___________________________________________________
7
___________________________________________________
Malam Minggu kembali datang. Tapi sebagaimana malam-malam Minggu yang telah lalu, kelabu. Sebab sampai kini, dia masih saja ngejomblo, belum punya pacar, sehingga dia enggak bisa ngelakuin wakuncar atau apel. Dan sebagaimana malam Minggu yang telah berlalu, malam Minggu ini di dalam kamar tidurnya. Sendiri merenungi kesendirian dan kesepian hatinya.
Gimana dengan Sesilia?
Meski udah cukup lama antara Affandi ama Sesilia berhubungan, namun sejauh itu baik Affandi maupun Sesilia belum ngungkapin perasaan yang ada di hati masing-masing. So, mana bisa dikatakan mereka udah jadian? Dari sikap yang ditunjukkannya selama ini sih, kayaknya Sesilia mau nerima Affandi dengan apa adanya. Bahkan Sesilia senantiasa memberi dorongan pada Affandi agar bersikap optimis, jangan minder karena kegagapannya. Malah, tadi sewaktu jalan bareng pulang sehabis latihan, Sesilia dengan sungguh-sungguh memberi pujian kepadanya.
"Kakak hebat!" puji Sesilia. "Orang lain boleh nilai kakak apa saja, tetapi tidak bagi Sesi. Di mata Sesi, kakak hebat. Dan Sesi senang bisa mengenai kakak," tutur Sesilia dengan wajah nunjukkin kesungguhan.
Kalau dilihat dari kejadian sore tadi, apa enggak mungkin kalau Sesilia mau nerima Affandi apa adanya? Kini tergantung Affandi, apakah dia akan berani ngungkapin ini hatinya pada Sesilia, sehingga itu cewek tahu gimana perasaannya atau tidak?
Affandi kembali bimbang. Rasanya dia belum yakin dan percaya sepenuhnya dengan apa yang selama inj dialaminya. Semua bagaikan mimpi. Tapi Affandi yakin semua yang di alaminya bukan mimpi.
Affandi tengah duduk termenung di kursi belajarnya tengah memikirkan apa yang mesti dia lakuin agar tidak lagi ngejomblo, agar malam Minggu lusa, dia enggak mengalami kesepian lagi, ketika dari luar terdengar suara tamu memberi salam dengan ditimpali suara khas cewek idiot dan rada-rada kurang waras. Siapa lagi kalau bukan si Rohimah ama kedua ortunya, yang emang hampir tiap malam Minggu datang bersilaturahmi ke rumah Affandi. Karena selain kedua ortu Affandi masih ada talian persaudaraan dengan kedua ortu Rohimah juga membawa misi lain, yaitu mengharap kiranya Affandi mau nerima Rohimah, putri tunggal mereka sebagai pacar dan kelak kiranya Affandi mau jadi suami si Rohimah.
"Assalamu alaikummm...!"
"Wa'alaiku salam," terdengar sahutan nyokap ama bokap. Lalu kemudian terdengar suara bokap ama nyokap mempersilakan tamu masuk, setelah terlebih dulu kasih tegur sapa, "Eh, Imah... Mari silakan masuk..."
Setelah beberapa saat enggak ada suara, terdengar kembali suara si Rohimah ngajuin pertanyaan, "Mak... Bang Fandinya ada?"
"Ada..."
"Mana? Kok enggak nemuin Imah? Padahal Imah kemari kan pengen ketemu ama bang Fandi, Mak," kata Rohimah dengan gaya kemayunya yang khas, sembari jari jemari tangannya mempermainkan ujung bajunya. Sementara ingusnya tampak meleleh di atas bibir atas mulutnya.
"Imah, lap dong ingusnya." kata nyokapnya.
Rohimah nurut, ngelap ingusnya, tetapi bukan dengan sapu tangan melainkan dengan punggubg telapak tangan kanannya. Sehingga ingusnya makin tambah belepotan kemana-mana, bahkan di punggung telapak tangan kanannya terdapat ingus.
"Aduh, Imah, kenapa enggak pakai saputangan?" keluh nyokapnya sembari ngambil saputangan putrinya, lalu ngebersihin ingus Rohimah yang belepotan kemana-mana dengan saputangan itu.
"Mak..."
"Ya?" sahut nyokap Affandi.
"Bang Fandinya mana? Imah pengen ketemu. Imah udah kuangennn... sekali..."
"Sebentar emak panggilin, ya? Sekalian emak buatin minuman untuk kalian."
Kagak lama kemudian, pintu kamar tidur Affandi pun terdengar di ketuk diikuti dengan berkumandangnya suara nyokap memanggil, "Fan... Ada Imah sama paman dan bibi lo..."
"I... i... iya, Mak. Fan... Fan... Fandi... sud... sud.. sudah... ta... ta... tahu," jawab Affandi.
"Kalau udah tahu kok enggak keluar?"
"Fan... Fan... Fandi... ra... ra... rada... pus.. pus... pusing... am... am.. ama... cap... cap... cape, Mak," jawab Affandi kasih alasan.
"Mending elo temuin aja dulu. Kagak enak, kan?"
"I... i... iya, Mak. Seb... seb... sebentar..."
"Ya udah, mak tunggu."
Suara nyokap enggak kedengeran lagi, pertanda kalau nyokap udah pergi dari depan pintu kamarnya. Affandi pun menghela napas panjang berusaha nyabarin hati. Acatanya untuk merenung memikirkan gumana caranya agar malam Minggu lusa dia enggak ngejomblo lagi, jadi terganggu dengan kedatangan Rohimah bersama kedua orang tuanya.
Dengan agak malas, Affandi akhirnya keluar dari kamarnya untuk nemuin Rohimah beserta kedua orang tuanya yang juga masih paman dan bibi misannya. Soalnya sebagaimana yang udah dituturin di muka, antara nyokapnya Affandi sama nyokapnya Rohimah masih ada talian persaudaraan. Mereka kakak beradik misan, satu kakek-nenek. Kakeknya Affandi dari nyokap, adalah kakak dari kakeknya Rohimah, juga dari nyokap.
"Met... mal... mal... malam, Pam... pam... paman... bib... bib... bibi..." sapa Affandi.
"Eh, Fandi. Malam..." balas boksp Rohimah sembari senyum.
Ngeliat Affandi muncul, Rohimah langsung bangun dari duduknya, kemudian dengan gaya kemayunya orang idiot dan rada-rada kurang waras, menyongsong ke arah Affandi. Sehingga Affandi yang mau nyalamin bokap ama nyokapnya Rohimah jadi terhalang.
"Bang Fandiii...!"
"I... i... iya... Im... Im... Imah?"
"Kita main petak umpet, yok?"
"Nan... nan... nanti... aj... aj.. aja," jawab Affandi.
"Kenapa emangnya? Bang Fandu enggak mau ya, main ama Imah lagi?"
"Buk... buk... bukan... beg... beg... begitu..."
"Lalu, kenapa?"
"Kan... ad... ad... ada... pam... pam... paman... sam... sam... sama... bib... bib... bibi... men... men... mending... kit... kit... kita... ngob... ngob... ngobrol... aj... aj... aja... ya?" bujuk Affandi, berharap Rohimah akan mau dan enggak terus ngajakin dia main.
"Iya, Imah. Lagian bang Fandi kan habis latihan karate, cape," timpal nyokapnya Affandi turut membujuk Rohimah agar enggak ngambek. Soalnya kalau itu si idiot ama rada-rada kurang waras ngambek, kemudian nangis ama guling-gulingan di lantai, bakal repot jadinya.
"Tapi... tapi, Mak. Inikan malam terakhir Imah ketemu sama bang Fandi..."
"Malam terakhir?" ulang nyokapnya Affandi dengan kening mengerut sembari menatap lekat ke wajah Rohimah, kemudian pandangannya beralih ke arah adik sepupunya, Irma, nyokapnya si Rohimah. Seakan nyokapnya Affandi pengen minta penjelasan dari adik sepupunya, apa maksud dari ucapan Rohimah.
"Iya, mpok. Besok rencananya kami mau pindah," jawab bokapnya Rohimah.
"Pindah?" desis bokap ama nyokap Affandi bareng dengan wajah nunjukkin rasa kaget.
"Iya , Bang," sahut nyokapnya Rohimah.
"Pindah kemana?" tanya bokap Affandi.
"Ke kampung, Bang."
"Nah, trus semua harta yang ada di sini, gimana?" tanya nyokapnya Affandi.
"Udah kami jual semua, mpok. Habis untuk shopping dan ya, ngobatin si Imah kemana-mana agar bisa normal. Tapi sampai semua habis, ternyata Imah enggak juga bisa baek," tutur nyokapnya Rohimah dengan wajah murung. Begitu juga dengan bokapnya Rohimah yang seminggu lalu masih ngejanjikan bakal membiayai semua sekokah Affandi kemanapun Affandi mau sekolah asal mau sama Rohimah, sepertinya malu pada Affandi sama kedua orang tuanya.
"Tapi kan, tanah warisan dari kakeknya si Imah banyak. Berhektar-hektar jumlahnya. Gimana bisa habis?" tanya nyokapnya Affandi.
"Seberapa pun banyaknya, mpok. Kalau tiap ari dipakai, sedangkan pemasukannya enggak ada, lama ke lamaan bakal habis juga. Maka sebelum semuanya bener-bener ludes, akhirnya kami pikir mending sisanya digunain untuk usaha di kampung," jawab nyokapnya Rohimah.
"Kenapa enggak coba usaha di Jakarta aja?" tanga bokapnya Affandi.
"Biaya hidup di Jakarta besar, Bang. Sedangkan pemasukan belum tentu. Tapu kalau di kampung kan biaya hidupnya kecil, jadi sambil nunggu usaha jalan, kami masih bisa berhemat," tutur bokapnya Rohimah.
Bokap ama nyokapnya Affandi menggut-manggut setuju.
"Trus, mengenai keinginan kalian ngejodohin si Imah ama si Fandi, gimana?" tanya bokap.
"Ah, lupakanlah semua itu, Bang. Maafkan kami yang enggak mau berkaca diri."
"Maksudnya?"
"Ya, gimana juga kami mesti sadar, Bang. Sekarang bukannya zaman Siti Nurbaya lagi. Dan kedua, kami juga sadar keadaan anak kami. Jadi sekali lagi kami mohon maaf, dan kiranya abang serta mpok berkenan memaafkan sikap kami selama ini..."
"Ah, lupakan masalah itu. Kita ini kan masih keluarga, enggak perlu minta maaf segala. Yang telah lalu, biarlah berlalu. Ya, semoga aja kalian di kampung bisa hidup tenang, juga berhasil," deaah nyokapnya Affandu ngedoain.
"Iya, Mpok."
Ini malam bener-bener penuh keharuan dan kesedihan. Karena ini malam merupakan malam terakhir dua keluarga yang masih ada hubungan sanak keluarga bertemu. Affandi pun ikut nangis sedih. Meski selama ini dia merasa direpotin oleh sikap dan tingkah laku Rohimah yang idiot dan rada-rada kurang waras, namun bagaimana juga, selama ini hanya berhubungan dengannya. Sementara yang lain, seakan menguculkan dirinya dan menjadikannya seperti makhluk terasing, yang kehadirannya senantiasa jadi bahan olokan dan hinaan.
Setelah dirasa cukup ngobrol, akhirnya bokap ama nyokapnya Rohimah pun pamit, "Baiklah, Bang, mpok, Fandi, kami pamit dulu..."
"Kok buru-buru? Baru aja jam sembilan," kata bokapnya Affandi.
"Kami mesti nyiap-nyiapin segala keperluan, Bang."
"Ya udah, kami cuma bisa ngiringin do'a untuk kalian."
"Ya, Bang. Permisi... Assalamu alaikum..."
"Im... Im... Imah...!" desis Affandi memanggil Rohimah dengan mata berkaca-kaca menahan linangan air mata.
"Bang Fandiii..."
Rohimah nangis sembari memeluk Affandi. Dan kali inu, Affandi yang biasanya enggak suka dipeluk begitu rupa si Rohimah, malah balas memeluk itu cewek idiot yang selama ini sering bikin dia ama nyokap repot.
"Im... Im.. Imah..."
"Ya, Bang?"
"Jang... jang... jangan... nang... nang... nangis..."
"Abang juga nangis..."
"I... i... iya, sih."
"Abang nangis kenapa?"
"Ab... ab... abang... sed... sed... sedih... kar... kar... karena... har... har... harus... pis... pis... pisah... sam... sam... sama... Im... Im... Imah..."
"Imah juga, Bang. Imah juga sedih karena harus berpisah sama abang," ratap Rohimah dengan gaya idiot dan rada-rada kurang warasnya sembari mulutnya mewek, sehingga bibirnya jadi tampak lebar. Kalau saja enggak dalam suasana haru dan sedih, mungkin semua akan ketawa ngeliat sikap Rohimah yang meski sudah berumur tujuh belas tahun, namun karena idiot dan rada-rada kurang waras, sehingga sifatnya seperti anak belita aja.
"I... i.... iya, Im... Im... Imah. Ab... ab... abang... jug... jug... juga... sed... sed... sedih. Tap... tap... tapi... Im... Im... Imah... deng... deng... dengerin... ab... ab... abang... ngom... ngom... ngomong...."
"Abang mau ngomong apaan?"
"Set... set... setelah... di... kam... kam... kampung... Im... Im... Imah... jang... jang... jangan... nak... nak... nakal, ya? So... so... soalnya di... san... san... sana... ka... ka... kagak... ad... ad... ada... ab... ab... abang... yang... nem... nem... nemenin... Imah... ma... ma... main..."
"Tapi bang Fandi janji kan, akan main ke rumah Imah?"
"In... in... insya... Al... Al... Allah," jawab Fandi.
"Bener ya, nanti abang main ke sana?"
"I... i... iya..."
Dengan diiringi pandangan mata yang berkaca-kaca dari keluarga Affandi, Rohimah ama kedua orang taunya yang besok akan pindah meninggalkan Jakarta untuk mencoba hidup di kampung itu pun pulang.
"Kasihan juga mereka," desah nyokap setelah Rohimah dan kedua orang tuanya menghilang dari pandangan mereka.
"Iya," timpal bokap. "Tapi semua kesalahan mereka sendiri. Harta warisan segitu banyak, habis percuma enggak ada bentuknya..."
"Ya, emang kadang harta warisan kalau kita enggak bisa ngelolanya, malah bisa jadi bumerang, Pak..."
"Kalau saja si Asrul mau usaha, enggak cums ngandelin itu harta warisan, gue rasa enggak bakal capet habis. Soalnya menurut yang gue tahu, Mak, harta warisan si Asrul itu enggak bakal habis dimakan tujuh turunan."
"Nyatanya, baru satu turunan aja habis, kan?" timpal nyokap.
"Ya, sudahlah, tak usah kita ngomongin orang lain. Yang jelas, kini anak kita bisa lega, enggak perlu nurutin kemauan si Imah yang kadang enggak masuk akal," gumam bokap sembari melangkah masuk diikuti nyokap. Sementara Affandi, justru udah dari tadi kembali ke kamarnya.
***
Jam udah nunjukkin angka sebelas malam dan Rohimah beserta kedua orang tuanya udah pulang dua jam yang lalu, namun kedua mata Affandi yang udah kembali ke kamar belum juga dapat di pejamkan. Setelah beberapa saat mikirin si idiot ama rada-rada kurang waras Rohimah yang mulai besok bakal meninggalkan Jakarta, ingatan Affandi pun kembali melayang pada Sesilia. Pada semua kejadian bersama Sesilia. Pada sikap Sesilia yang baik. Pada tutur kata serta pujian Sesilia kepadanya tadi sore sewaktu dia dan Sesilia pulang bareng selesai latihan karate.
Affandi menghela napas panjang setelah sesaat kembali mengingat kejadian tadi sore. Dia pun jadi berpikir, apakah itu cewek cantik suka ama dirinya? Ah, apakah enggak berlebihan dia berpikiran seperti itu? Apakah tidak sama halnya dengan si pungguk merindukan bulan? Manalah pantas dia yang gagap, yang setiap kehadirannya senantiasa menjadi bahan olokan dan hinaan orang, berharap cinta dari Sesilia yang cantik molek bak bidadari yang baru turun dari khayangan?
Jangan terlaly bermimpi, Affandi. Cobalah elo, berkaca serta mewas diri. Siapa elo? Ell hanyalah mahluk terasing, yang kehadirannya senantiasa jadi bahan olokan ama hinaan orang. Sedangkan Sesilia itu seorang bidadari yang sangat mempesona. Dia baik, sama elo, bukan berarti dia cinta ama elo. Mungkin saja dia baik ama elo, karena dia merasa iba sama elo. Sudah beruntung dia mau nerima elo sebagai teman. Jadi, jangalah elo berharap yang terlalu berlebihan. Batin Affandi berusaha ngengetin pada dirinya. Namun tetap saja Affandi enggak bisa tenang. Tetap saja Affandi ngerasa gelisah resah. Kagak sekejap mata pun dia bisa ngeluapin bayangan Sesilia. Di telinganya terus mengiang omongan Sesilia.
"Kakak jangan pesimis ama rendah diri. Kakak mesti yakin pada kemmapuan yang kakak miliki..."
Dari omongan yang dikatakannya, nunjukkin kalau Sesilia ingin Affandi punya rasa percaya diri. Itu berarti itu cewek punya perhatian sama dia. Jadi, Kenapa enggak dia coba untuk ngungkapin isi hatinya pada itu cewek? Jadi, enggak ada salahnya untuk mencoba, kan? Diterima syukur, enggak diterima juga enggak apa-apa, sudah resiki. Yang penting, sebagaimana saran Sesilia, dia mesti punya rasa percaya diri.
Berpikir seperti itu, akhirnya Affandi pun mutusin untuk ngungkapin isi hatinya pada Sesilia lewat surat. Soalnya, kalau secara langsung, dengan keadaannya yang gagap, rasanya kurang pas. Perlu waktu cukup lama untuk ngungkapin isi hatinya. tetapi kalau lewat surat, maka selain dia enggak perlu ngmong, dengan ngebaca suratnya, Sesilia akan lebih mudah mencerna ama memahami apa yang tetkadung di dalam isi suratnya.
Setelah mantap dengan keputusannya, serta dengan harapan kiranya cintanya pada Sesilia yang selama ini nunjukkin sikap baik padanya enggak bertepuk sebelah tangan sehingga dia jadi enggak lagi ngjomblo, Affandi pun segera turun dari ranjangnya, menghampiri meja belajar, duduk di kursi belajarnya, ngebuka laci meja, ngeluarin kertas surat ama ngambil sebatang pena. Setelah melembari halaman muka kertas surat, Affandi pun mulai nulis.
Setelah selesai, Affandi enggak langsung melipat itu surat. Namun dia kembali ngebaca kata demi kata, kalimat demi kalimat ini surat yang dia tulis. Baru setelah dirasa enggak ada yang salah dan sesuai dengan apa yang diinginkannya, Affandi pun melipat itu surat serapi dan sebagus mungkin, untuk kemudian memasukkannya ke dalam amplop warna merah jambu. Setelah itu, dimasukkannya amplop berisi surat untuk Sesilia ke dalam saku tas, sehingga besok lusa Senin saat dia berangkat ke sekolah, dia enggak kelupaan.
Jarum jam beker yang ada di atas meja belajar nunjukkin angka sebelas lewat dua puluh lima menit, ketika Affandi akhirnya kembali ke ranjang tidurnya. Ngerebahin tubuh di atas ranjang sembari menatap langit-langit kamar tidurnya, ngebayangin seraut wajah cantik penuh pesona Sesilia.
Sesi... Sedang apa elo disana? Apakah elo juga ngerasain hal seperti yang gue rasain malam ini? Desah Affandi dalam hati. Kemudian dia pun membaca do'a mau tidur serta do'a-doa lainnya. Lalu menyeka wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dan akhirnya, Affandi pun terlena dalam mimpi.
***
___________________________________________________
8
___________________________________________________
Dengan penuh semangat, Affandi berangkat ke sekolah. Ini hari, Affandi berharap bakal menjadi hari yang bersejarah. Hari awal yang akan mengubah semua kehidupannya. Setelah ini hari, Affandi berharap dirinya enggak lagi ngejomblo. Setelah ini hari, Affandi berharap kiranya enggak lagi jadi mahluk terasing. Setalah inu hari, Affandi berharap malam Minggu enggak lagi kelabu, karena dia bakal punya acara wakuncar. Setelah ini hari, Affandi berharap bisa nunjukkin ama teman-temannya, terutama Daniel, kalau dia yang selama ini dihina dan diperolok, bisa mendapatkan cinta dan bahkan punya gacoan yang cantik jelita laksana bidadari, ngelebihin cantiknya si Hilda pacarnya Daniel. Bahkan ngelebihin cantiknya si Yeni, primadona SMU Nusantara. Ngebayangin semua itu, membuat semangat Affandi makin menjadi-jadi. Sehingga makin membuat teman-teman sekolahnya terlolong bengong mirip sapi ompong yang mau dipotong.
"Wah, wah, wah... ini hari lo semangat banget, man?" tegur Daniel yang emang suka usil begitu ketemu sama Affandi yang melangkah pasti dengan wajah berseri-seri. "Apa yang membuat elo punya semangat juang, man?"
"Ap... ap... apa... ka... ka... kagak... bol... bol... boleh... kal... kal... kalau... gu... gu... gue... sem... sem... semangat, man?" balik Affandi dengan pakai bahasa gaul sebagaimana yang di tuturkan oleh Daniel dan teman-teman lainnya.
"Hei, elo ngomong pakai gaul, man?!" goda Daniel sambil senyum. Matanys lekat natap wajah Affandi dengan wajah nunjukkin rasa enggak percaya.
"Ap... ap... apa... kag... kag... kagak... bol... bol... boleh...?" tanya Affandi.
"Bukannya enggak boleh, man. Tapi gue bener-bener enggak ngangka kalau ini hari elo bener-bener laen, man. So, gue yakin pasti ati elo sedang happu kan, man?" kata Daniel dengan mata tetap lekat mandangin wajah Affandi seakan berusaha pengen tahu, kebahagiaan apa yang tengah dirasain oleh Affandi. Sehingga si gagap ini bener-bener tampil lain dari biasanya.
Affandi cuma senyum. Dan itu justru makin membuat Daniel yang emang suka usil jadi kian bertambah penasan aja, semakin pengen tahu aja apa membuat temannya tampil beda dari biasanya.
"Ayolah, man. kasih tahu gue dong. apa yang tengah membuat elo happy, man..."
"Ap... ap... apa... yang... kas... kas... kasih.. ta... ta... tahu... sam... sam... sama... el... el... elo, man?"
"Ah, man. tentunya kabar gembirakan, man?"
"Tid... tid... tidak... ad... ad... ada... ap... ap... apa... am... am... ama... gu... gu.... gue, kok. Su... su... suer, man..."
Daniel cuma senyum sambil geleng kepala dengan mata masih lekat natap wajah Affandi. Seakan Daniel yang suka usil itu kagak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Affandi. Maklumlah, selama ini belum pernah Daniel ngliat Affandi seceria dan se happy sekarang. So, Daniel bahkan mungkin teman lainnya, bakal menduga pasti ada apa-apa sama Affandi. Dan emang, ada sesuatu yang membuat hati Affandi senang. Apalagi kalau bukan karena ini ari dia bakal kembali ketemu ama Sesilia. Bahkan ini hari dia bakal ngungkapin isi hatinya sama Sesilia dan berharap itu cewek yang selama ini nunjukkin sikap baik ama penuh perhatian bakal nerima dan ngebales cintanya. Sehingga dia enggak nge-jomblo lagi. Dan malam Minggu yang akan datang enggak sepi lagi.
"Oke man, itu emang hak elo untuk enggak ngasih tahu siapa pun termasuk gue mengenai apa yang membuat elo ini hari happy. Sebagai teman, gue cuma berharap kiranya elo bener-bener bakal happy. Gue berharap kiranya yang membuat elo happy adalah cewek, dengan kata lain elo bakal punya gacoan, sehingga elo enggak ng-jomblo terus," kata Daniel tulus sembari senyum.
"Thank... thank... thank... you..."
"Oke, met happy deh," kata Daniel sembari menepuk pundak Affandi. "Gue duluan, ya?"
Affandi memgangguk.
Daniel pun bergegas mempercepat langkahnya, pengen buru-buru sampai di ruang kelas. Apalagi kalau enggak pengen segera ngumpul sama teman-temannya untuk nyeritain pengalaman mereka di malam Minggu sebagaimana biasanya.
Sebenernya dengan keadaan sekarang dimana dia kini udah punya teman baik yang cantik dan baik hati bagai bidadari, Affandi bisa aja ikut ngumpul ama teman-temannya dan ikut nyeritain rasa happy-nya. Namun, apa teman-temannya bisa percaya dan mau mendengarkan ceritanya? Kalau cuma enggak percaya sih enggak apa-apa. Nah, kalau mereka malah mentertawakannya? Atau menganggap dia sedang ngigau atau mimpi, malah tambah celaka akibatnya. Lagi pula, Affandi emang paling enggak suka ngumpul-ngumpul apa lagi sambil cerita yang enggak-enggak seperti mereka. Affandi yakin, apa yang sering mereka ceritain satu sama lain, bukan kejadian yang sebenarnya. Dengan kata lain, mereka nembah-nambahin bumbu yang emang membuat cerita mereka makin tambah seru. Meski itu sama artinya ngebual atau ngecap!
Tapi biarlah, itu urusan mereka dan hak meraka. Affandi enggak mau usil, apalagi ngiri sama mereka. Yang penting mereka enggak nyakitin dirinya dan nginjek-nginjek harga dirinya.
Dengan wajah masih berseri-seri secerah langit pagi ini yanv bersih enggak ada sedikit pun awan yang menutupi, Affandi terus melangkah nyusurin jalan menuju ke sekolahnya. Sesekali Affandi ngebalas sapaan teman-temannya yang memanggil-nya dengan panggilan "Gagap" dengan senyum ramah, walau mereka kadang ngeluarin olokan dan ejekan kepadanya. Bukanlah Nabi sendiri bersabda, "Balaslah ejekan dan hinaan mereka dengan senyum. Niscaya Tuhan akan melapangkan dadamu." Lagi pula, bukankah senyum itu obat awet muda?
Affandi akhirnya sampai di pintu gerbang sekolahnya. Dian hendak nerusin langkah kakinya menuju ke pintu masuk gedung sekolah, ketika terdengar suara cewek memanggil namanya, bukan dengan panggilan olokan 'Gagap'.
"Fandi..."
Affandi nengok. Tampak Erika berada di belakangnya, melangkah agak cepat menuju ke arahnya Sepertinya ada sesuatu yang hendak di sampaikan itu cewek pada Affandi.
"Fandi tunggu...!" seru Erika.
Affandi pun nurut menghentikan langkahnya.
"Ad... ad... ada... ap... ap... apa, Er... Er... Erika?"
"Gue mau tanya sama elo."
"Tan... tan... tanya... ap... ap... apa?"
"Bener elo jago karate?"
"Kat... kat... kata... si... si... siapa?"
"Sesi..."
"Se... Se... Sesi?"
"Ya."
"Kam... kam... kamu... ken... ken... kenal... sam... sam... sama... di... di... dia?" tanya Affandi.
"Dia teman gue waktu SMP."
"Ben... ben... benar... kah?"
"Jee... kapan gue pernah boong sama elo, sih? Masak kalau enggak kenal gue ngaku-ngaku kenal? Lagi pula, dari mana gue tahu kalau elo jago karate kalau bukan dari dia?"
"Ap... ap... apa... kat... kat... katanya?"
"Katanya, elo jago karate dan elo jadi simpe di sasana milik omnya. Bener?"
"I... i... iya, sih."
"Wuah... gile lo, Fan."
"Gil... gil... gila... ken... ken... kenapa?"
"Ya, gila, karena gue enggak sangka kalau eli seorang karateka. Kalau aja Sesi enggak ngasih tahu ama gue, mungkin gue bakal enggak pernah tahu kalau elo jago karate..."
Affandi cuma senyum.
"Elo jago karate, tetapi kenapa selama ini elo diam aja kalau diolok atau diejek bahkan dihina?" tanya Erika.
"Lal... lal... lalu... gu... gu... gue... mes... mes... mesti... gim... gim... gimana? Ap... ap... apa... gu... gu... gue... ha... ha... hatus... meng... haj... haj... hajar... mer... mer... mereka?"
"Ya, setidaknya elo mesti kasih mereka pelajaran agar enggak terus menerus mengejek dan memperolok elo, dong..."
"Kar... kar... karate... buk... buk... bukan... un... un... untuk... ber... ber... berkelahi. Tap... tap... tapi.... un... un... untuk... mem... mem... membela... dir... dir... diri," jawab Affandi.
"Apa yang gue katakan itu kan pembelaan diri, Fan. Kecuali elo yang memulai. Elo kan cuma ngebela dir dari ejekan dan olok-oloj mereka..."
"Gu... gu... gue... ka... ka... kagak... ma... ma... mau... rib... rib... ribut. Lag... lag... lagi... pul... pul... pula.... mer... mer... mereka... cum... cum... cuma... ber... ber... bercan... bercanda. Yang... pen... pen... penting... mer... mer... mereka... ka... ka.... kagak... men... men...menyakiti... dan... meng... meng... menginjak... in... injak... har... har... harga... di... di... diri... gu... gu... gue," tutur Affandi.
Erika tersenyum sembari menggeleng-geleng kan kepala dengan mata menatap kagum ke wajah Affandi. "Elo emang baik, Fan. Sayang, mereka yang suka mengolok dan mengejek elo, enggak bisa menghargai kebaikan elo. Tapi gue yakin, kalau mereka tahu elo jago karate, mereka mungkin akan segan dan enggaj lagi mengolok dan mengejek elo, Fan..."
"Ah... Bi... bi... biar... sa... sa... saja," desah Affandi. "Oh... i... i... iya... kap... kap... kapan... kam... kam... kamu... ket... ket... ketemu... Se... Se... Sesi?"
"Tadi, waktu mau berangkat, Dia juga titip salam untuk elo."
"Ap... ap... apa... kat... kat... katanya?"
"Nanti siang sepulang sekokah, dia nunggu elo di halte biasa. Katanya ada yang mau dia omongin sama elo," tutur Erika kasih tahu.
"Trim... trim... trima... kas... kas... kasih..."
"Oh ya, sejak kapan elo kenal Sesi?" selidik Erika sembari memandang lekat ke wajah Affandi, seakan pengen tahu gimana reaksi itu cowok.
"Lum... lum... lumayan. Ham... ham... hampir... seb... seb... sebul... bulan..."
"Hm, lumayan juga."
"I... i... iya. Di... di... dia... em... em... emang... ba... ba... baik."
"Ya, dia emang baik dan enggak sombong, meski dia anak orang kaya."
Melihat Erika yang lumayan cantik dan bintang kelas jalan beriringan dengan Affandi, seketika teman-temannya pun ramai saling berbisik sembari memandang heran ke arah mereka. Seakan apa yang mereka lihat merupakan hal yang aneh. Ya, maklumlah, selama ini emang belum pernah ada cewek di sekolah itu yang paling jelek sekali pun yang mau jalan bareng dengan Affandi. Tapi sekarang, Erika yang lumayan cantik dan juga merupakan bintang sekolah, karena selalu pegang rengking pertama, mau jalan bareng sama Affandi. Apa itu bukan hal yang aneh? Mereka pun jadi bertanya-tanya, ada apa dengan Erika? Apa itu cewek udah jadi bego atau idiot, sehingga mau- maunya jalan bareng ama si gagap?
"Kam... kam... kamu... li... li... lihat, Er... Er... Erika... mer... mer... mereka... bis... bis... bisik... bisik... ngom... ngom... ngomongin... kit... kit... kita... ap... ap... apa... kam... kam... kamu... ka... ka... ka... kagak... mal... mal... malu... jal... jal... jalan... bar... bar... bareng... sam... sam... sama... gu... gu... gue?"
"Biarin aja mereka ngomong apa. Kenapa gue mesti malu jalan ama elo? Kalau Sesi yang cantik dan anak orang kaya aja enggak malu jalan sama eli, kenapa gue yang enggak ada apa-apanya dibanding Sesi mesti malu? Mereka aja yang enggaj tahu siapa elo sebenarnya, Fan. Gue yakin, kalau mereka tahu siapa elo sebenarnya, mereka enggak bakal bersikap seperti itu," kata Erika cuek. Malah dia sengaja makin mepet ke tubuh Affandi, sehingga membuat teman-teman mereka kian bertambah heran ngeliatnya.
Bukan cuma di emperan gedung sekolah aja keduanya jadi pusat perhatian, tetapi begitu Affandi ama Erika masuk ke dalam menuju ke ruang kelas, hampir semua teman mereka tampak melongo bengong.
"Sejak kapan eli mau jalan ama si gagap, Erika?" tanya seorang teman cewek.
"Kenapa? Enggak boleh emangnya?" balik Erika tegas sembari dengan tajam matanya balas memandang ke tatapan teman-temannya. "Gue mau jalan ama siapa aja, itu hak gue."
"Iya sih, tapi apa elo enggak malu?"
"Malu kenapa? Emangnya Fandi salah apa hingga gue harus malu jalan ama dia? Lagi pula, Fandi bukan mahluk asing. Dia juga seperti gue, seperti elo..."
"Ma... ma... maafin... sa... sa... saya, Er... Er... Erika. Kar... kar... karena... sa... sa... saya... kam... kam... kamu... jad... jad... jadi... sus... sus... susah..."
"Enggak, Sesekali mereka emang mestu diberi pengertian, Fan. Sehingga mereka enggak terus menerus seperti mereka. Malah gue rasa, elo punya kelebihan yang enggak mereka miliki..."
"Kelebihan apa yang si gagap miliki?" tanya seorang teman cowok.
"Paling gagapnya itu, kelebihannya!" timpal yang lain dengan senyum mengejek.
Yang lainnya tertawa.
Erika sebenarnya pengen ngasih tahu pada teman-temannya apa kelebihan Affandi dibanding mereka. Dia juga sebenarnya pengen kasih tahu pada teman-temannya, kalau Affandi itu seorang jago karate, pemegang sabuk hitam, dan seorang simpe atau pembina di sebuah sasana karate milik paman temannya. Namun sebelum Erika bicara, Affandi telah menggelengkan kepala, melarang padanya agar jangan memberitahu akan apa yang telah dia tahu.
"Sud... sud... sudah... lah. Er... Er... Erika... Kit... kit... kita kagak us... us... usah... rib... rib... ribut... In... in... ini... mem... mem.... memang... sal.... sal... salah... gu... gu... gue. Gar... gar... gara... gara... gu... gu... gue... kam... kam... kamu... jad... jad... jadi... pun... pun... punya... mas... mas... masalah."
"Enggak, Bukan salah elo, Fan. Mereka aja yang keterlaluan..." desah Erika berusaha menahan sabar sembari ngikutin Affandi, nerusin langkah menuju ke ruang kelas untuk naruh tas sekolahnya.
Sememtara teman-teman mereka, masih memandangi keduanya dengan pandangan mencibir. Bahkan masih ada dari mereka yang menggumam nada mengejek, "Kok Erika enggak malu ya jalan ama si gaga?!"
Pengin Erika ngedamprat itu orang yang ngomong. Namun karena Affandu ngelarang, akhirnya Erika pun hanya diam aja. Biarkan aja anjing menggonggong. kafilah tetap berlalu.
***
__________________________________________________
9
__________________________________________________
Sebagaimana hari senin yang telah lalu, sebelum bel tanda masuk dimulainya pelajaran berbunyi, para cowok kelas II-A pun ngumpul di dalam kelas. Bergerombol, saling berbagi cerita mengenai pengalaman mereka di malam Minggu. Namun mereka seketika menghentikan ceritanya, manakala dari luar masuk Affandi yang berjalan bersama dengan Erika. Sebagaimana teman-teman sekolah mereka di luar, para cowok kelas II-A pun seketika melongo bengong dengan wajah nunjukkin rasa enggak percaya ama apa yang tengah dilihatnya. Bahkan Aditio dan Daniel serta beberapa anak lainnya, mesti ngucek-ngucek mata mereka beberapa kali.
"Apa enggak salah yang gue lihat?" gumam Aditio.
Bahkan Daniel yang suka usil, sembari senyum menggoda menggumam bagai tak percaya, "Oh, jadi Erika yang membuat ini hari elo tampak happy, man?"
"Ada apa sih dengan kalian?! Seperti ngeliat hantu aja!" sengat Erika.
"Wah, gue rasa lebih dari ngeliat hantu," gumam Aditio.
"Maksud elo?" tanya Erika.
"Gue ngeliat mahluk asing tengah jalan ama bidadari."
"Gue rasa, mahluk asingnya bukan Fandi, tetapi elo!" kecam Erika.
"Wuahhh...!" Aditio tercengang dengan muka merah padam. Dia enggak nyangka kalau si bintang sekolah, bakal ngabela mati-matian si gagap Affandi.
Teman-temannya yang sedang ngumpul bersamanya tertawa ngakak ngeliat wajah Aditio yang merah padam.
"Gila...! Ada apa sama elo, Erika?"
"Enggak ada apa-apa. Kenapa emangnya?" balik Erika.
"Elo begitu semangat dan getolnya ngebela si gagap..."
"Karena Fandi emang perlu dibela," jawab Erika sembari nambahin. "Sebenarnya, kalau aja Fandi mau ngelawan, dia enggak perlu dibela. Sebab dengan kemampuannya, dia bisa kok ngasih pelajaran ama kalian. Namun karena dia enggak suka ribut, jadinya dia diam aja kalian olok dan ejek. Dan gue merasa sikap kalian semua di sekolah ini tehadapnya udah sangat kelewatan..."
"Kelewatan gimana maksud eli, Erika?" tanya Daniel.
"Ya, kelewatan. Kalian toh udah ngenal Fandi bukan baru kemarin, tetapi udah hampir dua tahun. Semestinya kalian mengerti dan memahami keadaan Fandi, dong. Tidak malah terus memperolok dan mengejeknya. Cobalah kalian pikir, teman dan manusia macam apa sebenernya kalian? Sebagai manusia yang diberi karunia ama Tuhan lebih sempurna ketimbang Fandi, semestinya kita sebagai teman menjaga ama melindunginya. Bukan malah memperolok dan mengejek kekurangannya."
Daniel, Aditio dan yang lainnya terdiam bungkam dengan wajah nunjukkin keterperangahan. Mereka bener-bener enggak nyangka kalau Erika bakal begitu getol ngebela Affandi. Bahkan si Bintang kelas itu bakal berani mengkritik sikap dan tindakan mereka selama ini terhadap Affandi dan dinilainya salah dan udah kelewatan.
"Sebagai teman yang udah hampir dua tahun mengenal Fandi, semestinya kalian udah bisa memahami siapa Fandi. Tapi kesombongan, keangkuhan, serta kecongkakan kalian seolah enggak tahu dan enggak mengenal Fandi..." tambah Erika yang semakin membuat Daniel, Aditio serta yang lainnya semakin terdiam bungkam.
"Gue mau tanya sama kalian," kata Erika lagi. "Apa kalian punya hati nurani?"
"Jee...! Gila lo, Erika. Sebagai manusia yang bermoral, tentu aja gue punya hati nurani," jawab Daniel.
"Iya ini Erika. Kalau ngomong jangan asal ngecuap aja, dong...!" sungut Fery. "Emangnya kami ini udah gila apa, sampai elo nanya kami punya hati nurani enggak. Kami masih normal, tentu aja kami punya hati nurani, dong..."
"Kalau emang kalian masih punya hati nurani, kenapa sikap kalian terhadap Fandi seperti enggak punya hati nurani? Hampir dua tahun kalian memperlakukan Affandi seperti mahluk terasing. Selalu kalian perolok. Selalu kalian ejek. Seandainya kalian yang diperlakukan begitu, gimana perasaan kalian?" tanya Erika sembari memandangi wajah mereka satu persatu.
Daniel, Aditio, Fery dan yang lainnys semakin tambah bungkam.
"Kalian pasti marah, kan?" tanya Erika lagi. Mereka enggak ngejawab. Yang mereka lakukan cuma termenung, seakan berusaha memikirkan semua omongan Erika. Dalam hati mereka mengakui kebenaran apa yang dituturkan oleh Erika. Kalua mereka yang diperlakukan seperti Affandi, jelas mereka marah. Bahkan mungkin akan menghajar orang yang memperolok dan mengejek mereka. Tapi Affandi? Ya, Affandi, teman mereka enggak marah. Affandi, teman mereka begitu sabar dan menerima sikap mereka dengan lapang dada. Kagak pernah nunjukkin kemarahan apalagi sampai menghajar mereka.
"Sebenernya, Fandi bukannya enggak marah. Sebagai manusia normal, Fandi juga punya rasa marah. Namun karena dia anak baik dan enggak suka ribut, dia enggak mau nunjukkin kekecewaan ama maranya atas sikap dan perlakuan kalian selama ini. Kalau dia mau, gue yakin bukan hal yang sulit bagi dia menghajar kalian..."
"Heh, emangnya bisa apa dia?" tanya Heru. Erika senyum sembari natap lekat wajah Heru, kemudian sembari menggeleng-gelengkan kepala, Erika berkata, "Itulah kalian. Hampir dua tahun kalian jadi teman Fandi, tetapi kalian enggak tahu apalagi mengenal siapa teman kalian..."
"Maksud elo, Erika?"
"Perlu kaluan tahu, ya, gue sendiri selama ini telah dibutakan dengan kesombongan dan kecongkakam sebagaimana kalian. Sehingga gue enggak tahu kalau sebenernya Fandi memiliki kelebihan dibanding gue dan kalian semua."
"Emangnya, si gagap punya kelebihan apa?" tanya Daniel.
"Kalian mau tahu kelebihan Affandi?"
"Ya."
"Selama ini kalian pikir Fandi itu pengecut, karena enggak pernah ribut dan membalas olokan serta hinaan kalian. Tapi kalau kalian tahi siapa Fandi, gue yakin pasti kalian akan berpikir seribu kali kalau mau mengolok dan mengejeknya."
"Kenapa emangnya?" tanya Daniel.
"Iya, emangnya apa sih kelebihan si gagap?" timpal Yudha.
"Fandi itu seorang karateka pemegang sabuk item..."
"HAHHH...?!"
Semua terlongong bengong dengan mata memandang ke wajah Affandi dengan pandangan hampir-hampir enggak percaya.
"Yang bener elo ngomong, Erika?" tanya Aditio masih belum percaya dengan apa yang baru saja didengernya.
"Dan kalian akan makin tambah kaget, jika gue berutahu sama kalian, kalau dia itu seorang simpe atau pembina karate di sasana Go Ju Kai-Do milik Omnya teman gue!"
"HAHH...?!"
"WHAT?!"
"GILE...!"
"MASAK SIH?!
"YANG BENER?!"
Terdengar suara-suara gumaman keterkejutan keluar dari mulut mereka. Namun masih ada yang tetap enggak percaya kalau Affandi yang selama ini mereka anggap culun dan banci karena enggak pernah mau ribut, adalah seorang karateka pemegang sabuk hitam. Bahkan seorang simpe atau pembina karate di sebuah sasana yang cukup ternama.
"Gue enggak percaya kalau si gagap jago karate?"
"Iya. Masak cowok seperti dia bisa karate?"
"Terserah kalian mau percaya atau enggak. Gue cuma kasih tahu aja sama kalian akan apa yang gue tahu. Kalau kalian mau bukti, kalian bisa lihat sendiri setiap Rabu dan Sabtu sore."
"Dimana sasana itu?" tanya Daniel.
Erika pun memberitahu alamat sasana Go Ju Kai-Do.
"Kalau dia mau kasih pelajaran sama kalian, bukan hal sulit baginya yang jago karate menghajar kalian. Hanya saja karena dia enggak mau ribut dan dia berhati baik, sehingga dia enggak bertindak meski kalian selama ini sennatiasa mengolok dan mengejeknya.
Semua terdiam dengan pikiran masing-masing. Ada yang kaget, heran, kagum, juga tetap belum bisa percaya demgan apa yang dituturkan oleh Erika, sebelum ngebuktiin sendiri, ngeliat dengan mata kepala sendiri. Namun yang jelas, ini hari ada banyak kejutan yang bener-bener ngejutin mereka.
Kejutan pertama, Erika si bintang sekolah yang selama ini senantiasa pegang ranking pertama dan lumayan cantik, mau jalan bareng sama si gagap Affandi. Kejutan kedua, mereka enggak nyangka kalau Erika ngebela mati-matian Affandi, bahkan berani mengkritik dan mengecam sikap dan tindakkan mereka yang selama ini mereka tunjukkin terhadap Affandi. Dan kejutan ketiga, mereka enggak nyangka kalau Affandi yang selama ini mereka anggap banci karena enggak pernah mau ribut apalagi berkelahi macam mereka, ternyata seorang kerate pemegang sabuk hitam, bahkan seorang simpe si sebuah sasana yang cukup ternama dan terkenal.
Inilah hidup. Dalam hidup, kadang muncul kejutan-kejutan yang sebelumnya enggak kita sangka.
***
___________________________________________________
10
___________________________________________________
Bel tanda berangkatnya jam sekolah berdering kencang. Begitu guru keluar dari kelas, seketika para siswa pun berhamburan bagai burung yang keluar dari sarangnya. Affandi kembali berusaha untuk keluar dari kelas lebih dulu. Apalagi tadi dia udah dapat informasi dari Erika, kalau ini siang Sesilia nunggu dia di haltr pertemuan seperti biasanya.
Karena pengen cepet-cepet sampai di tempat yang dituju, kembali Affandi harus pakai taksi. Sebab kalau pakai angkutan umum biasa, dia khawatir akan terlambat, keburu Sesilia pulang. Dan betapa berbunganya hati Affandi, begitu ngeliat ternyata Sesilia masih ada di halte itu. Setelah ngebayar ongkos taksi, Affandi pun segera turun dari taksi.
"Hai, kak Fandi..."
"Hei, Se... Se... Sesi? Sud... sud... sudah... lam... lam... lama... nung... nung... nunggu?"
"Tidak juga, Kak. Sesi juga baru pulang sekolah. Oh ya, kak Fandi sekelas ama Erika, ya?"
"I... i... iya."
"Oo..." Sesilia manggut-manggut.
"Dar... dar... dari... man... man... mana... Se... Se... Sesi... ta... ta... tahu... kal... kalau... sa... sa... saya... sek... sek... sekel... kelas... sam... sam... sama... Er... Er... Erika?"
"Tadi pagi, sewaktu Sesi mau berangkat sekolah ketemu sama Erika. Sesi ama Erika waktu SMP kan satu sekolah, malah dari kelas satu sampai kelas tiga, Sesi selalu sekelas ama Erika. Nah, karena lama kami enggak ketemu, kami pun ngobrol. Erika banyak nyeritain mengenai kak Fandi. Jadi Sesi pun tahu kalau Erika sekelas ama kak Fandi," tutur Sesilia memberi-tahu.
"Ngom... ngom... ngomong... ap... ap... apa... aja... Er... Er... Erika... sam... sam... sama... Ses... Ses... Sesi?"
"Ya, banyak. Tapi pada dasarnya, Erika merasa kasihan pada kakak yang katanya di sekolah hampit semua teman kakak selalu mengolok ama mengejek kakak."
"Dan... Ses... Ses... Sesi... kas... kas... kasih... ta... ta... tahu... sam... sam... sama... Er... Er... Erika... kal... kal... kalau... sa... sa... saya... bis... bis... bisa... kar... kar.... karate?" tanya Affandi.
"Iya, Mendengar penuturan Erika mengenai kakak, Sesi merasa turut kesal ama teman-teman kakak yang sama sekali enggak menghargai apalagi segen sama kakak. Karena itu, Sesi pun kasih tahu sama Erika, siapa kakak sebenarnya, dengan harapan Erika akan nyampein sama teman-temannya, sehingga mereka akan jadi segen sama kakak..."
"Seb... seb... sebenarnya... sa... sa... saya... tid... tid... tidak... ing... ing... ingin... mer... mer... mereka... ta... ta... tahu. Tap... tap... tapi... ya... sud... sud... sudah..."
"Oh ya, kakak terima salam dari Erika?"
"I... i... iya. Ad... ad... ada... ap... ap... apa?" tanya Affandi.
"Kakak kan teman Sesi, jadi segala apa yang Sesi rasakan. baik suka maupun duka, sesi pengen berbagi sama kakak. Kak Fandi enggak keberatan, kan?"
"Tid... tid... tidak. Mal... mal... malah... sa... sa... saya.... sang... sang... sangat... sen... sen... senang... kar... kar... karena... Ses... Ses... Sesi... ma... ma... mau... per... per... percaya... sam... sam... sama... sa... sa... saya..."
"Iya dong, kak. Sebagai teman, kita harus saling percaya, kan?"
"I... i... iya."
"Kak..."
"I... i... iya."
"Sesi kan anak tunggal. Sesi enggak punya kakak, juga adik. Sehingga selama ini enggak ada tempat bagi Sesi untuk curhat," tutur Sesilia seperti mengeluh.
"Mak... mak... maksud, Se... Se... Sesi?" tanya Affandi.
"Maksud Sesi, kalau kak Fandi tidak keberatan, Sesi ingin menganggap kak Fandi sebagai kakak Sesi. Gimana menurut Kak Fandi? Kakak keberatan enggak kalau Sesi anggap sebagai kakak Sesi?" tanya Sesilia dengan mata mentap lekat ke wajah Affandi, seakan meminta kesediaan dan keikhlasan itu cowok. Namun pernyataan Sesilia justru membuat Affandi seketika tertegun dengan perasaan yang tak menentu.
Ya Tuhan, bagaimana ini? Affandi udah berharap kiranya Sesilia mau nerima dia jadi pacarnya, sehingga dia enggak ngejoblo lagi. Sehingga jika malam Minggu ada acara, enggak ngurung diri di kamarnya merajut sepi. Bahkan dia kemarin malam telah menulis surat untuk itu cewek, yang sedianya akan dia kasihkan ini hari. Tapi kenyataannya, Sesilia malah memintanya untuk mau dianggap sebagai kakak, bukan sebagai pacar.
Affandi terdiam membisu dengan hati merintih. Pupuslah sudah harapannya untuk bisa mendapatkan kekasih. Pupus sudah impiannya untuk menggapai cinta.
"Kak Fandi," tegur Sesilia.
" Oh... i... i... iya?"
"Kok diam?"
"Ap... ap... apa?"
"Kak Fandi belum menjawab permintaan Sesi."
"Meng... meng... mengenai... ap... ap... apa?"
"Kakak bersedia enggak jadi kakak Sesi?"
Affandi kembali terdiam dengan pikiran dibalut kebingungan. Haruskah dia terima dan kabulkan permintaan itu cewek? Yang berarti dia harus memupus rasa cintanya sebagai seorang cowok terhadap cewek? Lalu gimana dengan perasaan cinta kasihnya pada itu cewek? Tapi kalau dia menolak, tentunya akan membuat Sesilia kecewa. Padahal salama ini itu cewek telah begitu baik kepadanya. Dimana hampir semua orang mengasingkan dan memperolok dirinya, Sesilia justru mau menerimanya menjadi teman. Bahkan itu cewek enggak sungkan dan malu jalan bareng dan ngobrol dengannya. Padahal cewek lain, jangankan jalan bareng denganny, ngobrol pun rasanya enggan.
"Kak Fandi," tegur Sesilia lagi, karena Affansi kembali terdiam.
"Oh... i... i... iya?"
"Kakak bersedia kan jadi kaka Sesi?"
"Ber... ber... bersed... sedia," jawab Affandi akhirnya dengan berusaha menahan perasaan sedih dan kecewanya, karena cintanya tak tersampaikan.
"Kok wajah kakak murung. Kenapa?" tanys Sesilia dengan mata memandang lekat ke wajah Affandi, seakan dia tengah berusaha menyelidiki itu cowok, dan ingin tahu apa yang membuat itu cowok jadi berubah murung.
"Oh, eh... tid... tid... tidak." Affandi berusaha tersenyum, namun gagal. Yang muncul di bibirnya justru hanya sebentuk garis patah.
"Bener kakak tidak apa-apa?" tanya Sesilia beeusaha negesin.
"i... i... iya."
"Kalau kakak bener mau menjadi kakak Sesi, kakak mesti terbuka dong ama Sesi. Kalau emang ada yang ngeganjal di hati kakak, mending kakak sampaikan aja, dari pada nanti malah membuat kakak jadi sakit."
Affandi kembali terdiam bungkam, namun hatinya menjerit sakit. Elo enggak tahu, Sesi. Elo enggak tahu, kalau gie emang sedih dan kecew. Gue berharap elo mau jadi pacar gue. Gue berharap elo mau nerima gue sebagai pacar elo. Tapi ternyata elo justru malah meminta gue jadi kakak elo. Patah sudah hati gue, Sesi. Pupus sudah harapan gue. Haruskah gue katakan yang sebenarnya sama elo? Haruskah gue katakan kalau gue cinta elo? Kalau gue pengen elo jadi pacar gue?
"Kak...!"
"Oh, eh, i... i... iya?"
"Ada apa?"
"Tid... tid... tidak... ap... ap... apa... apa."
"Suer?"
"Su... su... suer..."
"Jadi kak Fandi maukan nerima Sesi sebagai adik kakak?"
"Ten... ten... tentu... saj... saj... saja..."
"Oh, Kak..."
Tanpa Affandu duga, Sesilia langsung memeluknya. Semua itu membuat itu cowok jadi gelagapan dengan jantung berdebar kencang. Darahnya pun seketika mengalir dengan derasnya, nimbulin desiran keras di sekujur tubuhnya. Dan semua itu membuat mata Affandi berkunang-kunang bagai mau pingsan. Gimana enggak? Seumur-umur, jangankan dipeluk begitu oleh cewek, bergandengan mesra aja enggak pernah. Nah ini, Sesilia yang cantik bak bidadari yang baru turun dari Khayangan, putri tunggal seorang pengusaha kaya, yang tentunya banyak cowok yang suka bahkan tergila-gila kepadanya, malah memeluknya. Sekujur tubuh Affandi pun jadi gemetaran tidak karuan.
"Kak Fandi," desis Sesilia sembari ngelepasin pelukannya dan memandang lekat ke wajah Affandi dengan pandangan heran, melihat sekujur tubuh Affandi tampak gemetaran. "Kakak kenapa?"
"Tid... tid... tidak. Tid... tid... tidak... ken... ken... kenapa... kenapa," jawab Affandi.
"Tapi tubuh kakak gemetaran? Kakak sakit?"
"Tid... tid... tidak."
"Lalu kenapa tubuh kakak gemetaran dan wajah kakak pucat?"
"Kar... kar... karena... sa... sa... saya... sel... sel... selama... in... in... ini... bel... bel... belum... per... per... pernah... di... pel... pel... peluk... ce... ce... cewek... sep... sep... seperti... in... in... ini," jawab Affandi.
Mendengar penuturan Affandi, Sesilia justru malah tertawa lepas. Hal itu membuat Affandi seketika jadi mengerutkan kening.
"Ken... ken... kenapa... kam... kam... kamu... ter... ter... tertawa?"
"Habisnya kak Fandi lucu sih..."
"Luc... luc... lucu... ken... ken... kenapa?"
"Masak dipeluk cewek aja belum pernah, sih?"
"Sung... sung... sungguh..."
"Nah, ibunya kak Fandi kan cewek?"
"It... it... itu... la... la... lain. Yang... sa... sa... saya... mak... mak... maksud, ce... ce... cewek... sel... sel... selain... nyo... nyo... nyokap..."
Sesilia menggut-munggut dwngan bibir masih senyum.
"Kalau dicium cewek, udah pernah belum?" tanyanya menggoda.
"Di... pel... pel... peluk... aj... aj... aja... ud... ud... udah... kan... kan... panas... ding... ding... ding... dingin. Gim... gim... gimana... di... ci... ci... cium... bis... bis... bisa... bisa... ping... ping... pingsan," jawab Affandi.
"Masak, sih?" gumam Sesilia tak percaya. Dan tanpa ngomong lebih dulu, itu cewek langsung aja kasih sun di kedua pipi Affandi. Akibatnya... Sesaat Affandi terperangah, kemudian dia merasa matanya berkunang-kunang. Bumi yang dipijaknya bagai berputar. Dan Affandi pun jatuh pingsan.
Barulah Sesilia panik. Dengan wajah cemas, dia pun berusaha menyadarkan Affandi.
"Kak... Kak. Fandi... aduh, gimana ini? Kalau ngerti dia bener-bener akan pingsan, mending tadi tidak usah gue cium. Ya Tuhan. Kak... Kak Fandi, sadar, Kak," ucap Sesilia sembari mengguncang- guncang tubuh Affandi yang pingsan dengan harapan itu cowok secepatnya siuman. Namu Affandi enggak juga siuman, dan hal itu semakin membuat Sesilia kian tambah cemas.
"Aduh, gimana ini? Apa yang mesti gue lakuin?" keluh Sesilia bingung mesti gimana. Apa mesti dia hubungi rumah sakit, minta didatangkan ambulan untuk ngebawa Affandi yang pingsan ke rumah sakit? Tapi emang enggak ada jalan lain, kecuali dia mesti menghubungi rumah sakit dan minta bantuan. Maka Sesilia pun segera ngeluarin ponsel- nya. Menekan nomor bantuan. Namun baru saja dia hendak ngomong sama perugas kesehatan, Affandi keburu siuman lebih dulu.
"Oh..."
"Kak Fandi... Oh, syukurlah kakak akhirnya siuman juga."
"Ap... ap... apa... yang... ter... ter... ja... ja... jadi?" tanya Affandi.
"Kakak pingsan setelah Sesi cium. Aduh, Kak, Sesi jadi cemas dan takut. Kalau ngerti kakak bener-bener akan pingsan, mending tadi Sesi enggak usah nyium..."
"Tid... tid... tidak... ap... ap... apa... apa..."
"Kak Fandi sungguh enggak apa-apa?"
Affandi mengangguk.
"Mending kita cari makanan ama minuman, yuk Kak?' ajak Sesilia.
"Tid... tid... tidak... us... us... usah. Sa... sa... saya... ma... ma... mau... pul... pul... pulang... aj... aj... aja..."
"Kok buru-buru, sih? Sesi kan belum cerita sama kakak."
"Ap... ap... apa... yang... hen... hen... hendak.... kam... kam... kamu... cer... cer... ceritakan?"
"Makanya, mending kita cari cafe. Sambil nikmati makan siang, nanti Sesi ceritain. Kak Fandi mau, kan?"
Karena enggak ingin ngecewain Sesilia yang selama inu telah begitu baik kepadanya, meski hatinya kecewa karena itu cewek yang diharapkan bakal jadi pacarnya, tapi ternyata malah memintanya untuk mau jadi kakaknya, Affandi pun nurut. Keduanya pun melangkah bersama meninggalkan halte, menuju ke sebuah cafe yang jaraknya enggak terlalu jauh dari tempat itu.
***
Setelah mengambil tempat duduk di sudut cafe dan setelah memesan makanan serta minuman, Sesilia pun mulai menuturkan apa yang tadi dia ingin ceritain sama Affandi.
"Sesi bungung, Kak. Menurut Sesi, Bagus itu cowok yang baik dan penuh perhatian serta pengertian. Tapi papa sepertinya enggak suka kalau Sesi berhubungan dengannya."
"Ken... ken... kenapa?" tanya Affandi.
"Mungkin karena Bagus cuma anak orang biasa," desah Sesilia.
"Cum... cum... cuma... it... it... itu... seb... seb... sebabnya?"
"Sesi rasa, ya."
"Ap... ap... apa... tid... tid... tidak... ad... ad... ada... yang... la... la... lain?"
"Entahlah, Kak. Sesi harus gimana, Kak? Sesi sangat mencintai Bagus, begitu juga sebaliknya. Dan Sesi yakin, kalau kakak bertemu dengannya, kakak pun bakal suka padanya. Yang utama bagi Sesi, Bagus orangnya ramah, penuh perhatian dan juga sangat tulus mencintai Sesi, Walau dia tampan, tapi dia enggak mau ngumbar ketampanannya untuk ngengaet cewek lain. Dia sangat setia. Sesi nuturin masalah ini pada kakak, dengan harapan kakak bisa membantu Sesi..."
"Ap... ap... apa... yang... yang... bis... bis... bisa... sa... sa... saya... ban... ban... bantu?" tanya Affandi dengan hati semakin menjerit sakit, setelah tahu kalau ternyata Sesilia selama ini sudah punya pacar. Affamdi jadi merasa bener-bener seperti orang bodoh dan tolol! Dia ngerasa kalau dirinya enggak mau berkaca diri. Sehingga dia yang gagap dan selama ini senantiasa dijadiin bahan olokan dan ejekan teman-temannya, begitu berharap dan mendambakan cewek secantik Sesilia. Tapi menurut gue sih, itu bukan salah Affandi mutlak. Gimana juga, Affandi toh belum pernah punya pacar. Dan selama ini, sikap Sesilia kepadanya begitu baik dan bahkan kadang tampak mesra. Wajar dong kalau Affandi yang belum pernah sekali pun mengenal cewek jadi punya perasaan dan harapan begitu pada itu cewek.
"Jujur saja, kak. Mungkin kakak merasa heran kalau selama ini Sesi bersikap mesra ama kakak. Maafin Sesi, Kak. Itu semua Sesi lakukan semata-mata pengen nguji sampai seberapa kuat cinta Bagus pada Sesi."
"Jad... jad... jadi..."
"Sekali lagi maafin Sesi, Kak. Bukan maksud Sesi hendak mempermainkan kakak. Sesi sadar, sikap Sesi selama ini, tentunya telah membuat kakak berharap lebih pada Sesi. Tapi, sebenernya bukannya Sesi enggak suka sama kakak. Hanya saja, Sesi udah terlanjur lebih dulu bertemu dan kenal Bagus. Kalau aja kita bertemu lebih awal sebelum Sesi ketemu ama Bagus, mungkin kejadiannya akan berbeda..."
"Tid... tid... tidak... ap... ap... apa... apa... Bag... bag... bagai... man... man... mana... pun... jug... jug... juga... sa... sa... saya... sud... sud... sudah... cuk... cuk... cukup... sen... sen... senang... kar... kar... karena... kam... kam... kamu... ma... ma... mau... ber... ber... bertem... teman... deng... deng... dengan... sa... sa... saya. Bah... bah... bahkan... ma... ma... mau... meng... meng... mengang... anggap... sa... sa... saya... sau... sau... saudar... dara..."
"Terimakasih atas pengertian kakak. Sungguh, Sesi bener-bener tulus pengen jadi adik kak Fandi. Karena jujur aja, Sesi kagum pada kakak. Itu sebabnya Sesi enggak suka kalau ada orang yang mengolok apalagi menghina kakak. Karena Sesi enggak rela kakak yang Sesi kagumi diperolok dan dihina orang lain, hanya karena kakak gagap."
"I... i... iya. Sa... sa... saya... meng... meng... meng... mengerti."
Pada saat itu, dari luar cafe masuk seorang cowok tampan dan keren namun berpenampulan sederhana. Itu cowok keren kasih senyum, ketika melihat Sesilia. Begitu juga sebaliknya, Seailia pun balas senyum ke arah itu cowok.
"Hai, maaf mengganggu," kata itu cowok pada Affandi.
"Kak Fandi. Kenalkan, ini Bagus. Dan Gus, kenalkan ini kakak gue, Kak Fandi yang sering gue ceritain ama elo," tutur Sesilia.
Dengan ramah, Bagus ngulurin tangannya ke arah Affandi sembari nyebutin namanya, "Bagus. Senang kenal ama kamu..."
"Fan... Fan... Fandi."
Sesilia pun memanggil pelayan, kemudian setelah pelayan cafe menghampiri, Sesilia bertanya pada pacarnya, "Elo pesan apaan?"
"Seperti Fandi aja," jawab Bagus.
"Ken... ken... kenapa... har... har... harus... sep... sep... seperti... sa... sa... saya?" tanya Affandi.
" Gimana juga, kita sama-sama mencintai dan menyayangi cewek yang sama, kan? Dan saya yakin, kamu pun tak akan keberatan jika dimintai bantuan atau pertolongan oleh Sesi. Karena Sesi telah mengangkatmu sebagai kakak, jadi kamu tidak keberatan kan kalau saya nganggap kamu saudara?" pinta Bagus dengan penuh kesungguhan.
"Sau... sau... saudara?"
"Ya. Apa kamu keberatan?"
"Buk... buk... bukan... beg... beg... begitu."
"Lalu?"
"Ap... ap... apa... kam... kam... kamu... tid... tid... tidak... mal... mal... malu... ber... ber... bersau... sau... saudara... deng... deng... dengan... sa... sa... saya?"
"Kenapa saya harus malu? Karena kamu gagap?"
Affandi mengangguk.
"Apakah mengikat tali persaudaraan mesti pakai kriteria? Tidak, kan? Dan saya tulus pengen menjalin persaudaraan denganmu. Saudara tempat berbagi suka maupun duka. Tapi ya, mungkin kamu akan lebih banyak menerima duka dan derita saya ketimbang bahagia, Fan. Dan saya rasa, Sesi ydah banyak bercerita mengenai saya padamu..."
"Ken... ken... kenapa... kam... kam... kamu... ber... ber... berkat... kata... beg... beg... begitu? Buk... buk... bukankah... sau... sua... saudar... dara... ak... ak... akan... deng... deng... dengan... tul... tul... tulus... men... men... mener... ner... nerima... ap... ap... apa... ad... ad... adanya?"
"Jadi, kamu mau menganggapku saudara?"
"Deng... deng... dengan... sen... sen... senang... hat... hat... hati. Dan... ap... ap... apakah... kam... kam... kamu... jug... jug... juga... ma... ma... mau... ner... ner... nerima... sa... sa... saya... se... se... sebagai... sau... sau... saudara?"
"Aku akan menyambutmu dengan tulus dan senang hati, saudaraku..." kata Bagus sembari ngulurin tangannya ke arah Affandi yang menyambutnya dengan senyum. Kemudian keduanya pun saling berpelukan penuh keakraban dan persaudaraan.
Hati Affandi bener-bener sedih, tetapi juga senang. Sedih karena harapannya untuk mendapatkan cinta dari Sesilia sirna, karena itu cewek jelita laksana bidadari dari Khayangan, ternyata udah punya pacar. Senang dan bahagia, karena kini bertambah sahabat yang mau menerimanya dengan apa adanya, tanpa harus memperolok dan mengejek dirinya. Bahkan Sesilia dan Bagus, malah memintanya mau menjadi saudara mereka.
Mereka pun ngobrol saling bertukar pikiran dan pandangan mengenai kehidupan dan cinta serta yang lainnya, dengan sesekali diselingi canda tawa penuh rasa bahagia. Dan begitu pesanan yang mereka pesan datang, maka mereka pun bersama-sama menikmatinya.
***
_________________________________________________
11
________________________________________________
Ulangan kenaikan kelas telah berlalu. Pembagian rapot pun telah dilaksanakan. Dan untuk kesekian kalinya, Affandi harus puas berada di urutan ketiga setelah Erika dan Aji Saka. Hari ini sampai lima belas hari kemuka, adalah hari libur kenaikan kelas. Affandi belum ada rencana untuk mengisi liburan kenaikan kelasnya. Sehingga yang dilakukannya hanya berdiam diri dirumah. Namun semalam, bokap ama nyokapnya berencana hendak mengajak Affandi liburan di kampung asal nyokap Affandi, sekaligus mereka ingin menjenguk keluarga Rohimah yang sudah sekian lamanya pindah ke kampung namun sampai kinj belum ada kabar beritanya.
Sore ini, Affandi tengah duduk-duduk diteras rumahnya menikmati sore sembari merenungi hidup yang selama inu di jalaninya. Semenjak kejadian dia menyelamatkan Herlina dari maksud jahat para pemuda berandalan. Herlina pun bersikap baik kepadanya. Sehingga di sekolahnya kini tak ada lagi orang yang memperolok apalagi menghina kegagapannya. Apalagi setelah semua temannya dan para guru tahu, kalau dirinya seorang karatena pemegang sabuk hitam dan menjadi simpe di sasana Go Ju Kai Do, semua jadi baik kepadanya. Yang kini masih menjadi pemikiran Affandi adalah, adakah cewek yang mau menerima dan membalas cintanya dengan tulus?
Erika memang baik padanya. Bahkan sebelum teman-teman cewek yang lain mau menerima kehadirannya dengan wajar, Erika sudah lebih dulu mau menerima dirinya menjadi teman. Tetapi sebagaimana yang pernah dikatakannya, Erika belum mau menerima cinta dari cowok dengan alasan masih ingin mengejar cita-cita. Namun Affandi tak yakin kalau alasan itu seratus persen alasan murni Erika. Affandi merasa, Erika mengatakan hal itu, karena dia tidak ingin menyinggung perasaannya. Affandi yakin, sesungguhnya Erika memang tidak mau menerima apalagi membalas cintanya. Mungkin Erik sudah punya pilihan sendiri. Dan memang, beberapa hari belakangan ini Erika tampak lebih dekat dengan Aji Saka.
Affandi memaklumi dan bisa menerima hal itu, karena dibanding dirinya yang gagap, Aji Saka memiliki banyak kelebihan. Selain normal, cerdas, Aji Saka juga tampan dan baik. Tidak akan malu-maluin Erika jika diperkenalkan kepada keluarga dan teman-teman cewek itu. Sebaliknya dirinya? Meski Erika bisa menerima kekurangannya, tentulah kegagapannya akan menjadi kendala atau masalah bagi cewek itu jika nanti hendak diperkenalkan kepada keluarganya dan juga teman-temannya.
"Lalu, adakah bidadari yang benar-benar tulus mencintainya?
Akankah selamanya gue nge-jomblo? Pikir Affandi. Ah, kalau saja gue enggak gagap, mungkin kagak akan begini jadinya. Mungkin sudah jauh-jauh hari gue punya pacar... Ya Allah, gue tahu Engkau Maha Adil dan Bijaksana. Gue yakin, Engkau pasti sudah menciptakan gue dengan pasangan gue. Siapakah pasangan gue ya Allah...? desisnya dalam hati, bertanya sang Pencipta.
Rupanya Allah mendengar pertanyaannya. Dan Allah pun memberikan jawaban-Nya saat itu juga.
"BANG...! BANG FANDIII...!"
Affandi tersentak dari ketermenungannya. Dia masih ingat dan mengenal benar suara merdu itu. Itu suara Rohimah atau Imah. Cewek cantik namun idiot yang masih ada hubungan kerabat dengannya, karena nyokapnya Rohimah adalah saudara sepupu nyokap-nya. Tetapi, biasanya suara itu melagukannya dengan gaya khas seorang anak idiot. Biasanya, Imah akan memanggilnya dengan gaya manja dieja, "Bang Fandiii..." Lagi pula, bukankah Rohimah berada di kampung?
Tak yakin dengan perasaannya, perlahan Affandi mengangkat wajahnya memandang ke depan, dimana jalan raya yang ada di depan rumahnya berada. Dan Affandi pun terperangah, saat melihat sesosok cewek cantik jelita penuh pesona, berdiri dengan bibir tersenyum memandang ke arahnya. Siapakah dia? Rohimah kah? Ah, tidak! Tidak mungkin dia Rohimah. Rohimah idiot, sedangkan itu cewek normal, sempurna banget bagai seorang bidadari. Sesilia ama Herlina aja kalah cantik dan rupawannya.
"BANGGG...!" seru cewek cantik itu lagi sembari melambaikan tangan ke arah Affandi yang masih tertegun. Kemudian cewek cantik itu dengan gayanya yang lemah gemulai yang semakin menambah keanggunan penampilannya, melangkah memasuki pekarangan rumah Affandi, menghampiri cowok itu yang masih tertegun.
"Si... si... siapa... kam... kam... kamu?"
"Ini aku, Bang. Masak abang lupa sih sama aku?" kemudian cewek cantik jelita penuh pesona laksana seorang bidadari yang baru turun dari khayangan itu pun memperagakan gaya seorang anak idiot yang suka mengusap ingusnya dengan tangan, Saat itulah...
"Im... Imah! Elo Imah...?!" desis Affandi dengan sepasang mata membuka lebar, dan tanpa sadar dia bicara lancar, tidak gagap sebagaimana biasanya.
"Benar, Bang. Ini aku. Imah-mu..."
"Imah...!
"Bang...!
Keduanya berpelukan penuh keharuan dan kebahagiaan. Bahkan saking haru dan behagianya, sampai-sampai daru kedua mata mereka mengalir buturan air mata.
Mendengar suara ramai di teras rumah, kedua orang tua Affandi pun keluar pengen tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pada saat itu, dari jalan kedua orang tua Rohimah yang baru turun dari taksi melangkah memasuki pakarangan rumah.
"Bang... mpok...!" seru kedua orang tua Rohimah memanggil.
"Dik Asrul... dik Irma...!" balas kedua orang tua Affandi.
kedua keluarga itu pun saling berpelukan penuh keharuan. Kemudian kedua orang tua Affandi memandang ke arah anak mereka yang masih berpelukan dengan seorang cewek cantik.
"Fandi... apa-apaan elo! Siapa itu cewek?!" tanya bokap.
Affandi dan Rohimah pun melepaskan pelukan mereka. Kemudian setelah saling pandang, keduanya memandang ke arah kedua orang tua Affandi.
"Mak, bapak, ini aku. Imah..."
"Astaghfirullah haladzim... benarkah elo Imah?"
"Benar, Mak. Ini Imah..."
"Ya Allah, Imah..."
"Imah sudah sembuh, mpok," tutur nyokap Rohimah memberitahu. "Kini Imah enggak idiot lagi. Dia kini jadi cewek normal."
"Ya Allah, Imah..."
Rohimah pun menyalami dan mencium punggung tangan kedua orang tua Affandi.
"Mak... bapak..."
"Aduh Imah, emak ama bapak senang melihat kamu sehat dan baik-baik saja. Emak dan bapak gembira sekali."
"Ada yang akan membuat emak dan bapak lebih gembira lagi," tutur Imah.
"Apa?"
"Bang Fandi tidak gagap lagi."
"Benarkah itu, Fan?"
"Iya, Mak, Pak," jawab Affandi.
"Alhamdulillah... Ya Allah, akhirnya Engkau tunjukkan pada kami kebesaran rahmat dan karunia-Mu. Rupanya kehadiran eli Imah, membuat Fandi sembuh dari gagapnya," tutur bokap Affandi.
"Iya," timpal nyokap. "Mungkin emang kalian jodoh..."
"Apakah mpok dan abang masih mau menerima perjodohan itu?" tanya nyokapnya Imah.
"Kenapa emangnya?"
"Ya, kini kami kan..."
"Irma, elo jangan ngomong begitu. Bagaimana juga, elo masih saudara gue. Lagi pula, dari dulu gue emang suka ama Imah. Bagaimana dengan eli sendiri, Fan?"
"Ah, Emak..."
"Ah, sebaiknya kita masuk dulu. Enggak enak ngobrol di luar. Ayo..." ajak bokap Affandi sembari membimbing bokapnya Imah masuk. Kemudian kedua oramg tua Affandi dan Imah pun masuk ke dalam, membiarkan anak-anak mereka berdua untuk mencurahkan perasaan masing-masing.
"Imah..."
"Ya, Bang?"
"Kamu..."
"Imah kenapa, Bang?"
"Kamu... cantik sekali."
"Ah, Bang Fandi..." desah Imah tersipu malu semabari menundukkan kepala.
"Imah..."
"Ya...?"
"Apa di kampung eli udah punya...?
"Punya apa, Bang?"
"Pacar..."
"Iih... bang Fandi ngeledek ya?"
"Ngeledek bagaimana?"
"Mana ada cowok yang mau dengan Imah yang idiot, Bang..."
"Tapi sekarang elo kan udah kagak idiot lagi. Malah sekarang elo seperti bidadari yang baru turun dari kahayangan. Gue yakin, pastilah banyak cowok yang suka ama elo..."
"Iya sih, Bang. Tapi..."
"Tapi kenapa?"
"Imah enggak bisa nerima cinta mereka."
"Kenapa?"
"Entahlah... yang pasti Imah enggak bisa ngelupain abang."
"Benarkah?"
Imah mengangguk sembari tersenyum dan menundukkan kepala.
Perlahan Affandi mengulurkan tangannya dan meraih jari-jemari Imah, kemudian digenggamnya dengan penuh kehangatan dan kemesraan. Sementara Imah perlahan merebahkan kepalanya di pundak Affandi yang menerimanya dengan sepenuh hati dan penuh kasih sayang.
"Gue mencintai elo, Imah..." bisik Affandi.
"Imah juga, Bang..."
"Mungkin kita ditakdirkan untuk berjodoh, Imah."
"Ya, Bang..."
Ah, sore yang indah itu pun semakin bertambah indah dengan menyatunya perasaan cinta yang ada di hati Affandi dan Rohimah.
Akhirnya Affandi sembuh dari gagapnya dan mendapatkan cinta sejatinya.
💞Selesai💞