13 april xxxx
-
07.00 pm
-
Kami berhenti di depan UGD. Aku yang duduk dikursi penumpang disamping pengemudi langsung segera menekan klakson. Keluar dari mobil dan meminta pertolongan pada perawat di sana.
Keluarlah beberapa perawat, 2 menaikan ayah ku ketandu. Dan yang lainnya memapah ibuku kedalam ruangan tersebut. Orang-orang di sekitar kami terlihat bingung apa yang sedang terjadi. Bagaimana tidak? Ibuku dengan pisau berada diperutnya dan ayah ku yang bentuk kakinya sudah tidak jelas, sangat menyeramkan.
Aku menyusul mereka masuk keruangan itu, menangis tersedu-sedu. Seorang perawat menengkanku. Kedua orang tuaku pun akhirnya dibawa keruangan berbeda untuk ditangani lebih lanjut.
Akhirnya akupun memberanikan diri untuk berbicara. "B-bolehkah aku meminjam telepon?", kataku yang masih dalam keadan menangis. "ya tentu saja, disana itu, silahkan gunakan", ucap perawat tersebut.
Akupun berjalan menuju tempat telepon yang sepertinya milik rumah sakit itu. Aku memencet 3 angka dan diangkat oleh seseorang. Ya tentu saja itu polisi.
"Ada yang bisa dibantu?"
"A-aku, i-itu..."
"Ya ada apa dek?"
"D-di rumah ku ada orang"
"Ya lalu?"
"O-orang, orang mati"
"Hah? Bagaimana?"
"Rumahku di komplek XXX, nomor XX, disana ada orang mati"
"Sekarang kamu ada dimana?"
"Aku ada dirumah sakit"
"Kenapa kamu disana?"
"Orang tuaku terluka"
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"aku tidak tahu ada apa, dan apa yang telah terjadi. Tadi saat aku masuk kerumah tiba-tiba saja melihat ibu dan ayah sedang pingsan dan ada orang mati juga disana."
"Baiklah, sekarang kami sudah mengirim orang ke rumahmu, ada yang bisa kamu beritahu kekami lagi nak?"
"T-tadi saat aku baru melihat ibu dan ayah, aku takut, karena aku pikir mereka juga sudah mati. Lalu karena itu, aku ingin meminta pertolongan ketetangga kami. Saat aku datang kerumah mereka, aku sudah mengetuk pintu berkali-kali, tapi karena pintunya tidak terkunci jadi aku langsung masuk, aku memanggil mereka, tapi aku tidak sengaja melihat pintu kamar mandi terbuka, saat aku membukanya lebih lebar, disana ada anak perempuan keluarga Clair sudah berlumuran darah di sana."
"Dimana rumah tetangga mu"
"Ada di samping kanan rumahku"
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?"
"Aku semakin takut, jadi aku kembali ke rumah dan terlihat ibuku sudah tersadar, jadi aku dan ibu memapah ayah ke mobil lalu ibu mengendarai mobil ke rumah sakit."
"Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Aku baik-baik saja secara fisik"
"Baiklah terimakasih atas penjelasan mu, kami akan segara mengurusnya"
"Ya sama-sama."
Begitulah percakapan ku bersama polisi waktu itu, aku menjawabnya sambil masih sedikit terisak.
-
'besoknya'
-
Tadi malam terjadi hal yang tidak mengenakan, saat aku bangun dari tidur, aku berharap itu semua hanya mimpi. Tapi apa daya, aku terbangun di atas sofa dirumah sakit tepat disamping ibuku yang masih masa kritis.
Tadi malam juga polisi datang kerumah sakit itu untuk melakukan penyelidikan, tapi karena kondisi orang tuaku yang masih pingsan, akhir penyelidikan akan dilanjutkan setelah mereka ber-2 sadar.
Aku juga dapat kabar, bahwa bukan hanya keluarga ku dan keluarga clair saja yang mengalami hal tersebut, tapi keluarga Alexander juga mengalami hal yang sama.
-
Setelah orang tua ku tersadar, akhirnya terungkap apa yang terjadi sebenarnya.
Dari kesaksian orang tua ku, orang yang melakukan semua perbuatan keji ini adalah Kim bersaudara.
Mereka adalah kakak beradik lelaki dari keluarga Kim, Joodi Kim dan Carvin Kim. Tapi setelah dilacak oleh polisi, ternyata itu bukanlah nama asli mereka. Ternyata mereka bukanlah saudara dan nama asli mereka adalah Feryou Kalvin dan George Tim.
Mereka dulunya adalah tetangga, dan fakta lainnya adalah, keluarga mereka juga dihabisi oleh mereka sendiri.
Polisi bisa dengan mudah mengidentifikasi mereka karena mereka sudah ditemukan dirumah ku. Dalam kondisi... tak bernyawa.
Ya, merekalah "ada orang mati di rumahku" yang ku laporkan pada polisi. Polisi juga menanyakan pada orang tua ku siapakah yang membunuh mereka. Tapi orang tua ku bilang mereka tidak tahu karena mereka sudah pingsan lama.
Kasus nya terus berlanjut, hingga ada bukti ditemukan. Didepan rumahku ditemukan bekas pembakaran, setelah diselidiki lebih lanjut, terdapat dna kim bersaudara. Diperkirakan itu adalah sarung tangan sang pelaku.
Tapi kasusnya hanya sampai sana saja, kim bersaudara diputuskan bersalah atas banyaknya pembunuhan, tapi mereka berdua sudah meninggal.
-
Setelah hal itu terjadi, banyak orang yang bingung sebenarnya apa motif kim melakukan hal itu.
Setelah kejadian itu juga aku melanjutkan hidupku. Aku pindah rumah dan sekolah, selama beberapa tahun aku masih mengalami trauma. Sebagian orang bingung kenapa aku mengalami trauma selama itu, karena dari cerita ku, seharusnya aku hanya trauma karena melihat mayat saja kan?
Sampai polisi juga curiga aku sebenarnya melihat pembunuh kim. Akhirnya aku dan orang tua ku mengatakan saja bahwa aku sebenarnya sempat melihat saat ayahku dipukuli, ya tentu saja cerita nya jadi acak.
Dari kesaksian yang kuberikan pada polisi, aku pergi bermain dari pukul 3 kerumah keluarga Seyaan, dan pulang pukul 6 dan melihat orang tua ku dalam keadaan mengerikan.
Dengan cerita baru bahwa aku trauma karena melihat ayahku yang disiksa, ceritanya menjadi mencurigakan bagi polisi. Tapi untunglah mereka tidak bertindak jauh. Karena lagi pula kasusnya memang tidak bisa dilanjutkan. Memang sih sebenarnya ada beberapa dari mereka yang mencoba memaksa ku, tapi akhirnya berhenti karena melihat diriku yang terlihat kasihan.
-
sampai mereka menemukan diary ku, dan semuanya terungkap.