Oleh Indah Rashie
Selama yang kuingat sampai saat ini aku tidak pernah menyukai musim panas. Udara akan sangat menyesakkan dan gerah disiang hari sehingga aku harus memakai kaos berlengan pendek atau singlet agar tidak kepanasan. Juga tabir pelindung agar kulitku tetap lembab dan topi lebar untuk menutupi wajahku dari sengatan matahari. Meski pun banyak yang mengatakan kalau musim panas itu menyenangkan karena liburan selalu datang bersamanya. Tapi tidak bagiku, terkadang aku berharap bisa tinggal di daerah tropis yang hanya memiliki dua musim. Setidaknya musim panas disana tidak sepanas di tempat ini.
“Kau terlalu berharap Ven!” teriak laki-laki yang tinggal disebelah rumahku. Tak lama kemudian dia muncul di halamanku dengan membawa dua buah semangka.
“Tentang apa?” tanyaku sambil mengusap peluh di dahi.
“Kau selalu seperti itu setiap tahun saat musim panas dimulai.” Jelasnya, “Seperti berharap tinggal di daerah tropis dan sebagainya, selalu sama. Pada akhirnya musim panas mu terlewat tanpa kau sadari,”
Aku ingat pernah mengatakan pemikiranku padanya, tentang musim panas di beberapa tahun terakhir ini. Tidak heran kalau dia langsung tahu yang sedang kupikirkan.
“Kau benar, kuharap aku tinggal di daerah tropis yang sejuk dan nyaman,”
Dia tertawa mendengar pengharapanku. Selagi mengiris semangka-semangka yang dibawanya menjadi beberapa bagian agar mudah dimakan, dia mulai mengatakan apa saja hal baik yang terjadi di musim panas.
“Kau bisa melihat festifal dan kembang api saat musim panas,” katanya
“Dimusim lain juga ada festifal dengan kembang api,” bantahku. Kuambil sepotong semangka lalu memakannya. Rasa manis dan dingin membuat kerongkonganku terasa lega.
“Tidak dengan Tanabata,” tegasnya yang juga mulai memakan semangka dengan potongan paling besar, “Kau juga bisa pergi ke pantai atau kolam renang, mungkin saja ada laki-laki yang mau denganmu”
Kusembur dia dengan biji semangka langsung dari mulutku, gurauannya sangat tidak lucu. Terima kasih padanya karena sudah mengingatkan kalau aku belum memiliki pacar sampai sekarang dan semua itu berkat dia yang selalu ikut campur soal hubunganku. Dia selalu saja merecoki saat ada laki-laki yang mendekatiku atau mengajak ku pacaran. Tapi dia sendiri tidak sedikit pun berniat menjadikanku kekasihnya, sama seperti dulu. Baginya aku hanyalah seorang adik yang harus dijaga. Padahal jelas aku ini bukan adiknya.
“Salahkan dirimu sendiri untuk itu!” kesalku, dia meringis.
“Kau masih marah?” ragunya, apa dia tidak merasa bersalah sedikit pun dengan yang pernah dia lakukan.
“Hahh, marah padamu di musim panas hanya akan membuang energiku secara percuma...”
“Baguslah, aku juga tidak berniat meminta maaf padamu”
Oh, dia benar-benar luar biasa menyebalkan dengan sikap tidak pedulinya itu.
“Bersalahlah sedikit, kau dan siscon mu!” tunjukku padanya dengan semangka ke dua yang sudah setengah kumakan.
“Ck”, dia berdecak. “Aku bukan siscon!”
“Kau menganggapku adik dan selalu overprotektif terhadapku. Itu siscon namanya! Berhenti mengelak dari kebenaran...”
Dia mengangkat kedua tangannya yang berarti gencatan senjata. Dia tidak bisa membalas kebenaran dari perkataanku. Tentu saja.
“Jadi?” dia menoleh, “Kenapa kau menganggapku adikmu? Apa kau sebegitunya ingin mempunyai adik? Kenapa tidak minta ke orang tuamu saja?” tanyaku.
Dia tampak berpikir sejenak, mencari kata-kata yang pas. Setelah helaan berat, ia menggigit semangkanya lalu berkata dengan mulut penuh. Tapi masih bisa kudengar.
“Karena dulu kau ingin sekali menjadi adikku”, terangnya.
“Kapan aku pernah mengatakannya?” tanyaku lagi
Dia melotot, apa dia benar-benar berpikir aku takkan bisa mendengar suaranya hanya karena dia bicara dengan mulut penuh. Oh, sungguh kekanakan. Dia menelan semangka yang dikunyahkanya dengan cepat.
Sembari memalingkan muka, “Musim panas saat usiamu sepuluh tahun” katanya. “Setelah festifal saat aku menyatakan perasaanku padamu, kau tidak ingat?”
Ingatanku tentang musim panas saat usiaku sepuluh tahun tidak begitu jelas. Jadi jika dia mengatakan hal itu berarti aku memang mengatakan kalau aku mau dia menjadi kakakku. Mungkin, yang artinya dia pernah menyatakan perasaannya dan aku menolaknya dengan meminta menjadi kakakku.
“Aku tidak ingat” kataku terus terang.
“Tak apa, itu sudah sangat lama. Kau tak harus mengingatnya.” Katanya kembali memakan potongan semangka yang lain.
Kurasa dia kecewa karena aku melupakan hal penting itu. Tapi sampai sekarang dia tetap berperan sebagai kakakku dengan sangat baik. Aku mengamatinya dalam-dalam.
“Kenapa kau tidak berhenti saja?”
“Soal apa?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari semangkanya.
“Berhenti menjadi kakakku lalu mulai menjadi pacarku” kataku serius.
Dengan cepat dia menoleh, “Apa kau merasa kasihan setelah mendengar ceritaku?”
Aku mendekat sedekat mungkin padanya hingga hidung kami hampir bersentuhan. Kutatap mata birunya itu. Semangka yang dia pegang terjatuh ditanah.
“Apa aku terlihat bercanda” kataku lalu mencium bibirnya.
Aku selalu tidak menyukai musim panas. Udara yang kering, sengatan matahari, dan hal-hal lainnya tentang musim panas. Tapi kurasa, aku bisa mulai menyukainya sekarang. Musim panas tahun ini tidak seburuk yang kupikirkan. Bahkan jauh lebih baik!
#####
Tamat.