Ayunan dari sebotol yang tergantung berada di depan sebuah toko kecil, terlihat begitu menyegarkan. Tidak hanya satu melainkan dua dengan berwarna merah dan kuning. Di bawah terik matahari pada tengah hari, dia menatap dua botol itu dengan harapan dapat menyegarkan dahaganya. Air liurnya hampir saja menetes jika tidak teringat akan tujuannya datang ke toko kecil itu.
Budi mencoba meminta izin kepada pemilik toko untuk meminta sumbangan. Toko kecil tersebut menjual berbagai macam minuman dan makanan ringan. Alih-alih mendapatkan uang, pemilik toko mengusirnya dengan kasar. Bahkan menyiraminya dengan air seember penuh. Pakaiannya basah hingga map ditangannyapun juga ikut basah. Jika tidak teringat anaknya yang membutuhkan susu, mungkin saja dia sudah memukul pemilik toko tersebut. Sebelum pergi, dia menatap dua botol berwarna merah dan kuning lagi sambil menatap pemilik toko dengan tatapan tajam.
Berjalan 100 meter membuat keringatnya tidak hentinya bercucuran. Pakaiannya yang basah seketika mengering. Langkahnya terhenti ketika menatap bangunan besar menjulang tinggi. Perusahan stasiun Televisi swasta yang sering ia jumpai di benda elektronik yang berbentuk kotak milik tetangganya. Banyak orang yang keluar masuk dari bangunan besar itu dengan mobil besi. Dia berpikir berapa uang yang dikeluarkan untuk mendirikan bangunan besar itu?
Sekali lagi dia mencoba peruntungannya memasuki sebuah warteg di seberang jalan bangunan besar itu. Warteg itu sedang ramai pengunjung otomatis akan banyak uang yang akan dia peroleh. Budi memikirkannya sambil tersenyum. Apalagi saat ini sedang menunjuk waktu makan siang. Pasti banyak pundi-pundi uang yang akan diperoleh ketika memasuki warteg tersebut.
“ Permisi Mbak dan Mas, saya minta sedikit sedekahnya untuk makan.” Ucapnya sambil menyodorkan map ditangannya yang bagian ujungnya basah.
“ Mas kesini sebentar! ” Suara salah satu pengunjung.
“ Ada apa ya Mas memanggil saya? “
“ Sudah makan? “
“ Belum” Jawab Budi dengan lirih
“ Pesan makan dulu, nanti saya bayarin. Tidak perlu sungkan.” Tanpa menjawab ucapan pengunjung tersebut, Budi langsung memesan makanan pilihannya.
“ Mas namanya siapa? Saya Tio.” Sambil mengulurkan tangan.
“ Saya Budi, Mas.” Menjawab jabatan tangan Tio
“ Kerja apa, Mas? “ Tanya pengunjung tersebut
“ Saya tidak kerja makanya saya meminta sumbangan “
“ Sudah berkeluarga? “ Pengunjung itu melontarkan pertanyaan lagi.
“ Sudah.” Sambil tersenyum ringan
“ Sebelumnya saya meminta maaf, apa tidak kasihan kepada keluarga Mas Budi jika dinafkahi dengan cara meminta-minta?”
“ Bagaimana lagi hidup keras Mas. Tidak ada peluang pekerjaan yang mau mempekerjakan tamatan SD seperti saya. “
“ Mengapa tidak mencoba peruntungan lain, seperti membuka lapangan pekerjaan sendiri?
“ Semua itu butuh modal, Mas. Dan juga saya hanya tamatan SD, pengetahuan saya sangat minim. Tidak mendukung untuk kehidupan zaman sekarang. Mau bagaimana lagi hanya segini yang bisa saya lakukan untuk bertahan hidup. Hidup Mas Tio jauh lebih beruntung dari saya, tidak perlu bersusah payah seperti saya yang harus berjalan jauh di bawah terik panas matahari untuk mencari uang recehan. ”
“ Hidup selalu berjalan Mas, jika tidak kita yang menentukan bagaimana akan ada perubahan? Coba berpikir begini, sekarang kondisi Mas masih sehat bugar. Bisa jadi 5 sampai 10 tahun Mas Budi sudah tidur dirumah dan tidak bisa melakukan apapun. Siapa yang akan terbebani dalam kondisi tersebut? Bukan Mas Budi yang terbebani tetapi Keluarga Mas Budi. Anak Mas Budi tentu masih membutuhkan pendidikan dan lingkungan yang layak dalam masa pertumbuhannya. “
“ Dan juga hidup saya juga seperti Mas Budi. Saya berasal dari keluarga di bawah rata-rata. Bahkan saya tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Tetapi saya bertekad untuk merubah kehidupan saya menjadi lebih layak, agar keluarga saya nanti tidak akan merasakan seperti yang pernah saya rasakan tempo dulu.” Tio menimpali lagi ucapannya.
Mendengar ucapan dari Tio, Budi terbelalak dan mencari kebohongan dari wajah Tio. Namun, dia tidak mendapatkan apa yang dicari. Obrolan itu berakhir ketika pesanan makanan Budi datang. Budi memakannya dengan hati yang gelisah. Terdapat rasa tidak percaya namun berharap semoga cerita Tio benar adanya. Ketika acara makan gratis berakhir, Dia mengucapkan permisi dan sekaligus berterima kasih. Meskipun tidak memperoleh uang di warteg tersebut namun setidaknya perut dan dahaganya sudah basah.
Selama diperjalanan, dia berpikir tentang obrolannya bersama Tio. Membuatnya tidak konsen meminta sumbangan hingga pukul lima sore tandanya dia harus segera pulang. Hari ini dia hanya memperoleh uang 20.000 saja. Hanya cukup untuk membeli beras beserta lauk tahu dan tempenya. Bahkan untuk tabungan membeli susu anaknya saja tidak cukup. Hari ini dia harus membujuk anaknya untuk meminum air tajin (Air cucian besar) lagi. Sebenarnya dia merasa tertampar jika melihat buah hatinya meminum air tajin. Namun, apalah daya kondisinya memang miskin tidak cukup untuk membeli susu.
“ Assalammuallaikhum.” Salamnya ketika melihat rumahnya gelap gulita
“ Wa’alaikhumsallam! Dapat uang berapa? Beras, tempe, elpiji habis. Susu anak juga ikutan habis. Ditambah sekarang listrik diputus oleh PLN karena nunggak 2 bulan! Sampai kapan hidup seperti ini? Aku susdah lelah harus hidup susah seperti ini. “ Suara keras dari perempuan memakai baju daster dihadapannya.
“ Hanya 20.000 saja.”
“ Apa!! Itu hanya cukup membeli elpijinya saja!” Bentak perempuan itu.
“ Kamu seharusnya bersyukur masih diberikan Tuhan rezeki meskipun hanya 20.000 saja. Coba lihat orang yang tinggaal di bawah kolong jembatan. Mereka banyak yang tidak makan berhari-hari menahan laparnya.”
“ Kamu tidak perlu berceramah, tidak perlu membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. INGAT HIDUP KITA JUGA SUSAH!!”
Budi menggeleng-geleng memikirkan kehidupannya, bagaimana dia mencoba peruntungan baru jika uang saja tidak cukup untuk makan.
“ BAGAIMANA CARA AKU BISA SUKSES? “ Kalimat yang dipikirkan Budi dalam beberapa hari ini. Semenjak pertemuannya dengan Tio, dia selalu gusar dengan kehidupannya. Pada bagian ini siapa yang perlu dipersalahkan? Takdir Tuhan ataukah dirinya?
Kali ini Budi mencoba mendatangi warteg saat bertemu dengan Tio. Dia mengharapkan bertemu sekali lagi dengan Tio untuk mempertanyakan beberapa pertanyaan yang silih berganti dipikirannya selama beberapa hari ini. Dia menunggu diwarteg itu cukup lama. Semenjak pukul 10 siang hingga menjelang petang. Pemilik warteg tersebut juga sedikit terganggu dengan kehadiran Budi. Bukan dikarenakan pakaiannya yang kucel dan sedikit bau. Melainkan semenjak tadi dia tidak memesan apapun sama sekali. Pemilik warteg tersebut akhirnya menghampiri dan bertanya kepada Budi.
“ Ada yang bisa saya bantu? Sejak tadi saya perhatikan dari jauh sepertinya anda sedang menunggu seseorang.”
“ Maaf sebelumnya, Mbak. Saya sedang menunggu seseorang yang tempo hari mentraktir saya makan disini, saya ingin menanyakan beberapa pertanyaan kepada orang tersebut.”
“ Jika boleh tahu siapa nama yang Mas maksud? ” Tanya pemilik warteg tersebut.
“ Mas Tio namanya.”
“ Oh Pak Tio yang memiliki badan gemuk, berkulit putih, dan kumis tipis?”
“ Iya Mbak. Benar orang dengan ciri-ciri itu yang saya cari.”
“ Pak Tio kemarin meninggal dunia, Mas. Beliau pemilik bangunan besar di depan warteg ini. Dan juga beliau yang memberikan modal saya untuk membuka usaha warteg ini. Saya banyak hutang budi kepada beliau.” Jawab pemilik warteg tersebut dengan menangis ketika mengenang orang yang berjasa dihidupnya.
“ Innalillahiwainnalillahi roji’un. Beliau meninggal karena sakit? Bagaimaana dengan keluarganya “
“ Iya, karena sakit. Beliau meninggalkan keluarganya dengan harta dan asset yang dimilikinya, Mas. Mereka keluarga yang baik dan dermawan, suka membantu orang yang kesusahan seperti saya. Dulu Pak Tio pernah bercerita kepada saya tentang masa hidupnya. Penggalan ceritanya yang masih saya ingat tentang Pak Tio berasal dari keluarga di bawah rata-rata. Bahkan beliau tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Tetapi beliau bertekad untuk merubah kehidupannya menjadi lebih layak, agar keluarganya nanti tidak akan merasakan seperti yang pernah beliau rasakan tempo dulu. “
Mendengar penuturan dari pemilik warteg, Budi merasa ditampar sekaligus merasa dirinya sudah terlambat menuntut jawaban dari Tio. Dia merasa usahanya sia-sia sebelum memulai perubahan baru dikarenakan dia semakin kalut dan bingung memulainya darimana. Satu-satunya orang yang dia harapkan sudah tiada.
“ Jika boleh tahu Mas ingin bertanya apa kepada Pak Tio?”
“ Saya ingin bertanya tentang bagaimana cara bisa sukses sedangkan saya tidak memiliki modal dan bakat apapun? Dan juga saya hanya tamatan SD.”
“ Seperti yang pernah diucapkan Pak Tio kepada saya, bahwa jangan pernah bertanya bagaimana cara untuk bisa sukses? Seharusnya lebih tepat pertanyaannya bagaimana saya bisa menjadi manusia yang berguna? Keberhasilan seseorang bukan terletak pada pendidikan yang diperoleh melainkan pada bagaimana cara dia bertindak untuk maju. Dan mengenai modal tidak perlu dikhawatirkan, Pak Tio memiliki organisasi “ Peduli akan masa depan”, organisasi ini dikhususkan untuk membantu orang yang memerlukan modal dalam usahanya. Mas bisa mendaftarkan diri sebagai anggota di organisasi ini. Silahkan.” Sambil menyodorkan selembar brosur Peduli akan masa depan.
“ Lebih baik terlambat atau tidak sama sekali. Perubahanmu yang menentukan dirimu bukan orang lain. “ Pelayan wanita itu menyanggah ucapannya.
TAMAT