Judul: Terlahir sebagai pengecut.
By: Vina Anggraeni.
genre: drama.
********
Hai kawan ....
Namaku Nathan, hanya seorang remaja biasa yang terlahir sebagai pengecut. Berlindung dalam bayang dan hanya bisa lari dari semua masalah. Nyaliku terlalu kecil untuk menghadapi itu semua, untuk menghadapi kerasnya dunia.
Aku sama sekali tidak memiliki seorang teman, bahkan keluarga ku pun benci kepadaku hanya karna sifat pengecut ku ini!. Dan hanya bayanganku yang mau menerima dan setia menemani ku selama ini.
"Akhirnya ketemu juga anaknya, Lo mau lari kemana lagi hah!" Ucap seorang anak remaja SMA dengan kedua teman dibelakangnya.
Aku dan kakak laki-laki ku sehabis pulang dari pasar untuk membeli sayuran. Tiba-tiba langkah kami diberhentikan oleh kedatangan mereka bertiga.
Batinku ketakutan, aku sama sekali tidak mengenal siapa mereka. Belum apa-apa, badan ku sudah bergemetar keringat dinginku mulai bercucuran.
"Mau apa kalian?" Tanya kakak Nathan dengan nada sedikit menantang.
"Lah pake nanya, yah kita mau gebukin Lo lah!" Ucapnya dengan nada marah, lalu dengan segera melayangkan pukulannya dan disusul dengan kedua temannya.
Aku yang melihatnya seketika langsung berlari dan bersembunyi dari sana, membiarkan kakak laki-laki ku dikeroyok oleh mereka.
Batin Nathan merasa kasihan melihat kakaknya yang saat ini sedang kuwalahan melawan mereka bertiga.
"Ti-tidak!" Ucap Nathan mengurungkan niatnya, "Kalau aku kesanapun juga, malah makin buat kakak kerepotan!" Akhirnya diriku lebih memilih untuk bersembunyi dan melihat kakakku yang sudah tidak berdaya dikeroyok oleh mereka bertiga.
Sungguh, ini adalah pemandangan yang amat mengerikan!. Aku adalah seorang adik yang kejam, membiarkan kakakku kesakitan disana sedangkan aku adiknya hanya bisa bersembunyi dan menonton layaknya seorang pengecut.
Selang beberapa menit, akhirnya ketiga remaja SMA itu pun pergi setelah puas memukuli kakak yang sekarang sudah tersungkur di tanah.
"Kakak!" Aku langsung berlari menghampiri kakak yang sudah terkapar di tanah dengan luka lebam dan darah dibagian wajahnya.
"Kakak!" Panggilku sembari hendak membantu kakakku untuk duduk.
"Jangan sentuh aku!" Bentak kakak Nathan yang langsung menepis keras tangan adiknya.
"Ka-kakak tidak apa-apa?" Tanyaku dengan nada ketakutan.
"Apa kau tidak melihat kalau wajahku penuh akan luka!" Bentak sang kakak.
"Kemana kau tadi?, bersembunyi!. Meninggalkan kakakmu sendiri disini dan lebih memilih untuk menonton daripada membantu diriku untuk melawan mereka!"
Aku hanya bisa diam dengan kedua pelupuk mataku yang sudah memanas. Apa yang harus aku katakan?, aku memang salah.
"JAWAB AKU NATHAN!!!"
"Na-nathan takut kak!" Jawabku dengan bulir air mata yang menetes begitu saja.
"Haha takut!" Lirih kakak Nathan terkekeh kecil, lalu dengan perlahan menegakkan badannya.
"Dari dulu aku sama sekali tidak berharap untuk memiliki adik sepertimu!, kau hanya seorang pengecut!, dirimu hanyalah beban untuk aku, ayah, ibu dan semua anggota keluarga!" Cerca sang kakak kepada adiknya.
"Lebih baik, jika kau mati lebih cepat!" Sambung kakak Nathan lalu pergi meninggalkan adiknya sendiri disana.
Kata terkahir yang kakak lontarkan itu teramat sakit dan menusuk hatiku. Seakan-akan mereka semua ingin sekali diriku segera pergi dari dunia ini.
Kenapa?, tentu saja karna aku seorang pengecut, aku pembawa sial, semua orang yang dekat dengan ku hanya akan mendapatkan sebuah masalah.
Pengecut sepertiku memang pantas untuk mati bukan?. bahkan orang yang paling dekat dengan ku pun menginginkannya.
Malam itu, disaat keluarga ku tengah tertidur dengan pulasnya. Hal yang sama sekali tidak terduga pun terjadi!.
Seorang pencuri masuk kedalam rumah melewati sebuah jendela. Mengambil sebuah barang berharga milik keluarga ku.
Ayahku yang tersadar dengan gangguan suara kecil yang mengusik telinganya, membuatnya terbangun dan mencari asal suara tersebut.
"Hei siapa kamu!" Kejut sang ayah melihat pencuri tersebut yang sudah membawa barang curiannya, dirinya langsung panik untuk segera pergi dari sana.
Ayah yang sadar akan barang apa yang pencuri itu bawa langsung membangunkan seisi rumah, kakak dan ayah langsung berlari untuk mengejar pencuri tersebut.
"Nathan, bantu ayah kamu sama kakak kamu cepat!" Suruh ibuku.
"I-iyah ma!" Jawabku yang langsung lekas menyusul mereka. Jujur saja, disetiap langkah ku berlari penuh akan rasa ketakutan dan keraguan. Ingin sekali aku berbalik arah dan memilih untuk bersembunyi didalam kamar.
Aku melihat disana, kakakku yang sedang sibuk untuk mengejar pencuri tersebut, dengan lekas aku menyusul mereka untuk membantu kakak.
"KAKAAAKKK!!!" Teriakku memanggil dirinya, kakakku yang sudah berhasil menangkap pencuri tersebut dan sedang berusaha untuk merebut barang berharga milik keluarga ku itu.
"Nathan bantu kakak!" Balas sang kakak, "Iyah kak!" Sahutku seraya mempercepat laju lariku.
Terjadi kompetisi yang begitu sengit, pencuri itu sama sekali tidak ingin melepaskan benda tersebut, sedangkan disisi lain aku dan kakak juga tak mau kalah, dengan sekuat tenaga kami berupaya untuk merebutnya. Hingga /buk/ kami bertiga terpental dan beruntungnya barang tersebut berhasil kami rebut.
"Ka-kakak tidak apa-apa?" Tanya ku cemas kepada kakak.
"Cih dasar sialan!" Marah pencuri tersebut sembari mengeluarkan pistolnya, membidiknya diantara kami berdua. Hingga /dor/.
/Cipraaattttt/ darah memuncrat kemana-mana.
"Ka-kakak ti-tidak apa-apa!" Tanyaku kepada kakak, mulutku terasa penuh akan darah, kepalaku terasa sangat pusing. Pencuri itu telah berhasil menembak tepat di dadaku.
"Na-nathan!" Ucap sang kakak dengan mata terbelalak, dirinya amat terkejut dengan apa yang ia lihat. Sang adik berusaha untuk melindungi kakaknya dari sebuah tembakan.
Aku telah berhasil!. Aku telah berhasil lari dari rasa ketakutan ku, kini aku bukan lagi seorang pengecut. Aku tidak menyesal dengan apa yang telah ku lakukan, aku bahagia karena bisa berguna bagi seseorang, dan melepas rasa yang telah membelenggu ku selama ini.
"Dek, ayo kakak bawa kamu kerumah sakit!" Ucap sang kakak yang panik sekaligus sedih melihat keadaan adiknya saat ini. "Tidak usah kak, Nathan tidak apa-apa!" Tolak ku dengan berusaha untuk tersenyum.
"Tapi dek, kamu kehilangan banyak darah!" Sekali lagi kakak itu mencoba, tapi sang adik tetap menolak.
"Maafin Nathan kak, kalau selama ini belum bisa jadi adik terbaik buat kakak!. Maafin Nathan kak, kalau selama ini masih terus ngerepotin kakak!" Jawabku mengucap kata maaf dengan melihat kakakku yang tengah berusaha untuk menahan bulir air mata itu untuk keluar.
"Tolong bilangin ke ayah sama ibu yah kak, kalau aku sudah bukan beban untuk mereka!, kalau aku sudah bukan pengecut lagi!. Nathan sudah berhasil kak!" Sambung ku lalu perlahan menutup mata, dan senyum yang terukir di bibirku dengan perlahan menghilang.
~TAMAT~