Ini adalah hari kedua aku merasakan sakit. Sebenarnya sakit biasa saja. Aku sedang merasakan radang tenggorokan dan kebetulan baru saja badanku digerus. Apalah itu istilahnya dibidang penyembuhan. Alhasil kemarin hidung mampet, meler, mata berair, badan ngilu-ngilu, kepala pusing, badan panas, dan lidah serasa sedikit pahit. Pokoknya mau tidur model apa saja tetap tidak nyaman. Tapi memang hari ini udah mulai enakan. udah mulai keluar keringat. Dan tadi siang aku sudah mulai mandi sih. Aku memang sengaja tidak mengkonsumsi obat. Berusaha. Karena menurut terapisku, sakitku yang aku rasakan selama ini adalah karena akibat dari aku sudah sekian lama konsumsi obat-obatan.
Yah memang aku langganan radang tenggorokan, dan migrain. Dulu-dulu aku kalau sakit paling setahun sekali. Normallah. Tapi makin kesini. Makin bertambah umur, aku sadari bahwa hampir setiap bulan aku radang tenggorokan. Dan memang sakit kepalaku hampir setiap hari. Sakit kepala yang kalau sudah sakit banget, bisa sampai mual, dan benci melihat cahaya. Aku harus berada di tempat yang gelap. Kalau bisa tanpa cahaya sedikitpun. Macam vampire aja. Memusuhi cahaya matahari. Kalau aku cahaya lampupun bikin tambah pusing.
Alhasil karena disaat pusing selalu itu yang terjadi, makanya setiap merasakan pusing yang satu itu datang, aku cepat-cepat ambil obat sakit kepala. Karena aku tidak mau merasakan penyiksaan itu. Waktu itu aku merasa ya sudah menjadi kebiasaan. Jadi kemanapun aku pergi, aku harus bawa obat sakit kepala itu. Harus. Di dalam tasku tidak lupa ada dompet obat yang isinya si obat sakit kepala -tak perlu sebut merk ya- , obat antibiotik, obat jenis parasetamol untuk penurun panas yang syrup, obat flu, obat maag, batu coral putih buat nggerus obat (he he aku tidak bisa minum tablet, kaplet ataupun kapsul) dan sendok melaminku.
Karena itu sudah menjadi kebiasaan, jadinya ya benar-benar aku anggap biasa. Biasa tersiksa. Yang notabene badanku biasa aku 'siksa' dengan obat kimia juga.
Sebenarnya ya... nyaman nggak nyaman ya. Dan aku sih sudah menyadari bahwa ini sudah tidak beres. Apalagi sudah adalah hampir setahun ini aku minum si obat sakit kepala ini hampir tiap hari. Setahun lebihlah. Itu kan sudah parah. Obat sakit kepala warung lho. Bukan dari resep dokter. Aku tahu ini sangat tidak sehat. Aku bukannya mengobati penyakitku, tapi hanya "meniadakan" rasa sakitku. Karena aku nggak suka merasakan mual, apalagi muntah. Disamping itu aku tidak suka minum air putih pula. Lengkap sudah.
Orang-orang di sekitarku bukannya tidak pernah memperingatkanku. Sudah capai mungkin. Almarhum ibu, dulu selalu menyuruh aku banyak minum air putih. Jangankan air putih, air apapun jarang masuk ke mulutku. Kasihan ginjalku kata beliau. Nanti kamu sakit ginjal lho, kata beliau lagi. Itu kata-kata beliau sejak aku duduk di bangku SMP-SMU. Begitulah beliau tidak bosan-bosannya mengingatkanku. Dan sekarang umurku sudah kepala 4.
Sampai pada akhirnya 3 bulan yang lalu kakakku kedatangan sahabat dari adik iparnya. Si sahabat itu, Mas Agus namanya, adalah seorang terapis akupuntur. Tadinya memang datang untuk menterapi kakakku dan isterinya. Mereka diterapi seminggu sekali. Pada saat aku berkunjung ke rumah kakakku, pas sekali waktunya bersamaan dengan waktu terapi mereka. Sekalian deh aku iseng-iseng minta dicek kesehatanku. Karena Mas Agus ini sebelum mulai men-terapi orang, selalu di awali dengan cek dulu kesehatannya. Saat dicek, hasil analisanya akurat. Kaget saja aku pas dia tanya, udah berapa lama konsumsi obat rutin. Lha kok bisa tahu. Ya dia menjelaskan secara ilmiah bla bla bla. Singkat cerita aku mulai menjadi pasiennya sejak saat itu.
Ya itu kilas balik singkatku, mengapa aku diterapi akupuntur. Oiya, semenjak aku diterapi, aku belum pernah radang tenggorokan lagi. Aku mulai terapi tanggal 4 April. Sekarang bulan Juni. Kalaupun pusing-pusing masih sih tapi ga seheboh kemarin-kemarin. Dan selama 2 bulan ini aku benar-benar mengurangi obat kimia. Mas Agus bilang, sebisa mungkin konsumsi obatnya dikurangi ya mbak. Jadi kalau biasanya konsumsi 1 ya terus jadi separo atau seperempatnya. Kalau langsung ga minum sama sekali juga kan susah pasti ya. Biar badannya juga adaptasi untuk "berpisah" dengan obat-obatan. "Tapi aku minta ya mbak bantuannya, beneran kalau udah ga bisa tahan lagi, baru minum obat. Karena memang pada kasus-kasus tertentu memang perlu obat kimia. Dan tolong banget banyakin minum air putihnya. Aku minta tolong banget bantuannya untuk banyakin minum air putihnya. Karena terapi saya juga ga akan berfungsi dengan baik kalau tidak dibantu dengan minum banyak air putih. Air putih lho ya. Karena untuk membantu detox juga mbak. Hanya saja namanya ini tradisional, ya hasilnya tidak bisa kayak sulap. Instan. Tetap ada prosesnya. Apalagi mbak kan rutin ngobat sudah luamyan lama ya ", begitu kata Mas Agus.
Karena keinginanku untuk lepas dari kebiasaan burukku, jadinya memang dalam 2 bulan ini, aku hanya mengkonsumsi 2 tablet obat pusingku. Beneran hanya 2 tablet. Harusnya "normalnya" aku sudah mengkonsumsi lebih dari 30 tablet kan.
Kembali ke hari ini ya. Ini hari kedua aku sakit radang tenggorokan. Siang tadi aku sudah merasa baikan. Bayangkan baru 2 hari aku sudah merasa baikan. Padahal biasanya kalau sedang radang atau flu, minimal 5 hari baru aku bisa yang mandi-mandi. Dan itu sudah dibantu obat. Kalau kali ini aku sama sekali ga konsumsi obat kimia. Ajaib kan.
Malam ini kebetulan aku jadi agak susah tidur. Karena kan udah seharian aku tidur terus. Jadi waktu tidurku mungkin sudah cukup ya. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa sedih sambil meraba-raba 2 jari kananku yang memang sudah hampir sebulan ini sakit sekali untuk menggenggam. Yaitu jari manis dan jari tengahku. Sambil memijat-mijat jariku aku "bicara" pada mereka panjang lebar yang intinya, aku minta mereka sembuh. Aku mohon dukungannya, aku mohon supportnya, aku mohon mereka menemaniku sampai nanti tiba waktuku. Aku ingin sehat bersama mereka di sisa waktuku. Semuanya. Tidak hanya ke dua jariku yang sakit ini. Tapi semuanya. Semua organ-organ tubuhku, otot-ototku, syaraf-syarafku, sel-selku, darahku. Semuanya.
Karena memang baru aku sadari siapa yang selama ini yang setia menemaniku. Di saat aku susah, disaat aku bahagia. Disaat aku senang, disaat aku takut. Disaat aku bisa makan enak di restoran-reatoran mahal, disaat aku tidak punya uang sampai hanya minum air putih supaya aku bisa merasa kenyang. Disaat aku bersama teman-teman, disaat aku sendirian. Disaat aku beraktivitas, disaat aku tidur. Disaat aku sehat, disaat aku sakit. Siapa yang sangat setia menemaniku. Bahkan disaat aku menyiksanya dengan sedikit minum air putih. Disaat aku memcekokinya obat-obatan kimia bertahun-tahun. Disaat aku memaksanya untuk menemaniku begadang sampai pagi hanya karena asyik nonton youtube, asyik chatting dengan teman-temanku sampai larut . Atau okelah alasan pekerjaan yang harus selesai -padahal besok masih ada hari, belum kiamat, dan tidak ada yang terenggut nyawanya kalaupun pekerjaan ini tidak selesai hari ini- . Mana ada "teman" yang sesetia itu bertahun-tahun.
Ya. Mereka-mereka ini yang sebenarnya teman sejatiku. Benar-benar mereka yang menemaniku dari awal sekali aku lahir ke dunia sampai detik ini. Mereka yang menemaniku saat aku pertama kali mengenal ayah/ibuku. Mereka tetap bersamaku disaat orang-orang menjauhiku. Merekalah yang setia menemaniku selama 40 tahun lebih. Tapi karena ketidak tahuanku dan kebodohanku, aku malah seperti "membunuh" mereka sedikit demi sedikit. Selama belasan tahun. Dan mulai kurasakan akibatnya.
Apalagi kalau aku ingat Mas Agus bilang sambil tersenyum, "Dari namanya saja sudah ga masuk akal untuk dikonsumsi. Antibiotik. Mbak tau toh artinya anti biotik."
Dalam KBBI anti berarti melawan, memusuhi, menentang. Sementara biotik berarti makhluk hidup dalam hal ini tumbuhan, hewan, dan manusia baik yang mikro maupun makro serta prosesnya.
Miikro, makro, serta prosesnya... terus aku membayangkan sel-selku, segala bakteri baik yang ada dalam tubuhku. Segala imunku apalah apalah. Ya Tuhan selama ini yang Tuhan berikan gratis untuk menjaga tubuhku secara alami malah aku...anti-kan. Aku langsung merasa bersalah.
Malam ini aku benar-benar memohon dan meminta maaf pada teman-teman sejatiku. Aku meminta maaf atas semua kesalahan yang sudah aku lakukan pada mereka hingga detik ini. Dan aku memohon untuk mereka tetap bersamaku, tetap sehat bersamaku, sampai waktuku pulang nanti. Datang bersama-sama. Pulang bersama-sama.
Aku berjanji akan lebih memperhatikan diri lebih baik lagi. Dengan dipertemukannya aku dengan Mas Agus, aku seperti diberi kesempatan untuk bisa "berbaikan" lagi dengan teman sejatiku. Aku sekarang memang masih dalam proses untuk memperbaiki hubungan ini. Aku yang sudah terlalu jauh main ke luar hingga lupa apa yang ada di dalam diriku. Maafkan aku teman sejatiku. Semoga proses ini berjalan lancar. Dan kita akan bersama-sama terus. Selamanya. Terimakasih teman sejatiku. Terimakasih.
Jakarta, 15 Juni 2021