Kampung nenek ku seperti desa pada umumnya. Akses perjalanan menuju ke sana terbilang kurang efisien. Jalanan bergelombang dan tidak rata seringkali membuat pantat sakit ketika di bonceng.
Sepanjang perjalanan kita dapat menyaksikan rimbunnya pepohonan mangga yang tumbuh liar di tepi kiri kanan di bahu jalan.
Setelahnya kita akan menjumpai peternakan ayam dan area persawahan.
Desa nenek ku terletak di sebuah daerah yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani dan peternak.
Sebut saja desa X, untuk menjaga nama daerah tersebut kita kenal saja desa ini dengan nama desa X. Jarak tempuh dari rumah sekitar ± 25km. Sepeninggal kakek ku, sesuai rapat keluarga besar kami, anak nomor 8 yang aku panggil bulek Rika akan menetap di desa menemani masa tua nenek.
Di desa X, pernikahan di bawah umur sudah biasa terjadi, apalagi di kalangan gadis-gadis remaja. Aku tidak terkejut ketika mengetahui fakta teman-teman sepermainan ku di desa lebih dahulu menikah, membina rumah tangga dan memiliki anak, toh itu juga pilihan hidup mereka.
Sepanjang kegiatan liburan, keluargaku akan memilih desa X, tempat nenek ku tinggal sebagai destinasi liburan kami.
Alasannya selain melepas rindu, suasana di desa tempat ibu di lahirkan masih asri karena banyak di tumbuhi pepohonan hijau.
Ya, memang liburan di desa nenek selalu mengasyikan, apalagi kalau semua cucu-cucu nenek datang. Kami akan berpetualang di hutan belakang rumah, di sungai, di gua dan melakukan keseruan lainnya bersama-sama.
Suatu kali, dua hari sebelum hari raya lebaran keluarga nenek sudah datang termasuk aku dan kedua orangtua ku.
Hal yang paling merepotkan ketika hari raya besar adalah air di desa nenek akan mati karena semua rumah tetangga juga sedang bertambah populasi, sehingga air dalam selang rumah nenek akan seperti tetesan air mata.
Usia ku waktu itu baru menginjak delapan tahun. Sejak kecil aku selalu merasakan keanehan ketika menginap di rumah nenek. Dulu sekali saat aku berusia lima tahun orangtua ku pernah menitipkan ku beberapa hari kepada nenek karena ada urusan.
Malam itu aku yang masih berusia lima tahun tidur bersama nenek, di tengah malam aku mendengar suara gamelan di belakang rumah semakin lama suaranya semakin keras. Seperti suasana ketika orang-orang mengadakan pagelaran wayang.
Aku yang masih kecil karena rasa penasaran bertanya kepada nenek, yang sering ku panggil dengan sebutan 'Mak'.
"Mak, kok ada suara gamelan? ada way—" Belum selesai aku bertanya nenek sudah lebih dulu menutup mulut ku.
"Ssstt ndang turu (segera tidur)."
"Tapi Mak aku pengen lihat way—" Lagi-lagi nenek membekap mulut ku.
"Wes Ndang turu, Ojo ngomong ngono wi gak ilok!" (sudah cepetan tidur, jangan bicara seperti itu gak baik!)
Dengan berat hati aku menuruti perkataan nenek ku, dan segera memejamkan mata mengubur rasa keingintahuan ku.
Namun semakin lama suara gamelan itu semakin jernih terdengar di telinga ku.
Aku tidak pernah bertanya mengapa nenek seperti tidak memperbolehkan ku berbicara tentang wayang dan gamelan di malam itu, meskipun rasa penasaran masih saja mengusik ku.
Di malam sebelum hari raya lebaran, saat usia ku delapan tahun. Aku bersama cucu-cucu nenek menghabiskan waktu untuk menonton telivisi sambil bermain ABCD, permainan sederhana dengan menyebutkan nama-nama binatang sesuai dengan awalan huruf yang jatuh terakhir kali melalui ejaan huruf pada jari.
Malam semakin larut, budhe Fatimah menyuruh kami segera tidur. Karena kamar sudah hampir terisi, kakak ku Ayu memaksa ku untuk tidur bersamanya. Kak Ayu adalah putri pakdhe, usianya sepantaran dengan ku hanya selisih dua bulan. Sebetulnya aku lebih tua beberapa bulan darinya namun karena ayahnya lahir lebih dulu dari ibuk ku, aku memanggilnya kakak.
Aku memutuskan untuk tidur di samping kakak ku sambil berbaring menonton televisi. Acara Extravaganza tersuguh di depan kami.
Aku tidak tahu waktu berjalan begitu cepat atau lambat. Aku terbangun di malam hari, kakak perempuan ku sudah tertidur memeluk ibunya dengan dengkuran cukup keras.
Semua orang tampaknya sudah tertidur, aku mendengar paman dan pakdhe ku mendengkur di ruang lainnya.
Jam di atas dinding menunjukkan pukul 00.15
Aku tidak bisa tertidur dan entah kenapa aku juga sedikit takut bangun untuk mencari ibu ku di kamar lain untuk berbaring di sisi nya, di tengah temaram lampu kuning aku berbaring ke sisi sebelah kiri.
Alangkah terkejutnya aku ketika melihat sepasang sandal merek swa**o berwarna kuning cerah berjalan sendiri, hilir mudik kesana kemari. Jaraknya hanya tiga meter dari tempat ku.
Tanpa ada kaki yang menggunakannya sandal itu berjalan dengan sendirinya.
Tubuh ku seketika kaku, diam membeku tidak dapat bergerak, seolah-olah tubuhku di paku di atas tilam. Bahkan teriakan yang ingin aku suarakan tidak kunjung keluar.
Air mata ku berderai tidak dapat ku bendung lagi. Rasa takut hinggap padaku ku seperti menggulungku dalam selimut pekat. Dalam hati hanya doa-doa yang ku panjatkan. Aku memanggil-manggil nama Tuhan untuk menolongku dan mengampuni ke alphaan ku karena lupa berdoa.
Suara gamelan itu terdengar, menambah suasana mencekam di malam hari. Bagai lagu penghantar tidur semua di buat seolah-olah terlelap nyenyak dalam kantuk yang tidak biasa.
Air mata ku tidak kunjung surut, semakin deras bersamaan dengan terdengarnya suara gamelan dari hutan belakang.
***
"Dek..dek.." Seseorang mengguncang bahuku keras.
"Mei...hei bangun..." Kali ini seseorang entah siapa menggoyang-goyangkan kakiku.
"Me.. nduk..ndukk..." Aku kenal suara ini. Suara ibu.
Tubuhku seperti daging tanpa tulang, aku terbaring lunglai dengan posisi terlentang dari posisi tidur menyamping.
Aku melihat beberapa saudara ku mengelilingi aku, paman ku sedari tadi terduduk sambil memijat jempolku.
Bibi ku yang lain berlarian membawa air hangat.
Jam di dinding menunjukkan pukul 01.00.
Bau minyak kayu putih menyengat memasuki indera penciuman ku.
"Awakmu nyapo me?"(kamu kenapa?) Paman Eru bertanya kepadaku.
"Dek kamu genio (kenapa), mbak Ayu rdengar kamu menggeram tak kiro ngelindur (ku sangka melindur), tapi kok matanya melek mbak panik guncang-guncang kamu meneng ae (diam aja) sambil nangis gak omong (bicara) opo-opo (apa-apa)." Jelas mbak Ayu yang juga ikut menangis.
Kembali peristiwa menyeramkan beberapa menit yang lalu melintas seperti rol film di benak ku. Aku bergidik ngeri.
Air mata ku jatuh begitu saja, masih sedikit shock dan rasa takut masih menghantui.
Dalam diam ku aku menggeleng kan kepala sambil terus menangis.
Jadi, peristiwa yang aku alami barusan bukanlah mimpi.
"Wes..wes ojo di pekso (sudah-sudah jangan di paksa) ben istirahat sesok di takoki maneh genah e (biar istirahat besok di tanyai lagi jelas nya seperti apa)." Ucap salah seorang paman ku.
Dalam kerumunan keluaraga ku, aku melihat nenek berdiri di ambang pintu kamarnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
sepasang sandal swa**w berwarna kuning itu masih ada di sudut ruangan.
Suara gamelan itu tidak lagi terdengar.
***
"Me, dadi lak awakmu krungu swara gamelan iku tandane enek pagelaran wayang ghoib ndek mburi omah. Gak kabeh uwong iso krungu, mbiyen enek tanggane mak saben bengi malam jumat sering krungu, telung dino dee ilang temu-temu jarene dee crito ndelok wayang ndek njero gua mburi omah." Jelas Pakdhe ku ketika aku di desak untuk bercerita peristiwa semalam.
(Me, jadi kalau kamu dengar suara gamelan, itu berarti ada pagelaran wayang goib di belakang rumah. Tidak semua orang bisa dengar, dulu ada tetangganya Mak setiap malam Jumat sering dengar, tiga hari hilang. Waktu ketemu dia cerita lihat wayang di gua belakang rumah.)
"Swara gamelan ne pie? kok aku melu penasaran?" Tanya paman ku yang lain.
"Nggih, mirip pagelaran wayang." Jawab ku.
"Terus sandal e kayang tenanan?" Tanyanya lagi.
"Nggih ngoten niku ( ya seperti itu)." Jawab ku sekenanya
Aku jadi mengerti mengapa nenek waktu itu membekap mulut ku ketika aku merengek ingin melihat wayang karena mendengar suara gamelan.
Rasa penasaran ku menemui titik terangnya.
Nenek tidak mau aku membahasnya dan berbicara lebih lanjut tentang hal itu karena takut aku juga mengalami peristiwa yang sama seperti tetangga masa kecilnya.
Lagipula belakang rumah nenek ku hutan yang di tumbuhi pepohonan jati dan mangga sejauh mata memandang, untuk sampai di gua harus menempuh jarak kurang lebih 10 km.
Meskipun seringkali aku mengalami beberapa pengalaman mencekam serupa yang tidak kalah horor di desa nenek yang kadang kala cukup membuat ku trauma jika berlibur kesana, namun di satu sisi merasa tertantang juga.
Ketika aku semakin beranjak dewasa aku tidak pernah lagi mendengar suara gamelan dari arah belakang rumah rumah nenek.
_
Kisah ini berdasarkan pengalaman pribadi penulis. Terimakasih sudah membaca, jangan lupa pencet hati dan tinggalkan komen sebelum pergi. Terimakasih sudah membaca🤗