian jatuh di siang bolong. Saat membuka sampul buku itu, bola matanya tidak lepas dari lembaran resep masakan nusantara. Tangannya menggantung pada resep pembuatan biskuit. Terdapat gambar biskuit coklat ditaburi kacang mete. Sangat menggiurkan. Tanpa disadari air luarnya menetes.
Kelihatannya enak!
Ketika sudah mendapatkan izin dari pengepul. Dia membawa buku tersebut pulang bersamanya. Baru berjalan 5 meter, langkahnya terhenti karena panggilan dari seseorang. Orang itu bermaksud memberikan kue pukis buatan istrinya. Ada lima kue pukis dengan berbeda rasa. Tiga diantarnya rasa coklat dan sisanya rasa pandan. Bentuknya ada yang masih belepotan. Mungkin masih dalam masa belajar. Dia berpikir akan membaginya dengan ketiga anaknya dan istri tercintanya.
Dadang melanjutkan perjalanannya dengan perasaan senang. Tidak sabar memberikan kue pukis ditangannya kepada keluarga kecilnya. Kembali lagi langkahnya terhenti. Ketika melihat sepasang pasutri renta duduk di bawah pepohonan dengan memegang perutnya. Dia berjalan mendekati.
“ Kakek, lagi apa disini?
“ Sedang duduk sambil berteduh.” Jawabnya singkat sambil memegang perutnya yang sedari tadi berbunyi.
“ Mau kue pukis?”
“ Mau.” Sambil menganggukan kepala
Setelah memberikan semua pukis pemberian temannya. Dadang melanjutkan perjalanannya. Mungkin belum rezekinya menikmati kue pukis. Pikirnya saat itu. Baru berjalan 1 meter, langkahnya kembali terhenti. Kali ini bukan karena ada orang memanggilnya atau berniat membantu orang kesusahan. Tapi dia dihadang oleh dua preman di depannya. Tubuh preman itu tinggi berotot. Terdapat tato di setiap tangannya. Bahkan kakinya juga tidak luput dari gambaran menyeramkan. Siapapun melihatnya akan bergidik ngeri.
“ Serahkan semua uangmu!”
“ Ta-tapi..”
“ Serahkan cepat atau…” Sambil mengarahkan pisau ke Dadang
Karena ketakutan dan tanpa pikir panjang, dia langsung menyerahkan uang disaku kirinya. Dia melanjutkan perjalanannya lagi. Untung saja tadi dia sudah membagi uang perolehannya ditempat berbeda. Setidaknya hari ini dia masih bisa membeli beras beserta lauk seadanya. Walaupun celengan ayamnya tidak jadi dikasih makan kali ini.
Baru juga dapat rezeki banyak sudah hilang lagi!
“ Loh sudah pulang, Pak? Sejak kapan?”
“ Barusan, sudah salam tapi enggak ada yang menjawab.”
“ Dapat berapa?”
“ 25 ribu” Jawab Dadang singkat
“ Lumayan buat beli beras sama tempe sepotong.”
“ Bosen Pak makan tempe terus! Enggak ada yang lain!” Jawab anak pertamanya
“ Begini banget kalau punya orang tua miskin! Makan tempe terus, kapan ada gizinya!” Sanggahnya lagi
“ Siapa yang mengajarkan kamu bicara kayak gitu!” Dadang mulai terpancing dengan omongan anaknya
“ Sudah… sudah. Jangan bertengkar terus. Nak, kamu harus lebih banyak bersyukur meskipun hanya makan tempe saja.
“ Tapi, Bu”
Setelah perdebatan siang tadi dengan anak pertamanya. Dia teringat resep masakan nusantara yang tadi dibawa pulang. Ketika hendak mencari, dia melihat buku resep nusantara sedang dipegang oleh anak keduanya. Berusia 5 tahunan. Anaknya membolak-balik setiap halaman dibuku itu. Rona matanya bersinar setiap melanjutkan perhalaman.
“ Pak, aku mau kue ini” sambil menunjukkan gambar yang dimaksud.
“ Kue biskuit coklat mete.” Sanggahnya lagi.
“ Maaf ya, Nak. Bapak masih belum bisa membelikan kue seperti itu untuk kamu. Tapi bapak usahakan ya.” Raut mukanya langsung masam
Ketika berjalan melewati toko kue, dia selalu berpikir tentang bagaimana caranya dia bisa membelikan biskuit coklat mete untuk anaknya. Semenjak kejadian beberapa hari lalu, si anak selalu mengigau menyebutkan kue biskuit coklat itu. Ada rasa bersalah dihatinya ketika melihat anaknya menjadi seperti itu. Penghasilannya sepi akhiran ini. Hanya cukup membeli beras. Di tambah anak pertamanya selalu mengeluh mengenai lauk pauk setiap harinya yang selalu sama. Memang bukan kesalahan mereka jika bersikap seperti itu. Kehidupan yang keras menuntut semua orang mengalami tekanan. Meminjam uang juga tidak mungin. Hampir masyarakat dilingkungannya bernasib sama seperti dia. Ketika melihat seorang wanita paruh baya sedang menenteng tas brand mahal. Dia sempat berpikir, apakah dia harus mencopet agar kebutuhan kecilnya tercukupi?
Sebelum memulai aksinya, dia sudah dihentikan dengan panggilan dari bos pengepulnya. Ternyata bosnya bermaksud memberikan beberapa uang bonus beserta cemilan. Saat dia membuka sebungkus cemilan, ternyata berisi kue biskuit coklat mete. Kemudian dia berpikir, “ Ternyata Tuhan masih mencintai saya.”
TAMAT