Shōgakusei no rabusutōrī 2
***
Dia Ranti. Teman sekelasku di bangku sekolah dasar. Kami duduk bersebelahan, namun tidak satu bangku. Ada jarak 50cm dari mejaku dan mejanya. Jarak yang selalu ada sebagai jalan ke belakang ruang kelas. Area yang sering digunakan untuk tidur saat jam kosong. Atau untuk lesehan saat jam istirahat.
Ranti tidak cantik. Di bertubuh hitam kurus dengan rambut keriting sebahu yang tidak pernah diikat, alias berantakan. Seperti nenek lampir. Itu julukanku padanya. Julukan yang kuambil dari sebuah sinetron kolosal di televisi. Ngomong-ngomong televisiku masih versi tabung, dengan tombol-tombol se-biji jagung di bawahnya yang sering kali di pencet pakai jempol kaki. Sebab remotenya suka hilang mendadak.
Ranti selalu sampai di sekolah paling awal dari pada anak-anak lain. Memakai seragam merah putihnya yang kekecilan. Mungkin orang tuanya berpikir bahwa sangat tanggung untuk membeli seragam baru, sebab Ranti sudah kelas 5 SD. Karena itu rok lipit Ranti panjangnya di atas lutut. Disibak sedikit saja, celana dalamnya nyaris kelihatan. Aku pernah melakukan itu, menyibak roknya pakai penggaris plastik. Alhasil, Ranti memukul kepalaku pakai buku paket yang tebalnya bikin pusing.
Saat pelajaran Ranti akan melamun. Entah apa yang dilamunkannya, aku juga penasaran. Gara-gara itu dia sering ditegur guru. Kadang guru juga datang ke kelas saat dia menangis. Ya, Ranti sangat cengeng. Meski aku tahu bahwa dia cengeng karena selalu dijahili teman-teman sekelas. Termasuk aku.
Saat istirahat Ranti akan bermain dengan kakak kelas di halaman sekolah. Memainkan kelereng bersama kumpulan anak cowok yang lebih tua darinya. Walau dia selalu kalah, tapi dia tetap senang. Kakak-kakak kelas itu juga membiarkannya bergabung, sedikit mempermainkannya agar mereka mendapat banyak kelereng.
Aku sangat jarang melihat Ranti bermain dengan teman sekelas. Kalau melihatnya diganggu sangat sering, apalagi berantem dengan teman cowok. Yah, Ranti memang dijauhi teman-teman. Aku tidak tahu alasannya karena aku sendiri masih anak baru yang bergabung ke kelas itu sejak dua bulan lalu.
Jujur saja, Ranti memang sangat menarik untuk diganggu. Karena tatapan matanya yang tajam. Bibirnya yang manyun karena kesal. Hingga air matanya yang mengalir deras disertai suara sesegukan. Dan sifatnya yang akan segera melupakan kenakalan yang diterimanya walau menyakitkan.
Hari ini bertengkar. Besok berdamai.
Namun semua menjadi tidak menyenangkan lagi saat aku mulai menyadari perasaanku padanya. Rasa penasaran berubah menjadi ketertarikan, dan berakhir ke percintaan. Aku menyukai Ranti. Rasa suka yang membuatku menyusun rencana untuk menembaknya.
Aku mengajak dua teman cowokku untuk menyeret Ranti ke gudang sekolah. Kucengkeram erat pergelangan tangannya agar dia tidak bisa kabur. Aku cukup percaya diri akan diterima, karena bukannya sombong. Aku selalu juara kelas, dan disukai banyak cewek serta guru-guru.
Tapi belum sempat aku mengucap kata, Ranti sudah lebih dulu marah-marah. Baru kali ini aku melihatnya begitu. Padahal selama ini dia tidak pernah benar-benar marah pada teman-teman yang menjahilinya. Aku sangat kaget, hingga suaraku tertahan. Tidak tahu harus mengatakan apa atas pertanyaannya. Tidak sanggup membalas ucapannya. Tidak mau melepaskannya.
Ranti menampik tanganku, mencoba melepaskan diri. Ketika dia berbalik, ku tarik dia kebelakang lalu menghadapkan tubuhnya ke hadapanku. Semakin kucengkeram pergelangan tangannya. Matanya melotot menatapku tajam. Kami saling tatap dalam diam.
Sangat lama hingga bel sekolah berdentang. Kedua teman cowok yang membantuku segera kembali ke kelas. Mau tidak mau, dengan langkah yang berat aku pergi. Terpaksa melepaskan cengkeramanku di pergelangan tangannya. Gontai aku keluar dari gudang, ingin menangis tapi malu karena masih di sekolah.
Mataku sudah berkaca-kaca. Menyadari bahwa yang kulakukan selama ini salah. Harusnya sejak awal aku bersikap baik padanya, bukan malah menjahilinya seperti yang dilakukan teman-teman. Aku terlalu larut dalam sikap baiknya hingga tidak berpikir bahwa dia juga bisa menyimpan dendam atas perlakuan burukku. Walau niatku untuk menarik perhatiannya, tapi cara yang kugunakan salah.
Sekarang aku hanya bisa diam di bangkuku. Tidak berani menyapanya lagi. Aku takut dia akan semakin membenciku. Aku sangat sedih, tapi aku memang pantas patah hati. Meskipun begitu aku berharap.
“Kuharap, Ranti tetap mau menjadi temanku.”
Dengan begitu aku bisa memperbaiki hubungan kami. Hanya saja aku tidak tahu, bahwa besok paginya aku sudah tidak akan bersekolah di sekolah yang sama dengannya. Orang tuaku pindah kerja, jadi aku juga pindah sekolah mengikuti mereka.
Tanpa bisa memperbaiki hubungan kami. Aku pergi.
Cerita diantara aku dan Ranti tinggal menjadi kenangan hingga kini. Kenangan yang selalu kuceritakan diantara teman-temanku yang lain. Seberkesan itu sosok Ranti di hidupku, hingga aku tidak bisa melupakannya.
Jika aku bisa mengucapkan beberapa patah kata untuk Ranti, maka setulus hati kan kukatakan.
“Ranti, maaf sudah membuatmu menangis. Maaf karena bersikap buruk padamu. Maaf karena aku masih mencintaimu.”
Ya. Aku memang mencintainya.
# # # #
Tamat.