Olivia Harris. Gadis berusia 18 tahun yang sudah seminggu ini hilang. Tak ada satu pun temannya yang tau keberadaannya. Begitu pun pacarnya—Lawrance.
Menurut Lawrance ia terakhir kali mereka bertemu adalah saat jam istirahat sekolah. Saat itu Olivia mengajak Lawrance untuk berkencan pada sore hari sepulang sekolah. Mereka berjanji untuk saling bertemu di pinggir sungai Sein. Namun, Lawrance tak bertemu dengan Olivia hingga malam tiba. Lawrance pikir pacarnya lupa akan janjinya. Ponsel Olivia pun tak aktif saat Lawrance mencoba meneleponnya. Jadi, Lawrance pikir alangkah lebih baik jika ia pulang saja dan menanyakan pada pacarnya langsung esok hari di sekolah. Akan tetapi, keesokkan harinya Olivia tak pernah masuk ke sekolah lagi.
Kedua orang tua Olivia berkata bahwa terakhir kali mereka bertemu Olivia adalah pada saat gadit itu berpamitan untuk pergi berkencan dengan Lawrance.
Tidak ada petunjuk apapun tentang keberadaan Olivia. Hingga, malam ini Lawrance bermimpi tentang Olivia.
Entah bagaimana caranya Lawrance sekarang sudah berdiri di sebuah rumah asing. Tak ada penerangan sama sekali kecuali lampu kuning di lorong rumah ini. Bau debu menyeruak merasuki indra penciuman Lawrance.
Lantai kayu berderak tiap kali Lawrance melangkahkan kakinya. Bunyinya memekakan telinganya. Hawa dingin membelai tengkuk Lawrance. Membuat bulu-bulu halus di sekitar tengkuknya meremang. Tiba-tiba terdengar suara bisikan gadis yang sangat ia kenal. Suara Olivia.
"Lawrance... tolong aku..... Bantu aku.... Hiks," terdengar bisikan pilu di telinga Lawrance.
Lawrance mengedarkan pandangannya ke sekitar. Mencari sumber suara. Namun ia tak menemukan siapapun kecuali lampu kuning di atas kepalanya yang terus menerus mati-hidup berulang-ulang.
"Ollie!" teriak Lawrance hingga suaranya menggema di setiap sudut ruangan. "Ollie! Di mana kau?"
"Jangan berisik, Lawrance. Dia bisa mendengarnya," bisik Olivia yang kali ini suaranya terdengar sangat ketakutan.
"Siapa yang kau maksud?" tanya Lawrance yang sekarang sudah memelankan suaranya.
Belum sempat Lawrance mendengar jawaban Olivia, tiba-tiba sudah terdengar suara derap langkah kaki menuruni tangga. Langkahnya terdengar cepat. Hingga kesunyian berganti menjadi alunan musik yang tercipta dari suara kerasnya pijakkan dan derak lantai kayu yang sudah usang.
"Bersembunyilah, dia bisa menemukanmu," bisik suara Olivia dengan sangat pelan.
Lawrance melangkahkan kaki mundur, seiring semakin mendekatnya suara langkah kaki menuju tempat Lawrance berada sekarang.
Karena panik, Lawrance segera masuk secara asal ke salah satu kamar di ruang ini. Lampu berwarna putih namun redup, menjadi penerang ruangan ini. Lawrance mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan, dan alangkah terkejutnya ia, karena ruangan tersebut dipenuhi dengan foto dirinya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, nampak Olivia yang berdiri di sana tanpa kedua bola matanya. Wajahnya pucat. Seperti darah tak lagi mengalir di tubuhnya.
"Ini lah mengapa aku tak mau menampakkan diri padamu," bisik Olivia dengan suara yang bergetar.
"Ini hanya mimpi, Lawrance," batin Lawrance yang berusaha mengelak apa yang ia saksikan sekarang. Ia memukul kepalanya sendiri berulang-ulang untuk menyadarkan dirinya.
"Ragamu memang sedang tertidur, tapi semua yang kau saksikan ini nyata, Lawrance."
Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Kali ini langkah kaki tersebut terdengar santai. Walaupun tetap membuat lantai kayu tetap berderak. Terdengar suara siulan.
"Bersembunyilah," bisik Olivia sambil menunjuk ke arah lemari di pojok ruangan.
Lawrance segera memasuki lemari dan menutup pintunya rapat. Lawrance mengintip dari lubang di sela-sela pintu lemari saat pintu kamar ini terbuka dan menampakkan sosok yang tak pernah Lawrance duga sebelumnya.
Alice. Gadis pendiam yang satu kelas dengannya. Gadis berambut pendek berwarna coklat dengan bintik-bintik di sekitar hidung dan pipinya. Alice ada lah gadis pendiam yang tak pernah bersosialisasi dengan siapapun di kelas.
Sekarang Alice menyeringai menatap ke arah lemari. Seolah-olah ia dapat melihat Lawrance berada di baliknya. Arwah Olivia nampak berdiri ketakutan di depan lemari tempat Lawrance bersembunyi.
Alice berjalan ke arah sebuah peti mati di sudut ruangan. Kemudian ia menarik sebuah tangan pucat dari dalamnya. Hingga sebuah mayat tanpa bola mata membuat mata Lawrance membola. Itu adalah mayat Olivia.
Alice lalu mengambil beberapa peralatan dari dalam peti dan menyusunnya di lantai. Nampak seperti peralatan yang dipakai untuk ritual. Alice menyalakan sebuah lilin dan mengambil sebuah pisau.
Ia menyentuh mata pisau perlahan sambil menyeringai. Tubuh arwah Olivia bergetar, alisnya bertaut walaupun tanpa bola mata di bawahnya. Ia tampak semakin ketakutan. Lalu, ia terbang mendekat ke arah Alice.
"Kumohon, jangan lakukan ini," kata arwah Olivia sambil berlutut di depan Alice.
Namun, Alice malah nampak melebarkan seringainya. "Sudah kukatakan untuk tidak mengundang tamu. Tapi, kau mengabaikannya," ucap Alice sinis.
Alice lalu menyayat wajah mayat Olivia. Hingga terdapat luka besar menganga dan menampilkan warna daging Olivia yang berwarna merah pucat. Arwah Olivia berteriak pilu, wajah arwahnya pun ikut terluka sama seperti yang terjadi dengan mayatnya. Lawrance menutup mulutnya tak percaya dari balik pintu lemari. Kakinya seketika mulai mendingin.
"Lihat... apakah Lawrance masih menyukaimu setelah ini?" kata Alice sambil memotong telinga Olivia. Seketika salah satu telinga di arwah Olivia pun ikut lenyap. Alice tersenyum lebar saat memperhatikan hasil karyanya.
Alice lalu menggesekkan pisau di leher mayat Olivia seperti menggesek biola. Ia nampak menikmati kegiatan yang ia lakukan. Sementara itu , pekikan, raungan dan teriakkan pilu arwah Olivia memenuhi setiap sudut ruangan. Lawrance benar-benar ingin muntah melihat pemandangan di hadapannya. Asam lambungnya naik hingga tenggorokkan. Wajahnya sudah dipenuhi peluh.
"Aku yang menyukainya lebih dulu! Dasar kau jalang!" teriak Alice sambil mengangkat pisaunya dan menghempaskannya ke leher Olivia hingga kepalanya hampir terlepas dari lehernya.
Alhasil, kepala arwah Olivia bergelantungan di lehernya. Alice menatapnya dan tertawa nyaring. Tawanya memenuhi setiap sudut keheningan, bercampur dengan tangisan Olivia yang semakin lama semakin terdengar pilu.
Lawrance tak tahan lagi. Ia pun melawan rasa takutnya terhadap Alice dan membuka pintu lemari, berniat menghampiri Alice. Alice menoleh ke arah Lawrance saat pintu lemari terbuka lebar di hadapannya.
Alice menghentikan tawanya dan menghapus air di sudut matanya. "Hai, Lawrance," sapa Alice sambil menyeringai. Ia seperti tak terganggu sama sekali dengan kehadiran Lawrance yang tiba-tiba.
Lawrance yang emosi segera menderapkan langkahnya menghampiri Alice yang sekarang juga berjalan menghampirinya. Akan tetapi, arwah Olivia menghadangnya.
"Jangan, Lawrance. Jangan melawannya atau kau tidak akan bisa kembali ke tubuhmu. Pergilah dan temukan aku," ujar Olivia sebelum dengan cepat mendorong tubuh Lawrance agar Alice tak bisa mencapai ke arah Lawrance.
Tubuh Lawrance tersentak. Saat ia membuka matanya, ia sudah berada di kamarnya. Peluh memenuhi dahinya. Dengan tangan bergetar ia menghubungi orang tua Olivia, untuk menyuruh mereka mencari Olivia di rumah Alice dengan membawa polisi.
Orang tua Olivia awalnya merasa bingung atas perintah Lawrance yang tiba-tiba. Tapi, karena desakkan dari Lawrance, akhirnya ia menuruti perkataan anak laki-laki itu.
Lawrance segera beranjak dari tempat tidurnya dan berlari keluar rumahnya. Hingga membuat kedua orang tuanya berteriak kebingungan. Lawrance melajukan mobilnya. Ia sudah mendapatkan alamat Alice dari orang tua Olivia yang sudah lebih dulu tiba di sana.
Sesampainya di sana, polisi sudah memenuhi rumah tua Alice. Sebuah tubuh yang Lawrace yakin merupakan jasad Olivia, sudah tertutup kain putih dan di angkat memasuki ambulance.
Ibu Olivia nampak menagis histeris memeluk suaminya yang matanya sudah berubah warna menjadi merah.
Alice keluar dari rumahnya digiring oleh beberapa polisi. Tangannya diborgol. Namun, wajahnya nampak sumringah.
"Tenang saja. Aku masih menyukaimu, kok. Walau kau melaporkanku," bisik Alice saat melewati Lawrance sebelum dirinya didorong paksa memasuki mobil polisi.
Selesai/End