Butiran salju berguguran,mewarnai bukit-bukit menjadi putih. Sepasang suami istri di dalam rumah kecil di desa terpencil saling berpelukan pada malam musim salju. Musim salju itu mengingatkan mereka pada suatu moment yang sangat bahagia.
"Pada saat kita saling bertemu pun sedang bersalju. Kamu membisikkan sebuah senyuman." ,Ujar sang suami.
"Dan aku menyembunyikan wajahku yang tersipu malu dibalik tanganku." ,Jawab sang istri.
Musim semi datang. Sang istri dengan senang bernyanyi dengan burung yang bersiul. Menyanyi mengikuti irama kicauan burung - burung yang terbang bebas di angkasa. Saat tengah bernyanyi sang suami mengatakan kepada istrinya bahwa suaranya sangatlah indah. Kata-kata itu saja sudah membaut sang istri sangat senang.
"Jika suatu hari suara indah ku menghilang, apakah kamu akan tetap mencintaiku?", Tanya sang istri penasaran.
"Tentu saja.", Sang suami menjawab sambil tersenyum lemah lembut. Dan tangannya yang besar itu mengusap pipi sang istri dengan lembut.
Satu daun tergugur saat sore musim panas, sang suami terjatuh sakit. Rumah tangga yang miskin itu tidak dapat membayar obat untuk menyembuhkannya. Di hari-hari berikutnya sang istri tidak dapat melakukan apa-apa selain menenun.
"Aku tidak akan membiarkan nyawamu gugur seperti daun musim semi yang hidup dengan singkat.", gumam sang istri sembari terus menenun agar dapat dijual dan membeli obat.
Musim bergilir, tangisan jangkrik-jangkrik menandai akhir dari musim panas. Sang istri terus merawat suaminya dengan sabar. Pada saat malam hari ketika sang istri merawat suaminya, sang suami melihat tangan istrinya yang terluka.
"Jari-jarimu sangat indah.", Ujar sang suami sambil memegang erat tangan istrinya yang terluka.
"Tanganmu sangat dingin. Istirahatlah suamiku jangan banyak bergerak."
"Tak apa aku baik-baik saja"
"Jika suatu saat aku tak mempunyai jari yang indah ini, apakah kamu akan tetap mencintaiku?"
"Tentu saja.", Sang suami mengatakannya sambil terbatuk-batuk dan tangan besarnya mengusap-usap tangan istrinya yang terluka itu.
Tinggal sedikit lagi daun musim semi itu gugur. Siang dan malam sang istri tidak berhenti menenun. Karena hanya dengan menenun lah ia bisa mendapatkan uang yg cukup untuk membeli obat.
"Cepat cepat cepatlah selesai, aku harus segera membeli obatnya.", Batin sang istri.
Ditengah malam sang suami terbangun dari tidurnya. Ia menangis melihat sang istri yang terus berkerja demi dirinya,sedangkan ia malah tertidur dengan nyenyak. Sang suami merasa bahwa dirinya adalah sosok suami yang tidak berguna lantaran membiarkan sang istri terus berkerja siang dan malam.
Sang istri menyadari bahwa suaminya terbangun. Ia menghentikan kegiatannya sejenak dan menghampiri suaminya.
"Apakah aku membuat suamiku terbangun dari tidurnya?", Tanya sang istri sembari menyelimuti suaminya
"Tidak. Maafkan aku, karena aku sakit kamu harus terus berkerja siang dan malam.", jawab sang suami sambil menangis dan batuk-batuk.
Sang istri tak tega melihat suaminya sakit-sakitan.
"Jika suatu hari aku tidak lagi seorang manusia, apakah kamu akan tetap mencintaiku?"
"Tentu saja." ,jawab sang suami sembari memeluk istrinya
Karena sang istri tidak bisa membiarkan suaminya terus sakit-sakitan akhirnya sang istri memberitahukan rahasia yang telah ia sembunyikan selama ini. Dia mengatakan bahwa dirinya bukanlah manusia seutuhnya. Kemudian meminta suaminya untuk mencabut bulu terakhirnya agar digunakan untuk membeli obat. Tetapi konsekuensinya adalah istrinya tak dapat berubah menjadi manusia kembali.
"Cabutlah bulu ini. Bulu itu akan berubah menjadi kain tenun yang cukup untuk membeli obat,suamiku."
"Tidak akan!!"
"Ku mohon, demi diriku"
"Tidak, bahkan sampai aku tiada pun aku tidak akan melakukannya. Aku ingin kau tetap menjadi manusia."
Karena tidak ada pilihan lain dan sang suami menolak untuk mencabut bulu itu, akhirnya sang istri lah yang mencabutnya sendiri. Dan benar seperti yang di katakan sang istri, bulu itu seketika menjadi kain tenun yang sangat indah. Sang istri pun menukarkan kain tersebut dengan obat.
Keesokan harinya sang suami pun sembuh dari sakitnya. Sang istri merasa senang melihat suaminya bisa sehat kembali. Tetapi di sisi lian dia juga khawatir bahwa dirinya akan menjadi burung bangau seutuhnya dan suaminya tidak mencintainya lagi. Lantas sang istri bertanya kembali kepada suaminya untuk meyakinkannya.
"Suamiku aku ingin bertanya kepadamu."
"Katakan saja apapun akan ku dengarkan."
"Jika suatu saat aku bukan lagi manusia, apakah benar kamu akan tetap mencintaiku?"
"Tentu aku mencintaimu. Apakah istriku yang cantik ini meragukan suaminya?"
"T-tidak bukan begitu."
Sang istri pun lega mendengar jawaban dari suaminya. Ia kemudian memeluk suaminya. Dan pada saat itulah sang istri berubah ke wujud aslinya sebagai burung bangau dan terbang meninggalkan suaminya.
"Itukah wujud sebenarnya yang disembunyikan istriku? Burung bangau yang terbang pada saat itu, aku tidak akan melupakannya dan terus menginganya. Dan seperti biasanya, aku selalu mencintaimu"