Tet... Tet...Tet...
"Ha Na-ya" Teriak seorang pemuda yang berlari menghampiri Ha Na. Pemuda itu menarik Ha Na yang hampir tertabrak mobil.
Brukk... Mereka berdua jatuh ke trotoar.
"Kau baik-baik saja?" Tanya pemuda itu.
"Iya. Aku baik-baik saja." Jawab Ha Na.
Pemuda itu berdiri ia mengulurkan tangannya dan membantu Ha Na untuk bangun.
"Aaduh... Kakiku." Rintih Ha Na yang baru sadar kakinya terkilir.
Pemuda itu memeriksa pergelangan kaki Ha Na yang memerah.
"Kau terluka. Ini pasti sakit." Kata pemuda itu.
"Naiklah. Aku akan menggendongmu." Pemuda itu berjongkok menawarkan punggungnya.
Ha Na menurut. Ia melingkarkan tangannya ke leher pemuda itu.
Pemuda itu membawa Ha Na ke klinik terdekat untuk mendapatkan pengobatan. Syukurlah luka itu tidak terlalu parah. Pergelangan kaki Ha Na hanya perlu diperban sedikit. Beberapa hari lagi kaki Ha Na bisa kembali pulih.
Setelah selesai menjalani perawatan mereka berdua pergi dari klinik tersebut. Mereka berhenti disebuah Toserba.
Pemuda itu membelikan minuman untuk Ha Na dan dirinya. Mereka duduk dibangku yang disediakan.
"Apa yang kau pikirkan hingga kau tak melihat mobil itu?" Tanya pemuda itu.
Ha Na hanya tersenyum tipis tanpa menjawabnya.
Bip...Bip...
Ponsel pemuda itu bergetar. Ia memeriksa pesan masuk yang diterimanya.
Setelah membaca pesan tersebut pemuda itu meletakkan kembali ponselnya. Ia mengabaikan sang pengirim pesan.
Ha Na yang menyadari itu merasa tak enak, ia menyuruh pemuda itu untuk segera pergi. Namun pemuda itu menolaknya.
"Pergilah. Aku baik-baik saja. Aku bisa pulang sendiri." Kata Ha Na meyakinkan pemuda itu.
"Tidak. Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu yang terluka. Aku akan mengantarmu pulang." Bantah pemuda itu.
"Kau duluan saja. Pasti dia sudah menunggumu." Bujuk Ha Na.
Namun pemuda itu tetap bersikukuh untuk menemani Ha Na.
"Pergilah. Jangan membuat dia menunggu terlalu lama. Lagipula ini hari pertama kalian jadian." Kata Ha Na menyembunyikan perasaan sedihnya.
"Hah? Jadian? Siapa?" Kata pemuda itu heran.
"Aku melihatnya. Tidak. Aku mendengarnya. Dia mengakui perasaannya padamu." Ha Na berusaha untuk tegar.
"Apa kau mendengar jawabanku?" Tanya pemuda itu.
Ha Na hanya terdiam. Ha Na tak cukup kuat untuk mendengar kelanjutannya. Ia takut pemuda itu mengatakan iya. Oleh karena itu Ha Na terburu-buru dan tak melihat mobil hingga kelecakaan itu hampir terjadi.
"Apa kau tadi berlari karena melihatku dengannya? Karena itu kah kau tidak berhati-hati?" Tanya pemuda itu sedikit kesal.
Ha Na hanya terdiam. Ia tidak mau pemuda itu mengetahui alasan yang sebenarnya. Bahwa Ha Na menyukai pemuda itu.
"Aku menolaknya." Kata pemuda itu.
Mendengar itu Ha Na merasa lega. Namun ia masih diam.
"Aku menyukai orang lain."Jelas pemuda itu.
"Oh... benarkah? Tapi kau tak perlu menjelaskannya padaku. Aku tidak peduli juga." Elak Ha Na yang melawan hatinya.
"Kau..." Kata pemuda itu geram.
"Aku? Kenapa? Sungguh aku tidak peduli." Ha Na semakin berpura-pura. Padahal ia berharap pemuda itu juga menyukainya kembali.
"Aku menyukaimu." jelas pemuda itu.
Ha Na terdiam, ia terkejut mendengar pengakuan pemuda itu.
"Orang itu adalah kau. Aku menyukaimu Do Ha Na." Pemuda itu menegaskan perasaannya.
Ha Na masih terdiam. Ia mencoba memahami apa yang baru saja ia dengar. Meski hatinya sudah berdebar tak karuan. Ia masih merasa seperti mimpi.
"Do Ha Na. Aku menyukaimu. Aku suka padamu." Kata pemuda itu meyakinkan Ha Na.
"Aku juga menyukaimu." Ha Na bergegas menjawabnya sambil tersipu. Ia tidak ingin lagi menyembunyikan perasaannya.
Mereka saling tersenyum. Memandangi satu sama lain. Mata mereka terlihat begitu bersinar. Mereka terlihat bahagia. Karena ternyata selama ini mereka memang saling suka.
The End.