Menurutmu... apakah arti kebahagiaan itu?
Apa kamu sudah menemukan kebahagiaan milikmu sendiri?
Apakah kamu bahagia hidup di dunia ini?
Sejak kecil, ibuku selalu membacakan cerita sembari menemaniku tidur setiap malam. Banyak sekali kisah-kisah yang telah aku dengar saat itu, dan salah satunya yang paling aku ingat berjudul 'Dreamland'.
Di dalam buku dongeng, diceritakan bahwa terdapat sebuah tempat di antah berantah yang disebut dengan Dreamland. Hanya anak-anak beruntunglah yang dapat pergi dan menikmati segala kesenangan yang ada di dalam sana. Saat itu aku yang baru berumur empat tahun tentu saja langsung percaya dengan mudahnya. Aku selalu berdoa agar suatu hari akan ada peri yang mengajakku pergi ke tempat indah tersebut.
Imajinasi anak-anak memang sangat hebat. Namun terlalu polos hingga bisa dibuat percaya dengan mudahnya kepada hal-hal yang mungkin saja tidak pernah ada. Alhasil, sejak saat itu aku tidak pernah berhenti berharap di tiap malam, meski sebenarnya semua cerita itu tidak pernah menjadi nyata.
Waktu pun terus berlalu. Aku yang sudah berada di dalam tubuh orang dewasa ini, tidak pernah lagi mendapatkan cerita pengantar tidur. Apalagi setelah ibuku meninggal lima tahun lalu karena kecelakaan.
Saat ini, satu-satunya buku yang selalu aku baca tengah malam hanyalah sebuah buku usang bertuliskan catatan pengeluaran. Isinya pun bukan dipenuhi oleh gambar dan cerita indah, melainkan angka-angka yang terus membengkak di tiap lembarnya. Hal itu tak jarang membuatku bermimpi seram, hingga sering dipaksa terjaga semalaman.
Akan tetapi, semua itu tidak membuatku kehilangan kepercayaan akan sebuah tempat bernama Dreamland. Ya, aku percaya tempat itu benar-benar nyata. Karena aku menjadi salah satu yang pernah berkunjung ke sana. Tetapi, aku baru menyadari, bahwa bayanganku akan tempat itu selama ini ternyata salah besar. Karena Dreamland yang sebenarnya bukanlah diciptakan untuk anak-anak, melainkan sebuah tempat bagi para orang dewasa.
***
"Oi, Rendy! Besok jadi ikut, kan?"
"Sudah kubilang, aku tidak akan ke tempat itu lagi."
"Ah, kamu ini. Paling tidak gunakanlah hari Minggu untuk bersenang-senang!" Andri mendekatkan bibirnya ke arah telingaku. "Cewek-cewek di tempat itu terkenal cantik, lho!" bisiknya.
"Harus berapa kali aku bilang-"
"Ck! Kalau seperti ini terus kamu akan jadi jejaka tua nantinya!" potongnya.
"Sebaiknya kamu khawatirkan dulu dirimu sendiri. Aku tidak ingin terlibat kalau isterimu memergokimu lagi," ucapku sembari berlalu.
Beberapa hari lagi aku akan merayakan ulang tahun ke-32. Bukan lagi umur yang terbilang muda untuk lelaki lajang sepertiku. Ditambah lagi aku sudah tidak bisa mengharapkan pesta ulang tahun meriah di umur segini. Justru yang kudapatkan hanyalah kekhawatiran karena status lelaki mapan masih terlalu jauh untuk bisa kugapai. Sedangkan di jaman sekarang, para wanita hanya ingin menjalin hubungan dengan lelaki yang ciri-cirinya sangat berbeda jauh denganku.
Sudah hampir delapan tahun aku mengabdi di perusahaan tempatku bekerja sekarang. Perusahaan makanan yang tidak terlalu besar dan hanya bisa membayar karyawannya dengan upah kecil. Lelaki lulusan D3 ekonomi ini tampaknya berhasil disingkirkan oleh diploma lainnya yang sukses melamar ke perusahaan besar. Sementara aku yang berniat akan pindah tempat kerja selalu mendapatkan hambatan, hingga akhirnya aku hanya akan kembali ke tempat ini.
Aku memang bukan anak jenius dulunya. Nilai raporku selalu merah, dan kini aku menyesali semua itu. Banyak perkataan bijak yang berkata bahwa nilai akademik bukan sesuatu yang terlalu penting. Tapi nyatanya, di negara ini hal tersebut tidak berlaku. Karena aku yang hanya lihai sepak bola menjadi salah satu korban dari perkataan tersebut. Atau memang karena nasib baik tidak pernah ingin datang mendekatiku.
Salah satu penyebab kenapa aku tidak bisa pindah kerja adalah karena bosku selalu berkata kalau dia memerlukanku. Padahal mungkin maksudnya dia senang karena aku merupakan orang yang tampak tidak mengeluh meski dibayar murah. Padahal diam-diam akhirnya aku mencari pekerjaan sampingan sebagai operator situs belanja online di samping pekerjaan utamaku. Oleh karena itulah, waktu yang seharusnya aku gunakan untuk bersenang-senang, kini tersita sepenuhnya. Tapi itu semua kulakukan untuk bertahan hidup di tengah dunia yang rasanya menjadi semakin kejam.
Bebanku pun terus bertambah sejak kepergian ayah yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga. Saat ayah masih ada, bebanku tidak seberat sekarang. Karena yang membiayai sekolah tiga orang adikku adalah beliau. Tapi kini, aku harus membanting tulang tidak hanya untuk diri sendiri saja, melainkan untuk adik-adikku juga yang masih semangat untuk belajar.
Sebenarnya aku merasa ingin mati saat adik pertamaku mulai masuk kuliah. Nominal yang disodorkan kepadaku pun terus menerus membengkak sementara pemasukanku tidak pernah mengalami peningkatan. Tapi aku bisa bertahan karena masih memiliki harapan bahwa jika adik-adikku sukses, mereka tidak harus merasakan hidup seberat yang kurasa sekarang. Aku tidak ingin mereka menanggung beban berat. Meski tidak menjadi orang kaya pun, yang penting tidak jadi orang miskin sepertiku.
Sejak lama aku memimpikan sebuah kehidupan yang sempurna. Langsung mendapat kerja setelah lulus kuliah, menikah pada umur dua puluh delapan, memiliki anak pada umur tiga puluh, dan hidup bahagia bersama keluarga hingga tua. Tapi, semua itu harus lenyap seketika karena kini aku tidak memiliki waktu untuk memulai sebuah hubungan. Bahkan aku sudah tidak ingat kapan terakhir kalinya aku memiliki seorang pacar. Jika dipikir-pikir lagi, semua target hidupku benar-benar sudah gagal. Rasanya aku ingin menghilang saja dari dunia ini!
'Brugh', kertas yang semula berada dalam pelukanku berhamburan.
"Duh, maaf," ucap lelaki berkacamata yang menabrakku barusan. Tampaknya dia salah satu dari pegawai baru yang baru saja masuk kemarin, karena aku tidak mengenalnya sama sekali.
"Iya, tidak apa-apa. Tapi, lain kali hati-hati," ucapku dengan nada malas.
"Iya, Pak, maaf. Saya sedang terburu-buru ke ruangan bos."
"Memang ada apa?" Ada sedikit rasa penasaran yang muncul dalam benakku.
"Barusan ada kabar kalau Pak Suryadi meninggal."
"Hah? Pak Suryadi orang marketing?" Aku sedikit tercengang mendengarnya. "Apa yang terjadi padanya?"
"Saya belum tahu jelas. Bos hanya bercerita kalau tadi pagi rekan satu apartemennya sudah menemukan Pak Suryadi meningal di atas tempat tidur."
Rasanya sedikit aneh, karena dua hari lalu aku masih melihat Pak Suryadi baik-baik saja. Jadi saat mendengar kabar barusan, membuatku sulit untuk percaya. Aku jadi mulai berpikir, apa jangan-jangan dia...
Segera kubuang jauh-jauh pemikiran buruk tersebut sebelum membahayakan diriku sendiri. Tapi, aku mengerti benar, bukan hanya aku orang yang tertekan bekerja di perusahaan ini. Bahkan aku yakin semua orang memiliki masalahnya sendiri. Dan Pak Suryadi menjadi salah satu yang memiliki beban besar dibanding yang lain. Beberapa hari setelah rumahnya dirampok, ada kabar bahwa anak semata wayangnya masuk penjara karena narkoba, dan tak lama kemudian dia ditinggalkan oleh sang isteri. Pak Suryadi pun sering terlihat tidak semangat karena harus bekerja keras sembari dikejar-kejar tagihan kartu kredit. Oleh karena itu, aku berpikir beliau mungkin memiliki pikiran untuk segera mengakhiri hidupnya sendiri.
Hari ini aku pulang lebih cepat karena beberapa karyawan termasuk aku sendiri pergi melayat Pak Suryadi. Setelah itu, aku tidak kembali ke kantor dan langsung pulang. Dengan begitu aku bisa memiliki waktu untuk part time lebih lama hari ini.
Baru saja aku sampai di rumah kontrakan, ponselku berbunyi. Suara adik perempuanku yang menangis, membuatku terkejut setengah mati. Tempat tinggal kami yang berada di kota berbeda, membuat rasa khawatirku bertambah berkali-kali lipat. Bahkan aku sudah tidak ingat kapan terakhir kalinya aku pulang untuk menjenguk mereka.
"Kamu kenapa, Din?"
"Kak..." adikku tidak bisa berkata cepat karena terisak-isak. Jadi aku harus sabar menunggu dia menyelesaikan kata-katanya terlebih dahulu. "Aku ada di kantor polisi."
"Hah?" lagi-lagi aku terkejut. "Kenapa kamu bisa ada di sana?"
Belum sempat mendapat jawaban, telepon diambil alih oleh seorang laki-laki. "Selamat malam. Benar ini dengan kakak dari Dini?"
"Iya, benar. Ada apa dengan adik saya ya, Pak?" tanyaku penuh kepanikan.
"Adik Anda baru saja tertangkap saat sedang mencoba mencuri tas di sebuah toko. Untuk kali ini kami hanya akan memberikan surat peringatan. Namun, apabila adik Anda mengulangi kesalahannya lagi, saat itu kami akan memproses kasus tersebut melalui jalur hukum."
Kepalaku mulai berdenyut dan memberikan perasaan tidak enak. Aku benar-benar ingin marah sejadi-jadinya. Tapi, saat mendengarkan penjelasan adikku yang masih berumur sepuluh tahun itu, aku pun berusa keras untuk menahan amarah.
Selama ini aku tahu Dini bukan anak nakal. Tapi, kebaikan hatinya justru membuat dia sering tersakiti. Dia bilang bahwa teman-temannya selalu mengejek dan mem-bully-nya, sampai suatu saat satu-satunya tas miliknya dirusak. Kejadian tersebut ternyata sudah cukup lama, tapi dia tidak berani meminta tas baru padaku, hingga akhirnya dia memilih untuk mencuri. Bahkan dia tidak pernah bercerita mengenai pem-bully-an itu kepadaku. Sekarang, justru aku yang merasa bersalah padanya.
Kini aku benar-benar menitikkan air mata sembari mendengarkan penjelasan Dini yang terbata-bata karena menangis. Aku ingin sekali berlari dan memeluknya kalau saja bisa. Tapi saat ini aku hanya bisa memintanya untuk bersabar, dan berjanji akan membelikan tas baru.
Setelah menyelesaikan masalah Dini, aku langsung merebahkan diri di atas kasur. Semangat untuk bekerja part time pun langsung hilang seketika. Rasa pusing pada kepala yang tak tertahankan berhasil memaksaku untuk langsung beristirahat pada hari ini. Aku tidak bisa tahan kalau harus terus-menerus hidup seperti ini.
Rasanya aku ingin benar-benar menghilang...
"Rendy," sebuah suara yang lembut berbisik di telingaku. "Rendy..."
Aku berusaha membuka mata dengan susah payah. Kupikir ada orang yang masuk diam-diam ke dalam rumahku. Tapi kurasa bukan, karena saat kubuka mata, yang kulihat hanyalah hamparan padang rumput menghijau yang luas. Sepertinya aku sedang bermimpi.
"Kamu sudah bangun?" suara yang sama kembali terdengar. Aku menolehkan wajah ke arah sumber suara dan langsung tersentak karena terkejut.
"Ibu?" seruku.
Wanita yang kupanggil tersenyum dengan sangat lembut. Sementara aku berlari ke dalam pelukannya sembari menangis seperti anak kecil.
"Ada apa, Sayang?" tanya Ibu dengan wajah yang tidak pernah kehilangan senyumnya. Aku pun tidak bisa untuk tidak mulai bercerita. Kucurahkan semua keluh kesah yang selalu menghambat hatiku hingga puas. Sementara ibu hanya mendengarkan dengan seksama sembari mengangguk-angguk dan mengelus kepalaku.
"Aku tidak pernah membayangkan kalau hidup akan jadi sesulit ini, Bu," ucapku untuk mengakhiri cerita.
"Kamu sudah berjuang keras, Nak. Tapi berhati-hatilah, karena-"
Belum selesai ibu berkata, sebuah angin kencang berhembus membuat mataku terpejam dengan spontan. Rasanya ada pasir yang masuk dan membuat mataku perih. Saat kubuka mata kembali, sosok ibu sudah menghilang. Tentu saja aku panik dan mulai berdiri untuk mencari keberadaannya.
"Ibu? Ibu?"
Aku terus mencari, tapi tak kunjung bisa menemukan keberadaan wanita yang paling kusayangi itu. Hingga tiba-tiba, seorang wanita muda mendadak muncul menghalangi jalanku. "Tenanglah, Rendy," ucapnya dengan lembut. "Ibumu akan kembali," tambahnya lagi.
Rasanya aku ingin marah, tapi semilir angin sejuk membuat emosiku padam dan menjadi tenang dengan seketika. Aku pun menunduk sesaat. Merasakan kesedihan karena hanya bisa bertemu sesingkat itu dengan ibu yang telah lama aku rindukan.
"Jangan khawatir," sang wanita kembali berbicara. "Aku akan menemani sampai ibumu kembali."
"Siapa kamu?" itulah kata-kata pertama yang dapat kucapkan padanya. Entah kenapa dia seakan sudah lama mengenalku.
Wanita cantik itu tidak langsung menjawab. Dia hanya tersenyum dengan manis. "Aku salah satu penjaga tempat ini."
"Tempat ini?" aku menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan. Entah sejak kapan banyak orang di sekitarku. Sepertinya aku tidak sadar karena terlalu fokus mencari keberadaan ibu. "Tempat apa ini?"
"Tempat di mana kamu hanya akan merasakan kebahagiaan. Kami semua menyebutnya Dreamland."
"Dreamland?!" Sedikit terkejut aku mendengar penjelasan si wanita. Entah semua ini hanya kebetulan, atau mimpi yang muncul karena aku terlalu mengidamkan tempat ini sejak kecil? Tentu saja hal ini tidak bisa diterima oleh logika orang dewasa seumuranku.
Masih dengan wajah penuh tanya, kembali kuamati sekitar. Kini aku benar-benar baru bisa menyadari keindahan tempat ini. Padang rumput hijau yang terbentang luas, bunga-bunga cantik yang bertaburan di atasnya, pepohonan lebat dengan buah segar turut menghiasi tempat ini. Sungai bening pun menambah rasa nyaman yang aku rasakan.
Kucoba memejamkan mata sesaat. Berusaha menikmati rasa nyaman yang sudah lama tidak pernah aku dapatkan. Kenyamanan yang sama, dengan saat aku masih tinggal di rumah bersama ibu. Meski semua ini hanya imajinasi atau mimpi, tapi aku benar-benar menikmatinya. Tempat ini berhasil membuatku ingin terus berada di sini, kalau saja aku tidak ingat masih ada hal yang harus aku lakukan.
"Ah, aku harus kerja!" ucapku kepada diri sendiri.
Sang wanita yang sedari tadi mengamati, berjalan mendekat. Dia memegang lenganku dengan tangannya yang terasa dingin. "Tenanglah, Rendy! Saat ada di tempat ini, yang perlu kamu lakukan hanyalah bersenang-senang. Tidak perlu memikirkan hal lain."
"Tapi-"
"Aku bisa mewujudkan apa pun yang kamu inginkan di sini," jelasnya.
Entah dengan sihir apa, wanita tersebut berhasil membuatku mengiyakan tawarannya. Perasaan ingin menolak, dengan ajaib langsung menghilang dari dalam hati. "Kau benar. Kesempatan seperti ini tidak boleh kusia-siakan begitu saja," balasku.
"Tentu saja. Tidak banyak orang yang seberuntung dirimu."
"Lalu, apa saja yang bisa aku lakukan di sini?"
"Apa pun yang kamu mau."
"Apa pun?" tanyaku meyakinkan.
"Iya. Aku akan menunjukkannya padamu sekarang."
Akhirnya, aku pun mulai menjelajahi tempat bernama Dreamland bersama sang wanita. Dia membawaku mengunjungi tempat-tempat indah yang ada. Bahkan saat aku berkata ingin pergi ke Belanda, dengan sekali jentikan jari, dia bisa mengabulkannya. Saat aku berkata ingin makan sushi, dia pun langsung memberikannya. Apa pun yang kupinta benar-benar bisa dia wujudkan. Kini aku sudah tidak peduli sedang berada di dalam mimpi atau tidak. Yang penting, aku bisa melupakan semua bebanku dan bersenang-senang semauku.
***
'Kriiiingggg'
Pukul lima, alarmku membangunkan seperti biasa. Kuangkat tangan dengan malas untuk membungkam benda kecil yang berteriak nyaring itu. Mataku masih tertutup dengan rapat. Rasanya ingin sekali aku kembali tidur di balik selimut yang hangat.
Segera kuberjalan ke arah kamar mandi, sebelum rasa malas menyeret tubuhku untuk kembali ke atas kasur dan membuatku menyesal. Meski hari Minggu, aku tetap bekerja sambilan di sebuah perusahaan ekspedisi.
Di tengah kesibukan, bayangan dari mimpi semalam mendadak muncul. Benar-benar mimpi yang terasa nyata. Seakan aku ada di tempat itu selama beberapa hari. Semua yang kulakukan pun masih jelas terbayang dalam kepala. Ingin sekali rasanya aku memimpikan hal yang sama malam ini. Agar setidaknya rasa lelah hari ini bisa kembali terbayar.
Malam harinya, rasa lelah membuatku terbaring di atas kasur sejak pukul sembilan. Mulai memejamkan mata, sambil terus berharap bisa mendapatkan mimpi yang sama seperti kemarin.
Tanpa disangka-sangka... harapan tersebut benar-benar terwujud. Aku kembali ke Dreamland dan bertemu dengan wanita yang bahkan tidak pernah kuketahui namanya. Tapi aku tidak peduli, karena membahagiakan diri sendiri jauh lebih penting bagiku saat ini. Tidak peduli berapa banyak orang yang berpapasan denganku di tempat itu. Aku hanya peduli pada apa yang akan membuatku bahagia. Mungkin itu pula yang ingin Dreamland ajarkan padaku. Bahwa boleh saja kita memikirkan orang lain, tapi sesekali kita pun harus peduli pada diri kita sendiri.
"Ini aneh. Baru sekarang aku bisa memimpikan hal yang sama berulang kali," ucapku kepada si wanita. Kami berdua tengah makan di sebuah restoran seafood mewah yang bahkan tidak akan pernah bisa kukunjungi di dunia nyata.
"Karena ini bukanlah mimpi," jawab si wanita dengan santainya. Dia memasukkan sepotong udang yang aromanya tercium hingga ke hidungku.
"Jadi... ini semua nyata?" tanyaku tak percaya. Tentu saja! Siapa yang akan langsung percaya pada tempat ajaib seperti ini?
"Iya. Oleh karena itu, kamu bisa datang ke sini tiap malam."
Aku masih tidak menyangka bisa mendapatkan hal seperti ini di tengah kehidupan yang hampir saja membuatku bunuh diri. Sudah pasti aku merasa bahagia karena telah menjadi salah satu orang beruntung yang dapat pergi ke Dreamland. Rasa senang itu pun membuat diriku sudah tidak memikirkan apa pun lagi, karena yang terpenting, aku bisa terus menggunjungi tempat indah ini setiap hari dan melupakan semua keluh kesahku di dunia nyata.
"Apa kamu senang, Rendy?"
"Tidak ditanya pun seharusnya kamu sudah tahu jawabannya."
"Syukurlah kalau begitu. Aku sedikit khawatir kamu mulai tidak menyukai tempat ini."
"Tidak! Itu tidak mungkin terjadi. Bahkan sejak kecil aku sudah bermimpi ingin datang ke sini."
"Oya? Bagaimana bisa kamu tahu tentang tempat ini?"
"Aku mendengarnya dari cerita ibu."
"Wah, menarik. Aku ingin dengar lebih banyak lagi tentangmu."
Kami berdua pun mulai berbincang mengenai banyak hal. Sebenarnya aku yang lebih banyak bicara, karena sudah lama tidak mendapatkan teman yang mau mendengarkan semua omonganku. Si wanita rasanya tidak pernah merasa terbebani atau bosan mendengar semua hal yang kuucapkan. Bahkan dia dengan setia menyimak, seakan sedang mendengarkan siaran radio yang seru. Padahal aku sempat berpikir bahwa ceritaku akan membuat siapa pun malas untuk bertemu denganku lagi. Tapi, aku bersyukur kini ada seseorang yang mau mendengarnya.
Sudah terhitung satu bulan sejak pertama kalinya aku mengenal Dreamland. Sepertinya aku tidak pernah bosan dan terus merindukan tempat itu. Bahkan aku jadi ingin cepat-cepat pulang ke rumah dan tidur agar dapat segera pergi ke sana. Kini aku jadi bingung, karena duniaku yang sebenarnya mulai terasa seperti mimpi seram di tengah tidur. Sementara Dreamland adalah hidupku yang sebenarnya. Sebuah rumah yang senantiasa menanti kepulanganku setiap hari.
Sepertinya kebahagiaan sempurna yang diberikan Dreamland telah membutakan mata dan hatiku. Kini aku tidak bisa membedakan antara mimpi dan realita. Hingga suatu saat aku tersadar setelah bertemu dengan seseorang yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
'Dug'. Sebuah bola memukul bagian belakang kepalaku.
"Maaf, aku tidak sengaja. Bisa kamu ambilkan bola itu?" ucap seorang lelaki dari kejauhan.
Tanpa melirik ke arah sang pemilik, aku bergegas bangkit untuk mengambil dan mengembalikan bola tersebut. Ini pertama kalinya aku berkomunikasi dengan orang lain selain si wanita.
"Ini bolanya," ucapku. Sedikit heran karena lelaki itu mirip dengan seseorang yang kukenal.
"Oh, ternyata Rendy! Saya pikir siapa."
"Maaf... apa kita saling kenal?" tanyaku heran.
"Waduh, kamu tega sekali. Ini saya, Suryadi!"
"Lho, jadi Anda benar-benar Pak Suryadi?"
"Iya. Kamu sudah lupa siapa saya? Dasar aneh kamu ini." Lelaki itu tertawa, sementara aku hanya tertegun karena bingung. "Kenapa, Ren?"
"Ah, tidak apa-apa, Pak."
"Hem... kenapa ya semua kenalanku yang bertemu di sini selalu saja terkejut. Bahkan mereka langsung kabur seperti melihat hantu."
"Ya... bagaimana ya, Pak. Jujur saja saya pun sedikit terkejut kalau bertemu dengan orang yang sudah meninggal," aku kesulitan memilih kata.
"Ah, kamu ini bercanda terus."
Pak Suryadi justru menepuk bahuku lalu tertawa dengan keras. Aku jadi berpikir, apa jangan-jangan dia tidak sadar kalau sudah meninggal? Tapi bagaimana bisa?
"Kenapa bapak ada di sini?" tanyaku penasaran.
"Entahlah. Setelah bangun tidur tiba-tiba saya sudah ada di sini karena diundang seorang teman."
"Oh begitu."
"Tempat ini benar-benar menakjubkan, ya! Kalau bisa saya ingin terus berada di sini."
Aku hanya menangguk-angguk setuju, karena memang mengerti benar apa yang dirasakan oleh Pak Suryadi. "Ngomong-ngomong, bapak sudah berapa lama ada di sini?"
"Ah, baru juga beberapa jam. Inginnya sih berlama-lama di sini, tapi sebentar lagi harus ke kantor, kan? Ditambah lagi si anak baru yang masuk kemarin belum saya berikan pengarahan apa pun."
Aku terdiam sejenak. Semua ini mulai terasa aneh. Pertama, Pak Suryadi tidak sadar bahwa dia sebenarnya sudah meninggal. Dan kedua, dia tidak sadar waktu sudah lama berlalu sejak kedatangan si pegawai baru. Aku jadi semakin yakin bahwa sebenarnya dia sudah berada di Dreamland lebih lama daripada yang dia ingat. Tapi, bagaimana bisa semua terjadi...
"Di sini nyaman sekali ya, Ren?" Dia mengulangi pertanyaan serupa.
"I-iya, Pak. Rasanya ingin terus berada di sini."
"Minta saja kepada wanita yang bertugas menjagamu."
"Maksud bapak?" aku masih tidak mengerti.
"Tadi aku pun berpikir sepertimu. Ingin terus berada di sini dan melupakan dunia luar. Dan wanita yang menjadi penjagaku berkata aku hanya perlu memintanya. Jadi, barusan aku meminta supaya diperbolehkan untuk berada di sini selamanya."
Kulihat Pak Suryadi tenggelam dalam pikirannya sendiri. Kini aku pun melakukan hal yang serupa. Tapi, dalam benakku, semua ini mulai memberikan perasaan seram. Entah kenapa aku jadi berpikir kematian Pak Suryadi berkaitan dengan hidupnya di Dreamland ini. Ditambah lagi kematiannya yang tiba-tiba semakin membuatku yakin, bahwa dia memang tidak sadar telah bunuh diri. Membuat dirinya terus abadi di dalam Dreamland dan meninggalkan kehidupan aslinya di dunia nyata. Jika semua itu memang benar, itu berarti jika aku terus terbuai dengan kebahagiaan yang tidak nyata ini, aku pun benar-benar akan mati...
Angin yang selalu berhembus dengan lembut kini terasa menusuk dadaku. Sepertinya aku mulai tersadar bahwa kebahagiaan yang selama ini menina bobokanku tidaklah nyata dan justru berusaha membunuhku perlahan. Kini aku merasa semakin tidak nyaman dan ingin segera terbangun agar bisa kembali ke dunia nyata. Tapi... aku tidak tahu harus bagaimana.
"Ada apa, Rendy?" si wanita memegang pundakku. Kali ini aku sedikit terkejut. "Apa ada yang salah? Wajahmu terlihat pucat."
Aku tidak bisa menjawab apa pun. Masih terus berpikir bagaimana caranya bisa kembali dan menyudahi mimpi ini. Kali ini tempat yang semula membuatku merasa nyaman, kini justru memberikan perasaan takut. Diriku semakin tidak tenang dan sudah tidak berpikir untuk berada di sini lebih lama lagi.
Sebuah pemikiran terbesit di dalam kepala. Mungkin jika aku bisa meminta untuk terus berada di Dreamland, aku pun bisa meminta sebaliknya. Mungkin saja wanita itu akan langsung mengabulkan jika aku berkata ingin pergi dari sini. Begitulah pikirku pada awalnya.
"Rendy?"
"Em... sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku pinta." Akhirnya kuberanikan diri untuk coba berbicara.
"Katakan saja, Rendy. Bukankah aku selalu mengabulkan permintaanmu?"
"Iya, aku..."
Argh! Kenapa kata-kata ini sulit sekali keluar dari mulutku? Rasanya aku memiliki firasat buruk jika mengatakan keinginanku yang satu ini.
"Ya?" Si wanita tampaknya sedikit tidak sabar menungguku selesai berbicara.
"Aku ingin pergi dari Dreamland."
Wanita berwajah cantik di hadapanku pun langsung terdiam. Perubahan ekspresi pada wajahnya dapat kulihat dengan jelas. Tentu saja dia merasa tidak suka mendengar perkataanku barusan. Tapi dia masih mencoba untuk membuatku berubah pikiran. "Kenapa terburu-buru? Bukankah masih banyak hal yang ingin kamu lakukan di sini?"
"Aku sudah cukup puas. Mungkin ini akan menjadi hari terakhirku berada di sini."
"Coba kamu pikirkan lagi. Masih banyak tempat indah yang belum dikunjungi. Makanan enak yang belum dicicipi. Kamu ingin kehilangan semua kesempatan itu?"
"Aku benar-benar sudah merasa bahagia sekarang."
"Kamu yakin? Dengan semua beban yang ada di dunia sana? Kurasa kamu pasti akan menyesal jika harus kembali menjalani kehidupanmu yang membosankan."
"Mungkin aku sedikit merindukan kebosanan itu." Aku mulai kehabisan kata-kata. Tapi wanita itu gigih sekali.
"Kamu lucu sekali. Tidak mungkin ada orang yang suka hidup dalam keadaan seperti itu."
"Sungguh, saat ini aku hanya ingin pergi dari sini. Tidak masalah akan semembosankan apa kehidupanku. Tapi semua yang kudapatkan di Dreamland sudah cukup membuatku puas."
Kali ini si wanita benar-benar kehilangan senyumnya. Sepertinya dia marah padaku. "Maaf Rendy, tapi aku tidak bisa mengabulkannya."
"Kenapa?"
"Apakah yang aku berikan selama ini tidak cukup? Padahal hidupmu akan jauh lebih baik jika ada di sini. Kenapa kamu gigih sekali ingin kembali ke dunia yang menyeramkan itu?"
"Memang di sini jauh lebih menyenangkan. Bahkan rasanya seperti berada di dalam surga. Tapi, dengan berada di dalam sini pun aku jadi merasa tidak benar-benar hidup. Aku mohon, bawa aku pergi dari sini!"
Aku jatuh berlutut di hadapan wanita cantik yang kini sudah tidak memperlihatkan wajah ramahnya. Selama ini aku berpikir dia baik sekali, hingga akhirnya aku menyadari bahwa ternyata dia adalah makhluk terburuk yang pernah aku temui. "Tolong, biarkan aku kembali ke duniaku," pintaku lagi.
"Tidak akan. Kamu harus berada di sini bersamaku selamanya, Rendy."
Mendadak langit berubah menjadi gelap. Semua keindahan yang selama ini aku lihat hilang seketika. Bahkan wanita cantik di hadapanku berubah menjadi sosok menyeramkan yang membuatku langsung lari menjauh. Wajahnya hancur, rambutnya berubah acak-acakan, dan bajunya pun memerah semerah darah.
Kakiku seakan bergerak spontan meski tidak tahu harus menuju ke mana. Aku hanya berharap mimpi ini bisa segera berakhir dan mengembalikanku ke dunia nyata.
Rasa sesal kini mulai menjalar di dalam hati. Rasanya aku sudah membuang-buang waktu untuk berada di tempat ini. Padahal, ada banyak hal yang bisa aku lakukan untuk memperbaiki kehidupan di dunia nyata. Kini, aku sendiri tidak yakin apakah masih bisa kembali atau akan terjebak di sini selamanya.
"Menyerahlah, Rendy! Kamu tidak akan bisa melakukan apa-apa tanpaku," sebuah suara muncul dari arah langit. Aku tidak peduli dan terus berlari tanpa tahu arah. "Kamu hanya perlu memohon dan aku akan mengembalikan dunia impianmu seperti semula. Atau jika tidak, kamu bisa terus berada di dalam dunia gelap ini untuk selamanya."
Meski tidak dikejar oleh apa pun, aku tetap berlari. Terus menyusuri semak belukar yang semakin lama mulai menyakiti kakiku. Hingga akhirnya aku kehabisan tenaga dan hanya bisa menerima rasa sakit akibat jatuh tersungkur ke atas kerikil yang tajam. Aku terduduk dan mulai menangis, merasakan sesak di dalam dada akibat penyesalan yang semakin menjadi-jadi.
Selama ini aku terus-menerus mengeluhkan kehidupanku. Bahkan aku lupa bagaimana caranya bersyukur. Ternyata itulah yang selama ini telah menjelma menjadi sebuah beban yang terus bertambah berat. Aku tidak pernah merasa puas dan selalu merasa kurang. Hingga tanpa sadar, diriku sendirilah yang sebenarnya menciptakan beban tersebut. Jika saja aku menyadari hal ini lebih awal...
"Rendy."
Tiba-tiba sosok yang kurindukan kembali muncul. Kulihat ibu berdiri di hadapanku dengan tubuhnya yang bersinar di tengah kegelapan di sekitar. Bahkan ayahku pun ada di sana dengan wajah tegasnya namun selalu dibaluti dengan kasih sayang. Mereka mendekat ke arahku sembari tersenyum. Meski begitu aku bisa melihat bulir air mata menggenang di pojok mata mereka.
"Jangan menyerah, Nak. Hanya kamu yang memiliki kendali akan hidupmu sendiri. Masih banyak hal berharga yang mungkin kamu lupakan di dunia sana. Pikirkanlah semua itu, semua hal yang masih bisa memberikan kebahagiaan padamu. Maka semua beban di pundakmu tidak akan terasa berat. Ayah dan ibu yakin kamu jauh lebih kuat daripada yang kamu bayangkan. Jangan menyerah pada hidupmu, Nak. Karena semua perjuangan yang kamu lakukan, akan mendapatkan ganjaran yang lebih besar di kemudian hari. Kami tidak pernah berhenti berdoa untukmu. Dan adik-adikmu."
Sesaat, aku langsung teringat akan adik-adikku yang mulai aku lupakan. Mungkin karena itu pula aku kehilangan arti kehidupan yang sebenarnya. Karena aku telah melupakan hal berharga yang bisa memberikanku kebahagiaan di dunia. Kini aku menjadi semakin mengerti akan tujuan hidupku. Semua itu demi menjaga sumber kebahagiaan yang hampir saja aku buatnya terbuang.
"Maaf, Bu," ucapku sembari terus menangis.
"Tidak perlu meminta maaf pada ibu. Justru minta maaflah kepada dirimu sendiri, dan jangan lagi membebani dirimu dengan lupa untuk mensyukuri segala yang kamu miliki dalam hidup."
Kini aku sudah tidak lagi merasa takut meski kegelapan masih mengurung diriku. Dengan kehangatan yang ayah dan ibu berikan, aku seakan mendapatkan kekuatan untuk kembali menjalani hidup dan menjadi pribadi yang lebih baik. Aku pun langsung memeluk ibu, sementara kurasakan tangan besar ayah merangkul kami berdua.
Selama ini aku sendiri yang sudah menjebloskan diri ke dalam mimpi buruk ini. Selalu berharap untuk menghilang dan mendapatkan kebahagiaan yang semu. Semua itu semata-mata karena aku berpikir sudah tidak memiliki harapan dan ingin melarikan diri dari semua tanggung jawabku di dunia.
Tapi kini... aku sudah tidak lagi merasa takut, meski sekejam apa pun dunia akan kembali menyiksaku.
***
"Kak! Kak Rendy sudah bangun!"
Mataku sulit sekali untuk dibuka. Pandanganku masih sedikit buram dan kepalaku sakit. Bahkan aku kesulitan menggerakkan tangan karena tubuhku terasa sangat lemas. Tapi, rasanya barusan aku baru saja mendengar suara Dini.
"Kak Rendy!" Kini aku mendengar suara Arya.
Aku berusaha sangat keras hingga akhirnya bisa mengendalikan diriku sepenuhnya. Ternyata aku tidak sedang bermimpi, karena Dini, Arya dan Agnes benar-benar ada di dekatku sembari memasang wajah penuh kekhawatiran.
"Ke-kenapa kalian ada di sini?" tanyaku dengan susah payah.
"Tentu saja karena khawatir! Kami segera ke sini sewaktu dapat kabar kalau kakak masuk rumah sakit!" ujar Arya.
Rumah sakit? Bahkan aku tidak pernah sadar kenapa bisa berada di rumah sakit.
"Mereka menemukan kakak tidak sadarkan diri di dalam rumah setelah dua hari tidak masuk kerja. Kalau saja mereka tidak cepat menemukan kakak..." suara Agnes terdengar bergetar. "Setelah sebulan kakak tidak sadarkan diri, aku pikir kami akan kehilangan kakak..." Kini dia benar-benar mulai menangis.
Aku sendiri masih terdiam tidak percaya. Sepertinya sebulan ke belakang, kehidupan yang aku lakukan hanyalah sebuah mimpi. Kalau saja aku tidak segera tersadar, mungkin hidupku akan berakhir seperti Pak Suryadi. Tersesat di dalam dunia yang sebenarnya jauh lebih buruk daripada dunia tempatku berada sekarang. Terombang ambing tanpa sempat menyadari semua itu. Tanpa sempat melarikan diri dari dalam mimpi menyeramkan itu...
Aku turut menitikkan air mata di samping Agnes yang masih menangis. Bukan karena sedih, namun karena hatiku kini dipenuhi rasa lega. Aku merasa seakan mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki diri. Bersama orang-orang yang merupakan sumber kebahagiaan yang hampir saja aku lupakan.
Dengan mengerahkan segenap tenaga, aku pun bangkit untuk memeluk Agnes juga Arya yang ada di sampingku. Dian yang semula ada di samping kiriku pun berlari memelukku sembari turut mulai menangis. Aku tidak tahu apa jadinya jika aku benar-benar mati dan meninggalkan mereka. Aku masih bisa tahan jika dunia hanya menyakitiku seorang, dibanding harus melihat bagaimana dunia menyiksa orang-orang yang kusayangi. Namun, aku tidak akan pernah membiarkan itu semua terjadi.
"Maafkan kakak. Setelah ini kakak akan pulang dan mencari pekerjaan lain supaya bisa terus bersama kalian."
Untuk beberapa saat, aku terus memeluk ketiga adikku dengan hati yang mulai terasa hangat. Betapa bodohnya aku karena tidak menyadari kehadiran ketiga malaikat yang selama ini hampir kulupakan.
Setelah keluar dari rumah sakit, aku pun memulai kehidupan baru. Keluar dari tempat kerja yang telah kutempati selama delapan tahun, dan kembali ke kota kelahiranku. Aku menempati rumah lamaku yang sangat sederhana, bersama tiga orang adik yang selalu membuat rumah terasa hangat.
Kali ini hari-hariku terasa jauh lebih menyenangkan. Meskipun aku dan adik-adikku hidup di tengah keterbatasan, namun kami semua akan selalu saling menyemangati agar tidak perlu kehilangan kebahagiaan dalam hidup ini. Karena kini aku telah tersadar, bahwa kebahagiaan tidak akan datang apabila kita tidak berusaha untuk menemukannya. Dan saat ini, aku sudah benar-benar menemukan kebahagiaan milikku sendiri.
Karena satu-satunya yang memberikan kita beban hanyalah diri kita sendiri, yang tidak pernah tahu bagaimana caranya untuk bersyukur...