"Kami pergi dulu." ucap Mimi, Hana, Haebin dan Nayoung. Dengan bernada.
"Dah~" -Sally.
"Hati-hati di jalan, ya, Kak." - Soyee.
"Sampai ketemu lagi nanti." - Mina.
"Aku bakalan tunggu Kakak sampai pulang." - Hyeyeon.
"Ck. Berisik." batin Sejeong.
Flashback on.
"Kak. Kok malah dititipin ke aku sih?" Sejeong menolak.
Mimi menghela napas. "Terus harus dititipin ke siapa? Denger Sejeong. Kakak percaya sama kamu buat jaga adik-adik selama Kakak pergi."
Datang Nayoung. "Ayo Kak Mimi kita berangkat sekarang."
Mimi mengangguk kepada Nayoung.
"Pokoknya, kamu harus bisa jaga adik-adik. Kalau terjadi sesuatu segera tangani. Tapi kalau terjadi sesuatu yang sangat parah kamu hubungi Kakak."
Flashback off.
***
Sejeong menghela napasnya. Kedua kakinya diangkat ke atas meja, sambil menonton acara televisi.
"Kak Sejeong!"
Seharian ini Sejeong merasa lelah karena adik-adiknya. Sedangkan kedua saudara kembarnya malah asik dengan dunia mereka masing-masing tanpa melihat dua adik kecil mereka.
Mimi waktu itu menitipkan adik perempuannya ke Sejeong, karena Sejeong yang paling tua dari mereka.
Keluarga mereka ini lucu. Mimi dan Hana adalah saudara kembar. Haebin dan Nayoung juga saudara kembar. Sejeong, Sally dan Soyee juga sama kembar. Cuma Mina dan Hyeyeon yang gak kembar.
***
"Hyeyeon!"
Semua panik. Gadis kecil itu terjatuh dari atas tangga bersama kursi roda miliknya.
Sally berteriak meminta pertolongan. Tapi, sayang, saat di periksa tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan di adik paling bungsunya ini.
Soyee segera menelpon keempat kakak perempuannya yang sekarang sedang sibuk kuliah. Pergi ke luar kota buat tugas perkuliahan.
Adik paling bungsu sekarang sudah tidak ada. Yang paling menyusahkan dengan kursi rodanya yang selalu di bawa kemana-mana.
***
"Kak Sejeooong." panggil Mina, adik yang punya pipi chubby.
"Kakak sibuk, ya?"
"Pergi main sama Kak Sally atau Kak Soyee, sana."
Mina pergi meninggalkan Sejeong yang sedang merenung
Suatu saat nanti, mungkin tidak ada lagi orang yang bisa diandalkan.
Mina, si pipi chubby, ditemukan tak bernyawa menggantung diatas pohon belakang rumah.
"M-Mina..."
Soyee lari ketatukan.
Keempat kakak perempuannya tak bisa pulang, mereka sangat sibuk.
"Maaf Mama Papa... tapi kalian semua yang buat aku seperti ini."
***
Tinggal enam orang lagi yang harus dibunuh. Ini impian perempuan itu, impiannya ingin menghilangkan nyawa orang yang sudah mengganggu kehidupannya.
"Sally!!!"
Soyee berteriak ketika melihat Sally yang sudah tak berdaya dengan pisau yang menancap di kepala.
Langkah kakinya berlari cepet ke kamar kembarannya yang paling tua.
Tok tok tok.
"Sejeong buka pintunya! Sejeong!"
Klek.
Sejeong membuka pintu dengan penampilan orang yang baru bangun tidur.
"Hm. Apaan sih Yee? Masih ngantuk nih." kemudian Sejeong menguap.
Soyee menarik-narik tangan Sejeong. "Sally, Sally."
"Sally kenapa?"
Soyee gak bisa ngomong apa-apa lagi. Soyee masuk ke kamar Sejeong, bersembunyi di balik selimut.
"Kasihan, seperti anak kucing yang sedang ketakutan tanpa induknya."
Sejeong duduk di samping Soyee. "Yee. Lo tuh ngomong gak jelas. Ada apa?"
"Sally. Lo liat aja sendiri di dapur!" dibalik selimut Soyee ketakutan.
***
Keempat kakak perempuannya sudah di kabari. Tapi, apalah daya, jarak mereka sangat jauh apalagi ditambah dengan tugas yang numpuk.
"Jeong. Malam ini gue tidur sama lo, ya, gue takut kalau harus tidur sendirian." kata Soyee sambil menggoyangkan tangan Sejeong.
"Iya, iya."
Soyee langsung naik ke tempat tidur, langsung menutup tubuhnya sampai leher dengan selimut.
"Gue gak mau kasur kesayangan gue nih kotor karena noda darah lo. Oke. Gue bakalan kirim lo ke neraka tanpa tumpah darah."
Malam semakin larut, semakin sepi. Tangannya mulai beraksi. Mengambil bantal lalu menutup wajah adiknya hingga kehabisan napas.
***
"Sejeong!"
Mimi dan ketiga kakak perempuannya datang menghampiri.
Sejeong menangis melihat empat makam adiknya saling berjejer. Begitu juga dengan kakak-kakaknya.
Sekarang, mereka tinggal sisa berlima. Adik perempuan mereka sudah pergi menyusul kedua orangtua.
Dulu, ketika kedua orangtua mereka masih hidup, Sejeong adalah anak yang dipandang sebelah mata. Karena posisinya yang menjadi anak tengah jadi Sejeong harus menuruti kakak-kakaknya dan menjaga adik-adiknya.
Melelahkan. Memang. Kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan.
Sekarang tinggal menghabisi nyawa keempat saudara perempuannya.
Sungguh, dari dulu inilah yang ingin dilakukan Sejeong. Mereka yang dulunya selalu memandang sebelah mata, sekarang menghilang karena tangan cantik Sejeong.
Jangan percaya sama Sejeong. Sebenarnya Sejeong tidak akan jadi seperti ini kalau bukan dari faktor lingkungan di sekitar.
Percaya sama Sejeong itu seperti sama dengan menyerahkan diri buat menemui ajal.
End.