Sekelompok anak sma tengah berjalan bersama setelah menyelesaikan aktivitas sekolahnya. Ada 5 orang, yaitu Lui, Nom, Ethan, Ogi, dan Astrid. Dua perempuan dan tiga laki-laki. Mereka merupakan teman satu kelas yang selalu berkumpul bersama. Ibaratnya macam sebuah geng. Dan kali ini mereka melewati jalan baru yang di tunjuk oleh Ethan. Lelaki itu membawa teman-temannya melewati jalan pintas agar cepat sampai ke persimpangan yang biasa menjadi titik dimana mereka berpisah jalan untuk pulang ke rumah masing-masing. Ethan memimpin perjalanan itu, di ikuti oleh teman-temannya dari belakang.
Sore itu sangat sepi. Karena jalan pintas tersebut tidak di lalui siapapun selain mereka dan juga jalan tersebut di penuhi tanaman liar yang merambah ke jalanan tempat mereka berpijak.
Tidak ada hal aneh selama mereka berjalan. Walau ada rasa was-was dan takut karena kesunyian yang sedang mereka lewati itu. Ethan masih terus berjalan di depan, dan berkata pada temannya bahwa ia sudah pernah melalui jalan ini. Perkataan itu belum bisa menenangkan perasaan teman-temannya. Terutama Lui. Ia dikenal sebagai orang paling penakut. Melihat temannya sedang dalam rasa takut, Astrid merangkul dan coba menenangkannya. Sementara Ogi dan Nom terus berjalan seiring memandang sekitar.
Ethan mengeluarkan sebatang rokok yang di simpannya dalam tas. Kemudian membakar ujung tembakau itu dengan mancis miliknya. Semua sudah tahu bahwa Ethan seorang yang bandel. Aturan sekolah suka dilanggar olehnya. Tetapi, Ethan dikenal baik oleh mereka. Karena ia tidak pernah berlaku kasar pada teman sekelasnya itu.
Perjalanan mereka berlima masih berlangsung. Hari sudah semakin sore. Terlihat suasana sekitar mulai terkesan gelap. Bangunan terbengkalai dan tak beepenghuni itu menampilkan aura seramnya. Ethan terus berjalan tanpa memperdulikan apakah suasana sekitar seram atau tidak. Yang penting terus jalan hingga sampai ke titik yang dituju, yaitu persimpangan jalan besar.
Langkah kaki terus bergerak tanpa henti. Dan kini hari sudah memasuki malam. Tampak bulan sudah naik ke atas dengan sinar khasnya. Lima pelajar berseragam ini masih terus berjalan. Karena hal ini, empat teman dari Ethan mulai merasa heran dan curiga.
"Katamu ini adalah jalan pintas." kata Nom pada Ethan.
"Ya ini memang jalan pintasnya."
"Tapi kenapa malah kita tidak sampai ke persimpangan? Apakah kamu membual?" tanya Nom sekaligus curiga.
"Aku sudah pernah melewatinya." balas Ethan.
"Namun, kenapa kita masih di jalan ini terus? Bahkan sudah memasuki malam tau!"
Tegas Nom yang sudah tidak percaya pada Ethan.
"Jadi kau mempermasalahkan ini hah? Aku sudah baik menunjukkan kalian jalan pintas."
"Jalan pintas macam ini, hah?!" Nom kesal.
Lalu Ethan menghampiri Nom, dan mereka berdua mulai berkelahi. Astrid dan Lui melihat perkelahian mereka dengan rasa cemas. Sementara Ogi berusaha untuk melerai mereka berdua.
Setelah di lerai, Ogi menyuruh Ethan untuk terus berjalan. Sementara Nom dibuat menjarak dengan Ethan agar tidak berseteru lagi. Ogi menjadi pembatas antar kedua orang itu. Astrid dan Lui juga turut ikut berjalan meski sudah merasa lelah sebenarnya.
Astrid melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 7 malam. Perjalan berlangsung selama setengah jam usai dari keributan tadi. Ogi berhenti dan menahan langkah Ethan.
"Tunggu..."
"Apakah kamu yakin bahwa ini jalannya? Kita sudah lama berada di jalan ini. Dan bahkan..."
"Kita berada di jalan yang sama tanpa adanya ujung." kata Ogi pada Ethan.
"Apa maksudmu?" tanya Ethan.
"Aku sudah memperhatikan dari tadi area sekitar yang telah kita lalui. Dan aku menemukan hal yang serupa dengan sebelumnya. Jadi kita ini berada di jalan yang telah kita lalui sebelumnya dan terus berulang. Intinya tiada ujung." ungkap Ogi.
"Kan sudah kubilang. Dia ini memang tidak bisa di percaya." Nom kembali marah.
Dan keributan terjadi lagi antara Nom dan Ethan.
Ogi melerai mereka berdua dan kali ini dengan cara kasar. Nom dan Ethan terjatuh akibat pukulan dan dorongan dari Ogi.
"Jika kalian berkelahi lagi, aku tidak segan-segan untuk membuat kalian berdua babak belur malam ini." tegas Ogi pada dua temannya itu.
Astrid dan Lui hanya diam melihat mereka bertiga di depan.
Seling Ogi berbicara pada Ethan dan Nom, Lui melihat sebuah pohon yang ada di dekat posisi Ogi berdiri. Sebuah pohon yang tampak menyeramkan dan membuat Lui merinding seketika.
"Ada apa Lui?" tanya Astrid.
"Itu... pohon yang menyeramkan ya." tunjuk Lui.
"Benar. Dan pohon itu sangat besar." tanggap Astrid.
"Aku rasa hanya pohon itu yang tumbuh di sekitar sini." kata Lui pada Astrid.
"Kenapa begitu?" Astrid bertanya.
"Kamu tidak memperhatikan area di sekitar sini? Hanya pohon itu yang ada di jalanan sunyi ini." jawab Lui.
Astrid memperhatikan pohon tersebut. Dan mulai mendekat beberapa langkah.
Ogi memperhatikan langkah dari Astrid. Lalu dia bertanya pada perempuan itu.
"Ada apa Astrid?" tanya Ogi.
"Apakah kamu juga menyadari, bahwa pohon ini adalah satu-satunya pohon yang tumbuh di area ini?" kata Astrid sembari melihat pohon besar tersebut.
Lui ikut mendekat ke arah Astrid. Kemudian berkata.
"Apakah kamu tidak merasakan hawa seram dari pohon ini?"
Ogi hanya diam dan memperhatikan pohon tersebut.
Lalu...
"Pohon ini memiliki banyak cabang serta akar yang menjalar keluar dari tanah." ucap Ogi.
"Ya memang begitulah bentuk dari pohon kematian ini !"
Seketika Ogi di dorong ke arah pohon besar itu dan terbentur batang pohon yang keras tersebut.
"Apaa yang kamu lakukan Ethan?!" tanya Astrid sekaligus marah.
"Kau ingin marah? Hah?!" respon Ethan dengan senyuman bahagia.
Lui coba menolong Ogi. Saat ingin menolong, tiba-tiba akar pohon besar itu bergerak dan membuat Lui batal menolong temannya tersebut.
"Apa ini?" tanya Lui dengan rasa takut.
"Ogi! Cepat kemari!" teriak Astrid pada temannya.
Ogi coba kembali tegak dan saat sudah bangkit, dalam sekejap akar pohon langsung menyerang seorang Ogi. Kakinya tidak bisa bergerak lantaram pohon tersebut manahan kakinya.
"Bagus. Ayo teruskan! Dengan begini aku bisa mendapatkan apa yang aku harapkan hahaha!" Ethan merasa senang.
"Ogi!" teriak Lui memanggil namanya.
Melihat itu, Nom langsung bergerak cepat dan membantu Ogi keluar dari sana. Dengan usaha kerasnya, kaki dari Ogi mulai lepas dari lilitan akar tersebut. Dan Astrid datang untuk menarik Ogi dari posisi tidak aman itu.
Setelah Ogi selamat, Nom berjuang untuk keluar dari sana. Cabang-cabang pohon mulai bergerak menyerangnya. Akan tetapi, Nom berhasil selamat dengan menghindari berbagai serangan yang ada.
Sekembalinya Nom dari jeratan pohon kematian, Ia langsung menghajar Ethan dan membuatnya tersungkur.
Akar pohon kembali bergerak dengan cakupan yang luas, hingga dapat menghampiri mereka semua. Ogi, Nom, Lui, dan Astrid berhasil menghindar dari jangkauan akar-akar hidup tersebut. Akan tetapi, tidak dengan Ethan. Ia tidak sempat berdiri dan malah di seret oleh akar-akar hidup itu ke dekat batang pohon.
Batang pohon mulai membentuk sebuah lubang yang gelap dan segera menelan Ethan. Ogi yang melihat itu, bergegas lari untuk menyelamatkannya.
Namun... Dia sudah terlambat.
"Tiiiidaaaakk!!!" teriak Ethan yang perlahan masuk ke dalam batang pohon kematian.
Sekarang pohon itu kembali tenang dan akar serta cabangnya sudah normal seperti sedia kala di posisinya.
Lui menangis, dan yang lainnya turut dalam rasa sedih dan syok.
Setelah melewati suasana duka itu, Nom mulai bertanya pada teman-temannya.
"Apa yang dia maksud dengan sesuatu yang di harapkannya?"
Ketiga temannya itu diam dan tidak tahu maksud dari Ethan sebelumnya.
Kemudian Astrid datang mendekat dan berkata.
"Mungkin saja apa yang kamu inginkan, bisa terwujud dengan menumbalkan seseorang? Menurutku begitu."
Nom mendengar perkataan dari Astrid tersebut. Dan kembali memandang pohon yang ada di depannya.
"Haruskah aku menyampaikan keinginanku?"
Astrid menganggukkan kepala dan memegang sebelah bahu Nom.
Nom pun menyampaikan keinginannya karena dialah yang berhak atas hal itu. Sebab sudah menyerahkan tumbal pada pohon kematian itu.
Setelah itu, mereka berjalan dan berhasil pulang.
Keesokan harinya...
Bangku milik Ethan terlihat kosong. Tidak ada yang mengetahui kabar dari laki-laki itu, kecuali Ogi, Astrid, Lui dan Nom.
Jam pelajaran dimulai, dan suasana kelas terasa seperti biasanya. Astrid, Ogi, Lui, dan Nom dalam keadaan yang berbeda. Perasaan mereka yang tidak enakan itu terus dirasa sepanjang kegiatan sekolah berlangsung.
Dan saat pelajaran sudah hampir selesai...
Nom izin ke toilet dan meninggalkan kelas. Saat berada di toilet, ia tiba-tiba terkejut dan dirinya terpaku diam seketika.
Kini di hadapannya sudah ada seorang Ethan yang sedang sendirian di toilet sambil menghisap sebatang rokok.
"Huh? Nom? Kenapa menatapku seperti itu?"
"Jadi keinginanku...terkabul?" gumam dalam hati.
-----SELESAI-----