Di kesunyian malam ini hawa dingin menderaku. Sambil duduk diam diriku tercenung menatap pemandangan langit malam yang bertabur bintang dihadapan api unggun yang menghangatkan seorang diri.
“Sungguh indah kuasa-Mu, Tuhan,” batinku mengagumi sketsa alam dihadapanku.
Kuedarkan tatapanku ke sekelilingku. Sunyi, gelap, dan dingin yang bisa kudapati dan beberapa tenda berdiri kokoh di puncak ini. Kueratkan jaket tebal yang membungkus tubuhku guna mengurangi hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Angin berembus menegakkan bulu kudukku. Suara gesekan dedaunan diiringi suara hewan malam membuat suasana mencekam dengan diriku yang asih terjaga seorang diri.
“Udah kayak film horor aja sumpah!” keluhku kepada diri sendiri kala merasa ada sesuatu yang memperhatikannya seraya memeluk diriku sendiri.
“Makannya tidur jangan malah begadang kayak Pak Haji Roma,” celetuk seseorang mengagetkanku.
Sontak saja diriku menoleh ke belakang melihat siapa gerangan yang berucap mengageti diriku.
“Lho, Gara. Belum tidur kamu?” tanyaku kepada pelaku pangagetan tadi. Gara terlihat berjalan kearahku sambil terus menatap diriku intens.
Dia duduk di sampingku persis hingga tubuh kami sama-sama menempel bersamaan dengan degub jantungku yang mulai menggila. “Udah tidur tadi, tapi kebangun karena suara ngoroknya Ringga yang meresahkan,” jawabnya dengan raut wajah tanpa ekspresi andalannya.
Aku terkekeh ringan mendengar jawabannya. “Kayak enggak tau aja kebar-baran Ringga itu udah mendarah daging. Meskipun melek atau merem sama aja bar-bar,” celetukku saat mengingat Ringga, sahabatku dari orok sekaligus adik kembarku.
“Hm, kamu benar,” tanggapnya singkat menyetujui.
Gara nampak sedang menerawang ke depan menatap lautan luas yang tertutup kelamnya malam di bawah gunung yang menjulang ini. Akupun terdiam mengikuti Gara menatap jauh ke bawah sana. “Gelap, kamu enggak akan melihat jelas ombak yang berlarian menepi ke pantai, Gara,” ucapku.
Dia terdiam sejenak, lalu menjawab, “Maka terangilah, supaya aku melihat dengan jelas keindahan di balik kegelapan itu.”
Dia menoleh ke arahku. Aku juga menatapnya tepat di kedua belah bola matanya yang tajam untuk mencari maksud perkataannya. Hanya sebentar. Karena aku ‘tak kuat menatapnya lama-lama.
“Carilah lenteramu untuk menerangimu di antara kegelapan. Pasti kamu bisa bebas menikmati keindahan itu, keelokan birunya laut yang selalu kau puja,” responku atas kalimat yang terlontar darinya barusan.
“Belum kutemukan lentera itu, tiada yang sanggup menemaniku menikmati pesona gagahnya lautan itu sebelum kutemukan dirimu, menyadari keberadaan dirimu, dan mengakui rasa yang telah timbul tanpa kusadari,” ucapnya menjeda membuatku membisu. “Kenapa kau diam saja memendam segelanya selama ini? Kau membuat dirimu tersiksa tanpa membaginya kepadaku,” lanjutnya.
“Apa?” tanyaku seolah tidak tahu apa arti ucapan Gara barusan.
Dia menatapku tajam dengan mata elangnya. “Tidak perlu bersikap seolah kamu tidak tahu apapun, karena aku sudah tahu semuanya,” tegasnya membuatku kelu untuk menjawab apa.
“Kenapa? Kenapa kamu menyembunyikan perasaanmu selama ini terhadapku? Jawab!” ucapnya menyudutkan diriku.
Aku menatapnya kosong. “Siapa? Dari siapa kamu tau semuanya?” tanyaku lirih seraya mengalihkan arah tatapanku ke darinya.
“Kamu tidak perlu tahu dari siapa aku tahu semua tentang rasamu terhadapku, jawab saja kenapa selama ini kamu memendam rasamu padaku?!” tuntutnya seraya menarahkan diriku untuk menatapnya.
Aku masih terdiam, enggan menjawab.
“Jawab aku!” paksanya.
“Karena kita berbeda dan akan selamanya akan berbeda,” jawabku.
Dia berdecih pelan. Kemudian, Gara memegang kedua pundakku. Meremasnya pelan. “Bahkan kamu belum mencoba dan kamu sudah menyimpulkan dugaanmu,” kata Gara dengan tatapan bak mata pedang memandangku tanpa kedip.
“Semuanya sudah jelas, Sagara. Menurutku kamu itu seperti laut, persis seperti namamu, yang sama-sama aku hindari,” ujarku ringan seolah tidak terjadi apapun seolah tak menghiraukan perang batin yang sedang terjadi saat ini.
“Apa sangkut-pautnya masalah ini dengan laut? Jangan mencoba untuk menghindar dariku lagi!” ucapnya penuh peringatan.
Aku menghela nafas untuk menguatkan diri. “Tentu saja ada hubungannya. Perlu kamu tahu, sedari aku kecil, laut sudah menjadikanku orang yang sangat penakut, orang yang lemah. Bayang-bayang akan kejamnya lautan selalu tergiang pada tragedi masa lalu yang membuatku hampir mati tertelan ombak di lautan. Dan kamu ku ibaratkan sepertinya. Bayang-bayang itu masih terekam jelas di memoriku. Menakutkan rasanya sampai aku hampir mati gila. Kamu cintaku dan juga ketakutanku. Jadi, hiraukan saja rasa ini, karena sudah ada rasa yang harus kamu jaga saat ini dan seterusnya. Maria, sahabatku dan kekasihmu,” ucapku panjang lebar menahan sesak di dada.
Dia termenung sesaat dengan tetap menatapku, dan itu membuatku risih sehingga aku memalingkan badanku ke arah depan memutuskan menatap kegelapan malam yang menjelang pagi.
“Tapi aku ‘tak mencintainya, hanya rasa sayang sebagai sahabat saja. Perlu kamu tahu, selama ini aku juga menyimpan rasa terhadapmu, namun aku tidak berani menyatakannya kepadamu, aku mencintaimu,” ungkapnya lirih namun penuh keseriusan.
Aku yang mendengarnya terkejut atas kenyataan yang baru saja terungkap, hanya sebentar, lalu aku menormalkan diriku lagi. Karena aku harus sadar diri, dia sudah memiliki Maria dan aku sudah tidak berhak lagi atas perasaan Sagara terhadapku walau rasa sakit itu masih sedikit tertinggal di hati.
“Hargai selagi ada, kesempatan hanya datang satu kali. Belum tentu yang lain kan menghargaimu sebaik yang ada saat ini,” nasihat kulontarkan kepadanya yang kini sedang memandang kosong ke arah laut.
Melihatnya yang seperti ini mengingatkan kembali saat diriku hancur kala tahu bahwa orang yang cinta telah melamar sabahatku sendiri. Tidak terima awalnya, namun aku sadar bahwa kita tidak bisa memaksakan cinta dan aku tidak bisa menghancurkan kebahagiaan sahabatku demi egoku. Dan akhirnya, akupun mundur secara perlahan sampai tak ada orang yang menyadari dan mulai mengubur dalam-dalam perasaanku kepada Sagara hingga aku berhasil mengikhlaskannya seperti sekarang.
“Ternyata aku telah terlalu terlambat dan dengan bodohnya aku berharap dapat memilikimu, terbebas dari ikatan yang sekarang sedang membelenggu hatiku dan hidup bahagia bersamamu selamanya, lagi-lagi aku dihancurkan oleh realita yang kejam,” ucapnya tanpa melihatku dan masih terpaku pada pemandangan fajar yang mulai menyinsing di depan sana.
“Angan yang terlalu tinggi kerap kali dijatuhkan oleh kenyataan, bukan bermaksud menghancurkan tapi untuk menguatkan diri kita menghadapi kejamnya dunia. Walau sekarang kamu sedang merasa terpaksa, namun dikemudian hari kamu pasti akan terbiasa dan menemukan kebahagiaanmu,” tuturku bak orang bijak sembari memanjakan mata dengan lukisan Tuhan yang amat luar biasa
“Semuanya sudah berlalu, sudah saatnya kita menjalani dan menikmati jalan yang telah kita pilih. Lagi pula sekarang kamu sudah punya tanggung jawab membahagiakan Maria,” lanjutku.
“Dan kamu? Kamu juga berhak bahagia,” kata Sagara dengan menatapku dalam.
Aku membalas tatapannya. “Aku ... aku sudah bahagia dengan selalu bersyukur atas apa yang telah Tuhan tuliskan, melihat orang-orang disekitarku tertawa dan tersenyum dan melanjutkan karirku, itu sudah cukup bagiku,” jawabku.
Terdengar disampingku Sagara mengela nafas berat. “Kau benar. Aku akan tertahan dan berusaha untuk mempertahankan hubunganku dengan Maria,” kata Gara yang akhirnya dapat menyadari dan menerima keadaan.
Setelah mendengar kata terakhir dari ucapan Gara, kedua mataku memejam, membiarkan sinar fajar menerpa wajahku. Lega rasanya saat dua orang yang tidak seharusnya saling mencintai sudah bisa ikhlas menerima dan merelakan cintanya demi sebuah kebahagiaan bersama yang nyata dan selamanya.
**TAMAT**