Setelah melayani customer, kukendorkan setiap sendi tulang. Ada rasa nikmat dari beberapa bunyi sendi yang diremas. Waktu sudah menginjak menjelang sore. Sebentar lagi jam pulang kerja. Sebelum itu beberapa laporan harus segera terselesaikan. Tinggal map terakhir. Setelah itu bisa istirahat sambil menunggu waktu pulang.
Akhirnya sudah selesai!
Tinggal 15 menit lagi, menunggu sambil menyedu coffe lebih nikmat sepertinya. Kinan melangkah ke bagian pantry. Kantor tempatnya bekerja memang mempekerjakan Office Boy. Namun, Kinan lebih suka melakukan pekerjaan sendiri. Hanya karena tidak ingin merepotkan orang lain.
“ Eh Mbak Kinan, ada yang bisa saya bantu?” Tanya salah satu office boy muda
“ Tidak, saya hanya ingin membuat kopi.”
“ Biar saya buatkan.”
“ Tidak perlu, saya bisa sendiri!” Sambil meracik coffe instan dihadapannya
“ Ini sudah menjadi tugas saya, Mbak.”
“ Tapi ini coffe saya jadi biar saya sendiri yang buat.” Jawab Kinan tak mau kalah
“ Saya takut dimarahi atasan saya karena membiarkan Mbak Kinan membuat coffe sendiri.” Mukanya pias ketika menyebutkan atasannya.
“ Jangan khawatir, saya tidak akan bilang ke atasan kamu.” Sambil menuangkan air hangat ke cangkir coffe dihadapannya.
“ Bila atasanmu marah, nanti aku yang akan menjelaskan. “ Sanggahnya lagi
“ Tapi, Mbak..” Sebelum menyelesaikan ucapannya, Kinan sudah menghilang dari hadapan Office Boy tersebut.
Menyeruput Coffe sambil menyandarkan kepala pada kursi empuk buatan Jerman. Sungguh nikmat. Ketegangan hilang setelah menyeruput coffe pertama. Hanya tinggal ketenangan yang tersisa. Waktu tinggal 10 menit lagi yang tadi terpotong untuk membuat coffe. Kali ini pandangannya tertuju pada luar jendela bangunan 10 lantai. Kinan menempati lantai 2 bangunan megah berada dipusat kota. Dia melihat penjual rujak buah yang setia menunggu pembeli. wanita dengan usia tidak muda lagi. Terlihat dari rambutnya sudah beruban dan kulitnya sudah kendur. Tidak jauh dari posisi wanita itu terdapat anak kecil. Kira-kira usianya 9 tahunan. Dia berpikir berapa banyak uang yang diperoleh wanita tua tersebut dari penjualan rujak buah?
Tidak jauh dari dari tempat wanita tua penjual rujak buah. Terdapat beberapa pengamen pada lampu lalu lintas. Pengamen tersebut memakai pakaian kuda lumping lengkap dengan topeng dan alat musiknya. Setiap lampu merah, mereka beraksi dengan tarian kuda lumping. Beberapa pengendara tertarik dan memberikan uang. Meskipun tidak semuanya. Melihat itu Kinan berpikir, bagaimana pengamen itu mencukupi kebutuhannya?
“ Hei, melamun terus.” Tanya rekan kantor tempatnya bekerja
“ Lihat apa? “ Tanyanya lagi
“ Hanya lihat aktifitas orang lain.” Jawabnya singkat
“ Enak banget ya pengamen itu, tinggal bermodal tarian dan musik sudah mendapatkan uang.”
“ Beda dengan kita, harus menguras pikiran baru bisa memperoleh upah. Dan itupun baru digaji sebulan sekali.” Sanggahnya lagi
“ Tapi uang yang kita dapat jauh lebih banyak dari mereka!”
“ Ya bisa jadi, tapi mereka mendapatkan kebebasan yang tidak kita dapatkan.”
“ Kebebasan?” Tanya Kinan penasaran
“ Iya kebebasan tanpa adanya tekanan.”
“ Kata siapa!”
“ Kataku barusan… Hahahaha.”
“ Jangan sok tahu jadi orang.”
“ Coba kamu bandingkan dia dengan kita.” Sambil menunjuk ke arah pengamen
“ Mereka bebas mengapresikan kreatifitas walaupun dengan banyak tekanan. Sedangkan kita seperti dikurung dalam sangkar burung.” Sanggahnya lagi
“ Hahahahha… karena memang kualitas kita jauh lebih baik jadinya lebih diistimewakan.” Jawab Kinan
“ Terus apa bedanya kita dengan binatang peliharaan? Toh endingnya akan mati dalam sangkar? Apa yang kita peroleh, kebebasan? Hahahhahah.
Setelah mendengar penuturan dari salah satu rekan kerjanya. Kinan berpikir keras sambil meneguk coffe terakhir miliknya. Tidak lama jam menunjukan waktu pulang kerja. Dia langsung mengambil tas miliknya kemudian berjalan menuju lobby bangunan megah itu. Sesaat melewati ruangan bagian pantry. Dia tidak sengaja mendengar pembicaraan atasan office boy. Ketika sedang memarahi anak buahnya. Samar-samar dia mendengar namanya sedang disebut.
“ Kenapa membiarkan Mbak Kinan membuat kopi sendiri!” Suaranya sangat keras sehingga office boy itu tidak berani menatap mata atasannya
“ Maafkan saya, Mbak Kinan yang memaksa membuat kopi sendiri.” Jawabnya sambil meremas kedua tangannya
“ Terus tugas kamu disini apa? Berfoyah-foyah? Atau makan gaji buta!!” Bentak atasan office boy tersebut
“ Ada apa ini?” Tanya Kinan yang langsung tidak mendapatkan jawaban
“ Tidak ada apa-apa, Mbak. Saya permisi dulu.” Jawab atasan office boy tersebut.
Setelah berjalan ke arah rumahnya, dia merenung tentang ucapan rekan kerja sekaligus kemarahan atasan office boy. Hari ini seluruh badannya remuk ditambah pikirannya tidak menentu. Dia berpikir, siapa yang salah? Keadaan atau garis takdir manusia? Bagaimana standart kebebasan seseorang?
Langkahnya terhenti ketika berada di depan rumah miliknya. Dia melihat dua mobil merk brand lokal terparkir rapi di depan rumah. Terdengar riuh dari suara orang dalam rumahnya. Pikirnya saat itu, SIAPA? Ternyata kedua orang tuanya Kinan bermaksud menjodohkan dengan anak dari sahabatnya.
“ AKU TIDAK MAU MENIKAH DULU, BU!” Protes Kinan setelah tamu sudah pergi
“ APA YANG KAMU TUNGGU? UMURMU 25 TAHUN.”
“ SUDAH SANGAT MAPAN UNTUK PEREMPUAN SEUSIAMU!”
“ POKOKNYA AKU MASIH BELUM SIAP, MASIH BANYAK MIMPI YANG INGIN AKU CAPAI.”
“ KEPUTUSAN IBU SUDAH BULAT KAMU HARUS MENIKAH.”
Kinan berpikir, dunia semacam apakah ini? Kehidupan seperti panggung sandiwara. Banyak tokoh memainkan banyak peran. Apakah masih terdapat kenikmatan? Atau hanya sekedar ilusi semata?
SELESAI