Siska kaget, meloncat turun dari ranjang tidur, buru-buru mematukkan mukanya ke cermin, karena...
Eit, jangan berpikir yang aneh-aneh, bukan karena sepasang tanduk yang muncul di keningnya, atau wajahnya yang bertambah tua, melainkan...
"Ini benaran gue?"
"Iya itu Elo!"
Siska kaget. Celingak-celinguk kanan-kiri, muka-belakang, atas-bawah, tidak cuma sekali. Tidak menemukan satu batang hidung pun di dalam kamar, Siska ketakutan, buru-buru melompat balik ke ranjang, seluruh tubuhnya ditutupi dengan bed cover, ia meringkuk.
"Woii gue kok dikacangin sih!"
"Loe siapa? Di mana?"
"Di hatimu, boong! Gue di sini!"
"Di sini?! Di sini mana!?"
"Buka dulu bed cover loe!"
"Loe hantu ya!"
"Hantu kepala loe peang! Woii udah siang begini masih ngigau aja loe! Woii keluar dulu!"
"Ngomong dulu loe siapa!?"
"Gue Cekai!"
"Cekai!? Cekai siapa!?"
"Anaknya bang Toyib!"
"Anaknya bang Toyib!?"
"Iya, yang panggil-panggil bapaknya, karena tiga kali lebaran tiga kali puasa gak pulang-pulang!"
"Becanda aja loe! Ngomong siapa loe!?"
"Gue malaikat pencabut nyawa loe!"
"Malaikat pencabut nyawa!?"
"Iya, gue malaikat pencabut nyawa loe!"
"Bohong...! Pasti loe setan! Iyakan! Loe setan kan! Ngaku loe...! Kalau nggak...!"
"Eh, Kampret! Pake ngancam-ngancam gue! Berani-beraninya loe ngancam gue, belum tahu nih bocah, emangnya loe siapa?"
"Gue, Siska!"
"Itu gue tahu!"
"Tahu pake nanya loe!"
"Tahu pake nanya, pake saus dicocol, enak!"
"Loe kata colenak,"
"Colenak apaan tuh?"
"Colenak aja loe gak tahu, benar loe setan kan!?"
"Sontoloyo! Kalau gue setan emang kenapa!?"
"Iya gue takut,"
"Terus kalau loe takut gue harus bilang "Wow..." gitu!?"
"Jangan bercanda loe,"
"Loe kata gue Srimulat!?"
"Pergi loe!"
"Ke mana!?"
"Ke mana aja yang penting jangan di sini!"
"Beneran gue pergi?"
"Pergi loe!"
"Loe gak nyesal?"
"Kenapa gue harus nyesal!? Iya nggak lah!"
"Ok! Tapi satu hal yang harus loe tahu, gue sudah mengabulkan satu permintaan loe, padahal, loe punya tiga kesempatan."
"Permintaan? Kesempatan? Apa sih maksud loe?"
"Dasar bego loe ya, loe yang ngomong loe yang lupa! Kemarin malam, sebelum loe ngorok, loe minta apa sebagai hadiah ulangtahun yang ke 45!"
"Gue minta apa?"
"Iya loe minta apa!?"
"Gue minta kerut-kerut di wajah gue, terutama di sekitar kening dan mata gue, berkurang. Terus badan gue bisa lebih ramping, gak gendut seperti boneka beruang."
"Lah sekarang gimana?"
"Gue jadi..."
"Puas nggak loe!?"
Sekonyong-konyong Siska menyingkap bed cover, kepalanya menengadah, kedua tangannya mengepal dan terjulur ke angkasa, lalu ia berteriak sekencang-kencangnya. Ahaaa.....!"
"Senang loe ya, iyakan, iyakan, iyakan..."
"Setan! Gue gak minta gini-gini amat!"
"Gini-gini amat gimana maksud loe!? Dasar manusia gak tahu terimakasih loe! Bagus udah gue kabuli permintaan loe! Bukannya senang!"
"Gue jadi bocil gini apanya yang senang, sementara suara gue, Setan...!"
"Bukannya jadi lebih seksi!?"
"Seksi?"
"Iya, seksi!"