Seorang gadis dijambak dan dilempar ke ujung toilet.
"Akh.."
Gadis itu mengerang kesakitan saat tubuhnya membentur dinding dengan keras.
"Berani-beraninya dia.." Seorang pria yang tadi menjambak gadis itu menatap tidak percaya ke arah gadis itu lalu tertawa.
"Oi! Hurry up here!" Teriak pria itu memanggil komplotannya.
Tak lama, semua komplotannya berkumpul di ruangan itu, mengelilingi gadis yang tadi dijambak.
Pria tinggi yang tadi menjambak itu menyeringai. "Liat dia. Berani-beraninya dia ngelapor polisi. Untung ada ayah..ㅡyah pokoknya, dia upik abu kita sekarang!"
Pria tinggi itu mendekati si gadis. Tangannya mencoba meraih dagu gadis itu, tapi gagal karena tangannya dipukul oleh sang gadis.
Pria itu tertawa kecil, lalu menatap tajam gadis itu. Dan tanpa takut gadis itu menatap tajam balik.
Pria tinggi itu tertawa melihat tatapan gadis yang dia anggap 'upik abu'-nya itu.
Plak!
Pria itu menampar pipi si gadis lalu menoleh ke arah komplotannya, "Liat. Sok banget si upik abu ini ngeliatin gue kayak gitu."
Gadis itu menatap si pria tinggi, "Kenapa gua harus takut kalo gua gak salah?"
Pria itu senyum miring lalu mencengkram rahang si gadis, "Lo salah. Karna lo ikut campur urusan gue. Kalo lo diem aja, lo gak bakal salah."
Gadis itu menatap tajam si pria, "Terus gua harus nanggung rasa bersalah seumur hidup karna cuma diem ngeliat temen baik gua lu pukulin sampe sekarat?!" Ucap gadis itu dengan mata berkaca-kaca menahan emosi.
Pria itu mengerutkan alisnya, "Temen? Siapa? Oh! Si pikachu?! Dia temen lo? Ahahaha."
Si gadis hanya menatap pria itu dengan pandangan marah.
Si pria berhenti tertawa lalu menghela napasnya, "Hah.. asal lo tau. Dia juga salah sama gue, makanya dia jadi gitu. Siapa suruh lapor-lapor bk cuma karna gue minjem duitnya. Udah mana cupu, jelek, item, buluk, gendut, ya salah dia dong, sok-sok an."
Gadis itu mengencangkan rahangnya kesal, "Dia punya nama. Rama! Ramadhan Alfarizi! Bukan pikachu! Dan lu pikir lu cakep, hah?! Modal duit papa-mama doang! Gak punya kaca lu?!" Bentak gadis itu kesal.
"Shit.." Pria itu tertawa heran, "Gue gak bakalan sering dapet barang ama makanan dari cewek kalo gue gak cakep. Ya... mungkin duit bonyok gue juga ngaruh sih. Haha."
"Lo.. cantik, tapi otak lo kopong ye." Lanjut pria itu lalu tertawa terbahak-bahak.
Pria itu berdiri lalu berjalan menjauh dari gadis itu. Tak lama dia berhenti lalu menoleh ke si gadis yang masih duduk diam di lantai. Tubuh gadis itu terlihat gemetar.
Pria itu menghela napas, "Hahh.. cantik.. padahal pengen banget gue biarin.. tapi bakal jadi ribet kalo bocah banyak bacot macam lo dibiarin.." Gumam pria itu.
Pria itu menghadap ke depan lagi, menatap komplotannya, "Gilir." Jelas pria itu sambil menunjuk gadis di belakangnya dengan dagunya.
Gadis itu sadar dan membelalakkan matanya. Saat ia mengangkat kepalanya semua pria komplotan pria tinggi itu sudah mendekatinya.
"Lu mau apa?!"
"Sst. Sst. Sst."
"LEPAS SIALAN! LEPAS!"
1 minggu kemudian
'Udah satu minggu setelah hari itu. Rama masih kritis di ICU. Nata masih dihantuin ama semua yang terjadi di hari itu. Rasa sakitnya masih terasa.'
'Nata takut.'
'Nata malu.'
'Nata pengen nyeritain ini semua. Tapi Nata bingung harus cerita sama siapa.'
'Nata malu dan gak tega kalo bilang ini ke papa-mama.'
'Kalo bilang ke sekolah atau polisi... udah pasti si sialan itu yang menang... dan akhirnya Nata kena lagi.'
'Dia... kayak raja... gak ada satupun orang di dunia yang berani nyentuh dia..'
'..karena koneksi orang tuanya..'
'Makanya... hari ini Nata putusin.'
'Di atas jembatan ini.'
'Di depan sungai ini.'
'Di bawah langit ini.'
'Gua, Nata Dewi Cantika putusin!'
'Jack Fachry Wonowijoyo.'
'Gua bakal minta perlindungan dan laporin lu sama Tuhan!'
Tak
Tak
BYUR!