Gemuruh riuh kendaraan bermotor di jalan raya. Melintas cepat menghindari hujan yang tidak kunjung reda. Semakin deras merembes dari langit. Merutuk sebagian kata dari orang-orang yang kehujanan. Hingga penuh emperan toko sebagai tempat berteduh.
Termasuk aku. Berteduh di sisi ujung sebuah toko semi modern bersama beberapa pengendara lainnya. Harap-harap cemas melirik ujung lain toko berharap di notis. Sedikit salah tingkah. Membenarkan poni yang lepek terkena air hujan dan baju yang kusut. Melihat pantulan wajahku di layar ponsel. Memastikan riasannya tidak terlalu rusak.
Kenapa?
Di ujung lain toko ini ada seseorang yang kukenal. Seseorang yang kusuka sejak lama, namun hingga kini hanya kusimpan saja.
Di bagian terdalam hati, aku menguburnya.
Sekali lagi aku melirik. Mengintip sosoknya di antara punggung-punggung orang lain. Berdebar sendirian. Bahagia sendirian. Terserahlah kalau aku terlihat bodoh. Cinta memang seperti itu.
Cukup lama, hingga hujan yang seakan enggan berhenti akhirnya mereda juga. Satu persatu para peneduh mulai pergi. Kembali melaju di jalanan.
Aku sengaja menunggu di belakang. Menjadi paling akhir pergi demi sedikit lagi waktu untuk bisa melihatnya. Menyandar di dinding toko sembari mengamati.
Dia mengulurkan tangan di udara untuk memastikan apakah hujan sudah benar-benar reda. Segera menaiki motornya dan mengarahkannya ke jalan. Saat dia menoleh ke belakang, aku menahan napas. Kukira dia akan menyadari keberadaan ku di pojok sini. Tapi, bukan.
Seorang wanita membonceng di belakangnya. Lalu mereka berdua pergi.
Aku masih memandangi arah kepergiannya walaupun sosoknya sudah tidak terlihat. Semudah itu kebahagiaan ku kandas. Semudah itu harapanku lebur.
Padahal aku juga mencintainya. Tapi keberanian membedakanku dengan wanita yang di bonceng nya itu.
"Bukan jodoh," ucapku.
Menyemangati diri sendiri. Meskipun air mata sudah jatuh perlahan di pipiku. Hingga aku berharap hujan kembali turun untuk menyamarkannya.
Aku patah hati.
# # # #
Tamat.