Kacau,kekacauan dimana mana sepanjang jalan yang aku lalui. Kehancuran yang sangat jelas di samping kanan-kiri ku.
Rumah rumah yang mengalami kerusakan yang parah dan rumah rumah yang terbakar, menjadikan pemandangan sepanjang jalan yang aku lalui menjadi sangat mengerikan.
Tapi, perasaanku seakan tidak peduli dengan keadaan sekitar yang benar-benar kacau di penuhi kehancuran dimana mana. Aku terus saja berlari tanpa memperdulikan sekitarku.
Semoga masih sempat, kumohon.
Dengan penuh harapan akan sesuatu, aku terus saja berlari ke tempat yang aku tuju.
Beberapa menit tidak terasa, aku sudah berdiri di sebuah tempat yang tidak asing lagi bagiku,yaitu sebuah mansion yang megah, yang kini sudah setengah hancur.
Dengan napas terengah-engah, setelah berlarian untuk sampai sini. Aku membuka pintu gerbang mansion yang sudah hampir rubuh dengan perlahan lahan.
Ngikkk... krek....
Suara gesekan kasar dari pintu gerbang yang aku buka, menimbulkan suara yang memecahkan kesunyian.
Pemandangan yang pertama kali yang aku lihat adalah pemandangan yang mengerikan, tumpukan mayat penjaga dan beberapa pelayan mansionku tergelak di halaman mansion begitu saja.
Dengan perasaan yang campur aduk antara sedih, berduka dan marah ke pada pelaku penyerangan ini. Aku dengan langkah yang sangat berat, berjalan mendekati pintu masuk mansion.
Melewati beberapa mayat dari orang-orang yang aku kenal dengan kondisi yang mengerikan, membuatku sempat putus asa dengan apa yang aku harapkan.
Tidak, tidak. Pasti dia masih selamat.
Tapi, pemikiran tersebut langsung aku tepis dengan menyemangati diriku dengan kata-kata harapan.
Semakin dekat dengan pintu mansion, semakin bergetar hebat tubuhku tampa aku sadari. Dengan tangan bergetaran, tanganku menyentuh gagang pintu mansion.
Brukkk.
Tapi, sebelum aku menarik gagang pintu mansion, sesuatu yang berada di balik pintu mansion bagian dalam terjatuh mengenai pintu mansion-yang menyebabkan pintu mansion terbuka.
Saat, melihat sesuatu yang Terjatuh-yang menyebabkan pintu mansion terbuka. Aku dibuat terkejut dengan sesuatu tersebut.
Seorang perempuan yang berambut coklat dengan syal merah yang melekat di pergelangan lehernya, membuatku langsung mengenalinya, dia salah satu dari pelayan yang aku percaya untuk menjaga mansion ini.
Meski, aku tidak mengetahui namanya-tapi aku tetap mengenalinya sebagai pelayanku dan alasanku untuk datang ke sini.
"Tidak... tidak... hei bangunlah. "
Perlahan lahan, aku memastikannya bahwa dia masih hidup.
Tidak ada respon darinya.
"Hei jawab aku... kumohon bertahanlah... "
Dengan perlahan aku mengangkatnya ke balik tubuhku untuk aku bawa mencari bantuan.
Meski semakin melemah, tapi dia masih bertahan. Aku harus segera kembali.
Sambil membawa tubuh pelayanku yang masih selamat, aku berjalan kembali melewati jalan yang aku lalui tadi.
Sekilas, aku melihat kilas balik dimana sesorang berbicara dengan dengan senyumannya.
"Tuan... seharusnya tuan lebih berhati-hati lagi saat melakukan latihan. "
"Tuan...sebaiknya tuan beristirahat, ini sudah larut malam. "
"Jika tuan ingin mengetahui namaku... tuan harus berjanji dan pulang dengan selamat dulu ya. "
Aku hanya bisa terseyum kecil saat mengingat semua perhatian yang ia berikan, dan lagi kata katanya sebelum awal masalah ini terjadi.
" Semoga masih sempat . "Gumanku pelan.
***