Udara dingin rembes mengenai pipiku. Kupejam mata menikmati semilir angin malam. Membentangkan tangan kiriku untuk merasakan alirannya. Sementara tangan kananku masih menggenggam erat bingkisan bunga cosmos berwarna coklat yang wangi. Sedikit tersenyum mengingat hal yang kualami di tempat ini.
Kata-kata bahwa waktu akan menghapus semua perasaan yang ada adalah benar. Setidaknya bagiku, waktu berhasil melarutkan kesedihan yang dulu.
"Aku datang lagi,"
Bisikan yang lebih mirip rajukan.
"Ini akan jadi yang terakhir aku menemuimu,"
Ucapan yang mendekati rintihan.
Bohong jika aku tidak akan sedih. Bohong jika aku merelakannya. Dirimu yang pernah menjadi bagian terpenting di hidupku. Diriku yang pernah seutuhnya milikmu. Bagaimana mungkin aku melupakan semuanya?
"Aku harus melepasmu kan, walau begitu sulit."
Kata-kata yang membuat kerongkonganku sakit. Sangat berat untuk mengucapkan selamat tinggal. Berat menjadi yang masih tersisa disini sendirian. Berat menjadi yang harus mengenang kesedihan. Aku sudah tidak sanggup menanggungnya.
Kutelan liurku. Menarik napas beberapa kali. Menyemangati dan memberanikan diri. Setelah diam yang lumayan panjang, kubuka mata. Sekali menghela sebelum sekuat tenaga melemparkan bunga yang sedari tadi kubawa.
“Kudoakan kau tenang di surga.” Kataku tersenyum tipis, “Jadi doakan aku, agar bisa melupakanmu.”
Air mataku menetes. Sembari aku berpaling pergi dari sana, selepas merelakan cinta yang sudah tiada. Ucapan perpisahan yang ku susun rapi untuknya. Berharap dia mengerti dan merelakanku juga.
Sebab disini aku ingin bahagia. Walau akan butuh beberapa waktu lagi sampai aku menemukan kebahagiaan itu kembali.
“Selamat tinggal. Aku tidak akan menemuimu lagi.”
# # # #
Tamat.